Benih CEO

Benih CEO
Bab 64


Entah apa yang sedang terjadi pada Devan, Kania tak tau. Tapi apakah harus Devan membentak Kania? Kania sadar dirinya bersalah telah menumpahkan kopi tersebut pada tumpukan berkas Devan. Tapi Kania tidak sengaja.


Dia hampir saja terjatuh karena tersandung kaki Devan. Tangannya yang mencoba berpegangan hanyalah upayanya untuk melindungi dirinya sendiri agar tidak terjatuh.


Kania lebih memilih masuk ke kamar Shaka dan menguncinya dari dalam. Kania tidak mau masuk ke dalam kamarnya bersama Devan. Tidak mau berada dalam satu ruangan yang sama dengan Devan untuk saat ini.


Sejak mendengar ucapan Devan tadi, Kania menjadi ragu. Apakah selama ini Devan benar-benar mencintainya, atau hanya sebuah manipulasi karena dia sempat ketahuan menikahi Kania agar tidak kehilangan jabatannya?


Atau Devan hanya memanfaatkan tubuh Kania untuk melampiaskan kebutuhannya saja?


Hati Kania sakit memikirkan itu semua. Bentakan Devan terus menggema di telinganya meskipun sudah berlalu sekian menit.


Dia masih ingat tatapan tajam Devan yang penuh amarah. Bentakan demi bentakan serta ucapan yang menyakitkan.


Sambil memeluk guling Shaka, Kania menumpahkan air matanya. Untung saja tidak ada Shaka malam ini. Jadi Shaka tidak mendengar teriakan penuh amarah yang ayahnya lontarkan.


***


Pagi yang berbeda dari hari-hari Hana sebelumnya. Tak ada yang mengecup keningnya saat dia membuka matanya. Tak ada ucapan selamat pagi dengan penuh mesra seperti biasanya.


Tidurnya semalam juga begitu gelisah. Dia sudah terbiasa tidur dengan dipeluk atau memeluk Devan. Tapi semalam, rasanya begitu sepi dan sunyi.


Entah apa yang dilakukan di luar kamar, Kania tak peduli. Sejak pagi menyapa dia lebih memilih untuk mengurung dirinya di dalam kamar Shaka.


Harusnya Devan hari ini libur dan keduanya bisa menghabiskan waktu bersama. Tapi kejadian semalam membuat Kania enggan untuk bertemu dengan Devan.


Di ruang keluarga tempat Devan duduk pun sama sepinya. Ada penyesalan saat dia membentak Kania semalam. Tapi dia juga masih kesal karena tumpahan kopi tersebut membuat Devan harus mengulang lagi pekerjaannya yang sudah dia kerjakan sejak pagi.


Devan memandang kamar Shaka yang tertutup rapat dan sunyi. Tidak ada suara Kania sedang melakukan suatu hal, atau tanda-tanda Kania akan keluar dari kamar.


Kedua pasang mata itu beradu saat Kania membuka pintu kamar Shaka. Namun sesegera mungkin Kania mengalihkan pandangannya. Masuk ke kamarnya dan mengambil keperluannya untuk mandi.


"Mau kemana kamu?"


Langkah Kania terhenti saat mendengar suara Devan yang terdengar begitu dingin. Kania sudah rapi dengan dress katun selututnya.


"Apa peduli kamu terhadap perempuan yang tak berpendidikan seperti aku?" Kania menjawab tanpa memandang Devan. "Ucapan kamu semalam menunjukkan bagaimana selama ini kamu memandangku. Rendahan dan tidak berpendidikan."


Tanpa menunggu Devan berbicara lagi, Kania melangkahkan kakinya keluar dari rumah dengan cepat. Dia masih tak tau kemana kakinya akan melangkah. Tapi setidaknya, dia tidak bertemu dengan Devan untuk sementara waktu.


"Halo, Ma." Kania memutuskan untuk menelepon ibu mertuanya.


"Ya, Ka? Ada apa?"


Kania memejamkan matanya, merasakan sesak itu kembali datang dan menghimpit dadanya. "Aku titip Shaka untuk sementara waktu ya, Ma. Ngerepotin Mama nggak?"


"Ah, enggak, dong, Kania. Justru mama senang ada Shaka di sini. Memangnya kamu sama Devan mau kemana? Bulan madu, ya? Aduh, semoga cepat jadi ya, adiknya Shaka."


Kania tersenyum miris. Jangankan bulan madu. Justru sakit hati yang Kania dapatkan. Kania hanya tidak ingin Shaka tau tentang permasalahan yang terjadi di antara kedua orangtuanya.


"Ka, kamu sama Devan baik-baik saja, Kan?"


"Emm, baik, Ma. Kita baik-baik aja, kok. Hanya butuh waktu lebih lama untuk berdua saja."


"Ya sudah kalau begitu. Jaga diri baik-baik ya, kalian. Semoga cucu kedua Mama segera jadi."


"Iya, Ma. Salam untuk Shaka."


Telepon dimatikan. Kania kembali merebahkan kepalanya di sandaran kursi penumpang taksi yang ditumpanginya.


🌼🌼🌼


Devan mengacak rambutnya dengan frustasi. Keberadaan Kania belum dia ketahui bahkan saat waktu menunjukkan pukul tujuh malam.


Berkali-kali Devan mencoba menghubungi Kania, namun handphone Kania tidak aktif sama sekali. Ingin bertanya pada kedua mertuanya, tapi rasanya tidak mungkin. Mereka pasti akan ikut khawatir dan pasti akan tau permasalahan antara dirinya dengan Kania.


Akhirnya Devan memutuskan untuk bertanya pada Hanum. Barangkali Mamanya tahu dimana keberadaan Kania.


"Halo, Van? Ada apa?"


"Kania ada di situ nggak, Ma?" Devan memberanikan diri untuk bertanya pada Mamanya. Sudah pasti setelah ini dia akan mendapatkan ceramah panjang lebar karena menantu kesayangannya entah dimana sekarang.


"Apa maksud kamu? Tadi pagi Kania telepon Mama nitipin Shaka untuk sementara waktu. Pas mama tanya katanya butuh waktu lebih lama untuk berdua saja dengan kamu. Kenapa? Kalian ada masalah? Lalu dimana Kania sekarang? Ya ampun, Devan!"


"Semalam kami bertengkar kecil, Ma."


"Nggak mungkin! Pasti ada hal yang besar sampai Kania pergi dari rumah. Kamu ini kenapa, sih, Devan? Kenapa nggak ada hentinya kamu buat masalah?"


Devan menghela napas. Menyesal telah menanyakan keberadaan Kania kepada Mamanya.


"Aku bisa selesaikan ini, Ma. Aku mau cari Kania dulu."


"Kalau sampai ada apa-apa sama Kania, awas kamu, Van!" pungkas Hanum dan langsung mematikan sambungan telepon.


Devan melempar handphonenya dengan asal. Merebahkan tubuhnya ke atas sofa dengan kasar pula. Menghela napas panjang dan memijat pangkal hidungnya pelan. "Kania, kamu dimana?"


Setiap tempat yang biasa Kania datangi sudah Devan kunjungi untuk mencari Kania. Hanya satu yang belum, yaitu kediaman orangtua Kania.


Kalau dia nekat ke sana malam-malam begini, tentu mereka akan curiga. Kalau memang Kania di sana, mereka pasti mengira Devan akan menjemput Kania. Kalau tidak, pasti mereka langsung tau kalau antara Devan dan Kania sedang ada masalah sampai membuat Kania pergi dari rumah.


Devan juga sudah mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari Kania. Termasuk Nino yang juga turun tangan untuk mencari Kania. Namun nihil. Tak ada satupun yang bisa menemukan titik terang akan keberadaan Kania.


Devan semakin pusing. Masalahnya di kantor saja belum selesai kini ditambah dengan Kania yang pergi dan entah dimana dia sekarang.


Ingin menyelesaikan pekerjaannya, namun Devan tak bisa konsentrasi karena belum tau bagaimana keadaan Kania sekarang. Dia sedang apa, di mana, tidakkah dia memikirkan orang-orang yang dia tinggalkan?


Andai waktu bisa diputar, Devan tak akan membawa pulang pekerjaannya semalam. Kelelahan dan adanya masalah di kantor membuatnya tidak bisa menahan emosinya. Sehingga Kania yang tak tahu apa-apa pun menjadi pelampiasannya.


Bahkan ucapannya begitu melukai Kania.


Devan meremas mulutnya sendiri karena telah lancang berbicara seperti itu pada Kania. Masa lalu Kania merupakan hal yang sangat sensitif untuk Kania. Karena dirinyalah Kania kehilangan semuanya. Pantas jika Kania sangat marah dan sakit hati mendengar ucapannya semalam.


"Kamu dimana, Sayang? Pulanglah! Mas minta maaf."


Tak ingin berdiam terlalu lama, Devan segera beranjak dan keluar dari rumah untuk kembali mencari Kania. Tak peduli malam semakin larut dan rintik hujan mulai turun.


Malam ini, Devan harus menemukan Kania. Dia ingin tidur dengan memeluk Kania. Dia rindu Kania yang bermanja dengannya dan tak mau jika Devan melepaskan pelukannya ketika tidur.


Devan mengemudikan mobilnya menuju rumah Imas. Barangkali Imas sudah dihubungi Kania dan Kania mengatakan dimana keberadaannya pada Imas. Tadi siang saat Devan ke toko, Imas berkata dia tidak tahu dimana keberadaan Kania.


"Mas Devan? Ada apa malam-malam ke sini? Apa Kania belum pulang?"


Devan tersenyum tipis. "Belum, Mbak. Saya pikir kalau Mbak Imas sudah tau dimana dia sekarang. Mungkin saja kalau dia sempat menelepon Mbak."


"Ya Allah, Kania. Kamu dimana? Dia nggak telepon saya, Mas."


"Ya sudah kalau begitu, Mbak. Saya permisi, mau lanjut cari dia."


"Iya, Mas, hati-hati. Maaf saya nggak bisa bantu cari ya, Mas."


"Nggak apa-apa, Mbak. Saya permisi dulu."


Devan kembali ke dalam mobil dengan perasaan kecewa. Imas yang begitu dekat dengan Kania pun tak tahu dimana keberadaan Kania.


"Sayang, pulanglah! Mas kangen. Kamu dimana? Mas mau minta maaf."


🌼🌼🌼


Nah, loh. Kania dimana? πŸ˜…πŸ˜