
Senyum di bibir Devan terpatri dengan sempurna kala melihat Kania yang masih terlelap di pelukannya. Tidurnya begitu nyenyak, menunjukkan bahwa tubuhnya begitu lelah setelah melayani Devan yang seolah tak memiliki lelah sama sekali.
Tenaganya begitu kuat. Semalam hampir saja Devan tak membiarkan Kania untuk tidur. Devan baru mengijinkan Kania untuk tidur dengan nyenyak di jam dua dini hari.
Dan pagi tadi, setelah keduanya sholat subuh, mereka kembali melewati beberapa ronde. Sehingga di jam sembilan pagi, Kania masih terlelap.
Kasian pada Kania, tapi ya mau bagaimana lagi. Devan tak tahan untuk tidak menyentuh Kania. Tubuh Kania sudah menjadi candu untuknya. Ingin lagi, lagi dan lagi.
Devan beranjak dari tempat tidurnya dengan pelan. Takut kalau gerakannya membangunkan Kania.
Memakai pakaian kerjanya yang ada di lemari, lalu turun ke ruangannya. Devan tak ingin lagi menunda pekerjaannya meskipun rasanya ingin terus berduaan dengan Kania seperti kemarin dan sampai pagi ini.
Tapi Devan tak ingin pekerjaannya akhirnya menumpuk dan semakin sibuk. Dalam waktu dekat, Devan ingin mengajak anak dan istrinya liburan. Jadi lebih baik pekerjaannya diselesaikan dengan cepat sebelum semakin banyak.
Sebelum turun, Devan memesan makanan untuk sarapan keduanya. Untuk Kania, dia siapkan di atas meja dan memberikan secarik kertas berisi tulisan manis.
Pagi ini Devan lebih banyak tersenyum. Menjalani harinya dengan perasaan yang berbunga. Hatinya terasa bahagia setelah berhasil menaklukkan hati Kania.
"Bahagia banget. Sampai jam berapa semalam?" tanya Mike yang sudah duduk di ruangan Devan lima menit sebelum Devan datang.
Devan tak kaget lagi dengan pertanyaan Mike. Tentu dia tau semuanya dari Nino. Tau kalau Devan dan Kania bermalam di roof top.
"Nggak usah tanya-tanya begitu. Mending kamu juga puas-puasin dulu sana sebelum puasa empat puluh hari karena istri kamu nifas."
Tawa Mike berderai. Hal itu sudah tidak perlu diingatkan lagi. Hampir setiap hari Mike juga melakukannya dengan sang istri. Selain untuk memancing kontraksi karena usia kehamilan Olivia sudah mendekati hari perkiraan lahir, juga untuk bekal puasa selama empat puluh hari atau bahkan bisa lebih.
"Mana Kania?" Alih-alih membalas ucapan Devan, Mike justru menanyakan keberadaan Kania.
"Kenapa tanya soal Kania?" tanya Devan dengan ketus.
"No. Aku cuma nanya. Ketus amat."
"Dia masih tidur di atas. Capek habis kerja keras tadi pagi."
"Gila! Nggak kira-kira kamu, Van."
Tawa Devan berderai, suaranya memenuhi ruangannya yang kedap suara.
***
Dengan malas Kania membuka matanya yang terasa lengket seperti ditempelkan perekat di atasnya. Seluruh tubuhnya terasa begitu pegal. Dalam hatinya merutuki Devan yang menjadi penyebab tubuhnya terasa sakit semua.
Saat matanya terbuka, dia tak menemukan Devan di sampingnya. Dirinya ditinggal sendiri di roof top. Dan sialnya, hanya Devan yang bisa membuka pintunya. Lagi-lagi Kania dikurung.
Melangkahkan kakinya ke meja makan meskipun rasanya sangat malas untuk beranjak dari tempat tidur. Tapi cacing di perutnya sudah meronta-ronta minta makan.
Kania tertawa kecil saat sudah ada makanan di atas meja. Tentu Devan yang menyiapkannya karena memang tidak ada yang diijinkan untuk masuk ke dalam ruangan tersebut selain cleaning servis. Itupun harus ada ijin dari Devan jika akan membersihkan ruangan tersebut.
"Selamat pagi menjelang siang, Sayang. Aku kerja sebentar. Habis itu balik lagi dan kita mengulang yang semalam sekali lagi sebelum kita pulang ke rumah. Makan yang banyak dan siapkan tenagamu."
"Dasar mesum!" umpatnya setelah membaca tulisan Devan di atas secarik kertas yang diletakkan di dekat piring.
Tanpa memikirkan tulisan Devan, Kania segera duduk dan menikmati sepiring pecel ayam yang sudah disiapkan oleh Devan.
***
Menjalani hari-hari baru sebagai sepasang suami istri yang sesungguhnya, ternyata tak begitu buruk bagi Kania.
Meskipun harus bersiap dengan serangan Devan yang tiba-tiba dan tak tau waktu dan tempat, namun Kania senang melakukannya. Ya karena dia juga menikmatinya.
Menjadi hal yang tak pernah bosan dilakukan oleh keduanya. Keduanya seolah memiliki tenaga ekstra untuk hal tersebut meskipun di siang harinya mereka menjalani hari yang padat dan melelahkan.
Kania mulai menyibukkan dirinya di dunia bisnis. Dia juga berencana untuk kuliah lagi meskipun harus memulai semuanya dari awal lagi.
Hal itu tak masalah bagi Kania. Katanya, ibu adalah pendidikan pertama bagi seorang anak. Sebab itu dia ingin memantaskan dirinya agar bisa mendidik anak-anaknya nanti. Semoga segera diberi kepercayaan lagi untuk mengandung, melahirkan dan mendidik seorang anak.
"Bunda, bajuku mana? Kok, belum disiapkan?"
Kania segera mematikan kompornya setelah mendapat panggilan mesra dari sang suami. Oh, bukan mesra. Tapi manja.
Sekarang Kania seperti sedang mengurus dua anak kecil. Yang satu Shaka, dan yang satu lagi Devan.
Semenjak dua Minggu yang lalu, setelah keduanya menghabiskan malam yang panjang di roof top kantor Devan, sikap Devan berubah tiga ratus enam puluh derajat. Super manja dan tak mau kalah dari Shaka.
"Kenapa harus teriak-teriak, sih? Aku lupa siapin bajunya. Kan, bisa ambil sendiri."
"Ya maunya disiapin, Bund. Dipakaikan juga kalau perlu."
"Itu, kan, beda, Sayang. Shaka waktunya mandiri. Kalau aku waktunya dilayani."
"Ini mulut bisa aja ngejawabnya!" rutuk Kania sambil mencubit kecil kedua bibir Devan.
"Hari ini ke kantor ya, Yang."
"Nggak mau!" Kania menolaknya dengan cepat.
Tiga hari yang lalu, Devan tiba-tiba menelepon Kania dan memintanya untuk segera datang ke kantor Devan. Kania pikir ada apa-apa dengan Devan. Tapi ternyata, Devan mengajaknya merasakan sensasi baru di sana.
"Kenapa?" tanya Devan yang sok polos.
"Hari ini aku sama Mama mau ke supplier baru. Udah janjian."
"Habis ketemu supplier bisa dong, datang ke kantor."
Kania menghembuskan napasnya dengan jengah. "Nggak bisa, Mas. Aku juga harus ngecek persiapan untuk buka cabang baru."
"Sibuk banget, sih, kamu."
"Nggak setiap hari, kok." Kania mengusap pundak Devan. "Kan, aku juga bosan, Mas di rumah terus. Nggak ngapa-ngapain nungguin kamu pulang kerja."
Meskipun sedikit keberatan, namun akhirnya Devan mengalah. Membiarkan istrinya melakukan apa yang membuatnya senang. Semakin Kania dibahagiakan oleh Devan, semakin lancar juga jatah harian Devan. Ah, pikiran Devan. Tak jauh-jauh dari urusan ranjang.
"Tapi sekali dulu sebelum berangkat ke kantor," ucap Devan yang membuat Kania menghadiahi Devan dengan tatapan tajam.
"Apaan? Enggak, ya. Ada Shaka, jangan aneh-aneh."
"Setelah Shaka berangkat sekolah kan, bisa."
"Enggak ada! Udah cepetan turun dan sarapan. Habis itu langsung berangkat ke kantor."
Tapi, meskipun mati-matian bibir Kania menyuarakan penolakan, dia tetap terbuai dengan sentuhan Devan.
Dia tak bisa menolak saat beberapa menit setelah Shaka berangkat sekolah, Devan menggendongnya kembali ke kamar.
"Kamu terlambat, Mas," ucap Kania berusaha menggagalkan rencana Devan.
"Aku bosnya. Mau tidak masuk pun tidak ada yang mempermasalahkannya."
"Jangan sombong, deh. Gimana mau bener kalau atasannya aja terlambat. Jangan jadi contoh nggak baik buat karyawan."
"Apa, sih, Sayang? Sehari aja nggak apa-apalah. Mending nurut daripada aku mengurungmu di kamar seharian penuh. Atau sampai besok pagi. Atau nggak akan keluar lagi selama berhari-hari."
"Stop! Terserah kamu aja, deh, Mas," pungkasnya yang membuat Devan tersenyum penuh kemenangan.
πΌπΌπΌ
Hanum langsung masuk ke dalam rumah Devan dan Kania karena pintu depan tak tertutup sama sekali. Berulangkali memanggil nama Devan dan Kania, namun tak ada jawaban.
"Pada kemana, sih, pagi-pagi? Pintu nggak dikunci, ceroboh banget."
Saat masuk ke dalam rumah, samar-samar dia dengar suara yang tak asing baginya yang sudah lebih berpengalaman.
Hanum menggelengkan kepalanya. Menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Dasar anak-anak nggak tau waktu. Jadi kangen Mas Bram, kan. Aduh!" Hanum menepuk bibirnya sendiri dengan pelan. Pikiran dan mulutnya memang susah sekali di kontrol.
Daripada menunggu kedua anaknya yang sedang dimabuk asmara, Hanum memutuskan untuk pergi meninggalkan kediaman anaknya.
Kania, tadi Mama udah datang. Tapi kayaknya kamu lagi asyik ya, sama Devan π
Lain kali pintu dikunci. Untung yang masuk Mama, bukan maling.
Pintu Mama kunci dari luar. Kalau mau buka pakai kunci cadangan aja, ya.
Tulisnya di aplikasi pesan singkat lalu mengirimkannya pada Kania.
Hanum tertawa kecil. Hanum yakin, setelah ini pasti Kania malu jika bertemu dengannya.
πΌπΌπΌ
kepergok Mama mertua π³π
Maaf, part ini gaje! yang mau request, bisa DM. π€π€