
"Bapak nggak istirahat?"
Dengan langkah pelan dan gerakan tubuh yang terlihat menggoda, Sandra berjalan mendekati Devan yang tengah fokus pada laptop di depannya.
Devan melirik Sandra sekilas. Sudah sejak lama Sandra mencoba menggodanya. Tapi Devan tak pernah merasa terpengaruh sedikitpun.
Tapi kali ini rasanya Devan ingin sedikit bermain-main dengan Sandra.
"Kamu sendiri nggak istirahat?" Devan berbasa-basi.
"Mau makan siang bareng Pak Devan boleh?" Sandra mendekati tempat duduk Devan. Merangkul pundak Devan dengan sentuhan lembut penuh godaan. Aroma parfum yang di pakai Sandra langsung terhirup kuat oleh hidung Devan.
Devan melirik penampilan Sandra yang begitu terbuka. Rok span di atas lutut dan juga kemeja ketat yang dia kambing teratasnya terbuka menampakkan bagian tubuhnya, membuat Devan tak tahan untuk tidak memeluk tubuh ramping sekertaris cantiknya.
Keduanya begitu larut. Hingga suara benda jatuh mengejutkan keduanya. Kania, berdiri di depan pintu ruangan Devan. "Sial!" Devan mengumpat, merutuki kecerobohannya sendiri.
Devan yakin, setelah ini dia dalam masalah besar.
πΌπΌπΌ
"Apa lagi yang kamu lakukan, Devan? Kenapa nggak ada habisnya kamu bikin ulah?"
Devan merebahkan kepalanya pada sandaran sofa. Amarah mamanya dianggap sebagai angin lalu. Devan tak ingin mengatakan apapun tentang apa yang telah membuat Kania menolak Devan.
Semua adalah kesalahannya yang mudah terikat dengan Sandra tanpa tahu tempat dan posisi. Bukan, bukan karena dia mencintai Sandra. Hanya saja Devan tidak ingin posisi Sandra terancam karena kesalahan Devan.
"Kenapa harus Kania, sih, Ma? Dia menolak ya sudah. Masih ada perempuan di luar sana yang lebih baik dari Kania." Devan membuka suara. Tapi yang ada hanya membuat Hanum semakin naik pitam.
"Kenapa harus Kania kamu bilang? Kamu sadar kesalahan apa yang sudah kamu lakukan pada Kania? Dia butuh pertanggungjawaban kamu, Devan. Pertanggungjawaban kita. Dia perempuan, memiliki masa lalu yang buruk akibat ulah kamu. Sedikit orang yang bisa menerima dia dan masa lalunya, Devan. Ingat itu karena kamu! Kamu pelakunya!"
"Tapi dia bilang sendiri kalau dia nggak mau, Ma."
"Dia juga bilang kalau kamu yang membuatnya menolak lamaran kita. Apa yang sudah kamu perbuat?"
"Sudah, Ma. Biar Papa yang bicara." Bram mengambil alih. Sebelumnya dia menenangkan Hanum yang masih begitu emosi karena ulah Devan.
Bram yang biasanya lebih santai menghadapi masalah, untuk kali ini dia akan bertindak tegas. Semakin di biarkan, ulah Devan semakin kurang ajar.
"Jangan kamu pikir Papa tidak tahu apa-apa, Devan."
Devan terperangah mendengar ucapan Bram. Tentu saja tidak sulit bagi Bram untuk mendapatkan informasi apapun yang dia mau.
"Papa tidak pernah mendidik kamu menjadi orang yang kurang ajar. Berkali-kali Papa ucapkan ini. Jadilah orang yang bertanggungjawab. Jangan rusak anak orang lagi kalau ujung-ujungnya kamu akan lari seperti apa yang kamu lakukan pada Kania. Sudah bagus keluarganya tidak menghabisi nyawa kamu, Devan. Harusnya kamu bisa membuka mata, berasal dari keluarga yang bagiamana Kania itu."
Bram menjeda ucapannya. Memberi waktu bagi Devan untuk meresapi semua yang dia ucapkan.
"Papa beri waktu kamu satu bulan untuk menaklukkan hati Kania. Jika kamu gagal, siap-siap jabatan CEO Papa lepas dari kamu."
"Pa, nggak bisa gitu, dong." Devan merasa tidak terima dengan keputusan yang di berikan Papanya.
"Tidak ada negoisasi sedikitpun, Devan. Waktu kamu di mulai hari ini."
Bram mengajak Hanum untuk meninggalkan Devan sendirian.
Sedangkan kedua tangan Devan terkepal erat, merasa sangat tidak terima dengan apa yang di ucapkan sang ayah.
***
Kania hampir kehabisan napas saat mulut dan hidungnya di bekap oleh tangan yang cukup besar. Kania di paksa masuk ke dalam mobil tanpa tahu siapa pelakunya.
"Devan? Apa-apaan kamu?" Kania berseru dengan kesal.
Napasnya tersengal. Menarik napas lalu menghembuskannya berulang kali untuk mengisi paru-parunya yang seakan kehabisan oksigen karena tangan besar Devan yang membekapnya.
"Kenapa kamu menolak lamaranku?" Devan menatap tajam kedua netra milik Kania.
"Pikir aja sendiri! Mana mungkin aku menikah dengan laki-laki yang mudah membagi bagian tubuhnya pada sembarang wanita." Ucapan Kania begitu menohok.
"Sudah ku bilang, aku bukan wanita seperti yang kamu pikirkan."
Kania pikir, setelah sikap Devan sempat melunak, pemikiran Devan tentang dirinya itu sudah hilang. Devan sudah percaya kalau Kania adalah wanita baik-baik.
Tapi ternyata tidak. Anggapan Devan tentang Kania tetaplah sama. Tak berubah sedikitpun.
"Lalu apa?"
"Terserah kamu mau menganggapku apa. Tapi sekarang aku tahu, bahwa kamu tak lebih baik dari aku, Devan."
Kania membuka pintu mobil Devan untuk keluar. Tapi tangan Devan yang mencengkram erat tangan Kania membuat Kania berhenti bergerak. "Sakit, Devan! Lepasin!"
"Aku nggak akan lepasin kamu sebelum kamu mau menikah denganku."
"Atas dasar apa kamu memintaku untuk menikah denganmu? Tanggungjawab? Aku nggak butuh tanggungjawab dari kamu. Aku bisa menghidupi Shaka tanpa uang dari kamu maupun keluarga kamu. Bahkan jika Shaka tidak lagi menjadi artis, aku masih bisa memenuhi semua kebutuhan dia."
"Dengan cara apa? Jual diri?"
Plak!
Tangan Kania yang terbebas dari cengkeraman Devan menampar keras pipi Devan. Rasanya Kania ingin menjahit mulut pedas Devan agar dia tak bisa berucap apapun lagi.
Devan tersenyum sinis sembari mengusap bekas tamparan Kania di pipinya. Baginya, tamparan itu tak terasa sedikitpun.
"Jaga mulutmu, Devan! Mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulutmu serta melihat kelakuan kamu, aku semakin yakin kalau kamu tidak pantas menjadi ayah Shaka. Tak peduli dia adalah hasil benih dari kamu. Tapi bagiku, kamu bukan ayah Shaka."
Mendengar hal itu, emosi Devan semakin tersulut. Tidak terima rasanya jika Kania mengatakan dia tidak pantas menjadi ayah Shaka. Devan semakin mempererat cengkeramannya membuat Kania mengaduh.
Tangan Devan benar-benar menyakiti tangan Kania.
"Aku hanya memintamu untuk menikah denganku. Bukan mendengar ocehan tidak berguna dari mulutmu itu. Apa aku harus menghamili kamu lagi biar kamu mau menikah denganku?"
Air mata Kania berjatuhan. Harga dirinya seperti diinjak-injak mendengar setiap ucapan Devan.
"Tolong, Devan! Berhenti menganggapku wanita seperti itu. Aku datang ke sana karena mencari temanku yang membawa kabur uang orangtuanya yang akan di gunakan untuk berobat. Tapi kamu malah menghancurkan aku, Devan! Jika bukan karena orangtuanya nangis-nangis minta tolong untuk mencari anaknya, aku juga tidak akan pernah masuk ke tempat seperti itu." Kania terisak. Isakannya terdengar begitu pilu dan menyayat hati.
Mendengar ucapan Kania, Devan melonggarkan cengkeraman tangannya. Raut wajah Devan berubah iba pada Kania. Sekaligus merasa bersalah karena telah mengira Kania bukanlah wanita baik-baik.
Melemahnya cengkeraman Devan dijadikan kesempatan Kania untuk melarikan diri. Dengan cepat Kania membuka pintu mobil lalu keluar begitu saja tanpa memperdulikan teriakan Devan yang memanggil namanya.
Kania juga langsung menghentikan ojek yang kebetulan lewat di depannya. Meminta untuk menambah kecepatan sehingga Devan tidak bisa mengikutinya.
πΌπΌπΌ
Entah harus bagaimana lagi Dita mencoba untuk mendapatkan hati Rama. Semua usaha sudah di lakukan. Namun, hasilnya masih tetap sama. Dita belum bisa masuk ke dalam hati Rama dan menghapus nama Kania yang ada di dalam sana.
Acara pertunangan mereka sudah di depan mata. Tapi Rama belum juga menampakkan batang hidungnya. Hati Dita merasa khawatir, takut kalai Rama pergi dan membatalkan pertunangan yang sudah di rencanakan oleh kedua keluarga itu.
Rama beralasan pergi ke kamar mandi dan meminta kedua orangtuanya serta keluarga yang ikut serta mengantar Rama, untuk masuk terlebih dahulu.
Tidak ada rasa curiga dan menganggap Rama akan kabur. Mereka dengan santai mengijinkan Rama untuk pergi yang katanya ingin ke kamar mandi.
Hingga lima belas menit dari waktu yang sudah di tentukan, Rama tidak juga keluar menuju tempat acara.
Kasak kusuk terdengar jelas dari para tamu undangan. Saat itu keluarga Rama baru sadar kalau Rama pasti kabur dari acara pertunangannya dengan Dita.
Dita segera membuka handphonenya. Melacak keberadaan Rama melalui ponselnya. Di dalam mobil Rama, diam-diam Dita sudah memasang GPS yang bisa terhubung ke ponselnya agar dia bisa tahu kemana saja Rama pergi.
"Kurang ajar!" Dita mengumpat kesal saat mengetahui mobil Rama berhenti di depan sekolah Shaka.
πΌπΌπΌ
bonus untuk kalian yang masih setia menunggu cerita ini. π₯°π₯° banyakin like sama komennya. jangan lupa di vote juga biar aku makin semangat. ππ