
"Kania!"
Berulangkali Devan memanggil Kania, namun tak ada jawaban. Kakinya terburu-buru berjalan ke sana kemari menyusuri setiap ruangan untuk mencari Kania.
"Kamu dimana, Ka?"
Devan begitu takut kalau Kania marah dan meninggalkan rumah karena tahu alasannya menikahi Kania karena apa. Urusannya bisa jadi panjang. Kedua orangtuanya serta kedua mertuanya pasti akan memarahinya habis-habisan.
Terutama keluarga Kania karena merasa dipermainkan.
"Kania kamu di_ kamu dari mana aja?"
Devan bisa bernapas dengan lega setelah melihat Kania baru saja masuk ke dalam rumah.
"Kenapa?" Kania menatap Devan datar. Tak seperti hari kemarin saat Kania mulai menatap Devan dengan binar cerah di matanya. Perlahan hatinya mulai menerima Devan. Namun kenyataan yang dia dengar hari ini membuat Kania begitu kecewa dan sakit hati. Merasa dipermainkan dan dimanfaatkan oleh Devan hanya untuk sebuah jabatan.
"Aku minta maaf."
"Buat apa?"
Devan terdiam, bingung harus mulai dari mana untuk menjelaskan pada Kania. Tatapan mata Kania yang begitu tajam membuat nyali Devan sedikit menciut. Salah sedikit dalam bicara, semua bisa runyam.
Kania meninggalkan Devan untuk masuk ke dalam kamar. Rasanya hanya buang-buang waktu saja menunggu orang yang tak kunjung menjawab pertanyaannya.
Panik karena takut Kania akan meninggalkan rumah, Devan segera menyusul Kania ke dalam kamar.
Saat di dalam kamar Kania membuka lemari pakaiannya. Dengan cepat Devan mendekati Kania dan memeluk Kania dari belakang. "Jangan pergi," bisiknya pelan. Satu tangannya meraih tangan Kania yang sudah berada di atas tumpukan pakaian.
"Aku minta maaf. Aku salah."
"Lepas, Van." Kania berusaha melepaskan diri. Namun pelukan Devan begitu kuat menahan tubuhnya.
Hembusan napas Kania terasa begitu kasar. "Lepas! Aku mau mandi. Apa-apaan, sih, kamu!"
Mendengarnya, Devan mematung. Devan kira Kania akan mengemasi pakaiannya. Ternyata dugaannya salah. Kania hanya ingin mengambil baju ganti karena dia akan mandi.
Dengan rasa sedikit malu, Devan melepaskan pelukannya pada Kania. Membiarkan Kania mengambil pakaian ganti dan masuk ke kamar mandi tanpa menoleh ke arahnya lagi.
Sejak itu, Kania lebih banyak diam. Dia tak secerewet biasanya. Apalagi dalam hal membereskan pakaian kotor Devan yang digeletakkan begitu saja di atas ranjang.
Kania juga banyak diam saat menyuapi Shaka. Kania hanya menjawab sekedarnya saja saat Shaka bertanya banyak hal.
Kania masih bisa tersenyum ketika berbicara dengan Shaka. Namun saat matanya melihat Devan, senyum itu meredup seketika dan membuat Devan salah tingkah sendiri.
"Bunda sakit?" tanya Shaka saat melihat Kania tengah menenggak obat herbal cari harga tiga ribuan.
Kania tersenyum sembari membuang bungkus obat herbal itu ke dalam tempat sampah. "Enggak, Sayang. Memangnya minum seperti itu hanya untuk orang sakit? Kan, bisa juga buat kekebalan tubuh," jawab Kania berbohong.
Sejak sore tadi tubuhnya seperti meriang dan kepalanya sedikit pusing. Sebelum parah, Kania segera mengobatinya. Semua akan repot kalau sampai Kania sakit.
Tidak ada yang menyiapkan makanan. Tidak ada yang mengurus Shaka sebelum berangkat sekolah.
Memang, seorang ibu akan berusaha untuk tetap sehat. Keadaan sakit pun masih harus mengerjakan pekerjaan rumah jika masih mampu.
"Beneran bunda enggak apa-apa?"
"Beneran, Nak." Kania tersenyum lembut. Begitu bangga pada Shaka yang memiliki jiwa kepedulian yang tinggi.
Semoga kamu nggak meniru sifat ayahmu ya, Nak. Cukup kepintarannya aja, jangan sikapnya. Kania membatin miris.
"Shaka sekarang bobok, ya. Takut besok bangunnya telat."
"Iya, Bunda. Bunda sehat terus, ya. Jangan sakit. Shaka sedih kalau bunda sakit."
Kania tersenyum dan menghembuskan napas pelan. Berusaha menahan air matanya agar tak terjatuh di depan Shaka.
"Iya. Shaka juga sehat terus, ya. Sudah, sekarang Shaka ke kamar, bobok."
Kania masih harus membersihkan bekas makan malam mereka sebelum naik ke kamar untuk tidur. Kania sendiri adalah tipe orang yang tidak bisa tidur kalau pekerjaannya belum selesai atau masih ada yang berantakan.
"Cukup, Ka. Istirahat aja biar aku yang selesaikan." Devan menyentuh tangan Kania yang sedang mengelap meja.
Kania menatap tangan itu sebentar, lalu menarik tangannya sendiri dengan kasar. "Jangan sentuh aku!" ucapnya tegas membuat Devan terdiam lagi.
Devan berinisiatif untuk membantu Kania dengan mencuci piring. Namun langkahnya kalah cepat dengan Kania yang sudah tiba di depan kitchen sink.
"Aku aja, Ka. Kamu lagi nggak enak badan, kan? Kamu istirahat aja." Namun Devan kembali tak berkutik saat Kania meliriknya dengan tajam.
***
Semakin lama bukannya sembuh, badan Kania semakin terasa sakit. Bergerak sedikit saja sudah membuatnya gemetaran dan keringat dingin serta matanya berkunang-kunang.
Tanpa memperdulikan Devan yang entah sedang apa, Kania memejamkan matanya. Sambil berharap besok tubuhnya terasa lebih baik lagi.
***
Devan begitu gelisah dan tak bisa memejamkan matanya. Pikirannya masih terus memikirkan bagaimana caranya agar bisa berbicara dengan Kania dan Kania memaafkannya.
Kania terlalu menjaga jarak dengannya seolah tak memberi kesempatan pada Devan untuk berbicara sedikit saja pada Kania.
Devan masuk ke dalam kamar karena sejak tadi dia masih berada di ruang kerjanya. Menunggu Kania tidur untuk masuk ke dalam kamar. Membiarkan Kania sendiri dulu dan berharap itu bisa meredakan amarah di hati Kania.
Sebelum membaringkan tubuhnya di samping Kania, Devan terlebih dahulu duduk di dekat Kania.
Dia tahu kalau Kania tengah merasa badannya sedang tidak baik-baik saja. Sebab itu dia berniat melihat kondisi Kania dari dekat.
Kepanikan merajai hati dan pikiran Devan saat tangannya menyentuh kening Kania, terasa panas. Kania demam.
Dengan sigap Devan mengambil air hangat dan handuk kecil untuk mengompres kening Kania sebagai pertolongan pertama. Sebenarnya Devan ingin memberikan obat penurun panas. Namun tidak tega jika harus membangunkan Kania yang tengah tertidur.
Devan begitu siaga menjaga Kania. Membasahi handuk yang digunakan untuk mengompres Kania setiap lima belas menit sekali.
Tak peduli waktu terus berjalan dan malam semakin larut. Devan tetap terjaga untuk memantau keadaan Kania.
***
Saat Kania membuka mata, yang dia rasakan adalah pusing di kepalanya yang semakin bertambah. Lebih sakit daripada semalam.
Melirik ke samping tempat Devan tidur, Kania terkejut melihat Devan yang memejamkan matanya sambil bersandar pada kepala ranjang dan melipat kedua tangannya di atas dada.
Adanya handuk kecil di keningnya dan baskom kecil berisi air, Kania tahu kalau Devan yang melakukannya.
Sedikit terenyuh, namun belum mampu untuk meredamkan kekecewaan yang dia rasakan.
"Mau kemana, Ka? Biar aku bantu."
"Jangan sentuh aku!"
Kania menepis tangan Devan yang hendak menyentuhnya, berniat membantunya untuk berdiri.
"Jangan ngeyel, Ka. Jalan kamu aja sempoyongan begitu." Devan tak menyerah.
"Aku bisa sendiri. Urus saja pekerjaan dan jabatan kamu yang kamu banggakan itu," ucap Kania sarkasme. Membungkam mulut Devan dengan telak.
***
"Bunda sakit?"
Kania membuka matanya mendengar suara Shaka yang terdengar sedih. Shaka sudah akan ikut berbaring di samping Kania. Namun dengan cepat Kania menahan Shaka. "Jangan ikut tidur, Nak. Nanti seragam sekolah Shaka kusut."
"Shaka nggak mau sekolah," jawab Shaka dengan menggelengkan kepalanya. "Shaka mau jagain bunda sampai bunda sembuh."
Kania tertawa kecil. "Nanti kalau Shaka nggak sekolah nggak dapat nilai, dong. Bunda nggak apa-apa, kok. Nanti kalau Shaka udah pulang pasti bunda juga udah sembuh."
"Janji?" Shaka mengacungkan jari kelingkingnya. Dan Kania pun menyambutnya dengan menautkan jari kelingkingnya juga. "Bunda janji. Sekarang Shaka sekolah, ya? Diantar ayah, ya."
"Kata ayah, Shaka diantar Pak Heru. Ayah mau jagain bunda."
Kania terdiam sebentar. Lalu tersenyum tipis melepas Shaka yang berpamitan untuk pergi ke sekolah.
Tak berselang lama setelah Shaka berangkat sekolah, Devan masuk ke kamar dengan membawa nampan berisi sarapan untuk Kania.
Ada bubur ayam yang dia beli di depan komplek, segelas air putih hangat dan obat untuk meredakan sakit yang dirasakan Kania.
Kania memandang Devan dengan malas lalu memalingkan wajahnya. Enggan menatap Devan.
"Sarapan dulu, ya. Setelah ini minum obat dan istirahat lagi."
"Berhenti bersikap seolah kamu peduli."
🌼🌼🌼
Tak kasih lagi ☺️☺️