Benih CEO

Benih CEO
Bab 77


Memiliki orang-orang yang begitu luar biasa dalam hidupnya, membuat Kania merasa hidupnya telah sempurna. Banyak yang memimpikan posisinya meskipun tak ingin mengalami hal yang sama seperti masa lalunya.


Orangtua yang sangat-sangat menyayanginya setelah terpisah lima tahun lamanya. Anak yang begitu tampan, baik, cerdas yang sebentar lagi akan menjadi seorang kakak.


Kedua mertuanya juga sangat baik. Mereka tidak pernah memandang Kania dari segi apapun kecuali kebaikan hatinya dan pantasnya dia menjadi istri dari Devan.


Dan yang paling utama, Kania memiliki Devan. Sosok yang begitu sempurna untuk menjadi seorang ayah dan seorang suami.


Di samping Devan, Kania layaknya ratu. Devan memberlakukan Kania dengan penuh cinta. Tak rela jika Kania terluka sedikitpun. Tak mau Kania bersedih.


Segalanya akan Devan lakukan demi membuat Kania tersenyum bahagia dan nyaman berada di sampingnya.


Nikmat mana lagi yang Kania dustakan?


Semua dia miliki. Hidupnya terasa sempurna berada di sekeliling orang-orang yang menyayanginya. Harta benda yang Devan miliki hanyalah bonus. Andai dia hidup sederhana dengan Devan pun akan Kania terima asalkan orang-orang yang dia sayangi tidak meninggalkannya sendiri.


"Bunda. Masa kita para cowok pakai baju warna pink begini?"


"Eh, memang kenapa? Memangnya baju pink cuma buat cewek aja?"


"Ya nggak, sih, Bund."


Kania terkikik geli melihat Shaka dan Devan memasang wajah cemberut saat Kania meminta mereka untuk memakai kaos berwarna pink, kembaran pula. Sama seperti dirinya yang sudah berganti baju terlebih dahulu.


Baju bergambar Mickey mouse, yang dia dapatkan dari stok di tokonya yang baru. Merasa lucu dan menggemaskan, Kania membawa pulang tiga baju dengan ukuran yang berbeda.


Kania pikir, akan lucu jadinya jika Shaka dan Devan juga mengenakannya.


Dan ternyata benar, Shaka dan Devan terlihat begitu lucu di mata Kania.


"Ayah nggak suka juga sama bajunya?"


Devan mengangguk terpaksa dan memaksakan sebuah senyuman. Gawat kalau sampai dia bilang tidak suka. Pasti akan terjadi huru-hara, yang akhirnya membuat jatah rutinnya tidak didapatkan.


"Suka, bund."


"Ayah bohong. Tadi katanya nggak suka. Malu, masa cowok pakai baju pink. Gambar Mickey mouse pula," sahut Shaka yang membuat Devan kalang kabut.


Dia lupa kalau Shaka masih kecil dan tidak bisa diajak kompromi.


"Tuh, kan." Kania memasang wajah kesal sembari menatap Devan.


"Enggak, kok, Bunda, Sayang. Tadi ayah cuma bercanda. Shaka, ayah tadi cuma bercanda, Nak."


"Anak kecil nggak mungkin bohong, Ayah. Lagian tadi Shaka mana ngerti kalau Ayah cuma bercanda."


Kania menghela napas kesal. "Udah, deh. Ganti baju aja sana kalau nggak suka sama baju yang dikasih bunda."


Kania beranjak dari tempat duduknya dengan memasang wajah kesal dan pergi ke kamar. Tadinya, Kania ingin mengambil foto bertiga dengan memakai kaos kembaran. Tapi melihat Devan dan Shaka yang sepertinya tidak menyukai baju tersebut, Kania menjadi badmood dan mengurungkan niatnya untuk foto bertiga.


"Bunda ngambek, Shaka. Kenapa tadi bilang kalau Ayah juga nggak suka?" bisik Devan di telinga Shaka. Takut Kania yang masih di tangga paling bawah mendengar ucapan Devan.


"Shaka nggak mau kalau bunda cuma kesal sama Shaka karena nggak suka sama bajunya. Ayah kan, juga nggak suka. Jadi ayah juga harus terima kekesalan dari bunda."


Bibir Devan bungkam mendengar ucapan anaknya yang kelewat cerdas. Sampai-sampai hal seperti itu terpikirkan oleh Shaka.


🌼🌼🌼


Demi membujuk bunda yang sedang merajuk, Shaka dan Devan berkolaborasi untuk membuat makanan yang menjadi kesukaan Kania akhir-akhir ini. Yaitu kue sus dengan isian fla.


Ralat, bukan membuat. Hanya susunya saja yang mereka buat. Sedangkan kuenya Devan beli di toko kue langganan Kania.


Sepiring kue sus dan segelas susu coklat sudah ada di atas nampan. Devan segera membawanya ke kamar dan diikuti Shaka yang berjalan di sampingnya.


"Nanti yang kasih ke Bunda, Shaka aja ya, Yah."


"Oke, jagoan Ayah."


Setelah pintu terbuka, Devan memberikan nampan tersebut kepada Shaka.


Kania yang sedang duduk di atas ranjang sambil membaca novel pun hanya melirik anak dan ayah itu dengan sekilas. Keduanya masih memakai kaos yang sama.


"Hai, Bunda."


"Hai, Bunda, Sayang."


"Bunda minum susu dulu, yuk. Susunya enak loh. Shaka yang buat."


"Yang buat kan, Ayah, Nak," sahut Devan tak terima jika Shaka mengatakan kalau hanya Shaka yang membuat susu tersebut.


"Sssttt. Jangan berisik, Ayah."


Kania mengulum bibirnya menahan senyuman. Mendengar perdebatan antara Shaka dan Devan sangatlah lucu baginya.


"Ada kue kesukaan Bunda juga, loh. Shaka boleh minta, kan? Ini enak, Bunda." Shaka mengambil satu kue sus dan dilahapnya begitu saja.


"Shaka, katanya tadi buat Bunda?" Devan memeringati.


"Ini enak, Ayah. Ayah tadi juga udah makan satu di bawah."


Devan menepuk keningnya dengan keras. Sedangkan Kania tak tahan lagi untuk menahan tawanya.


"Lucu banget, sih, anak Bunda. Sini cium dulu." Kania menarik pelan tubuh Shaka lalu mencium kedua pipi Shaka dengan gemas.


"Bunda udah nggak marah?"


Kania menggeleng kuat. "Enggak. Mana ada bunda marah?"


"Terus yang tadi? Bunda bohong, ya?"


"Enggak." Kania menggeleng lagi. "Bunda nggak bohong. Tadi Bunda cuma kesel aja. Tapi sekarang udah enggak, kok." Kania kembali mencium pipi Shaka.


"Shaka doang yang dicium?" Devan bersuara. Tak mau ketinggalan jatah. Dia juga harus mendapatkan apa yang Shaka dapatkan.


"Iya, dong." Kania melirik Devan dengan usil. Memberi kode bahwa Devan akan mendapatkan yang lain selain ciuman di pipi saja. Tentu Kania tidak menyuarakannya. Akan bahaya kalau Shaka sampai mendengarnya.


Kemudian Kania meminum susu hangat yang telah dibuatkan oleh kedua jagoannya. Juga memakan kue sus yang sudah dibelikan oleh Devan.


"Makasih, ya, para jagoan bunda. Susunya enak, kuenya juga enak meskipun kuenya beli. Tapi bunda tau kalau ini semua ada rasa cinta didalamnya."


Ucapan Kania dibalas dengan ciuman di kedua pipinya. Kanan dicium Devan, dan kiri dicium oleh Shaka.


Sesempurna itu kehidupan Kania.


🌼🌼🌼


Kandungan Kania sudah masuk bulan ke delapan. Kania sudah mulai menyiapkan segala keperluan bayinya.


Gerak Kania pun semakin sulit karena perutnya yang membesar. Dia menjadi mudah lelah meskipun hanya beraktivitas sedikit saja. Apalagi kalau untuk naik ke lantai dua dimana kamarnya berada.


Sebab itu Devan memindahkan kamarnya dan Kania di lantai satu. Sedangkan di lantai dua di tempati Shaka ditemani Lastri yang tidur di kamar yang terletak di sebelah kamar Shaka.


"Capek, ya? Kan, Mas dah bilang jangan capek-capek."


Kania tertawa kecil. "Mendekati persalinan, aku harus banyakin gerak, Mas, biar bisa lahiran normal. Lagipula cuma nyiram tanaman doang, kok. Nggak capek."


Devan mengusap perut Kania. Tak jarang Devan merasakan tendangan anaknya dari dalam perut Kania. Dan Devan selalu antusias dengan hal itu.


Dia selalu bertanya pada Kania, apakah sakit mendapatkan tendangan seperti itu?


Kania jawab, tidak sakit. Tapi memang tidak nyaman dan membuat Kania sulit tidur.


Tapi Kania menikmati semua itu. Sedikitpun tak pernah mengeluh tentang kehamilannya yang semakin lama semakin membuat tubuhnya terasa berat.


Kania bahagia bisa mengandung anak dari Devan (lagi). Meskipun saat mengandung Shaka dulu Kania sempat tak mengharapkan Shaka ada di dalam perutnya.


"Kata dokter, sering ditengokin juga bisa memancing kontraksi, Sayang." Devan tersenyum lebar.


Kania melirik Devan dengan kesal. "Kalau soal begitu aja Mas Devan semangat banget."


"Sebelum puasa empat puluh hari lamanya, sayang. Mau nabung dulu."


"Nabung itu duit, Mas. Emas Antam, logam, berlian begitu. Bukan kayak begituan."


"Tapi kamu suka kan, Sayang." Devan semakin gencar menggoda Kania. Membuat pipi Kania memerah menahan malu sekaligus sensasi yang Devan berikan lewat tangannya yang sudah tidak bisa diam.


🌼🌼🌼