Benih CEO

Benih CEO
Bab 53


Semakin malam, hati Kania semakin was-was. Acara sudah selesai dan Kania belum juga melangkahkan kakinya menuju kamar. Dia takut berada dalam satu kamar dengan Devan. Meskipun sudah berstatus suami istri, tapi Kania tidak siap kalau malam ini Devan akan meminta hak-nya.


"Bunda, kita ke kamar, ya. Shaka ngantuk."


Setidaknya permintaan Shaka membuat Kania sedikit tenang. Kalau ada Shaka, Devan pasti tidak berani macam-macam, apalagi mengajak yang iya-iya.


"Ayo." Kania melangkahkan kakinya.


Terasa ringan karena tak lagi mengenakan gaun yang besar itu. Gaun itu sudah diganti dengan piyama lengan panjang. Tidak seperti yang ada di drama atau sinetron yang mengganti gaun di kamar dan hanya ada sepasang suami istri di dalamnya, Kania lebih memilih mengganti gaunnya di ruang ganti dibantu oleh ibunya dan beberapa orang dari tim MUA.


Saat memasuki kamar, Devan tidak ada di sana. Entah di mana pria itu berada, Kania tidak mau tahu. Yang terpenting sekarang adalah segera tidur karena tubuhnya terasa sangat lelah.


"Ayah di mana, Bund?" Pertanyaan Shaka mau tidak mau membuat Kania berpikir tentang keberadaan Devan.


"Mungkin masih bersama teman-temannya. Nanti juga ke sini. Shaka bobok, ya."


Shaka mengangguk. Karena sudah larut malam dan sudah pasti Shaka juga kelelahan, dengan mudahnya Shaka tertidur tanpa ada drama ini itu lagi.


Pintu kamar terbuka beberapa saat setelah Shaka tertidur. Kania pikir itu adalah Devan. Namun ternyata adalah mertua baik hatinya bersama asistennya, Rahma.


"Udah mau tidur, ya?" tanya Hanum dengan tak enak hati.


"Belum, Ma. Ada apa, ya?"


Bukannya menjawab pertanyaan Kania, Hanum justru meminta Rahma untuk mengangkat Shaka.


"Mau dibawa kemana, Ma?"


"Malam ini Shaka tidur sama Mama dan Papa. Kamu istirahat sana sambil nungguin Devan. Dia masih ada di bawah ketemu sama tamunya yang dari Jepang." Hanum tersenyum antusias. Sengaja mengambil Shaka agar Devan dan Kania bisa mendekatkan diri satu sama lain.


"Shaka biar di sini, Ma." Kania bermaksud menahan Shaka karena dia adalah satu-satunya penyelamat untuk dirinya malam ini.


"Udah, sama Mama aja. Selamat istirahat, Sayang."


"Maa..." Kania masih berusaha menahan Hanum namun Hanum dengan cepat keluar dari kamar Kania.


Kania menghembuskan napas dengan sedikit kesal.


Malam ini dia harus sekamar dengan Devan. Dalam hati hanya bisa berharap Devan tidak melakukan hal-hal yang tidak Kania inginkan.


***


"Belum tidur?"


Kania terperanjat saat tiba-tiba saja Devan sudah masuk ke dalam kamar. Kapan dia datang? Kenapa Kania tidak mendengar suara pintu dibuka?


Ah, mungkin karena Kania terlalu banyak pikiran sehingga dia tidak fokus dengan hal-hal yang ada di sekitarnya.


"Belum. Dari mana?" tanyanya basa-basi meskipun Kania rasa itu tidak penting dan tidak perlu.


"Ngobrol sama temanku yang dari Jepang," jawab Devan sambil melepaskan satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya. Maksudnya hanya jas dan kemeja saja. Di balik kemeja masih ada kaos lengan pendek yang membalut tubuhnya.


Kania memalingkan wajahnya, enggan melihat Devan yang sedang melepas pakaiannya. "Oh. Ya udah. Aku mau tidur." Kania memposisikan tubuhnya senyaman mungkin meskipun harus berada di pinggiran ranjang. Dan di sampingnya pun ada dia buah guling yang menjadi pembatas antara dirinya dan Devan nanti.


"Tidurlah!"


Ucapan Devan membuat Kania terdiam, merasa tenang sekaligus heran. Devan tidak menggodanya seperti dulu saat dia terjebak di kamar Devan.


Bukan berarti Kania ingin Devan menggodanya. Demi Allah, tidak!


Justru Kania merasa tenang. Setidaknya dia bisa tidur dengan tenang tanpa takut Devan akan melakukan hal-hal yang tidak Kania inginkan.


Devan juga tidak banyak protes saat kedua guling itu berada di tengah-tengah kasur sebagai pembatas. Devan langsung merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya tanpa bersuara lagi.


***


Dua keluarga sedang menikmati sarapan di restoran hotel. Mereka menikmati sarapan tanpa menunggu pengantin baru yang belum juga datang.


Mereka memakluminya. Mungkin saja mereka kelelahan dengan resepsi semalam, atau ada hal lain yang mereka lakukan setelah mereka sama-sama berada di dalam kamar.


Kenyataannya, tak terjadi apapun tadi malam selain kedua insan itu sama-sama berkelana di alam mimpi.


Pagi ini Kania begitu terkejut ketika dia membuka mata, tangan Devan sudah berada di atas perut Kania dan memeluk Kania dengan posesif. Dia guling yang menjadi pembatas sudah teronggok secara mengenaskan di atas lantai.


Ingin melepaskan diri dari pelukan Devan, namun Devan justru mengeratkan pelukannya. Kania dijadikan guling hidup oleh Devan.


"Van, lepasin! Aku mau bangun."


"Hmm."


Ucapan Kania hanya dibalas gumaman saja oleh Devan.


"Lepasin, Van. Ini udah jam delapan lebih." Kania masih berusaha melepaskan diri.


Tak mendapatkan respon apapun lagi dari Devan, dengan paksa Kania memindahkan tangan Devan yang ada di atas perut Kania.


Kania segera beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Tanpa mandi, Kania turun ke restoran menyusul keluarganya yang sedang sarapan. Perutnya juga sudah lapar karena semalam dia tak sempat makan malam dan hanya minum segelas jus mangga sebelum acara dimulai.


"Selamat pagi, semual," sapa Kania dengan sedikit canggung.


Semua orang yang berada di meja makan tersebut membalas sapaan Kania. "Pagi, Ka. Devan mana?" Karno langsung bertanya dimana keberadaan mantunya itu.


"Masih tidur, Pak."


"Kenapa nggak dibangunin buat sarapan? Kasian dari semalam dia nggak makan."


"Nanti Kania bawain ke atas aja, Bu," jawab Kania sambil mengambil nasi.


"Sudah, Pak, Bu. Mungkin masih kelelahan. Nanti minta pelayan aja suruh ngantar ke atas, Ka."


"Baik, Pak. Eh, Papa." Kania tersenyum sungkan. Dia belum terbiasa memanggil Bram dengan sebutan Papa.


"Semalam tidurnya nyenyak, Ka?" tanya Hanum ingin tahu.


"Nyenyak, Ma. Karena kecapekan sampai bangunnya kesiangan. Shaka belum bangun, ya?" tanya Kania yang menyadari kalau di sana tidak ada Shaka.


Hanum tertawa kecil. "Belum. Dia sama Mbak Rahma di kamar. Enggak apa-apa. Namanya juga pengantin baru."


Jawaban Hanum membuat Kania tersenyum sungkan.


***


"Udah bangun? Bersih-bersih dulu habis itu sarapan. Aku udah pesan makanan buat kamu sarapan."


Kania berucap tanpa memandang Devan yang masih bermalas-malasan di atas tempat tidur. Kania sibuk mengumpulkan baju-bajunya yang kotor untuk dimasukkan ke dalam tas lain karena hari ini mereka akan check-out dan pulang ke rumah.


Tak lupa juga dengan baju-baju Devan. Meskipun Kania tidak mencintai Devan, tapi dia masih berkewajiban untuk melayani Devan dalam segala keperluannya. Tentu saja selain "itu" yang Kania sendiri belum siap jika tiba-tiba Devan memintanya.


"Kenapa dimasukkan ke tas semua?"


"Kan, hari ini kita pulang."


"Minta pelayan aja untuk biar di antar ke laundry baju-bajunya. Kita masih di sini sampai tiga hari ke depan."


"Hah? Kenapa begitu?" Kania sama sekali tak tahu kalau dia dan Devan akan menginap lagi sampai tiga hari ke depan.


"Nggak tahu. Tanya sendiri ke Mama. Beliau yang ngatur semuanya." Devan menjawab dengan cuek seiring dengan kakinya yang melangkah ke kamar mandi.


Kania menghembuskan napas dengan pelan. Dengan terpaksa Kania mengeluarkan lagi baju-bajunya dan baju Devan. Menelepon pelayan untuk mengambil baju mereka.


"Kamu nggak sarapan?"


"Tadi udah di bawah. Pas kamu belum bangun."


Devan menatap dalam-dalam wanita yang kini duduk di hadapannya sambil memegang gagang cangkir yang berisi coklat panas. Sesekali Kania menyesapnya, menikmati larutan air dengan coklat tersebut.


Kania kini telah menjadi istrinya. Rasanya masih sulit dipercaya keduanya bisa sampai di titik ini meskipun pernikahan mereka penuh dengan kepalsuan.


Devan demi mempertahankan sebuah jabatan. Dan Kania dengan permintaan Shaka yang dia sudah berjanji akan memenuhinya, apapun itu. Sayangnya, permintaan Shaka adalah ayah dan bundanya bersatu.


Devan tidak tahu rumah tangga yang bagiamana yang akan mereka jalani nanti. Entah hambar, membosankan atau justru akan membahagiakan mereka nantinya.


"Setelah ini kamu mau apa?" Pertanyaan Devan terdengar ambigu.


"Maksudnya?" tanya Kania dengan tatapan bingungnya.


"Setelah kita menikah, kamu mau apa? Kerja? Atau mau lanjut kuliah? Atau mau duduk di rumah aja jadi ibu rumah tangga dan habisin duit suami?"


Kania memutar bola matanya, merasa malas dengan pertanyaan terakhir Devan.


Jangankan uang suaminya. Uangnya sendiri yang berasal dari mahar yang diberikan Devan pun Kania bingung mau diapakan. Uang sebanyak itu, belum pernah sekalipun Kania memilikinya. Tapi sekarang uang itu sudah nangkring di rekeningnya.


"Kenapa diam? Mau kuliah lagi nggak?"


Kania menggeleng. Bukan tidak mau, tapi belum tahu. "Sementara fokus jadi ibu rumah tangga aja dulu," jawab Kania pelan.


"Jadi ibu rumah tangga, katanya harus siap melayani anak dan suami dari membuka mata sampai suami menutup mata. Udah siap?"


"Siap," jawab Kania tanpa ragu.


"Berarti habis ini juga udah siap, dong?"


"Siap buat apa?"


"Buat jadi istriku sepenuhnya."


🌼🌼🌼


apa sih ini? 😭😭


Mau part malam pertamanya enggak? tapi nggak di sini. 😜😜