Benih CEO

Benih CEO
Bab 40


"Bunda, kenapa kita nggak serumah sama ayah? Ayah bunda Willy serumah, dong. Setiap hari di antar ke sekolah sama ayah dan bundanya. Shaka juga pengen."


Kania terdiam. Tangannya membelai rambut tebal Shaka yang tidur berbantalkan lengannya. Wajah Shaka mendongak, memandang Kania yang tak kunjung memberikan jawaban.


Hati Kania terasa sakit melihat anaknya tumbuh tanpa adanya seorang ayah. Kania paham ada lubang besar di hati Shaka karena tidak ada sosok ayah di masa pertumbuhannya.


"Karena... Bunda dan ayah Shaka tidak terikat pernikahan, Sayang. Laki-laki dan perempuan yang tidak menikah, tidak boleh tinggal dalam satu rumah." Hati-hati Kania menjelaskan pada Shaka. Salah bicara sedikit saja bisa bahaya.


"Kenapa kalian tidak menikah?"


Seperti sebuah jebakan untuk Kania. Pandainya Shaka membuat sebuah pertanyaan yang membuat Kania yang lebih dewasa saja bingung harus menjawab apa.


Tidak mungkin Kania menjawab kalau Devan belum melamarnya, atau berniat untuk bertanggungjawab atas apa yang dia lakukan lima tahun yang lalu.


"Ayah dan Bunda tidak berjodoh, Nak. Jadi tidak bisa menikah."


"Kata Miss Karen, tidak ada yang tidak mungkin kalau Allah sudah berkehendak. Shaka mau berdoa agar Ayah dan Bunda berjodoh."


Kania memejamkan matanya. Helaan napas panjang keluar dari hidungnya. Berdoalah, Nak. Siapapun kelak yang menjadi ayahmu, semoga kamu tidak pernah kecewa. Batinnya pasrah.


Dia perempuan biasa. Kelak juga ingin membina rumah tangga. Entah dengan siapa, dia berdoa semoga Allah mendatangkan seseorang yang bisa menerima dirinya. Terutama bisa menerima Shaka. Juga keluarganya yang bisa menerima Kania dan Shaka dalam satu paket beserta masa lalunya.


"Tidur, ya. Besok Shaka harus sholat subuh, setelah itu baru sekolah."


Kania pernah mendengar sebuah tausyiah. Sebelum tidur, ucapkan pada anak-anak bahwa besok dia harus segera bangun untuk menunaikan sholat subuh agar dia menomorsatukan urusan akhirat.


Jangan katakan besok harus segera bangun untuk sekolah. Karena takut anak akan menomorsatukan urusan dunianya.


Kania memang bukan orang yang baik. Adanya masa lalunya yang buruk pun membuatnya merasa tidak pantas untuk di sebut wanita baik-baik.


Tapi dia ingin Shaka menjadi anak yang sholeh. Dia ingin anaknya menjadi anak yang baik. Seimbang dalam urusan dunia dan akhirat.


***


"Kemarin orangtua Devan ke sini."


Tangan Kania terhenti. Wortel yang sedang dia potong terabaikan begitu saja setelah mendengar ucapan ibunya yang begitu mengejutkan. Kemarin, dia tengah berjalan-jalan dengan Tasya. Jadi dia tak tahu kalau kedua orangtua Devan datang.


"Untuk apa mereka datang, Bu?" tanyanya sembari melanjutkan memotong wortel untuk di buat sup ayam.


"Melamarmu untuk Devan."


Jantung Kania berdetak kencang. Ini yang Shaka harapkan seperti yang dia katakan semalam. Berharap dan berdoa agar Ayah dan bundanya bisa bersatu.


Tapi, Kania tak ingin terburu-buru. Ini orangtuanya yang meminta, belum tentu Devan setuju dan mau menikahi Kania.


"Mereka menunggu jawabanmu, Ka."


"Aku nggak tahu, Bu," jawabnya dengan perasaan bingung.


Bagaimana mungkin dia bisa menikah dengan laki-laki yang mencintainya saja tidak. Bahkan menganggapnya bukan wanita baik-baik.


Jika hanya ingin bertanggungjawab untuk Kania dan Shaka, Kania rasa tidak perlu. Selama ini Kania dan Shaka baik-baik saja tanpa Devan. Kania masih mampu untuk menghidupi Shaka.


Saat ini Kania tengah memulai berjualan kue meskipun baru beberapa saja yang memesan pada Kania. Tidak bermaksud untuk memanfaatkan Shaka, honor Shaka juga masih sangat cukup untuk hidup mereka.


Kania akan tetap mengusahakan bisa mencari uang sendiri sebagai bentuk tanggungjawabnya pada Shaka. Entah dengan membangun usaha, atau menjadi karyawan di manapun itu.


"Di pikir-pikir dulu, minta petunjuk sama Allah. Mereka menunggu jawaban kamu. Minggu depan akan datang lagi."


"Rumah tangga macam apa yang akan di jalani kalau keduanya tidak saling cinta, Bu? Aku dan Shaka baik-baik saja tanpa tanggungjawab dari mereka. Mereka tidak harus memaksa Devan untuk menikahi aku."


"Cinta bisa tumbuh seiring waktu. Lagipula, siapa yang bilang kalau Devan di paksa menikahi kamu?"


Kania menatap ibunya dengan penuh tanya. "Maksud ibu apa? Kan, yang katanya datang ke sini hanya Pak Bram dan Bu Hanum. Tidak ada Devan, kan?"


Wening tertawa kecil mendengar pertanyaan Kania. "Devan juga datang. Lima belas menit setelah kedatangan orangtuanya."


Kania tidak bisa mengintervensi jantungnya yang berlompatan di dalam sana. Mendengar nama Devan datang ke rumahnya, Kania rasa itu tidak mungkin. Tapi ibunya juga tidak mungkin berbohong demi membuat Kania berpikir positif tentang Devan.


"Bisa saja mereka di memaksa Devan. Aku tahu betul gimana Devan menganggap aku itu wanita seperti apa. Jadi tidak mungkin dia melamarku. Lagipula, apa bapak dan ibu nggak marah pas berhadapan dengan orang yang sudah menghancurkan anak bapak dan ibu?"


Flashback...


Wening terpaku menatap dua orang yang berdiri di depan pintu rumahnya. Wening sering melihat wajah keduanya di televisi. Tidak salah lagi, mereka adalah pemilik Citra TV dan media lainnya.


Rasa gugup pun menghinggapi hati Wening. Mimpi apa semalam sampai orang terpandang ini mendatangi rumahnya hari ini?


"Selamat pagi, Bu. Bisa kita bicara sebentar?" Hanum tersenyum lembut.


Wening mengangguk kaku. "Bi-bisa, Pak, Bu. Mari, silahkan masuk. Maaf, rumahnya berantakan dan sempit. Mainan Shaka belum sempat saya bereskan." Padahal hanya ada satu mobil-mobilan Shaka yang teronggok di atas kursi. Mainan itu belum sempat di kembalikan ke tempatnya setelah di mainkan Shaka sesaat sebelum berangkat ke sekolah tadi.


"Tidak masalah, Bu. Namanya juga ada anak kecilnya. Rumah berantakan itu wajar. Rumah saya juga berantakan mainan sekarang kalau Shaka datang. Tapi tidak masalah. Saya malah senang karena rumah saya terasa lebih hidup lagi suasananya."


Beberapa saat kemudian, Karno datang dari sawah. Beberapa saat yang lalu Wening menelpon Karno dan mengatakan kalau mereka kedatangan tamu penting.


Setelah membersihkan diri dengan masuk dari pintu belakang dan mengganti baju, Karno segera keluar untuk menemui tamu penting itu.


"Bapak dan ibu ini siapa, ya? Dan ada maksud apa datang kemari?" tanya Karno. Dia memang tak pernah tahu siapa mereka karena memang jarang menonton televisi.


Belum sempat Bram dan Hanum menjawab, Devan datang menyapa orangtua Kania dan langsung duduk di dekat Hanum. "Ini anak kami, Pak. Namanya Devan, ayah Shaka." Ada rasa takut saat Hanum memberitahukan identitas Devan yang merupakan ayah Shaka. Lelaki yang menghamili Kania lima tahun yang lalu.


Rahang Karno mengeras mendengar nama Devan. Apalagi kini Devan berada di depan matanya. Karno beranjak dan mendekati Devan dengan penuh emosi.


Kerah kemeja Devan sudah di cengkeram dengan erat oleh Karno. Kepalan tangan sudah siap melayang ke bagian tubuh Devan. "Kurang ajar, kamu!"


"Pak, tahan, Pak. Istighfar..." Wening histeris dan menahan tangan Karno yang sudah siap meninju Devan.


Sedangkan Bram dan Hanum diam, tak menahan Karno sedikitpun. Karena mereka rasa, itu adalah hal yang pantas Devan dapatkan.


"Tahan, Pak. Kekerasan tidak akan mengembalikan Kania seperti dulu."


Melepaskan cengkeramannya dengan kasar sampai Devan terjengkang dan kembali terduduk di atas kursi dengan kasar. "Karena kamu, anakku kehilangan masa depannya!" Karno menunjuk wajah Devan dengan penuh emosi.


"Sudah, Pak. Nggak enak sama mereka." Wening berbisik pelan.


"Maaf, Pak, Bu. Saya sangat emosi," ucap Karno pada Bram dan Hanum setelah dia kembali duduk.


Bram tersenyum tipis. "Tidak masalah, Pak. Bagi saya itu pantas untuk anak saya yang sudah kurang ajar ini. Tidak masalah bagi saya kalau Bapak ingin memberi Devan pelajaran."


"Pa?" desah Devan dengan pelan. Tak terima dengan apa yang di ucapkan oleh papanya. Tapi Bram melengos tak peduli sembari berucap, "katakan apa tujuan kita kesini, Devan!"


Butuh beberapa saat untuk Devan bisa merangkai kata yang akan di ucapkan di hadapan orangtua Kania.


"Saya minta maaf sudah menghancurkan hidup Kania, Pak. Saat itu, saya dalam keadaan mabuk. Ijinkan saya untuk bertanggungjawab atas apa yang saya lakukan dengan menikahi Kania, Pak, Bu."


Berulangkali Karno menarik napas dan membuangnya untuk meredakan emosinya. Ada banyak hal yang berputar di kepalanya. Jika dia menolak lamaran Devan, belum tentu suatu saat ada keluarga yang menerima Kania dengan tangan terbuka seperti keluarga Devan yang notabene adalah orang terpandang.


Tak jarang orang kaya memandang rendah orang biasa saja seperti keluarga Karno meskipun anaknya melakukan kesalahan seperti yang di lakukan Devan.


Tapi Bram dan Hanum, mereka orang kaya yang tak memandang siapa dan bagaimana keluarga Karno.


"Maaf, Pak, Bu. Sebenarnya saya masih sangat marah dan kecewa dengan apa yang pernah di lakukan Devan pada anak saya. Hal itu membuat saya masih dan mengusir Kania dari rumah ini. Padahal, dia punya alasan kenapa bisa datang ke tempat seperti itu. Bukan karena Kania bekerja di sana menjadi wanita penghibur."


"Kami paham, Pak. Anak saya yang bersalah dalam hal ini," timpal Hanum dengan wajah yang terlihat merasa bersalah karena ulah anaknya. "Sebab itu ijinkan kami untuk bertanggungjawab atas apa yang di lakukan Devan pada Kania. Kami sudah menyayangi Kania seperti anak kami sendiri. Apalagi kami juga tidak bisa jauh dari Shaka."


"Semua keputusan ada di tangan Kania, Pak, Bu. Saat ini Kania tengah pergi bersama temannya."


Hanum mengangguk senang. "Baik, Pak. Kami akan menunggu keputusan dari Kania."


Besar harapannya agar Kania menerima lamaran Devan untuk Kania. Sebagai sesama perempuan, Hanum mencoba menempatkan diri seandainya dia berada di posisi Kania.


Hanum yakin tidak mudah bagi Kania hidup dengan bayang-bayang masa lalu yang buruk. Pandangan buruk dari orang-orang sekitarnya. Harus mendidik dan membesarkan anak seorang diri. Hanum yakin itu tidak mudah.


Flashback end...


🌼🌼🌼


Ada yang masih nungguin enggak? Sepi nih... 😌😌


Thanks for reading ❀️❀️