
"Mas, gara-gara kamu, nih. Tadi Mama datang dan dengar suara kita. Aku kan, malu. Ih, kesel banget sama kamu."
Devan tertawa keras mendengar gerutuan Kania. Wajah Kania yang terlihat kesal terasa semakin menggemaskan.
Handphone Kania beralih ke tangan Devan, turut membaca isi pesan mamanya yang membuat Kania menggerutu kesal seperti itu.
"Ya udahlah, Yang. Mama sama Papa juga sering kayak begitu. Aku juga sering dengar. Mereka nggak malu sama aku."
"Tau, ah!"
Kania merasa tak punya lagi wajah untuk berhadapan dengan Mama mertuanya. Rasanya malu setengah mati karena Hanum mendengar suaranya dan Devan tadi.
Lagipula kenapa ceroboh sekali sampai pintu tidak ada yang di tutup? Baik pintu rumah, maupun pintu kamar. Andai pintu kamar tertutup rapat, tentu suara mereka tidak akan menggema di seluruh ruangan rumah besar lantai dua itu karena kamar mereka kedap suara.
Sayangnya mereka terlalu percaya diri kalau tidak akan ada yang masuk ke dalam rumah dan mendengar suara-suara yang timbul karena aktivitas panas mereka pagi ini.
"Udahlah, Sayang. Mama tau kita lagi panas-panasnya. Anak muda biasalah."
Kania melengos enggan memandang Devan lagi. Sibuk mengeringkan rambutnya sebelum berangkat ke kantor Papa mertuanya bertemu dengan Hanum karena saat ini Hanum sedang berada di sana.
Tidak tau saja kalau Hanum menyusul Bram ke kantor untuk menggoda Bram. Gara-gara Kania dan Devan, Hanum tak mau kalah meskipun umur mereka sudah hampir lima puluh tahun.
***
Dengan tersenyum malu, Kania mendatangi ruangan Bram. Dia datang bersama Devan karena Kania terlalu malu jika harus datang sendiri.
Hanum menyambutnya dengan senyum penuh godaan.
"Sudah selesai, Ka?" tanya Hanum yang membuat Kania salah tingkah.
Kania tau pertanyaan itu semacam pertanyaan menggoda. Rasanya Kania ingin menghilang dari hadapan Hanun dan Bram untuk beberapa saat saja.
"Ya udahlah, Ma. Kalau belum mana mungkin sampai di sini? Sambil jalan?"
Dengan keras Kania menyenggol lengan Devan yang menjawab pertanyaan Hanum dengan seenaknya saja. Tidak peka kalau hal itu membuat Kania semakin malu.
"Nggak usah menggoda Kania begitu, Ma. Mama nyusul Papa ke kantor pasti juga karena pengen, kan?"
Hanum dan Bram pun terlihat salah tingkah mendengar ucapan Devan yang benar seratus persen. Anak, orangtua dan menantu tak ada bedanya sama sekali.
"Ih, mulutnya!" Kania menyentil bibir Kania.
"Sakit, Sayang."
Dipanggil sayang di hadapan kedua mertuanya, Kania salah tingkah.
"Bagus, Kania. Lebih keras lagi nggak apa-apa. Nggak ada sopan-sopannya itu anak sama orangtua." Hanum memberi dukungan.
"Emang bener, kok. Tuh, rambut Papa sama Mama udah basah lagi jam segini."
"Diam kamu, Van. Udahlah, itu hal yang normal, bukan? Itu kebutuhan. Asal tau tempat dan waktu aja." Bram menimpali. Menghentikan perdebatan antara tiga orang yang begitu berarti dalam hidupnya.
Tak mau lagi membuang waktu karena pertemuan Kania dan Hanum dengan supplier sudah ditunda beberapa jam, Hanum segera mengajak Kania berangkat menemui mereka.
Pertemuan mereka terpaksa diundur karena ada hal yang lebih mendesak dan tidak bisa ditunda lagi.
Kania sendiri merasa heran. Kenapa susah sekali menolak Devan. Di manapun dan kapanpun. Saat Devan menyerangnya secara tiba-tiba, Kania pasrah saja menerimanya. Ya memang pada dasarnya mereka berdua sama saja. Sama-sama menginginkannya. Seperti kata Bram, itu kebutuhan.
πΌπΌπΌ
Malam harinya, Kania, Devan, dan Shaka menikmati waktu luang untuk berjalan-jalan di salah satu mall yang ada di kota Surabaya. Sekaligus Kania akan berbelanja kebutuhan mereka yang sudah mulai habis di supermarket yang ada di mall tersebut.
Besok hari Minggu dan Shaka libur sekolah. Malam ini Shaka diijinkan untuk bermain sepuasnya.
"Yah, mau mainan baru boleh?"
"Bole_"
"Mainan Shaka udah banyak. Ada manfaatnya tidak? Kalau tidak ada mending tidak udah dibeli, Nak." Kania menyela ucapan Devan sebelum Devan benar-benar mengabulkan permintaan Shaka.
Kania mengajarkan pada Shaka, jika suatu barang tidak mendatangkan manfaat, lebih baik tidak dibeli. Lebih baik uangnya ditabung, atau diberikan pada orang yang lebih membutuhkan.
Wajah Shaka yang semula berbinar berubah menjadi kesal karena keinginannya tak dikabulkan oleh Kania.
"Bolehlah, Bund, sekali-kali. Shaka kan, juga jarang minta mainan." Devan mengajak Kania bernegosiasi.
"Tapi nanti dia keterusan, Mas."
"Sudah. Biar Mas yang kasih dia pengertian."
Kania menghembuskan napas panjang. Mengalah dan membiarkan Devan berbicara dengan Shaka.
"Boleh beli mainan. Tapi kalau mainan Shaka belum rusak, Shaka belum boleh beli mainan lagi. Oke, boy?"
"Siap, Yah." Shaka menyetujuinya dengan penuh antusias.
"Ya udah, bunda belanja dulu kalau Shaka mau pilih mainan sama ayah."
"Hati-hati, ya. Nanti kami nyusul."
Kania mengangguk dan segera berlalu dari hadapan anak dan suaminya.
***
Satu persatu bahan makanan masuk ke dalam troli yang didorong oleh Kania. Mulai dari beras, gula, telur, aneka Frozen, sayur-sayuran dan buah-buahan.
"Eh!"
Kania tersentak saat trolinya menabrak sesuatu. Tak hanya itu, Kania begitu terkejut melihat sosok yang berdiri di hadapannya setelah beberapa bulan tidak bertemu.
"Apa kabar, Ka?"
Kania mengangguk. "Baik. Kamu apa kabar?"
Rasanya begitu canggung mengingat dulu keduanya pernah menjalin cinta. Sempat berencana untuk menikah namun akhirnya semesta tak merestuinya.
"Aku baik," jawabnya. "Sendirian aja?"
"Ah, enggak. Aku sama_"
"Bersama saya dan anak kami." Tiba-tiba saja Devan dan Shaka sudah berada di samping Kania. Devan memeluk pinggang Kania dengan posesif. Menunjukkan tanda kepemilikan atas Kania pada Rama, mantan kekasih Kania.
Rama kembali merasakan cemburu yang begitu besar melihatnya.
"Om Rama!"
"Hay, Shaka. Shaka apa kabar?" Rama berjongkok. Mensejajarkan tubuhnya dengan Shaka.
"Shaka baik, Om. Om Rama apa kabar?"
Rama tertawa kecil. "Kabar Om juga baik, anak pintar. Habis beli mainan baru, ya?"
"Iya, dong, Om. Dibeliin ayah."
Rama tersenyum kecil. Dulu dia yang sering membelikan Shaka mainan. Tapi sekarang sudah diambil alih oleh ayah kandung Shaka.
"Ehm! Shaka katanya mau beli cemilan. Dipilih dulu, Nak." Devan mengalihkan perhatian Shaka. Bermaksud untuk menghentikan obrolan Rama dengan Shaka. Devan tak ingin anaknya terlalu dekat dengan mantan kekasih Kania meskipun sejak Shaka masih dalam kandungan sudah begitu dekat dengan Rama.
Untung saja Shaka tak banyak protes dan langsung memilih aneka makanan yang dia mau.
"Sayang, kenapa dorong troli yang isinya sebanyak ini sendirian. Kamu ingat kalau kita lagi program hamil adik-adiknya Shaka. Jangan terlalu lelah."
Kania tersenyum salah tingkah saat mendengar ucapan Devan. Sejak kapan mereka program hamil? Melakukannya memang setiap hari. Tapi tidak memaksa untuk hamil dalam waktu dekat. Dikasih cepat, Alhamdulillah. Tidak juga tidak masalah.
"Apaan, sih, Mas?" protes Kania pelan. Merasa tak enak pada Rama.
Bukan terlalu percaya diri, tapi dari tatapan mata Rama, Kania tahu kalau belum sepenuhnya Rama bisa melupakan Kania. Dia tau betul bagaimana Rama.
Rama sendiri sempat terperangah mendengar panggilan Kania untuk Devan. Terdengar sangat menghormati Devan dan begitu mesra di telinga Rama.
"Emm, maaf, ya. Kami permisi dulu. Setelah ini kami harus usaha lagi biar Kania cepat hamil."
Sengaja Devan lakukan untuk membuat Rama berhenti berharap pada istrinya. Sebagai sesama lelaki, Devan tahu kalau tatapan mata Rama pada Kania masih menyiratkan bahwa dia begitu mendambakan Kania.
"Mas!" gertak Kania dengan mencubit kecil lengan Devan. Tak tau malu! Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu di hadapan orang lain. Di tempat umum pula.
"Maaf, Rama. Kami pamit dulu, ya," pamit Kania pada Rama dengan tak enak hati. Rasanya malu dan sungkan akibat ucapan Devan yang tak tau malu itu.
Kania sudah tak berminat untuk melanjutkan belanjanya. Sudah kehilangan selera meskipun masih banyak yang harus dia beli. Menyerahkan trolinya pada Devan agar Devan saja yang mengantri di depan kasir. Sedangkan Kania mengajak Shaka untuk menunggu di luar mall.
***
Kania masih memasang wajah kesal selama perjalanan pulang. Dia tak mengajak Devan bicara sedikitpun. Kania hanya berbicara pada Shaka. Itu saja jika Shaka bertanya akan satu hal pada Kania.
Rasanya masih begitu kesal pada Devan yang tak tau malu berbicara seperti itu di hadapan Rama. Kania tau kalau Devan cemburu. Tapi tidak seperti itu juga cara Devan mengungkapkannya.
Lagi-lagi Kania membiarkan Devan yang mengurus belanjaannya. Membawa masuk semuanya sendiri tanpa Kania membantu Devan sedikitpun.
"Shaka cuci tangan, gosok gigi, lalu tidur ya, Nak."
"Baik, Bunda."
Setelah memastikan anaknya benar-benar melakukan apa yang diintruksikannya, Kania masuk ke kamarnya sendiri.
Mengganti pakaiannya, mencuci tangan dan wajah, menggosok gigi lalu tidur. Tak peduli dengan Devan yang masih berada di bawah membereskan belanjaan mereka.
"Sayang."
Kania menepis tangan Devan yang menyentuh pundaknya.
"Aku minta maaf."
Ucapan Devan tak dipedulikan oleh Kania.
"Jangan membelakangi aku gini. Kamu tau aku nggak bisa tidur kalau kamu nggak peluk aku."
"Diam, Mas Devan. Aku mau tidur."
"Iya. Tapi hadap sini, dong."
"Diam atau nggak dikasih jatah selama dua bulan."
Devan langsung terdiam daripada jatah rutin setiap harinya terancam tidak diberikan selama dua bulan lamanya.
πΌπΌπΌ
maafkan kalau part ini gaje. ππ