Benih CEO

Benih CEO
Bab 74


"Bumilku, Sayang. Aku kangen."


Tasya yang entah kapan datangnya pun langsung memeluk Kania dan mengusap perut Kania pelan. Hampir tiga bulan lamanya mereka tidak bertemu karena kesibukan Tasya yang kini menjadi aktris pendatang baru.


Baru Kania tau kalau ternyata Tasya mempunyai bakat dalam hal tersebut. Aktingnya di televisi begitu natural dan membuat penonton terbawa perasaan. Iya, perasaan ingin memaki karena Tasya mendapatkan peran antagonis.


"Tante sudah cuci tangan belum? Kalau belum, mending Tante cuci tangan dulu sana. Nanti kalau bunda sama dedek kena kuman gimana?" Ucapan Shaka membuat Tasya merengut kesal.


"Ih, Tante udah cuci tangan tadi."


"Dimana?"


"Di rumah."


"Sama aja, dong, Tante. Cuci tangan dulu sana. Baru boleh balik lagi ke sini."


Shaka memang berubah menjadi sangat protektif setelah mengetahui bundanya mengandung adiknya.


Siapapun yang datang, harus mencuci tangannya terlebih dahulu. Bahkan Shaka meminta kran khusus untuk mencuci tangan di depan rumah agar mereka yang datang selalu mencuci tangan mereka.


"Ih, anakmu, Ka."


Kania tertawa kecil melihat perdebatan putranya dengan Tasya.


Melihatnya, Kania kembali teringat Dita. Dulu awal pertemuan Shaka dan Dita selalu diwarnai dengan perdebatan karena hal-hal kecil. Tidak ada akurnya.


Namun mereka menjadi dekat sebelum akhirnya ada perseteruan antara Kania dan Dita.


Saat Shaka tau tentang Dita yang terlibat dalam kecelakaan pesawat dua bulan yang lalu, Shaka terlihat sedih. Dia selalu menanyakan apakah Dita sudah ditemukan atau belum sebelum pencarian resmi dihentikan.


"Shaka mainan dulu sama Mbak Lastri. Bunda sama Tante Tasya mau ngobrol dulu sebentar."


Shaka mengangguk patuh dan segera membawa mainannya ke dalam rumah.


"Artis sukses ya, sekarang?" goda Kania membuat Tasya tersenyum lebar. Dia sendiri juga tak menyangka kalau akhirnya akan menjadi seorang publik figur. Memang dia seorang selebgram. Followers-nya jutaan ribu. Tapi bermimpi untuk menjadi seorang pemain film atau sinetron, Tasya tidak pernah.


Hingga akhirnya salah satu produser meliriknya dan menawarkan sebuah peran yang dinilai cocok dengan Tasya.


"Hati-hati, ya. Ada mata, telinga, dan kamera dimana-mana. Hidup kamu nggak sebebas dulu. Kurang-kurangin juga masuk ke apartemen Pak Ryan."


Tasya tertawa lebar. "Jangan panggil Pak, dong, Ka. Kesannya Mas dudaku itu tua banget."


"Terus gimana? Masa aku panggil Mas? Yang ada Mas Devan marah kalau aku panggil orang lain dengan panggilan kesukaannya itu."


"Ih, emang bucin si Devan." Tasya mencibir. "Tapi aku masuk ke apartemen Mas Ryan nggak ngapa-ngapain tau."


"Yang bener?"


"Beneran, Ka. Kita nggak pernah berbuat lebih jauh. Dia menjaga aku banget. Katanya mau nyentuh aku kalau udah sah."


Kania mengulum bibirnya, menahan senyumannya yang setengah menggoda Tasya. "Beneran?"


Tasya mengangguk pasti. "Ya, ciuman pernah lah, ya. Sering. Namanya juga hubungan orang dewasa. Tapi dia nahan banget buat nggak nyentuh aku lebih jauh."


"Syukurlah kalau begitu."


"Udah berapa bulan, sih, Ka?" Tasya mengusap perut Kania yang masih datar. Belum terlihat jika dia sedang hamil.


"Udah tiga bulan, Sya. Kamu kapan minta dinikahi Om dudamu itu?"


Ditanya seperti itu, Tasya tersenyum malu. "Justru itu. Aku kesini buat ngundang kalian ke acara lamaran aku Minggu depan."


"Wah. Lancar, ya, Sya. Aku senang dengarnya."


Lantas keduanya berbincang ringan membahas apapun yang menurut mereka menarik untuk dibahas.


🌼🌼🌼


Nino hanya tersenyum kasmaran disaat Devan menatapnya tajam. Bukan karena cemburu Nino akan menikahi mantan kekasihnya. Tapi karena Nino baru memberitahunya seminggu sebelum acara pernikahan tersebut.


Bahkan yang mengejutkan Devan, ternyata Nino sudah menyukai Ivanka jauh sebelum Devan menjadikan Ivanka sebagai kekasih tujuh tahun yang lalu.


Selama itu. Serapi itu Nino menyembunyikan semua darinya. Devan sama sekali tidak tau kalau diam-diam Nino sering berkomunikasi dengan Ivanka saat Ivanka berada di Jerman.


"Kamu anggap aku ini apa, No? Sesuatu sebesar ini baru aku tau sekarang. Persiapan pernikahan kalian pun begitu rapi sampai aku tidak tau apa-apa."


Nino tertawa renyah. Sengaja dia lakukan untuk memberikan kejutan pada Devan. Nino melarang keluarganya untuk mengatakan pada Devan dan Kania perihal rencana pernikahannya dengan Ivanka.


"Jangan bilang Papa dan mamaku tau soal ini, No?"


Tawa Nino semakin keras. "Sorry, Van. Anggap saja ini kado untuk kehamilan Kania. Ku dengar dari Ivanka, Ivanka sempat menemui Kania beberapa waktu yang lalu. Benarkah?"


Devan mengangguk enggan sambil menghela napas kesal. "Ya. Dan Ivanka juga bilang kalau dia sudah punya kekasih. Nggak nyangka kalau itu kamu. Apa, sih, yang membuat kamu cinta sama dia? Sorry, bukan aku mau menjelekkan. Tapi pasti ada sisi lain yang membuatmu jatuh cinta pada Ivanka."


Nino mengangguk-anggukkan kepalanya. "Dia cantik."


"Itu relatif. Kania lebih cantik."


"Di mata kamu."


"Tentu saja. Dia yang paling cantik. Apalagi semenjak dia hamil. Auranya terlihat berkali-kali lipat lebih cantik."


"Dari senyum dan ekspresi kamu, aku tau kalian sudah tanam saham terlebih dahulu."


"Ya. Kamu benar." Nino tak mengelak. Membuat Devan membelalakkan matanya. "Biasa aja itu mata," tukas Nino. "Kamu ingat waktu aku ijin ke luar kota? Itu aku pergi sama Ive."


"God! Bahkan kamu sudah memanggilnya dengan panggilan kecilnya yang hanya orang-orang tertentu saja yang bisa memanggil dia seperti itu."


"Aku calon suaminya," sela Nino tak mau kalah. Jelas saja dia diijinkan. Jangankan memanggil nama kecilnya. Mengambil keperaw**annya saja dipersilahkan. "Dan satu yang harus kamu tau, Van." Nino menatap Devan dengan intens. "Dia masih vir**n."


Devan menaikkan kedua alisnya. Rasanya tak percaya jika Ivanka masih seperti yang diucapkan Nino.


"Pergaulan di sana memang bebas. Tapi dia bisa jaga diri dia dengan baik."


"Ya. Sayangnya di tangan kamu dia nggak bisa jaga diri dia dengan baik. Sampai-sampai udah jebol duluan sebelum nikah."


"Hey! Apa kabar kamu sama Kania?" sela Nino dengan sarkasme.


"Harusnya itu kamu jadikan pelajaran untuk tidak menirunya."


"Aku normal, Van. Ya kucing di suguhi ikan asin masa nggak minat?"


"Emang dasar kamunya aja yang nggak bisa nahan. Nggak semua kucing suka ikan asin."


"Tapi aku termasuk yang suka ikan asin."


"Terserah, deh. Capek ngomong sama kamu. Keluar sana! Nggak akan aku datang ke nikahan kalian."


Nino tertawa tanpa beban. Seolah kemarahan Devan soal ini bukanlah sesuatu yang harus dipikirkan dengan dalam. "Datang atau nggak datang, itu nggak akan membuat pernikahan kami batal."


Devan tak menanggapi. Membiarkan Nino melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Devan.


Namun langkah kaki Nino terhenti saat dia sudah membuka pintu ruangan. "Van?"


"Apa lagi?"


"Sesekali bolehlah kita adu siapa yang paling lama. Double date yang beda dari double date yang lain."


"Sial!"


Devan melemparkan sekotak tissue ke arah Nino. Namun sebelum sekotak tissue tersebut mengenai Nino, Nino sudah terlebih dahulu keluar dari ruangan Devan.


"Awhhh, Mas Devaaannn!"


Sialnya, lemparan tersebut mengenai kepala Kania. Dia baru saja masuk bersamaan dengan Nino yang keluar dari ruangan Devan.


"Sayang? Ya ampun. Maaf, Sayang. Tadi aku mau lempar Nino. Nggak tau kalau kamu mau masuk." Dengan panik Devan mengusap kepala Kania. Menciuminya berulang kali sambil melotot penuh dendam pada Nino yang tertawa di belakang Kania.


"Lagian ngapain, sih, main lempar-lemparan begitu? Kayak anak kecil aja, sih."


"Main-main aja, Sayang. Maaf, ya. Sakit nggak? Masuk dulu, yuk."


Devan mengunci pintu ruangannya. Hal yang biasa dia lakukan kalau Kania datang ke kantor.


Kemudian dia mendudukkan Kania di atas sofa. Masih dengan tangan yang mengusap kepala Kania.


"Udah, ah." Kania menepis tangan Devan. "Nggak sakit. Cuma kesel aja. Baru datang sambutannya udah dilempar tissue."


"Nggak bermaksud dilempar ke kamu, Sayang. Maaf, ya."


Devan memasang wajah bersalah. Sekaligus takut kalau Kania marah. Namun, semenjak hamil Kania tidak lagi suka marah-marah. Dia terlihat lebih sabar meskipun terkadang moodnya sering naik turun.


"Udah, nggak apa-apa. Jangan diulang lagi lempar-lempar barang begitu."


"Iya, Sayang. Maaf, ya." Devan mengecup pipi Kania. "Ngomong-ngomong, datang kok, nggak ngabarin dulu? Tumben sekali. Kangen, ya?"


Kania tertawa kecil. "Mau kasih kejutan aja, sih, Mas. Sekalian mau lihat, suami aku di kantor macam-macam apa enggak."


"Enggak macam-macam, Sayang. Aku kerja. Buat kalian. Kamu, Shaka, dan anak-anak kita selanjutnya."


"Emang mau berapa anak?"


"Sebelas, boleh?"


Kania mengangguk polos. "Boleh. Kalau aku mampu."


Devan tertawa kecil. Tangan Devan sudah bergerak aktif menyentuh titik-titik sensitif di tubuh Kania.


"Ada yang mau aku omongin, Mas," ucap Kania, menahan tangan Devan yang sudah sangat nakal.


"Sama, Sayang. Tapi yang ini lebih penting."


"Aaah, kesel. Setiap datang ke kantor pasti selalu begitu."


"Tapi kamu tetap datang, Sayang. Itu artinya kamu juga ingin."


Kania tak bisa melawan lagi saat dengan cepat bibir Devan membungkam bibir Kania. Kania kembali hanyut dalam permainan yang Devan ciptakan. Selalu panas dan penuh sensasi.


🌼🌼🌼


mohon maaf baru up lagi. dua hari sakit. tangan gemetaran, susah di buat ngapa-ngapain. pegang hp pun cuma sebentar-sebentar Karena nggak kuat. maaf buat yang udah nungguin. 🥰🥰🥰