Benih CEO

Benih CEO
Bab 68


Setelah kepergian Ivanka, Kania duduk termangu menatap bunga-bunganya yang bermekaran di taman belakang.


Apa iya aku tidak pantas mendampingi Mas Devan? Pendidikanku tidak tinggi, penampilanku nggak pantas untuk mendampingi Mas Devan. Aku juga bukan berasal dari keluarga yang berada.


Selama ini sikap kedua orangtua Devan sangat baik pada Kania. Bahkan seperti Kania yang anak kandung mereka. Bukan Devan yang sering mendapat semburan omelan sang Mama kalau ada apa-apa meskipun yang terjadi sebenarnya adalah salah Kania.


Wanita mana yang tak bahagia mendapatkan mertua seperti itu? Kania sangat bahagia. Apalagi Devan selalu berusaha untuk membahagiakannya selama ini.


Tapi omongan Ivanka tadi, membuat Kania berpikir. Apakah cinta Devan untuknya itu benar-benar tulus?


Kania tersentak saat kedua tangan kekar melingkar di pinggangnya. Hampir saja Kania berteriak kalau Devan tak segera bersuara.


"Mikirin apa, sih, sampai suami pulang nggak dengar?"


"Udah lama, Mas? Maaf, aku nggak dengar."


Devan mengangguk sebagai jawaban. "Mikirin omongan Ivanka, ya?" tebak Devan tepat sasaran.


Sebelum menjawab, Kania menghembuskan napas panjang. "Apa memang aku seperti itu, Mas? Nggak pantas buat mendiami CEO sukses seperti kamu."


"Justru yang mengatakan hal itu yang tidak pantas, Sayang. Aku tahu semua yang diucapkan oleh Ivanka. Kamu tau, dia tidak jauh lebih baik dari kamu. Semua yang ada di dalam diri kamu, itu jauh lebih baik. Aku menerima kamu apa adanya. Seperti kamu yang mau menerimaku, padahal kesalahanku ke kamu sudah tak terhitung banyaknya. Aku juga sudah menyakiti kamu sedalam-dalamnya, tapi kamu masih mau menerimaku tanpa mengungkitnya. Harusnya aku yang bertanya, apakah aku pantas menjadi suami kamu setelah apa yang aku lakukan dulu terhadap kamu?"


Kania memutar tubuhnya menghadap Devan. Air matanya berjatuhan saat menatap wajah Devan. Tapi bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.


"Kita bukan manusia yang sempurna. Tapi aku merasa sempurna ketika kamu memperlakukan aku dengan penuh cinta, Mas. Kita saling memantaskan diri untuk satu sama lain. Jadi, aku mau menjadikan diriku pantas untuk mendampingi kamu, untuk mendidik anak-anak kita nanti. Aku tetap mau kuliah lagi. Masih boleh, kan?"


Devan tersenyum lebar dan memberikan sebuah anggukan. "Boleh. Asal tidak dalam keadaan hamil. Kamu boleh kuliah sampai S3 sekalipun."


Mendengar kata hamil, mendadak Kania teringat hasil testpack tadi pagi yang menunjukkan dua garis merah dan semakin terlihat jelas.


Setelah itu Kania mencari informasi dari google kenapa ada flek kalau hasil testpack positif. Flek atau bercak darah sebagai tanda saat hamil biasa juga disebut sebagai pendarahan implantasi. Kondisi ini terjadi ketika telur yang dibuahi menempel pada lapisan rahim. Pembuahan akan bergerak jalan menuju rahim dan menyebabkan gesekan pada dinding rahim.


"Mas, aku mau ngomong."


"Kan, dari tadi udah ngomong."


"Ih, ini beda."


Devan terkekeh kecil. "Mau ngomong apa, Sayang?"


Kania memainkan kerah dan dasi Devan yang masih menempel. Menggerakkan jari telunjuknya membentuk pola tak beraturan di dada bidang Devan.


"Jangan menggoda, Sayang. Kamu tau aku tidak mungkin meniduri istri yang lagi datang bulan," ucap Devan frustasi karena merasa dipancing oleh Kania.


Kania tertawa geli, menampakkan gigi-giginya yang rapi dan bersih. "Udah boleh, kok. Tapi harus konsultasi dulu."


"Maksudnya apa, Sayang? Kenapa harus pakai konsultasi segala? Kamu udah selesai haid?"


"Satu-satu, dong, Mas, tanyanya. Maksudnya kita konsultasi dulu ke dokter kandungan. Beberapa hari ini haidku nggak normal. Aku coba testpack hasilnya garis dua, tapi samar."


"Kamu hamil, sayang?" sergah Devan dengan tidak sabar. Rasanya bahagia sekali mendengar Kania hamil.


"Belum tau karena hasilnya masih samar. Jadi aku ngajak Mas Devan buat_"


"Kita pergi sekarang, Sayang. Soal seperti ini kenapa baru ngomong sekarang, sih? Tau gitu kita periksa sejak kemarin. Mana kamu habis lari-larian di kantor kemarin. Habis perjalanan jauh. Kalau ada apa-apa gimana?"


Kania hanya terdiam saat Devan mendadak menjadi super cerewet.


"Apa lagi, sayang?" tanya Devan dengan gemas saat Kania menahan langkah Devan.


"Mandi dulu, ganti baju. Masa aku begini ke dokter kandungan?"


Devan memperhatikan penampilan istrinya yang masih memakai baju rumahan. Sebenarnya tidak masalah bagi Devan. Baju apapun terasa pas di tubuh Kania dan membuat Kania terlihat sangat cantik.


Akhirnya Devan pun mengalah dan membiarkan Kania mandi terlebih dahulu meskipun aslinya sudah tidak sabar ingin mengetahui hasilnya dengan pasti.


***


"Bu Kania dengan keluhan flek beberapa hari. Tapi hasil testpack positif."


"Iya, Dok."


"Silahkan berbaring dulu, Bu. Kita lakukan USG untuk mengetahui hasilnya."


Kania berbaring di ranjang yang sudah di siapkan. Sebelum melakukan USG, terlebih dulu Dokter Risma memeriksa perut Kania bagian bawah. Setelah itu, suster mengoleskan gel ke atas perut Kania dan dokter pun mulai menggerakkan alat USG di atas perut Kania.


Kania dan Devan menanti ucapan Dokter Risma dengan jantung berdebar. Dokter Risma masih menggerakkan alat USG di atas perut Kania dan memperhatikan layar monitor yang memperlihatkan rahim Kania meskipun hanya berwarna hitam putih saja.


"Selamat bapak dan ibu, Bu Kania positif hamil. Usia kandungan sudah memasuki Minggu ke enam."


"Alhamdulillah..."


"Alhamdulillah, Sayang."


Devan menciumi tangan Kania dan kedua pipi Kania. Andai tidak malu dilihat oleh dokter dan suster yang ada di ruangan tersebut, mungkin bibir Kania pun akan mendapatkan jatah ciuman Devan.


"Sekarang kita bisa dengar detak jantungnya, ya, Pak, Bu."


Devan sampai meneteskan air mata saat mendengar jantung anaknya yang masih sangat kecil berdetak dengan kuat seperti hentakan kaki kuda. Terdengar sangat sehat.


Baru pertama kalinya Devan mendengar detak jantung bayi. Apalagi ini anaknya sendiri. Rasa bersalah di hati Devan semakin membesar mengingat dulu saat Kania mengandung Shaka, Devan tak pernah ada untuk Kania. Dan dia pun tidak mengetahui perkembangan dan pertumbuhan Shaka.


Kali ini, dia berjanji akan menjaga Kania dan janin mereka. Akan menjadi ayah yang siaga untuk keluarga kecilnya yang bahagia menanti anggota baru dalam kehidupan mereka.


"Ada mual dan muntah?"


"Tidak ada, Dok."


"Untuk adanya flek, insyaaallah tidak masalah ya, Bu, kalau setelah ini tidak ada flek lagi. Saya resepkan obat penguat kandungan dan vitamin lainnya. Boleh makan apapun asal tidak ada alergi dan tidak berlebihan."


"Boleh berhubungan suami istri, Dok?"


Dengan percaya dirinya, Devan bertanya seperti itu pada Dokter. Dokter tertawa kecil dan Kania hanya bisa menunduk malu.


"Boleh, Pak. Asalkan tidak ada pendarahan dan Bu Kania tidak ada keluhan apapun. Hanya untuk trimester pertama jangan terlalu sering dulu, ya, Pak."


"Baik, Dok," jawab Devan semangat sembari tangannya mencolek kecil tangan Kania sebagai sebuah kode.


***


Kabar kehamilan Kania sudah sampai ke telinga para orangtua. Tentu saja mereka menyambutnya dengan sangat bahagia sampai rela datang ke rumah Kania dan Devan sekedar untuk mengetahui keadaan Kania.


Shaka pun tak kalah bahagianya saat dia tahu dia akan segera memiliki seorang adik. Keinginannya beberapa bulan yang lalu akan segera terwujud.


"Bunda, Shaka tadi baca di google. Katanya, hamil usia 6 minggu, ukuran janin sebesar kacang polong dengan panjang 2-5 mm. Berarti adik Shaka masih sangat kecil, dong?"


Semua orang tertawa kecil mendengar pertanyaan Shaka. "Iya, Nak. Nanti kalau sudah sembilan bulan, dedek bayinya udah besar di perut bunda."


"Terus nanti keluarnya gimana? Bunda sakit, dong? Shaka dulu juga bikin Bunda sakit?"


"Enggak sakit karena Bunda berjuang untuk anak-anak Bunda. Karena itu sudah kodratnya perempuan, Nak. Allah menakdirkan perempuan mengalami hal tersebut. Jadi, Shaka harus menghargai seorang perempuan. Bunda, Nenek, Oma, nanti kalau adik Shaka perempuan, Bu guru, dan semua perempuan di bumi ini. Shaka harus bisa menghargai mereka. Jangan menyakiti perempuan. Ya, Sayang?"


Shaka mengangguk patuh.


Ucapan Kania sedikit banyak menyindir Devan meskipun Devan tau Kania tak sengaja melakukannya. Bukan hanya Devan saja yang merasa tersindir. Tapi para orangtua juga langsung berpikir ke masa lalu Devan dan Kania saat Kania mengatakan hal seperti itu pada Shaka.


Tapi sedikitpun Devan tak mempermasalahkan hal tersebut. Apa yang dikatakan Kania memang benar. Shaka harus bisa menjadi anak yang baik dan menghargai perempuan. Tidak seperti dirinya yang telah menyakiti dan merusak Kania.


***


"Sayang, kamu mual nggak?"


Kania menggelengkan kepalanya.


"Perutnya sakit?"


"Enggak, Mas."


"Masih ada flek lagi?"


"Enggak juga. Kenapa, Mas?"


Devan hanya menarik tangan Kania pelan dan membawanya masuk ke dalam kamar sambil tersenyum penuh arti.


Kalau begini, Kania sudah tau apa yang di minta Devan.


Memang dasarnya mesum!


🌼🌼🌼


Stay tune di ig ku nanti malam, ya. Tau lah, ada apa. πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜