UNPREDICTABLE BOSS

UNPREDICTABLE BOSS
Bertahanlah !


Tiba di rumahnya, Davian melihat James---ayahnya, tengah asik mengobrol dengan Dokter Adrian, dokter keluarga mereka.


Tanpa basa-basi, James langsung menanyakan apa yang telah terjadi pada Davian. Ia nampak sangat khawatir dengan kondisi putra semata wayangnya itu.


“Lagian Adrian bilang kamu sampe disuntik obat. Papa takut kamu kenapa-napa, nak. Syukurlah kamu selamat” ucap James sambil merangkul Davian.


“Iya Pa… Papa gak sibuk ?” Davian membalas rangkulan James


“Papa masih ada kerjaan di atas, cuma Dokter Adrian tiba-tiba dateng. Okay, deh. Papa tinggal dulu” James kemudian beranjak menuju tangga lantai dua rumahnya.


“Om. Emang gua keracunan obat apaan ? Kata asisten gua, gua ngamuk sampe tangan gua diiket, nih” Davian menunjukkan pergelangan tangannya yang masih sedikit lecet.


“Beneran gak apa-apa kalo Om kasih tau ?” pertanyaan Adrian justru terdengar mencurigakan.


“Iya… Kenapa Om ?” Davian penasaran.


Setelah tahu dirinya keracunan obat perangsang, Davian teringat momen dimana Dita sempat terlihat kikuk ketika dimintai penjelasan tentang luka lecetnya.


“Oh cewek yang kemaren itu asisten lu ? Kirain cewek lu. Makanya Om heran lu kepikiran pake-pake gituan. Mentang-mentang dia cakep-” Adrian terlihat menahan tawanya.


“Apa sih, Om! Sumpah ! Gua diracun” sambar Davian.


Mereka memang sangat akrab sebab Adrian sudah menjadi dokter keluarga mereka sekitar enam tahun lamanya. Jika dilihat sekilas, mereka tampak seperti kakak-beradik.


Karena itu pula lah Davian menceritakan kejadian sebenarnya yang bermula dari pertemuannya dengan Alexxa di restoran.


Mendengar hal itu, Adrian menduga bahwa obat perangsang itu berasal dari wine yang sempat Davian minum.


“Ya udah. Mendingan lu hari ini bed-rest. Ga usah mikir yang berat-berat dulu” pungkas Adrian.


Untuk pertama kalinya dalam hidup Davian, akhir pekan kala itu Ia lalui hanya dengan sedikit aktivitas. Tanpa berolah raga ke gym langganannya, bahkan Ia dilarang hadir diacara launching produk terbaru Rubynist oleh ayahnya, James.


Selama masih berada di rumahnya, Davian kerap mengecek berita terbaru mengenai skandal palsu yang melibatkan dirinya. Akhir-akhir ini, artikel tentang skandal palsu itu tak begitu ramai lagi muncul di internet.


Sekarang, tak menjadi masalah bagi Davian jika rumor kencannya dengan seorang wanita yang identitasnya masih dirahasiakan tersebar. Ia juga tak masalah jika rumor itu menjadi banyak judul artikel di internet.


Hingga awal pekan tiba, Davian akhirnya menjadi normal kembali. Ia kembali berkutat dengan segala kesibukannya.


Dan seperti biasa, Ia tiba di kantor setelah waktu makan siang. Davian lebih senang berangkat siang hari sebab jalanan kota tidak terlalu macet.


Dari ruangannya, Davian bisa melihat langsung Dita yang hari itu sudah bekerja sendirian. Luna sudah tidak lagi menemaninya dan membantunya mengerjakan pekerjaan yang seolah tak ada hentinya.


Sesuai perintah Davian, Dita memasuki ruangan Davian untuk membawakan beberapa dokumen yang perlu ditinjau olehnya.


Davian sekilas sempat teringat ucapan Adrian tentang peristiwa malam itu. Ia lalu mengusap wajahnya dengan kasar lalu menyuruh Dita untuk bergegas meninggalkan ruangannya.


“Pak Davi kayaknya masih belum sembuh, jadi ga terlalu bertingkah. Ah, terserah lah” Dita bergumam sendirian sambil menuju tempat kerjanya.


Hingga waktu pulang tiba, Dita masih merasa Davian bukan seperti Davian yang biasanya. Jika biasanya Dita beberapa kali dipanggil ke ruangannya, hari itu Davian hanya memanggilnya ke ruangannya satu kali saja. Davian juga jarang sekali menghubunginya dari interkom, tidak sesering hari-hari sebelumnya.


Setelah memastikan tidak ada pekerjaan lembur, Dita bergegas menunggu kedatangan bus di halte yang letaknya tak jauh dari kantornya.


Semuanya terasa normal baginya. Tanpa Ia ketahui, sekitar 50 meter dari halte itu, dua orang pria terus memperhatikan dirinya dari dalam mobil yang terparkir.


Kedua pria itu mengikuti bus yang Dita tumpangi hingga mereka tiba di depan mess tempat Dita tinggal.


Hari itu mereka tidak melakukanhal lain selain memata-matai Dita. Namun pada keesokan malamnya, mereka berhasil membekap Dita dan membawanya memasuki mobil beberapa saat sebelum Dita sampai di pelataran mess.


#


Pada momen itu, Ia bercerita pada Risha bahwa Dita tak kunjung membalas pesan-pesannya sejak beberapa jam lalu Ia kirimkan.


“Kenapa, ya ? Biasanya kak Dita gercep. Kemaren-kemaren, tadi sore, dia bales chat-nya cepet” ucap Rosie setelah menyeruput kuah mie yang hangat.


“Dia sibuk kali. Dulu-dulu aja dia pernah cerita sempet lembur sampe malem banget” balas Risha santai.


“Iya juga, sih” Rosie terdengar pasrah.


“Udah, gak usah terlalu dipikirin” pungkas Risha.


#


Setelah Dita sadar dari pengaruh obat bius, Ia mendapati dirinya berada di ruangan yang sepertinya jarang ditempati. Nyaris tidak ada jejak kehidupan di sana. Beberapa barang yang ada juga tertutup kain putih dan banyak debu tipis yang menempel.


Di dekat pintu ruangan itu, terdapat tiga orang pria dewasa tengah bermain kartu. Mereka berada di sana pasti untuk mengawasi Dita.


Dita berpikir untuk melarikan diri meskipun harus melawan ketiga pria itu. Namun, karena merasa kepalanya masih pusing, Ia memutuskan untuk tetap berpura-pura tertidur sampai merasa kondisi tubuhnya membaik.


“Bang. Kenapa gak kita pake dulu aja tuh cewek. Pusing gua liatnya” ceplos salah seorang dari mereka


“Yee… Gobl*k ! Bini lu lagi bunting noh di rumah !” sambar seorangnya lagi.


Obrolan tak bermutu itu terucap begitu saja dari mulut mereka hingga sampai ke telinga Dita.


Merasa tubuhnya sudah membaik, Dita dengan cepat bangkit dan berlari menuju sebuah kursi yang kosong tak jauh dari tempatnya terbaring. Untung saja tubuhnya tak diikat sehingga mudah baginya menyerang ketiga pria itu.


Kursi kosong itu Ia banting sekuat tenaga dan berhasil membuat ketiga pria di sana mengaduh kesakitan.


Merasa kesal dengan serangan yang dilakukan Dita, ketiga pria itu menghampiri Dita dan melayangkan beberapa serangan. Celakanya, salah satu dari mereka terlihat mengacungkan senjata tajam dan berusaha melukai Dita.


Berbekal kemampuan bela dirinya, Dita berhasil menghindari serangan demi serangan yang mengarah padanya. Benda-benda yang ada di sana juga Ia gunakan untuk melindungi dirinya dengan melemparnya pada para pria itu.


Untungnya, Dita berhasil merebut pisau yang dibawa salah seorang dari mereka dan kini berbalik menyerang ketiga pria itu.


Kala itu, Dita berjuang habis-habisan untuk bisa meloloskan diri dari situasi mengerikan itu. Sayangnya, ketika Dita merasa dirinya hampir kehabisan tenaga, Zake mendadak datang ke ruangan itu.


Melihat ketiga anak buahnya terkapar akibat luka-luka dari serangan Dita tentu membuat Zake sangat geram. Zake kini terus menyerang Dita tanpa ampun. Tamparan, pukulan, hingga pada akhirnya Zake mendorong Dita ke arah dinding dengan maksud hanya menyudutkannya.


Sialnya, kepala Dita membentur tembok hingga akhirnya Ia tak sadarkan diri.


#


Keesokan harinya, tidak biasanya Davian tiba di kantor sebelum tengah hari. Namun, jika biasanya selalu ada Dita yang menyambutnya, kini keberadaanya tak terlihat di seluruh penjuru ruangan.


Informasi dari sekretarisnya pun sama sekali tidak membantunya menemukan keberadaan Dita.


“Gak biasanya Randita gak ada kabar begini. File kerjaan yang semalem gua kirim aja belum dia kerjain, duh” gerutu Davian.


Kebetulan sekali hari itu Davian datang lebih awal, seolah Ia mendapat firasat akan kerepotan di tempat kerjanya. Ponsel yang dari tadi terus berdering bahkan tidak Ia gubris.


Selanjutnya, notifikasi pesan masuk terdengar beberapa kali muncul pada ponsel Davian.