Benih CEO

Benih CEO
Bab 63


Kania tersentak saat kedua tangan kekar milik Devan melingkar di perutnya. Kania membiarkan tangan itu terus melingkar di perutnya meskipun sebenarnya banyak mengganggu geraknya yang sedang memasak sarapan untuk keluarga kecilnya.


Sejak semalam Kania masih mendiamkan Devan. Rasanya masih begitu kesal karena ulah Devan yang membuatnya malu. Haruskah bicara seperti itu di hadapan orang lain? Apalagi di hadapan Rama. Apa tidak bisa Devan menjaga perasaan Rama sedikit saja?


Bukan berarti Kania masih mencintai Rama. Tapi dia hanya sungkan. Malu rasanya saat Devan membahas hal-hal yang menurutnya tidak perlu diketahui oleh orang lain.


"Sayang. Aku kan, udah minta maaf. Masa masih ngambek aja, sih? Mana semalam aku nggak dapat jatah lagi. Tidur juga nggak dikasih pelukan. Semalam terasa hampa."


Kania menahan senyumannya. Lucu rasanya mendengar keluhan manja Devan. Bukan hanya Devan saja yang semalam merasakan malamnya begitu hampa. Kania pun sama. Rasanya ada yang berbeda kalau tidur tidak dipeluk atau memeluk Devan.


Namun Kania tetap bertahan dengan sikap diamnya hanya untuk memberi Devan pelajaran. Bahwa tidak semua hal bisa dia lakukan begitu saja sesuai dengan keinginannya.


"Maafin aku, dong, Sayang. Nggak kasian sama aku?"


Mematikan kompor karena masakan sudah matang, Kania lalu memutar tubuhnya menghadap Devan. Memandang wajah memelas Devan dengan tatapan sedikit tajam. Hanya sandiwara karena aslinya Kania ingin tertawa melihat ekspresi wajah Devan.


"Jangan diulangi lagi, Mas. Aku malu Mas ngomong kayak gitu ke orang lain. Biar kita sendiri aja yang tau masalah seperti itu. Orang lain nggak perlu tau."


"Iya, Sayang, siap! Maaf, ya."


Akhirnya Kania pun mengangguk dan tersenyum. Membuat Devan mengeratkan pelukannya. Menciumi wajah Kania tanpa terlewat satupun bagian dari wajah Kania.


"Udah, jangan cium-ciun terus. Belum mandi juga!"


"Mau mandi habis ini sama kamu, Sayang."


"Eh, enggak ada!"


"Kan, semalam nggak dapat jatah, Sayang. Gantinya aku ambil pagi ini."


"Nggak ada yang begituan, Mas. Udah sana mandi!"


Meskipun berat rasanya, Devan tetap menuruti perintah Kania agar dia segera mandi dan bersiap-siap ke kantor. Pagi ini gagal mengambil jatah semalam yang tidak diberikan.


***


Pagi ini Kania kembali mencelupkan sebuah testpack ke dalam air seninya yang sudah ditampung di dalam wadah kecil.


Satu hal yang rutin dia lakukan beberapa hari terakhir saat Kania menyadari bahwa dia sudah seminggu telat datang bulan.


Kalau dulu telat datang bulan adalah suatu yang tidak dia harapkan, tapi kini hal tersebut dia nantikan.


Bukan Kania ingin terburu-buru hamil mengingat baru sebulan ini dia dan Devan begitu intens melakukan hubungan suami istri setelah tiga bulan lebih menikah.


Tapi kalau Allah menakdirkan lebih cepat, Kania dan Devan tentu akan sangat bahagia karena Devan juga menantikan kehamilan Kania.


Tapi sayangnya, hasil testpack masih menunjukkan hasil yang sama seperti kemarin-kemarin. Negatif.


Kania berencana untuk melakukan test darah jika sampai lusa dia tak kunjung datang bulan atau hasil testpack masih negatif. Biasanya test darah akan lebih akurat daripada testpack.


Kania menghela napas pelan lalu memasukkan testpack bekas dan wadahnya ke dalam tempat sampah yang ada di dalam kamar mandi sebelum Devan mengetahui aksinya yang dia lakukan setiap subuh itu.


Niat ingin memberi surprise, tapi ternyata Allah belum mengijinkannya. Ya sudah. Lebih baik Devan tidak tahu hal ini terlebih dahulu. Daripada dia tau lalu berharap dan akhirnya kecewa.


"Udah pulang, Mas?"


Kania memasang wajah seceria mungkin saat Devan baru saja memasuki kamar setelah pulang dari masjid untuk sholat subuh. Menutupi segala rasa yang mengganggu pikiran dan hatinya. Hasil testpack yang masih saja negatif itu membuat hati Kania begitu sedih.


"Kenapa, Sayang?"


"Kenapa apanya?"


"Matamu sembab. Habis nangis?"


"Hah? Enggak, ah. Habis kena air wudhu aja ini tadi." Kania mencari alasan. Memalingkan wajahnya agar Devan tak bisa memperhatikan kedua mata Kania.


"Jangan bohong."


"Enggak bohong, Mas. Aku kangen sama kamu. Kasurnya udah siap tuh." Kania melirik ranjang berantakan yang belum sempat di rapikan karena pergulatan semalam. Berusaha mengalihkan perhatian Devan.


"Tumben minta duluan? Biasanya harus dirayu dulu."


Tawa kecil keluar dari bibir Kania. "Mas Devan nggak mau?"


"Tentu mau, dong."


Kania tertawa lagi dan menerima setiap sentuhan yang diberikan Devan.


"Tunggu, Mas."


"Kenapa?"


Tanpa menjawab pertanyaan Devan, Kania segera berlari ke kamar mandi.


Tangis Kania pecah saat itu juga saat melihat adanya bercak merah di celananya. Dia datang bulan.


"Sayang. Kenapa lama sekali?" Devan mengetuk pintu dan memanggil-manggil Kania. Sedangkan Kania masih berusaha untuk menghentikan tangisnya.


Kania membesarkan aliran air pada kran untuk meredam tangisnya. "Sebentar, Mas," ucapnya sambil menahan isakan.


Setelah dirasa cukup tenang, Kania akhirnya keluar dari kamar mandi dengan wajah sembab. Dan Devan pun sudah menunggu Kania di depan kamar mandi.


"Kenapa, Sayang? Kamu nangis?"


Kania segera memeluk Devan. Dia tidak bisa lagi menahan air matanya. "Maaf, Mas."


"Aku datang bulan lagi."


Devan menghembuskan napas lega. "Kirain kamu kenapa-kenapa, Sayang. Aku udah khawatir banget."


"Mas nggak sedih?" Kania memberanikan diri untuk menatap Devan.


"Sedih kenapa?"


"Karena aku belum hamil. Bukannya Mas mau aku cepat hamil, ya?"


Devan tertawa pelan. "Memang maunya begitu. Tapi kalau Allah belum kasih masa mau marah?"


Mendengar jawaban Devan, air mata Kania mengalir semakin deras. Dia tau Devan juga kecewa. Hanya Devan begitu pandai untuk menyembunyikan semuanya.


"Udah, Sayang. Nanti kalau udah selesai haid kita usaha lagi. Siang malam non stop."


"Ih!"


Devan tertawa. "Pagi ini nggak jadi, dong?"


"Maaf, ya, Mas. Gantinya nanti kalau udah selesai, deh, non stop." Kania menirukan ucapan Devan. Membuat keduanya tertawa bersama. Melupakan kekecewaan yang keduanya rasakan karena hari ini Kania kedatangan tamu bulanannya. Kania belum hamil.


***


Hari ini Kania tak bersemangat untuk melakukan apapun. Selain karena masih merasa sedih karena dia belum hamil, juga karena efek haid hari pertama yang selalu membuatnya malas untuk berkegiatan.


Kania tak memasak, tak menjemput Shaka, tidak datang ke toko, tidak pula datang ke kantor Devan. Yang dia lakukan sepanjang hari hanya tiduran dan bermalas-malasan setelah urusan rumah selesai.


Malam ini adalah malam Minggu. Seperti biasa, Shaka pasti ke rumah kakek neneknya, atau Opa dan Omanya. Anak itu sepertinya sengaja memberikan kesempatan agar kedua orangtuanya bisa berduaan.


Ah, tidak juga. Memang para nenek dan kakek saja yang menginginkan Shaka bersama mereka jika malam Minggu. Biasanya akan bergantian. Dan malam ini Shaka berada di rumah Bram dan Hanum.


Kania duduk dengan gelisah karena di jam sembilan malam, Devan belum juga pulang. Hal itu menimbulkan kekhawatiran di hati Kania. Tidak biasanya Devan pulang telat tanpa memberinya kabar seperti ini.


Segala pikiran buruk Kania terpatahkan oleh suara mobil Devan yang mulai memasuki halaman rumah. Kania segera membukakan pintu untuk Devan.


"Baru pulang, Mas?"


Devan mengangguk dan tersenyum tipis. Wajahnya terlihat sangat lelah. Menarik tangan Kania dan membawanya masuk ke dalam rumah. Udara malam ini begitu dingin. "Belum tidur?"


"Aku nungguin Mas Devan. Aku khawatir jam segini Mas Devan baru pulang."


Devan mengecup kening Kania sebentar. "Terimakasih ya, Sayang. Tapi Mas masih harus menyelesaikan pekerjaan sebentar."


"Apa nggak besok aja. Mas kelihatan capek banget, loh."


"Sebentar aja, kok."


"Aku buatkan kopi mau?"


"Boleh. Antar ke ruang kerjaku, ya."


"Iya, Mas."


Kania segera menyiapkan kopi panas untuk Devan agar rasa lelahnya sedikit terobati. Kania masih memikirkan kenapa Devan pulang malam hari ini. Bahkan tidak biasanya dia membawa pulang pekerjaannya.


"Mas kopinya."


"Taruh di atas meja aja, Sayang. Kamu boleh tidur duluan. Sebentar lagi Mas nyusul."


"Iya, Mas."


Setelah meletakkan kopi panas ke atas meja kerja Devan, Kania berniat untuk kembali ke dapur. Tapi sayangnya kakinya tersandung kaki Devan yang sedikit maju melebihi letak meja. Tangannya yang mencoba berpegangan pada pinggiran meja justru menyenggol gelas kopi dan membuat seluruh isinya tumpah ke atas tumpukan kertas pekerjaan Devan.


"KANIA!!!"


Kania tersentak saat Devan membentaknya dengan keras. Jantungnya berdegup kencang. Kania takut pada Devan.


"Bisa hati-hati nggak, sih? Ini kertas isinya penting. Sekarang berantakan semua!"


"Maaf, Mas. Aku nggak sengaja." Suara Kania bergetar. Rasa takut sekaligus ingin menangis mendengar bentakan Devan.


"Aku bantu bereskan, ya. Ngetik lagi, di print, atau apa yang bisa aku bantu, Mas?"


"Mana ngerti kamu soal pekerjaanku? Kuliah aja enggak!"


Hati Kania terasa di tusuk ribuan pisau mendengar ucapan Devan yang sangat keterlaluan. Air matanya berjatuhan. Hatinya sangat sakit mendengar bentakan dan ucapan Devan malam ini.


"Mas."


"APA!!!"


Kania menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakan. Dadanya kian sesak saat dia mencoba untuk tidak menangis di hadapan Devan. "Kamu lupa siapa yang membuatku berhenti kuliah? Kamu lupa siapa yang udah menghancurkan mimpiku? Jahat kamu, Mas."


Dengan kasar Kania mengusap air mata yang mengalir di wajahnya. Membanting nampan yang dia pegang lalu pergi meninggalkan ruang kerja Devan dengan hatinya yang teramat sangat sakit.


"Aaaaarrggghhh!"


Terdengar teriakan Devan dari dalam ruang kerjanya. Tapi Kania tak peduli. Hatinya terlanjur sakit.


🌼🌼🌼


siap-siap ke konflik selanjutnya. hatiku ikut sakit nulis part ini. 😭😭😭