Benih CEO

Benih CEO
Bab 72


Sudah dua Minggu berlalu sejak kecelakaan pesawat dimana ada Dita di dalamnya. Pencarian korban resmi dihentikan. Sayangnya, Dita tidak ada didaftar korban yang ditemukan.


Total dari mereka yang tidak ditemukan ada delapan belas orang.


Keluarga mereka sebagian mengikhlaskan jika memang tidak bisa ditemukan. Rela jika lautan yang menjadi tempat terakhir mereka untuk bersemayam.


Sebagian lagi masih percaya akan adanya keajaiban. Barangkali mereka bisa menyelamatkan diri dan sekarang ada di daratan manapun.


Lalu dengan Kania, antara mengikhlaskan atau masih tidak percaya kalau Dita sudah tiada. Harapannya tetap sama, semoga ada keajaiban untuk Dita. Tapi juga tidak mau berharap terlalu besar karena tak ingin merasakan kecewa yang amat sangat dalam jika apa yang dia yakini tak pernah terwujud.


"Dita, di mana pun kamu berada, jaga diri baik-baik, ya," ucapnya sembari melemparkan bunga ke lautan dari atas kapal milik TNI angkatan laut.


Kemarin pencarian resmi dihentikan. Dan hari ini dilakukan prosesi tabur bunga untuk mengenang para awak kabin dan penumpang yang menjadi korban pesawat naas tersebut.


"Datang ke mimpi aku, ya, Dit. Kamu harus jelasin kenapa kamu pergi tanpa pamit begini."


"Pulang, yuk. Bisa, yuk. Nggak capek berenang di lautan terus. Dingin, loh, Dit." Kania mengusap air matanya yang terjatuh. Lalu melihat ke samping, dimana ada Rama yang berdiri berjarak tiga meter darinya.


Dia terlihat sangat terpukul. Penyesalan jelas tercetak di wajahnya. Matanya memandang kosong ke arah lautan. Sesekali tangannya mengusap matanya yang juga menangisi kepergian Dita.


Kania tidak tau apa yang selama ini terjadi di antara mereka setelah Kania tak berhubungan lagi dengan Rama.


Yang pasti, hubungan mereka belum membaik bahkan sesaat sebelum Dita memutuskan untuk pergi.


"Kania."


Kania menoleh mendengar namanya dipanggil. Di hadapannya, sudah berdiri kedua orangtua Dita.


"Selama hidupnya, Dita banyak salah sama kamu. Mohon dimaafkan ya, Nak," ucap ibu Dita.


Kania langsung menghambur ke pelukan ibu Dita. "Kemarin sebelum Dita pergi, Dita udah sempat datang dan meminta maaf, Bu. Tapi jauh sebelum itu pun saya sudah memaafkan Dita."


Ucapan Kania melegakan hati ibu Dita. Setidaknya jalan Dita akan lebih terang dengan maaf yang diberikan oleh Kania.


"Terimakasih, Nak. Doain Dita, ya, biar dia tetap baik-baik saja. Meskipun harapan itu kecil, ibu tetap berharap Dita masih bisa selamat."


Kania mengangguk, sepemikiran dengan ibunya Dita. Meskipun kecil kemungkinannya, tapi masih berharap Dita akan pulang dalam keadaan selamat tanpa kurang satu apapun.


"Duduk dulu, Sayang. Nanti kamu pusing lagi kalau berdiri lama-lama."


Kania memang masih harus banyak istirahat. Dia masih merasakan mual dan muntah meskipun tak separah tiga Minggu yang lalu.


Untuk datang ke sini saja, dia harus merengek pada Devan. Menangis bahkan harus menggodanya dan memberikan malam yang panas terlebih dahulu agar Devan memberinya ijin. Walaupun pada akhirnya Devan mengiyakan tanpa menyentuh Kania semalam. Devan tidak mungkin meniduri istrinya yang sedang lemas.


🌼🌼🌼


"Hai, Van, Kania?"


Kania menoleh dan memandang Ivanka dengan jengah. Sedangkan Ivanka sendiri dengan percaya dirinya mendekati Devan dan bersiap mencium kedua pipi Devan sebelum tangan Devan menghentikan gerak Ivanka.


Ivanka sempat salah tingkah. Namun kembali mengangkat wajah dengan begitu percaya diri. "Kebetulan sekali ya, kita ketemu di sini?"


Dengan berani, Ivanka mengusap pundak Devan. Dengan cepat Devan menepisnya meskipun tidak dengan cara kasar.


"Iya, kebetulan sekali. Kita lanjut belanja, Sayang." Devan langsung mendorong troli belanjanya dan memeluk pinggang Kania, seolah menegaskan bahwa di hati Devan hanya ada Kania seorang.


"Tunggu dulu, dong, Van." Ivanka menahan troli Devan. "Kamu cuek banget sekarang. Udah lupa sama kenangan kita dulu? Dulu kan, kamu cinta mati sama aku. Tergila-gila sama aku, meskipun kamu cuek dan dingin."


Rasanya Kania ingin pergi. Mempersilahkan Devan dan Ivanka jika ingin bernostalgia sejenak. Tapi genggaman tangan Devan membuatnya tak bisa beranjak sedikitpun dari sisi Devan.


"Tidak ada yang perlu dijadikan bahan nostalgia, Ve. Kami permisi dulu."


Devan mengajak Kania pergi dari hadapan Ivanka. Menyisakan Ivanka yang tertawa geli melihat raut wajah mereka berdua yang terlihat kesal karena bertemu dengan dirinya.


🌼🌼🌼


"Hai, Ka."


Lagi-lagi Kania di buat terkejut dengan kemunculan Ivanka di hadapannya. Ivanka layaknya hantu yang terus mengikuti Kania, yang bisa berada dimana saja Kania berada.


Setelah sore kemarin keduanya bertemu di supermarket dan ada Devan juga di sana, siang ini Ivanka datang ke toko milik Kania.


"Ada apa?" tanya Kania dengan ketus.


"Ish, santai saja, Nyonya Devan."


"Oh, ya? Tadi aku lihat kamu lagi baca majalah aja? Mendadak nggak ada waktu buat ngomong sama aku?"


Kania menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar. Sikap dan semua ucapan Ivanka membuatnya jengah. Melihat Ivanka ada di depan matanya hanya menambah kekesalannya saja pada masa lalu Ivanka dengan Devan.


Apalagi setelah kejadian hari itu, saat Kania memergoki Ivanka duduk di pangkuan Devan dan menggoda Devan seperti itu.


Rasanya Kania ingin menjambak rambut wanita yang saat ini berdiri di hadapannya.


"Mau apa, sih?" Akhirnya Kania menyerah. Memberi kesempatan kepada Ivanka mengatakan tujuannya menemui Kania di sini. Kalau untuk berbelanja, Kania pikir tempat Kania bukan selera Ivanka.


Ivanka melebarkan senyumnya. "Aku mau minta maaf," ucapnya yang membuat Kania melebarkan kedua matanya.


"Tadi ngomong apa?" Kania mencoba mencari penjelasan. Barangkali apa yang dia dengar tadi salah.


Ivanka memutar bola matanya. "Hadeehh. Aku minta maaf, Kania. Emang salah kalau aku minta maaf? Nggak pantas gitu buat minta maaf atau dimaafkan?"


"Ngomong apa, sih? Lagian kamu minta maaf buat apa? Karena kamu masa lalu Mas Devan? Atau karena kamu sama Mas Devan sempat pangku-pangkuan?"


Ivanka tertawa dengan sedikit malu. Tapi akhirnya dia tau kalau sebenarnya Kania sangat cemburu saat menanyakan alasan kenapa Ivanka minta maaf tadi.


"Atau biar diijinin buat nostalgia sama Mas Devan?"


"Aduh, Kania. Cerewet banget, sih, bumil ini. Curigaan juga. Ibu hamil itu pikirannya harus positif. Jangan yang negatif-negatif begitu."


Sekali lagi Kania hanya bisa mengambil napas lalu menghembuskannya dengan sedikit kasar. Berulangkali dia lakukan untuk menambah kesabarannya berhadapan dengan Ivanka.


"Jangan banyak basa-basi, Ivanka."


"Oke." Ivanka langsung memasang wajah serius. "Aku jawab semua pertanyaan kamu tadi. Aku minta maaf. Mungkin sedikit banyak karena aku kamu bisa dihamili Devan waktu itu."


Ya, Kania sempat dengar ucapan Devan. Seandainya Ivanka tidak berulah, Devan tidak akan datang ke tempat itu. Tapi Kania tak pernah meminta Devan untuk menceritakan semuanya. Karena baginya, semua sudah selesai seandainya Ivanka tidak datang kembali.


"Saat itu Devan sangat marah karena aku pergi di acara pertunangan kami. Sebab itu dia melampiaskan dengan minum dan akhirnya mabuk. Dan terjadilah malam itu. Nggak usah kamu tanya aku tau itu semua dari siapa. Karena mata dan telingaku ada dimana-mana."


Kania menelan kembali pertanyaan yang berputar di kepalanya karena Ivanka seperti bisa membaca pikirannya. Dia tau apa yang akan Kania tanyakan. Yaitu dari mana Ivanka tau kejadian malam itu.


"Aku juga minta maaf soal kejadian di kantor waktu itu. Aku cuma ingin tau apakah Devan benar-benar mencintai kamu dan melupakan aku atau belum. Ternyata memang dia sudah melupakan semua perasaannya padaku. Buktinya, dia menolak saat aku sentuh. Bahkan dia terlihat sangat marah padaku saat kamu melihat kejadian itu. Aku bisa lihat bagaimana takutnya Devan kehilangan kamu pada saat itu."


Ivanka mengambil napas sejenak.


"Dan untuk aku yang datang ke rumah kalian waktu itu, itu gantian untuk ngetes kamu."


"Ngetes apa? Buat apa?"


"Sabar, bumil." Ivanka menjawab dengan gemas ucapan yang keluar dari bibir Kania.


"Ngetes seberapa percaya dirinya kamu untuk mendampingi Devan. Dengan masa lalu kalian. Emm, maaf, bukan maksudku merendahkan kamu atau gimana-gimana. Tapi kamu tau itu tidak mudah. Untuk menjadi pendamping CEO tampan macam Devan. Apalagi kehidupan kalian disorot media, dibutuhkan mental yang kuat. Perlahan masa lalu terungkap. Rahasia-rahasia besar terungkap. Tapi cara kamu melawanku waktu itu, aku yakin Devan sudah mengajarkan kamu banyak hal untuk menghadapi orang-orang seperti aku, yang datang ke rumah kamu waktu itu."


Kania dibuat semakin tidak mengerti dengan maksud ucapan Ivanka yang begitu panjang.


"Intinya, aku kembali bukan untuk merusak kebahagiaan kalian. Tapi aku ingin menjemput bahagiaku sendiri di sini. Kamu tenang aja. Aku sendiri sudah menemukan orang yang mencintaiku dengan tulus. Dan aku pun juga mulai mencintainya."


Ivanka berdiri dari tempat duduknya. Membenahi pakaiannya yang sedikit berantakan lalu menatap Kania yang masih terlihat bingung. "Aku pamit dulu ya, bumil. Satu jam lagi aku harus terbang ke Jakarta untuk pemotretan di sana."


Kania mengangguk kaku.


Bahkan sampai Ivanka naik ke mobilnya, Kania masih belum percaya dengan apa yang diucapkan Ivanka tadi.


Benarkah itu Ivanka?


Nggak lagi kesambet, kan?


🌼🌼🌼



yang komen gini ada masalah apa, sih? πŸ˜‚πŸ˜‚


otak dan ide orang kan beda-beda, ya? yang anak kembar dari sel telur udah bareng-bareng aja pemikiran sama idenya beda. ya Allah. 🀭🀭


yg nggak suka boleh kok langsung skip cerita ini. nggak maksa buat baca. cuman jangan dibanding-bandingkan aja, ya. ide dan pemikiran orang beda-beda.


oh, iya. rencananya nino-ive akan aku buat di sebelah aja. di buat cerita sendiri. kayaknya seru. tapi slow update karena kalau ada waktu nyempetin yg ini dulu sampai end. nggak lama lagi sepertinya end ini novel. 😁😁