Benih CEO

Benih CEO
Bab 73


Devan memandang curiga Nino yang akhir-akhir ini lebih banyak tersenyum tanpa sebab. Bahkan tak jarang Nino bisa tertawa kecil saat membaca pesan singkat yang masuk ke handphonenya.


Devan takut. Takut kalau Nino mulai kehilangan kewarasannya karena lama tak memiliki seorang yang menjadi tambatan hatinya.


Kasian juga. Usianya sudah dua puluh delapan tahun tapi belum ada yang mau menjadi kekasih hatinya.


"Kelamaan jomblo bikin kamu nggak waras ya, No? Senyum-senyum sendiri begitu."


Nino tertawa penuh arti. Dia masukkan kembali ponselnya ke dalam saku setelah membalas pesan dari orang yang selama sebulan terakhir mengisi hati dan memberi kehangatan di setiap malamnya.


Andai dia mengatakan apa yang terjadi antara dirinya dan Ivanka saat ini, pasti Devan akan terkejut. Tapi Nino tak ingin terburu-buru. Lebih baik dia menunggu undangan selesai dicetak dan mereka akan menikah dua Minggu lagi.


Tidak terlalu cepat. Justru itu sangat lama bagi Nino. Tapi karena Ivanka ingin pernikahan mereka dirayakan, jadi butuh waktu sekitar satu setengah bulan untuk melakukan semua persiapan.


Diam-diam keduanya melangsungkan lamaran setelah sesuatu yang terjadi siang hari di Batu waktu itu.


"Terserah mau ngomong apa, Devan. Gimana Kania? Masih suka mikirin si Dita?" Nino mengalihkan pembicaraan.


Devan menganggukkan kepalanya. "Kadang masih suka nangis kalau ingat Dita."


"Bawa jalan-jalan aja, Van. Kalian juga belum sempat honeymoon, kan? Keburu hamil duluan itu si Kania sebelum kamu bawa honeymoon."


"Tokcer, kan? Padahal kamu tau, baru setelah aku kecelakaan waktu itu, saat itu pertama kali kami melakukannya setelah menikah." Devan tersenyum bangga.


Tidak butuh waktu lama untuk dirinya dan Kania akan kembali memiliki seorang anak.


Devan pikir, tak ada salahnya juga kalau dia mengajak Kania berbulan madu. Atau babymoon karena sekarang Kania sudah mengandung benihnya.


"Kasian juga kamu, ya, tiga bulan dianggurin nggak dikasih jatah." Nino tertawa meremehkan. Berbeda dengan dirinya. Belum apa-apa sudah mendapat jatah kapanpun mereka mau. "Main sendiri kamu?"


Devan melengos dengan jengah. Tak ingin lagi mengingat malam-malam yang mengenaskan dimana dia harus menahan dirinya sendiri untuk tidak menyentuh Kania padahal berada dalam satu kamar. Dan pasti berujung dengan Devan yang harus mandi tengah malam secara sembunyi-sembunyi di mandi yang ada di dalam kamar tamu di lantai satu.


"Yang itu nggak perlu dibahas lagi. Yang penting sekarang kapanpun aku mau aku bisa mendapatkannya."


Devan mengingat semalam saat tiba-tiba saja Kania menggodanya. Saat dia memasuki kamar, Kania sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian dinas yang begitu seksi. Berwarna merah menyala, kontras dengan kulit Kania yang putih bersih.


Ah, hanya mengingatnya saja Devan menginginkannya lagi.


"Mau kemana, Van?" tanya Nino bingung melihat Devan yang tiba-tiba mengambil kunci mobilnya lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Mau jemput Kania."


"Yaelah, masih siang juga. Mau check-in?"


"Suka-suka akulah. Udah sah juga."


Tanpa menghiraukan Nino lagi, Devan segera keluar dari ruangannya.


Dia sudah merindukan Kania.


🌼🌼🌼


Kania masih tak habis pikir dengan apa yang dikatakan Ivanka tadi. Tapi kalau dipikir-pikir, memang iya Ivanka tak lagi mengusik kehidupannya dengan Devan. Syukurlah. Setidaknya Kania bisa tenang Devan tak diganggu lagi oleh mantannya.


"Kenapa, sih, sayang, dari tadi kayaknya melamun terus?"


Terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, Kania sampai lupa kalau siang ini dia sudah berada di dalam mobil Devan.


"Ivanka aneh, Mas."


Devan menoleh sekilas. Ada rasa terkejut saat Kania menyebut nama Ivanka.


"Aneh kenapa, Sayang?" tanyanya, kembali fokus melajukan mobilnya.


"Masa tiba-tiba dia datang, dia minta maaf."


"Maaf buat apa?"


"Katanya selama ini dia cuma ngetes kamu aja. Nggak ada niat untuk ganggu rumah tangga kita. Emang aneh itu anak. Coba kalau kamu nggak berhasil yakinin aku soal yang di kantor itu. Pasti aku udah beneran ke pengadilan agama. Dan itu gara-gara Ivanka."


Benar. Jika seandainya Devan tak berhasil meyakinkan Kania, mungkin Kania sudah mendaftarkan gugatan cerainya ke pengadilan agama karena Devan selingkuh.


Tapi untuk saja Devan punya bukti kuat untuk menunjukkan bahwa dia tak bersalah. Dan itu semua hanya karena Ivanka yang katanya hanya ingin mengetes Devan masih mencintainya atau tidak.


"Kurang ajar. Dia nggak tau apa kalau bisa mengancam rumah tangga kita?" Emosi Devan mulai terpancing.


"Siapa?"


Kania menggelengkan kepalanya. "Nggak tau, Mas. Dia nggak ngomong siapa orangnya. Langsung pergi gitu aja. Tapi aku seneng, sih, Mas."


"Senang kenapa? Karena nggak ada yang godain aku?"


"Pertanyaannya kayak seneng banget gitu digodain wanita lain."


"Mana ada yang begitu, sayang. Aku cuma seneng kalau digodain sama kamu." Buru-buru Devan mengeluarkan bujukan saat nada bicara Kania sudah mulai terdengar ketus. Khawatir akan meledak dan berakibat pada jatahnya yang tidak terpenuhi.


"Eh, ini mau kemana, Mas?" Kania panik saat Devan membelokkan mobilnya ke jalan yang bukan menuju rumah mereka.


"Check-in dulu, Sayang. Udah nggak tahan."


"Di rumah aja kenapa, sih, Mas?"


"Ada Shaka, Sayang. Kamu nggak bisa teriak bebas nanti."


Wajah Kania memerah menahan malu.


Devan membawa Kania ke sebuah hotel berbintang lima yang ada di kaki gunung Lawu. Sejauh itu Devan membawa Kania pergi. Tanpa persiapan apapun.


Hotel dengan pemandangan sebuah danau dan gunung Lawu yang terasa begitu menyejukkan mata. Udara yang dingin menjadi pendukung Devan untuk melancarkan aksinya.


"Ini semacam liburan, begitu?"


Devan mengangguk dan tersenyum penuh arti. "Ini ide dari Nino, Sayang. Karena kamu masih hamil muda, aku nggak berani ajak yang jauh-jauh dulu. Kesini dulu aja, ya. Sekalian untuk menghibur hati kamu yang masih sedih karena kepergian Dita." Devan memeluk Kania dari belakang. Keduanya menyaksikan danau yang hijau membentang luas di ujung sana.


Untuk sesaat, Kania kembali teringat Dita yang mungkin saja sudah tenang di alam sana. Tapi hati kecilnya masih belum mempercayai semuanya. Selama Kania belum melihat jasad Dita, selama itu pula Kania tetap percaya kalau Dita masih hidup.


Meskipun Kania tak berani mengatakan semuanya pada Devan. Kania memendamnya sendiri. Semoga Dita mendapatkan takdir yang terbaik dari Allah.


"Semoga Dita bahagia dimana pun dia berada ya, Mas? Meskipun dia meninggalkan kesedihan untuk semua orang yang menyayangi dia."


Devan memberikan sebuah kecupan di kepala Kania dengan penuh sayang. "Ikhlaskan, Sayang. Biar dia bisa tenang di sana. Aku tidak memintamu untuk melupakan. Hanya jangan terlalu dipikirkan dan akan semakin membuatmu tidak mengikhlaskan kepergiannya. Katanya, kita tidak boleh terlalu larut dalam meratapi kepergian seseorang. Itu hanya akan memberatkan langkahnya."


Kania mengangguk paham dengan ucapan Devan.


Semakin lama, pelukan Devan semakin erat. Tangannya yang satu mengusap perut Kania yang masih rata. "Hari ini rewel nggak?" tanyanya.


Kania menggeleng dan tersenyum. "Nggak terlalu. Selain pagi tadi, masih mual waktu anak-anak beli siomay. Baunya nggak nahan."


Devan tertawa kecil. "Padahal waktu kamu hamil Shaka, makanan jenis siomay dan segala macamnya itu jadi favorit aku. Kamu yang sukanya jajan begituan jadi nggak doyan ya, Yang?"


"Ya begitulah, Mas, bawaan hamil. Yang penting sehat. Ya, kan?"


Devan mengangguk setuju. Lalu mengecup pipi Kania dengan gemas. "I love you."


Pipi Kania merona. Ini sudah kesekian kalinya Devan mengucapkan cinta. Namun tetap saja Kania merona mendengarnya.


"I love you too."


Dengan cepat Devan mengecup bibir Kania dengan lekat. Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Devan segera mengangkat tubuh Kania dan membaringkannya ke atas tempat tidur dengan hati-hati. Masih dengan bibir keduanya yang menyatu.


"Sholat Maghrib dulu," tahan Kania saat mendengar adzan Maghrib berkumandang. Tangan Devan sudah bergerak aktif menyentuh sana-sini.


Devan yang sudah tidak tahan pun terpaksa menghentikan aksinya. "Berarti habis Maghrib boleh?"


"Habis Maghrib cari makan, Mas. Aku pengen makan bakso."


"Siap, Sayang. Tapi dihabiskan, ya?"


"Insyaallah."


"Ya udah, cium dulu sini."


Devan kembali mencium Kania. Andai Kania tak mengingatkan lagi untuk sholat, mungkin Devan benar-benar akan melakukannya saat itu juga.


🌼🌼🌼


thanks for reading ❤️