
Kania mematung di tempatnya. Rasanya seperti mimpi, melihat sahabatnya duduk di hadapan Devan. Dalam hati Kania bertanya-tanya, ada urusan apa Dita bertemu dengan Devan?
Kania mencoba berpikir positif, meyakinkan dirinya bahwa bukan Dita pelaku penyebar berita tentang dirinya.
"Dita sahabatku, kan? Mana mungkin dia melakukan itu," batin Kania berbicara.
Tapi ucapan Devan mematahkan semua pikiran positifnya. "Dia sahabat kamu, kan? Atau masih bisa kamu sebut sahabat kalau aib kamu saja dia sebarkan?"
Kania tertawa kosong. Masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang Devan ucapkan. "Dia sahabat aku, Devan. Nggak mungkin dia tega sama aku."
"Kenyataannya begitu." Devan menegaskan.
Langkah Kania begitu pelan mendekati Dita yang menatapnya dengan penuh kebencian. Tidak ada rasa takut di wajahnya, padahal dia sedang berhadapan dengan Devan yang bukan orang sembarangan.
"Bukan kamu kan, Dit?" Kania mencari jawaban, wajahnya berusaha untuk tetap tenang dengan mengukir senyuman di bibirnya.
Dita berdiri. Menatap tajam kedua mata Kania. "Kalau memang aku, kamu mau apa?" tantangnya.
Kania menggeleng pelan. Lagi-lagi tertawa kosong setelah mendengar ucapan Dita. "Kita sahabat, Dita. Kamu nggak mungkin tega ngelakuin ini sama aku."
"Tega! Buktinya aku lakukan semuanya. Apa bedanya dengan kamu yang merebut Rama dari aku?"
"Aku nggak pernah merebut Rama dari kamu," bantah Kania. "Andai kamu bilang ke aku kalau kamu di jodohkan dengan Rama, aku nggak akan pernah menerima cinta dia, Dita. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu justru memancing aku dengan pertanyaan, apa aku nggak cinta sama Rama? Apa aku benar-benar nggak ada hubungan apa-apa sama Rama? Itu yang kamu lakukan saat pertama kita ketemu, Dit."
"Tapi akhirnya kamu terima Rama juga, kan? Kamu juga cinta sama dia, kan?"
"Itu karena aku nggak tahu kalau kalian ada hubungan," timpal Kania dengan keras. Rasanya begitu sakit ketika orang yang dianggap sebagai sahabat, justru menjatuhkan Kania sejatuh-jatuhnya. Membuka semua aib Kania dan Shaka di media. "Kita bisa bicarakan ini baik-baik, Dita. Nggak perlu kamu bongkar semua aib aku. Bukan aku yang khawatir di hujat orang karena aku memang bukan orang yang baik, tapi mental Shaka yang aku khawatirkan. Mental anakku, Dita. Dia masih kecil, dia nggak tahu apa-apa, dia nggak salah apa-apa. Tapi dia di bully teman-temannya, dia di hujat. Mati-matian aku bangun mental dia karena tumbuh tanpa ayah, dan kamu menghancurkannya begitu saja. Kamu nggak pernah tahu gimana rasanya karena kamu belum punya anak."
Dita tertawa sinis. Seolah ucapan Kania bukanlah sesuatu yang perlu di pikirkan olehnya. "Semua salah ibunya karena moralnya minus. Suatu hari aku juga akan punya anak. Tapi dengan cara halal, bukan murahan seperti kamu."
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Dita. Tasya yang berdiri di belakang Kania meringis ngilu melihat bekas tamparan Kania yang memerah di pipi Dita.
"Aku salah menilai kamu, Dit. Aku pikir kamu sahabat. Aku pikir kamu tulus. Aku pikir kamu bisa lebih dewasa menghadapi masalah yang sebenarnya bisa di selesaikan dengan cara baik-baik. Tapi ternyata aku salah." Kania menghapus air matanya dengan kasar. Air matanya terlalu berharga untuk menangisi orang macam Dita. "Aku dan Rama udah selesai. Ambil dan lakukan apa yang kalian mau."
Devan segera mengusir Dita. Dita sendiri sudah di berhentikan secara tidak hormat oleh Devan karena Dita sendiri adalah karyawan di kantor Devan. Dan namanya pun sudah di black list dari semua perusahaan di Indonesia.
Semua akan sengsara jika berani mencari masalah dengan Devan maupun orang-orang terdekat Devan.
Kania membiarkan Devan melakukan hal itu. Dia tidak akan menahan Devan seperti yang dia lakukan untuk Bu Renata dan Mama Helen. Kania rasa, Dita memang perlu di beri pelajaran.
Setelah kepergian Dita, Kania terduduk lemas di sofa. Rasanya masih sulit untuk di percaya kalau Dita tega melakukan ini semua. Hanya karena cinta, tapi Dita rela mempersulit hidupnya sendiri secara tidak langsung.
Hidupnya tidak akan bahagia setelah ini karena dia tidak bisa lagi bekerja di kantor manapun. Dia juga belum tentu bisa mendapatkan cinta Rama.
"Sabar ya, Ka." Tasya mengusap bahu Kania dengan lembut. Kania mengangguk.
"Maaf, ya, sempat nuduh kamu yang melakukan ini semua."
Tasya tersenyum tipis. "Enggak apa-apa, kok. Aku ngerti karena memang dulu aku bukan orang baik."
Dulu, Tasya adalah seorang pembully sampai-sampai siapapun yang bertemu atau berpapasan dengan Tasya merasa takut. Mereka lebih baik menghindar daripada berhadapan dengan Tasya.
Siapa sangka kalau sekarang Tasya sudah berubah menjadi lebih baik seperti sekarang.
***
Devan mendekati Kania yang masih duduk dengan pandangannya yang kosong. Sesekali meneteskan air mata dan cepat-cepat Kania menghapusnya. "Ka," panggilnya disertai dengan sentuhan lembut di pundak Kania.
Kania beringsut, menghempaskan tangan Devan yang ada di pundaknya dengan kasar. "Jangan sentuh aku!" ucapnya tegas.
Kumat lagi. Devan membatin.
"Orang seperti itu nggak perlu kamu tangisi, Ka," ucap Devan.
"Diam kamu!" Seru Kania menimpali ucapan Devan. Kania menatap Devan dengan tajam. "Berhenti bersikap peduli sama aku. Aku begini juga gara-gara kamu. Hidupku berantakan itu karena kamu, Devan. Aku benci sama kamu!"
"Berhenti menyalahkan aku, Kania. Bukankah kita sama-sama salah di sini? Aku memang kurang ajar sudah meniduri kamu. Tapi itu juga nggak akan terjadi kalau kamu nggak ke tempat itu." Devan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. "Lagipula semua sudah selesai. Kamu mau apa sekarang?"
Kania berpikir keras. Rasanya ingin pergi sejauh-jauhnya dari kehidupan Devan dan keluarganya. Tapi Shaka terlanjur terikat dengan mereka.
Berharap agar tak bertemu dengan Devan pun rasanya tidak mungkin karena setiap akhir pekan Kania dan Shaka harus datang ke rumah Devan.
Kania menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tangisnya sesenggukan. "Aku nggak tahu, Devan. Aku capek. Aku pengen pergi jauh dari kalian dan urusan kita selesai sampai di sini," ucapnya di tengah isakannya yang semakin menjadi.
Kania benar-benar merasa lelah. Dia lelah di hujat. Dia lelah di pandang buruk. Dan diapun lelah untuk berusaha baik-baik saja di hadapan semua orang.
"Tapi itu nggak mungkin bisa, kan?" sahut Devan. "Aku juga nggak akan membiarkan kamu membawa Shaka jauh dariku lagi."
Devan melirik Tasya yang sejak tadi hanya menjadi obat nyamuk di antara Devan dan Kania. Menaikkan kedua alisnya untuk memberi kode pada Tasya agar Tasya turun tangan dalam hal ini.
Tasya yang mulai paham pun akhirnya mendekati Kania. "Kania, kita liburan aja gimana? Di bayarin Devan, kok. Duit dia nggak akan habis kita pakai untuk tujuh kali keliling dunia."
Mata Devan mendelik ke arah Tasya. Memang dasarnya Tasya cari kesempatan.
"Lagipula kan, Shaka udah ada yang jagain. Bapak ibu kamu, Tante Hanum sama Om Bram pasti juga nggak keberatan jagain Shaka. Kita bisa happy-happy. Refreshing, biar nggak penat. Aku sering baca, ibu-ibu yang kurang piknik biasanya akan mudah emosi. Kamu kurang piknik, kan? Apalagi akhir-akhir ini keadaan benar-benar menguras emosi kamu."
Wajah Kania mendongak setelah mendengar ucapan Tasya. Bisa-bisanya di saat seperti ini dia bicara seperti itu. Kan, bener apa yang di bilang Tasya. Batin Kania berbicara.
"Liburan ke mana?" tanya Kania pada akhirnya.
Tasya membelalakkan matanya bahagia mendengar respon Kania yang sepertinya setuju untuk liburan. "Kemana aja! Terserah kamu. Aku ngikut aja, sih."
"Aku nggak banyak tahu destinasi wisata. Terserah kamu aja."
"Oke. Ke Swiss aja mumpung sebentar lagi salju turun di sana. Devan, urus semua, ya!" ucap Tasya membuat Devan menepuk jidatnya.
Dua wanita ini kalau jadi satu dan akur begini ternyata bahaya. Devan hanya berani mengucapkannya dalam hati. Tidak ingin jadi sasaran dua wanita di hadapannya jika Devan benar-benar mengucapkannya di hadapan mereka.
🌼🌼🌼