
Kedatangan Devan dan Kania langsung menjadi pusat perhatian. Kecantikan Kania dan ketampanan Devan membuat semua mata memandang mereka dengan kagum.
Puluhan kamera juga langsung tertuju pada mereka. Berebut ingin berfoto bersama namun dengan cepat bodyguard Devan menjaga Kania dan Devan.
Dengan senyum di bibir Devan, Devan menangkupkan kedua tangannya di depan dada. "Mohon maaf. Di mohon untuk tidak berdesakan di dekat istri saya karena dia sedang hamil," ucapnya yang membuat Kania tersenyum canggung.
Sebenarnya dia tidak masalah jika ada yang ingin berfoto di dekatnya. Tapi terkadang banyak orang-orang yang tidak sabaran, dan akhirnya berdesakan. Tak jarang juga banyak artis-artis yang akhirnya terdesak, terinjak kakinya, bahkan sampai ada yang tangannya tergores kuku dari para fansnya.
Jadi, bukan bermaksud sombong. Hanya berupaya untuk melindungi Kania dan janinnya. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Devan menggandeng tangan Kania menuju kuade untuk memberi selamat pada Nino dan Ivanka.
Dengan senyuman yang merekah di bibir Kania, Kania memberikan selamat untuk Ivanka, bahkan mencium kedua pipinya. "Selamat ya, Ivanka. Aku nggak nyangka kalau orang yang kamu maksud waktu itu adalah Nino. Kalian sangat serasi."
Ivanka turut tersenyum lebar. Meskipun ada sedikit rasa cemburu saat melihat Devan memperlakukan Kania dengan begitu manis, tapi Ivanka dengan cepat menepisnya. Dia tengah berusaha untuk memberikan seluruh hatinya pada Nino. Saat ini, cintanya pada Nino lebih besar daripada rasa cemburunya pada Devan dan Kania.
"Terimakasih sudah menyempatkan untuk datang. Sekali lagi aku minta maaf untuk apa yang pernah terjadi. Doain aku cepat nyusul juga, ya," ucapnya sembari memegang perut Kania.
"Tenang, sayang. Kita juga akan segera memilikinya. Kita sudah berusaha lebih awal, bukan?"
Ucapan Nino mendapatkan cubitan keras di pinggangnya. Kania yang mendengarnya hanya bisa melongo menyaksikan pengantin baru di hadapannya yang ternyata sudah lebih dulu menanam saham.
Sedangkan Devan hanya mendenguskan senyuman melihat keanehan dari saudara, sekertaris serta teman bagi Devan. Yaitu Nino. Yang dengan percaya dirinya mengatakan kalau mereka sudah melakukan hubungan tersebut jauh sebelum mereka menikah.
Kebanyakan orang juga menyembunyikannya. Tapi malah Nino yang mengumbar aibnya sendiri.
"Eh, ya udah. Foto dulu yuk." Kania mengalihkan pembicaraan. Rasanya masih malu jika harus membicarakan hal seperti itu dengan orang lain. Meskipun dia tak punya malu jika sedang melakukannya dengan Devan.
Devan dan Kania segera memposisikan diri di samping kanan kiri Nino dan Ivanka untuk berfoto.
"Eh, nggak ngasih selamat nih?" Nino menahan Devan yang hendak berlalu begitu saja setelah berfoto.
Devan menghembuskan napas pelan dan tersenyum tipis. "Selamat, ya, bro. Langgeng buat kalian berdua."
"Thanks, bro."
"Terimakasih ya, Devan. Aku minta maaf untuk kesalahanku dulu," ujar Ivanka.
Devan tersenyum tipis. "Sama-sama. Aku juga minta maaf."
Setelah itu, Devan kembali menggandeng Kania untuk turun. Membawa Kania ke salah satu kursi agar Kania bisa duduk dan beristirahat.
"Kamu mau makan dan minum apa, Sayang? Biar aku ambilkan."
"Mau air mineral aja, Mas. Makanannya siomay, boleh?"
"Tentu saja, Sayang. Tunggu di sini, ya."
Kania mengangguk. Membiarkan Devan pergi mengambilkan makanan dan minuman untuknya.
"Pakai pelet apa, sih, dia, sampai Devan mau-maunya melayani dia begitu?"
"Iya. Cantik juga enggak, berduit apalagi. Berpendidikan sepertinya juga enggak. Cuma modal telentang di bawah Devan udah bisa jadi istri orang kaya."
"Bu Hanum sama Pak Bram nggak malu apa punya mantu kayak dia?"
"Iya. Harusnya kan, bisa cari yang berkelas. Habis Ivanka kok, jatuhnya ke dia. Ibaratnya, habis dapat berlian gantinya malah kerikil nggak berguna."
"Paling juga cuma buat muasin malamnya Devan. Atau kalau pas Devan mau aja. Devan terlihat mesra begitu biar nggak menimbulkan berita buruk di media. Mana ada orang kayak Devan yang mau sama upik abu begitu. Devan ganteng, CEO, kaya raya. Yang mau sama dia, yang lebih cantik dari perempuan yang berstatus istrinya itu banyak."
Kania memejamkan matanya dan menghembuskan napas panjang meredakan nyeri di hatinya setelah mendengar ucapan beberapa artis ternama yang duduk di meja belakangnya.
Musik di dalam gedung pernikahan Nino memang cukup keras, namun tak cukup berhasil untuk meredam suara wanita-wanita yang tengah membicarakan dirinya.
Mendadak hati kecil Kania merasa resah dan penuh tanya.
Serendah itukah dirinya di hadapan wanita lain?
Apa memang dia tidak pantas untuk mendampingi Devan? Dari segi pendidikan, status sosial. Kania jauh di bawah Devan.
Pikiran buruk Kania mendadak dipatahkan oleh kedatangan Devan dan satu pelayan yang membawakan makanan dan minuman untuk dirinya dan Devan.
"Kenapa, Sayang?" Devan menatap Kania dengan penuh selidik. Wajahnya mendadak mendung, tak secerah sebelum Devan pergi ke stand makanan.
Kania memaksakan sebuah senyuman. Berusaha untuk terlihat baik-baik saja. "Enggak apa-apa, Mas. Wah, siomaynya kayaknya enak, nih." Kania mengalihkan perhatian Devan.
Devan mengangguk setuju. "Makan, Sayang. Aku tau kamu lapar, kan?"
Kania tertawa kecil. Sikap Mas Devan semanis ini. Apa iya dia cuma main-main? Kania berucap dalam hati.
Devan menikmati steak di hadapannya sambil sesekali memperhatikan Kania yang pandangannya terlihat kosong meskipun tangannya tak berhenti mengambil siomay tersebut dan memasukkan ke dalam mulut.
Setelah membaca satu pesan di handphonenya yang dikirim oleh salah satu bodyguardnya, baru Devan tau apa yang membuat Kania mendadak menjadi pendiam.
Tangan Devan yang ada di bawah meja terkepal erat. Setelah ini, tiga perempuan yang duduk di dekat mereka tidak akan bisa hidup dengan tenang.
πΌπΌπΌ
Kania tengah duduk di balkon saat Devan kembali ke dalam kamar. Selepas menikmati sepiring siomay tadi, Kania meminta Devan untuk mengantarkannya ke kamar. Dan membiarkan Devan kembali ke pesta untuk berkumpul dengan teman-temannya.
Ucapan-ucapan para wanita tadi masih mengganggu pikirannya. Mau bagaimanapun cara Kania mengimbangi Devan, Kania tidak akan bisa. Mereka tetaplah berbeda dalam hal apapun. Dan Kania jauh di bawah Devan. Sulit bagi Kania untuk menyamakan kedudukannya dengan keluarga Devan yang bisa dibilang... Sempurna.
"Belum tidur, Sayang?"
Kania tersentak saat kedua tangan Devan memeluk tubuhnya yang terbalut selimut tebal dari belakang. Kania tak mendengar dan menyadari kalau Devan sudah masuk ke dalam kamar.
"Udah balik, Mas? Emang udah selesai pestanya?"
"Ada yang lebih penting daripada pesta itu. Apa yang menganggu pikiranmu, Sayang?"
Meskipun Devan sudah tau, tapi dia ingin mendengar langsung dari Kania. Dia ingin tau apakah Kania memilih memendam masalahnya daripada menceritakannya pada Devan.
"Mas."
"Ya, Sayang. Ada apa?" Devan yang sudah duduk di samping Kania semakin mengeratkan pelukannya.
"Apa iya aku nggak pantas mendampingi Mas Devan? Nggak sederajat. Aku nggak berpendidikan. Keluargaku hanya_"
"Sssttt!" Devan membungkam mulut Kania dengan satu jarinya. "Apa yang kamu bicarakan, Sayang?"
"Kenyataannya begitu, Mas. Bahkan mereka mengira kalau Mas Devan hanya memanfaatkan aku di atas ranjang saja. Perhatian Mas dan kemesraan kita hanyalah sebuah sandiwara di depan umum."
"Memang kalau di rumah ada orang lain saat aku bersikap mesra dan manja ke kamu? Perhatian ke kamu. Cemburu ke kamu. Ada orang lain di rumah? Enggak, kan?"
Kania membenarkan. Sikap Devan ketika di rumah sama saja dengan sikapnya di manapun mereka berada.
"Jangan terlalu dipikirkan, Sayang. Kenyataannya nggak seperti itu, kan? Bahkan ketika di rumah aku lebih manja ke kamu, lebih nggak mau jauh dari kamu. Kan, kamu sendiri yang bilang kalau malu dilihat orang kalau kita terlalu mesra jika sedang di luar rumah. Kamu terlalu overthingking, sayang. Bawaan hamil, mungkin. Siapa yang bilang kayak gitu? Biar aku kasih pelajaran dia."
"Jangan, Mas. Jangan lakukan apapun. Biarin aja mereka mikir kayak begitu. Yang penting Mas Devan nggak kayak gitu. Itu udah cukup buat aku."
Devan menganggukkan kepalanya. Meskipun tanpa Kania tau, Devan sudah memutus kontrak kerja dengan para artis tersebut. Dan melarang media manapun yang berada di bawah kepemimpinan Devan.
Padahal, tujuh puluh persen media yang sering menayangkan artis tersebut adalah milik Devan. Sudah pasti mereka akan kelimpungan karena menurunnya ketenaran mereka.
πΌπΌπΌ
hayoo lohh... beraninya cari perkara sama Devan. ππ