
Kania menikmati peran barunya sebagai ibu rumah tangga. Memasak untuk Shaka dan Devan, menyiapkan segala keperluan Devan sebelum berangkat ke kantor, melayani kebutuhan Devan dari membuka mata sampai Devan menutup mata kembali. Kecuali dalam urusan ranjang yang Kania sendiri belum siap untuk memberikannya.
Sejak percakapan di hotel seminggu yang lalu dan berakhir dengan pertanyaan Kania yang tak mendapatkan jawaban, Devan tidak pernah lagi menggodanya perihal nafkah batin.
Harusnya Kania bisa tenang. Tapi ternyata justru banyak hal yang mengganggu pikirannya. Tentang tujuan Devan yang menikahi dirinya, yang sampai saat ini Kania belum tahu itu apa.
Hari selanjutnya, Kania dan Devan memutuskan untuk pulang ke rumah mereka berdua. Devan memilih untuk pergi ke kantor daripada harus menghabiskan waktu di hotel. Menurutnya, itu membosankan karena tidak ada kegiatan sama sekali.
Ya, meskipun harus mendengar Hanum mengomel sepanjang rel kereta karena Devan sudah masuk kerja di hari kedua setelah pernikahannya.
Mungkin kalau pengantin baru lainnya, mereka akan betah di dalam kamar seharian penuh. Karena ada hal yang mereka sukai.
Tapi tidak dengan Devan dan Kania. Meskipun Devan menginginkannya, tetapi dia tidak bisa memaksa Kania. Keduanya butuh waktu untuk saling mendekatkan diri sebelum sampai ke tahap itu.
"Kayaknya aku mau buka usaha aja, Van. Bosan di rumah terus." Kania membuka percakapan disaat mereka tengah menikmati sarapan. Shaka sudah berangkat lima belas menit yang lalu.
Tadinya Devan yang akan mengantar Shaka ke sekolah. Sayangnya dia baru bangun lima menit sebelum Shaka berangkat. Masih menunggu Devan untuk bersiap-siap, yang ada Shaka akan terlambat masuk ke kelas.
Devan meletakkan sendoknya. Mengalihkan perhatiannya pada Kania yang duduk berhadapan dengannya. "Usaha apa? Aku maunya kamu duduk di rumah. Nunggu Shaka pulang sekolah, nunggu aku pulang kerja. Kayak suami kamu kekurangan uang aja."
Kania menghembuskan napas pelan. Dia paham bahwa menaati perintah suami adalah yang utama. Tapi dia juga ingin berguna bagi sesama. Daripada yang yang diberikan Devan menjamur di rekening, lebih baik dia gunakan untuk menciptakan lapangan kerja.
"Kan, bisa aku cari orang kepercayaan buat pegang usahaku. Aku tinggal ngawasin aja. Sekalian untuk menciptakan lapangan kerja buat mereka yang membutuhkan."
"Ya terserah kamu kalau begitu. Tapi aku tetap mau kamu ada di rumah saat Shaka atau aku pulang."
"Iya, janji."
Devan mengangguk puas dengan jawaban Kania.
***
Waktu berjalan. Kania tak butuh waktu lama untuk bisa membuka usahanya.
Kania sudah menemukan tempat yang cukup strategis untuk membuka usaha. Dia sudah memutuskan untuk membuka usaha di bidang fashion.
Memang dia suka dalam hal membuat kue. Toko kue pun pernah dia miliki. Tapi Kania tidak ingin dianggap menyaingi Rinda meskipun rejeki sudah ada yang mengatur.
Tapi, bukankah lebih baik menjaga perasaan orang lain? Kalau bisa membuka usaha yang lain, kenapa harus sama dengan Rinda?
Segala macam pakaian dari mulai dewasa sampai anak-anak tersedia. Pakaian kerja sampai pakaian untuk tidur juga tersedia. Lengkap dan dengan harga yang merakyat.
Keputusan Kania ini juga tak lepas dari persetujuan Kanjeng mami, ibu Hanum.
Dia seorang pebisnis juga seorang aktivis sosial. Tidak pantas rasanya kalau Kania hanya duduk di rumah saja sedangkan ibu mertuanya begitu aktif. Kania yang masih muda, tentu tidak mau kalah.
"Lagi-lagi kamu kasih Mbak kerjaan, Ka. Mbak sangat berterimakasih sama kamu." Kania tertawa kecil mendengar ucapan Imas yang kini lagi-lagi menjadi orang kepercayaan Kania. Beberapa bulan yang lalu, suaminya pindah kerja ke kantor pusat yang ada di Surabaya. Imas dan anaknya pun turut dibawa ke Surabaya.
"Tapi beneran nggak apa-apa kalau Mbak kerja? Suami Mbak gimana? Anak Mbak Imas?"
"Enggak apa-apa, Ka. Lumayan buat tambah-tambah pemasukan. Anak aku ada sama mertua aku."
Kania mengangguk paham. Selanjutnya menyerahkan urusan pekerjaan pada Imas.
Sepulang dari tokonya, Kania memilih untuk pergi ke kantor Devan mengantar makan siang untuk Devan.
Sesekali tak apa Kania ke kantor Devan daripada di rumah tidak ada pekerjaan. Shaka sedang dibawa Tristan untuk berjalan-jalan.
Tanpa mengabari Devan terlebih dahulu, Kania sudah sampai di kantor Devan dengan membawa makan siang untuk Devan yang dia beli di restoran.
Respon yang dia dapatkan sangat berbeda dengan respon yang dulu dia dapatkan saat pertama kalinya menginjakkan kakinya di kantor Devan.
Kalau dulu tak ada satupun yang langsung mengijinkan Kania untuk masuk, sekarang tak ada yang berani melarangnya. Semua menunduk hormat menyapa Kania yang lewat. Sebenarnya, Kania risih diperlakukan begitu. Kania lebih nyaman kalau mereka bersikap biasa saja. Menyapa dan berbicara dengan biasa saja.
***
"Kamu cinta sama dia?"
Devan diam, tidak menjawab pertanyaan Nino. Bertahun-tahun dia diminta menjalankan bisnis Devan yang ada di Dubai, pulang-pulang Devan sudah menikah dengan wanita yang ternyata pernah dihamili oleh Devan.
"Terus alasan kamu nikahin dia apa kalau bukan karena cinta? Tanggungjawab? Ayolah, Van. Soal tanggungjawab bisa diberikan tanpa harus menikahi ibunya, bukan? Aku tau kamu bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta." Nino merasa gemas karena Devan tak menjawab rasa ingin tahunya.
"Jadi karena itu akhirnya kamu mau nikahin Kania?"
"Terpaksa."
"Nggak ada cinta sedikitpun buat dia gitu?"
"Sampai detik ini, yang aku rasain hanya rasa peduli. Menganggap dia sebagai ibu dari anakku. Itu saja, nggak lebih."
"Yakin?" Nino masih berusaha mengorek isi hati Devan.
Dengan yakin Devan mengangguk. "Yakinlah."
"Terus udah ngapain aja kamu sama dia? Nggak mungkin, dong, satu kamar tapi nggak ngapa-ngapain."
"Pengen tau banget urusan orang!" sahut Devan, enggan membahas hal itu dengan Nino.
"Ya mungkin aja kamu nggak cinta sama dia tapi mau nidurin dia. Buktinya dulu kamu bisa dapat anak dari dia meskipun tanpa cinta."
"Sial!" Devan melempar Nino dengan bolpoin yang ada di tangannya. "Kalau Ivanka tidak berulah, aku juga tidak akan datang ke tempat itu," lanjut Devan kembali mengingat seseorang yang kini entah dimana keberadaannya.
"Karena cinta, cewek lain jadi korbannya. Sampai hamil pula. Parah, Van."
***
Di balik pintu ruangan Devan yang terbuka sedikit, Kania mendengar semua percakapan Devan dan Nino.
Hatinya sakit mendengar semua ucapan Devan.
Rasa penasarannya selama ini terjawab sudah. Devan menikahinya karena demi mempertahankan jabatannya.
Dua bulan pernikahan, Kania sudah mulai nyaman dengan Devan. Mulai percaya dengan takdir hidupnya bersama Devan.
Tapi hari ini, Devan mematahkan semuanya.
Setelah ini aku harus apa?
***
Nino mengerutkan keningnya saat keluar dari ruangan Devan, sudah ada makanan di atas mejanya.
Secarik kertas terselip di bawahnya.
Tadinya aku mau mengantar makanan ini untuk kamu. Tapi aku malah mendapatkan kejutan yang tak terduga.
Kania
"Jangan-jangan dia denger percakapan antara aku dan Devan tadi," gumam Nino sembari mengangkat kantong plastik berisi makanan tersebut dan membawanya masuk ke dalam ruangan Devan.
Nino meletakkan makanan tersebut ke atas meja Devan dan menyerahkan kertas yang bertuliskan pesan dari Kania itu kepada Devan sambil berucap, "mending kamu pulang sekarang!"
"Kenapa?" Devan mengerutkan keningnya.
Menerima kertas tersebut lalu membacanya.
Devan membelalakkan matanya. Jantungnya berdegup kencang membayangkan kemarahan Kania.
"Kayaknya dia dengar pembicaraan kita tadi," ucap Nino yang sama dengan isi pikiran Devan.
"Kamu, sih, pake mancing-mancing segala."
"Ya mana aku tahu kalau Kania akan datang."
"Aarrrgghhhh..." Devan beranjak dari tempat duduknya.
Dengan cepat melangkahkan kakinya untuk keluar dari kantor. Devan harus segera sampai di rumah dan bertemu dengan Kania.
🌼🌼🌼