Benih CEO

Benih CEO
Bab 44


Kania mengulum bibirnya menahan senyuman saat Tasya hanya merengut kesal karena ajakannya untuk jalan-jalan tak di penuhi oleh Kania.


Jelas saja Kania tidak mau, Tasya mengajaknya tak tahu waktu. Jam sepuluh pagi, di saat Kania masih bekerja.


"Aku yang ijin Tante Rinda, deh. Beneran lagi butuh teman curhat ini."


"Curhat apa, sih, Sya? Nggak bisa nanti sore aja? Jangan aneh-aneh, deh. Ini masih jam kerja, aku nggak enak sama Bu Rinda kalau mau ijin."


"Enggak bisa!!! Masalah hati nggak bisa di tunda. Aku mau ijin Tante Rinda pokoknya. Kamu harus nemenin aku."


"Syaaa..." Kania memandang Tasya dengan tatapan memohon agar tidak meminta ijin pada atasannya. Sayangnya, Tasya terlihat cuek dan tidak peduli. Dia tetap menelepon tantenya itu agar mengijinkan Kania untuk menemani dirinya yang sedang galau.


Akhirnya, di sinilah Tasya dan Kania sekarang. Di sebuah resto jauh dari kota Surabaya dengan view alam pegunungan. Tasya memilih lantai dua yang berkonsep outdoor. Dari lantai dua, terlihat dengan jelas pegunungan yang serta angin sepoi-sepoi yang terasa begitu sejuk nan menenangkan.


Kania di bawa pergi sejauh itu oleh Tasya. Dengan alasan, Tasya ingin mencari ketenangan. Kania masih tak paham, seberapa berat beban di hati Tasya sehingga sepertinya Tasya terlihat begitu sedih.


"Kenapa, sih, Sya? Masalah cinta, ya?" Kania memberanikan diri untuk bertanya. Yang katanya ingin curhat, nyatanya masih tak bersuara juga selain bertanya Kania ingin memesan apa.


Tasya tak menoleh. Pandangan matanya masih setia tertuju pada ciptaan Tuhan yang begitu indah yang kini tersaji di depan mata. Helaan napas kasar terhembus dari hidungnya. "Salah nggak sih, Ka, kalau aku cinta sama laki-laki yang usianya sudah lebih dari empat puluh tahun?"


Uhukk!!!


Kania terbatuk-batuk setelah mendengar pertanyaan Tasya, tersedak minumannya sendiri. "Serius, Sya?" tanyanya masih tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari bibir manis Tasya.


Anggukan Tasya yang begitu kuat menjadi bukti bahwa dia tidak main-main dengan perasaannya. "Dia duda. Usianya empat puluh dua tahun. Lebih muda delapan tahun dari papaku."


"Sejak kapan?"


"Udah setahun. Tapi Papa baru tahu dua Minggu yang lalu. Dan dia menentang habis-habisan hubungan kami."


Kania membelalakkan matanya. "Kalian bisa backstreet selama itu, Sya? Kereennn!"


"Apa, sih, Ka? Keren apaan. Yang ada tiap hari kucing-kucingan mulu. Mau ketemu susah. Nggak bisa go publik."


"Terus apa yang bikin kamu galau berat begini?"


"Papa nyuruh aku pisah sama itu Mas duda kesayangan aku. Aku, kan, nggak mau." Wajah Tasya tertekuk lesu. Membayangkan harinya tanpa duda kesayangannya lagi, rasanya tak sanggup. Tasya sudah terbiasa dengan adanya Mas duda itu.


Kania menyesap jus alpukat yang sejak dulu menjadi favoritnya. Sambil berpikir, ternyata selera Tasya lelaki yang cukup matang dalam hal apapun.


"Enggak salah, sih, mau cinta sama siapa. Kita punya hak untuk menentukan siapa yang pantas untuk mendapatkan cinta kita. Berapapun selisih usianya, kalau sudah takdirnya jodoh, ya pasti akan dipersatukan."


"Tapi Papa menentang hubungan kami, Ka. Katanya dia terlalu tua buat aku. Nggak pantas buat aku," ucap Tasya di sela isakannya. Dalam hal cinta, memang semudah itu untuk meneteskan air mata.


"Kamu tunjukkan kalau kamu bahagia dengan dia, Sya. Perlihatkan ke Papa kamu kalau Om duda pujaan hati kamu itu bisa membahagiakan kamu."


"Kok, Om, sih?" Tasya merengut tak suka jika kekasih hatinya di panggil Om. Terdengarnya, kekasihnya begitu tua meskipun aslinya memang iya.


"Terus aku harus panggil apa, dong? Bapak? Atau Mas kayak kamu manggil dia?" Kania tertawa kecil. Berniat menghibur Tasya.


"Udah." Kania menyentuh punggung tangan Tasya yang diletakkan di atas meja. "Seperti yang aku bilang tadi. Buktikan kalau dia bisa membahagiakan kamu dan bisa menjadi pemimpin yang baik buat kamu. Insyaallah Papa kamu pasti merestui hubungan kalian."


Tasya akhirnya mengangguk dan tersenyum. Benar apa kata Kania, dia harus bisa membuktikan di depan kedua orangtuanya kalau dia bahagia bersama kekasihnya.


Akan Tasya tunjukkan kalau pilihan hatinya adalah yang terbaik untuk hidupnya nanti. Tak peduli berapa usia orang yang dia cintai, selama Tasya bahagia, Tasya tidak akan pernah melepaskannya.


"Kalian ngapain di sini?"


Sebuah suara mengejutkan Tasya dan Kania. Tasya tersenyum lebar menatap Devan yang berdiri di dekatnya. Sedangkan Kania terdiam, jantungnya berdegup kencang. Kenapa di tempat sejauh ini, dia masih bisa bertemu dengan Devan tanpa sengaja.


Atau... Ini ada campur tangan Tasya?


"Aku habis meeting sama klien di bawah. Lihat kalian naik, setelah selesai aku langsung nyusul ke sini," jelas Devan.


Devan melihat Kania yang membuang pandangannya ke segala arah, enggan menatap Devan. Dalam hati Devan tersenyum penuh kemenangan. Dari lima pertemuan tanpa sengaja yang sudah di tentukan, sudah satu pertemuan yang terjadi.


"Kania." Devan memanggilnya. Namun Kania sadar kalau panggilan itu hanyalah sebuah godaan. Atau ejekan karena mereka akhirnya bisa bertemu tanpa di sengaja.


Tapi Kania tak perlu takut. Ini baru sekali. Masih ada empat kali lagi untuk dua Minggu ke depan.


"Kenapa?" sahut Kania dengan ketus. Tak ingin juga menatap Devan. Yang ada Kania akan bertambah kesal pada Devan. "Sengaja ngikutin, ya? Meeting hanya sebagai alasan saja. Atau ini ada campur tangan Tasya?"


"Ih, apaan?" Tasya yang tak tahu apa-apa pun langsung menyahut tak suka. "Aku nggak tahu, ya, kalau Devan di sini. Lagipula ada apa, sih, kalian? Ada yang aku nggak tahu?"


Devan tertawa renyah. "Temanmu ini baru kalah taruhan satu kali sama aku."


"Maksudnya?"


"Kita buat perjanjian, kalau dalam waktu dua Minggu kita bisa bertemu tanpa di sengaja, dia harus mau menikah denganku."


"Wow!!! Permainan yang menarik, nih."


"Menarik gundulmu!" Kania menyentil kening Tasya pelan. Membuat si pemilik mengaduh penuh drama.


"Sakit, ih! Sadis banget!" Tasya mengeluh. Mengusap kening bekas jemari Kania yang mampir di sana.


Tak berselang lama, Tasya berpamitan untuk pergi ke kamar mandi. Kini tinggal Kania dan Devan yang ada di sana.


Kania terdiam tak ingin bersuara. Tak penting juga. Untuk apa bicara dengan Devan? Ujung-ujungnya juga berdebat dan membuat Devan semakin menyebalkan di mata Kania.


Devan menengok ke kanan dan ke kiri. Tak ada pengunjung lain. Hanya meja mereka yang terisi. Tasya juga belum kembali dari kamar mandi. Entah apa yang sedang dia lakukan, Devan tidak peduli.


Karena Devan lebih memilih menarik pinggang ramping Kania hingga tubuh Kania menempel pada tubuh Devan. "Masih ada empat kali lagi. Aku bisa menjamin kalau kamu akan kalah. Kamu akan menjadi istriku, Kania," bisik Devan yang membuat seluruh bulu kuduk Kania berdiri. Merinding dibuatnya.


🌼🌼🌼


Berhadapan dengan lelaki yang beberapa Minggu terakhir ini selalu dia hindari membuat Kania tak berkutik sama sekali ketika tiba-tiba lelaki itu muncul di hadapannya.


Kania tak bisa menghindar lagi karena banyaknya pembeli kue yang berada di dalam toko. Dia tak ingin di nilai tak ramah pada orang yang mungkin mereka anggap juga sebagai pembeli. Sama seperti mereka.


Tapi kedatangan Rama bukan untuk membeli kue. Melainkan untuk menemui Kania. Karena hanya di tempat kerja Kania, Rama bisa menemuinya. Selain di tempat kerjanya pasti Kania akan menghindar dari Rama.


"Bisa kita bicara sebentar?"


"Maaf. Aku lagi kerja. Kamu lihat sendiri toko lagi ramai. Kasian Lula sendirian." Kania beralasan.


"Akan aku tunggu sampai selesai."


Kania menghela napas pelan. Memandang Rama yang berjalan keluar dari toko, lalu duduk di kursi yang ada di depan toko.


Dia benar-benar menunggu Kania.


Untuk apa lagi dia datang? Hanya akan membuatku merasa semakin sulit untuk melupakan dia. Kania berbicara dalam hati.


Pikirannya terus tertuju pada lelaki yang dengan santainya menunggu dirinya selesai bekerja. Meskipun tangan dan matanya terlihat cekatan membantu Lula yang kerepotan.


🌼🌼🌼


Yang merasa kurang panjang, mohon bersabar, ini adalah ujian. πŸ˜…πŸ˜