
"Kenapa kamu tega melakukan ini semua?" Kania bertanya pelan. Berusaha meredam amarahnya, tidak terima anaknya menjadi sasaran.
"Karena kamu merebut Devan dariku."
"Hah?" Kania terperangah mendengar jawaban Sandra yang ternyata sudah menjadi mantan sekretaris Devan.
Kania menatap Devan dengan sengit. Lagi-lagi akar permasalahan hidup Kania adalah Devan. Dianggap merebut Devan dari Sandra? Sejak kapan Kania menjalin hubungan dengan Devan?
"Karena kamu Devan ninggalin aku. Karena kamu juga aku mendapatkan teguran dari Pak Bram. Bahkan akan di pecat jika berani mendekati Devan. Andai hari itu kamu tidak datang, pasti aku dan Devan sudah terikat satu sama lain. Kedatangan kamu dan anak kamu hanya mempersulit usahaku untuk mendapatkan Devan."
Kania tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya. Merasa heran dengan alasan yang Sandra berikan. Karena cinta dia bisa senekat ini. Nama baiknya di pertaruhan.
Karena cinta juga dia rela tubuhnya disentuh-sentuh oleh Devan. Apa sentuhan semacam itu sudah menjadi jaminan orang akan bersatu di pelaminan?
Tidak, kan? Justru wanita akan menjadi orang yang paling dirugikan dalam hal ini. Termasuk Kania. Bedanya, Kania dulu dipaksa oleh Devan. Tidak seperti Sandra yang menyerahkan dirinya secara cuma-cuma kepada Devan. Hanya berharap cinta yang belum tentu dia dapatkan.
"Lalu sekarang apa yang kamu dapat? Kamu dipenjara, dipecat dari kantor, nama baik kamu rusak. Cinta Devan saja tidak bisa kamu dapatkan, kan? Lagipula Devan mana mau sama perempuan yang sudah mencelakai anaknya. Bukan begitu, Devan?"
Dengan cepat Devan menganggukkan kepalanya. Sejak tadi dia hanya diam. Membiarkan Kania melampiaskan amarahnya pada Sandra.
Cara Devan memberi pelajaran Sandra cukup mudah. Cukup dengan nama Sandra diblacklist dari semua perusahaan. Serta hukuman penjara sesuai dengan hukum yang berlaku.
Tidak akan Devan tambah lagi karena Devan yakin hal itu sudah cukup membuat Sandra menderita.
"Kurang ajar kamu, Kania!" Sandra memberontak. Meskipun tangannya diborgol, namun dia nekat mencoba menjambak rambut Kania.
Dengan sigap Devan pasang badan. Melindungi Kania dengan berdiri di depan Kania. Alhasil, wajah Devan menjadi sasaran cakaran kuku panjang milik Sandra.
"Jangan kurang ajar kamu, Sandra! Jangan sampai aku marah dan membuat hukumanmu bertambah berat," ancam Devan tanpa kasian. Dia lupa kalau dia hampir saja mereguk kenikmatan dari Sandra.
"Kamu tega sama aku, Devan!" Sandra berucap dengan memelas. Matanya terlihat memohon belas kasian dari Devan. "Aku cinta sama kamu. Aku sayang sama kamu. Aku begini juga karena kamu!"
"Itu ambisi. Bukan perasaan cinta dan sayang," tegas Devan.
Devan kemudian memanggil polisi untuk membawa Sandra masuk kembali ke dalam tahanan. Urusan mereka sudah selesai sampai di sini. Biar proses hukum yang melanjutkan semuanya.
***
"Awh, pelan-pelan!"
Devan mendesis menahan perih di pipinya yang terluka dibersihkan oleh Kania. Goresan kuku Sandra meninggalkan luka berdarah di pipi Devan.
"Cowok bukan, sih? Luka begini doang ngeluh. Lagian itu manusia apa Mak Lampir, sih, punya kuku panjang-panjang amat? Gila, ya, dia. Cuma karena cinta anak aku sampai ditabrak begitu. Untung luka Shaka nggak sampai parah."
"Anak aku juga kalau kamu lupa!" Devan menyahut gerutuan Kania. Tidak terima kalau Kania hanya menyebut Shaka adalah anak Kania.
"Emang aku lupa. Kamu mau apa?" tantang Kania. "Lagian itu juga gara-gara kamu. Makanya jadi laki-laki jangan suka bagi tubuh dengan wanita yang bukan istrinya. Gitu, deh, jadinya. Shaka, kan, yang kena sasarannya?"
Kania membuang kapas bekas obat merah ke dalam tempat sampah yang ada di mobil Devan dengan kasar. "Udah. Ngapain juga aku bersihin luka kamu."
"Begini juga karena lindungin kamu. Bilang makasih, kek."
Kania menghela napas dengan kasar. Berbicara dengan Devan selalu membuatnya emosi. Menguras tenaga dan energinya karena banyak ngototnya.
Susah bagi Kania untuk bisa berbicara dengan lembut dengan Devan. Mungkin karena kekesalan di hati Kania pada Devan sudah mengakar.
🌼🌼🌼
"Mbak, lapis Surabaya dua, ya."
Kania terdiam mendengar suara yang tak asing baginya. Saat Kania membalikkan badannya, ada Dita yang berdiri di depan etalase kue sambil melihat handphonenya.
Dita pun tak kalah terkejutnya saat mendengar suara Kania. Tidak menyangka kalau secepat ini mereka akan dipertemukan kembali.
Setelah peristiwa pemecatan Dita yang disaksikan secara langsung oleh Kania, Dita memblokir semua akses komunikasinya dengan Kania.
Ditambah lagi dengan batalnya pertunangan Dita dengan Rama karena Rama yang masih tetap memilih Kania, perasaan benci pada Kania semakin besar di hati Dita.
"Maaf, nggak jadi!" Dita membatalkan pesanannya dan berjalan dengan cepat keluar dari toko.
"Dita!" panggil Kania. Dia berlari keluar untuk mengejar Dita.
"Dita!"
Tangan Kania yang berhasil memegang tangan Dita dihempaskan dengan kuat. "Mau apa lagi? Belum puas kamu membuat Rama membatalkan pertunangan kami?"
Sama sekali Kania tak tahu soal pertunangan mereka yang batal. Rama tak pernah mengatakan apapun soal hubungannya dengan Dita.
"Aku nggak pernah tahu kalau kalian akan tunangan, Dit."
"Bohong!" seru Dita dengan keras, membuat Kania terperanjat. "Hari itu dia lebih memilih ke sekolahan Shaka. Pasti kalian bertemu di sana, kan?"
"Aku dan Rama nggak pernah bertemu di sekolah Shaka, Dit."
"Terus di mana? Hotel?"
Plak!
Satu tamparan keras dilayangkan Kania mengenai pipi Dita sampai rambut Dita berantakan. "Jaga ucapan kamu, Dit!"
"Kenapa? Bukannya mudah saja buat lelaki di luar sana untuk mengajak kamu tidur?"
Kania menggeleng tak percaya kalau Dita bisa sampai hati mengatakan hal seperti itu. "Jahat kamu, Dit." Air matanya turun mewakili betapa sakitnya hati Kania mendengar ucapan Dita yang masih dia anggap sebagai sahabatnya.
"Siapa yang sejak awal tidak pernah berkata jujur? Kamu dan Rama. Siapa yang mancing-mancing aku buat ngaku soal perasaan aku ke Rama? Kamu! Padahal saat itu aku sudah berkali-kali menolak Rama. Andai kamu bilang kalau kalian dijodohkan, aku nggak akan pernah mau terima cinta Rama, Dita. Aku juga udah mengakhiri hubungan aku dengan Rama. Kemarin dia memang sempat datang dan minta aku buat balik sama dia. Tapi aku tolak dia. Karena apa? Karena aku lebih memilih memperbaiki persahabatan kita."
Kania berhenti berucap untuk mengambil napas. Meredakan sesak di dada yang menyiksanya. Dengan kasar dia mengusap air matanya. Air mata yang begitu sayang jika menetes hanya karena orang tak tahu diri macam Dita.
"Tapi ternyata aku memperjuangkan persahabatan dari orang yang salah. Lakukan apa yang kamu mau, Dita. Kalau kamu menganggap persahabatan kita selesai, baiklah. Persahabatan kita selesai sampai di sini."
Tanpa menghiraukan Dita lagi, Kania melangkahkan kakinya untuk kembali masuk ke dalam toko.
Memilih mendudukkan dirinya di atas kursi yang ada di dekat jendela. Toko kue ini sudah disulap menjadi mini cafe oleh Rinda beberapa hari yang lalu. Jadi sudah di sediakan beberapa meja dan kursi untuk pengunjung yang ingin menikmati kue tanpa dibawa pulang.
"Sesekali pikirkan perasaan kamu sendiri. Jangan mikirin perasaan orang lain terus."
Buru-buru Kania menghapus air mata yang mengalir di pipinya setelah mendengar suara Devan. Dia memang mengatakan akan datang. Tapi Kania tak tahu jika Devan sudah datang bahkan semenjak Kania berdebat dengan Dita.
"Kalau aku mikirin perasaan aku sendiri, aku juga akan menolak permintaan Shaka saat itu juga."
Devan bungkam setelah mendengar jawaban Kania yang membuatnya kalah telak. Ya, jika saja yang Kania pikirkan hanya perasaanya sendiri, tentu saja Kania akan menolak kemauan Shaka agar dirinya dan Devan bisa bersatu.
Namun kenyataannya, Kania sudah tidak diberikan kesempatan untuk menolak. Shaka terlanjur senang ketika dia tahu bahwa para orangtua mulai merencanakan pernikahan Devan dan Kania.
Mungkin bagi kebanyakan orang, anak seusia Shaka belum paham arti menikah. Tapi dia tahu bahwa sebentar lagi ayah dan bundanya akan hidup dalam satu atap.
🌼🌼🌼
Pendek dulu. nanti lagi, insyaaallah.