UNPREDICTABLE BOSS

UNPREDICTABLE BOSS
Lembur Lagi ?


“Kak Luna kok belom keliatan ? Padahal udah sepuluh menit lebih. Biasanya dia suka on time. Apa mentang-mentang ini hari terakhir dia di sini makanya kak Luna sengaja telat ?” Dita berbicara sendiri lagi sambil memainkan ponselnya.


Pagi itu Dita mendadak teringat kejadian malam minggu kemarin ketika pertama kali dirinya bekerja lembur.


Sekarang, artikel yang memuat berita palsu Davian dengan aktris itu sudah hilang dari beberapa situs berita online. Benar kata Davian. Momen ketika mereka berdua pergi makan malam bersama kini ramai diberitakan.


Dita terlihat serius sampai Ia menghentikan kegiatannya karena teriakan Luna yang mengejutkannya.


“Ditaa…!”


Dita yang terkejut langsung menghampiri Luna yang masih berada di dekat pintu. Luna kemudian menunjukkan sesuatu di layar ponselnya dan itu hampir menghentikan detak jantung Dita.


“I-ini ? Ini kan aku ? Bentar, deh. Kok postingannya tanggal segini, tanggal beberapa minggu lalu ? Aku kan baru dua minggu-“


“Kamu belom tau Tim IT kita ya, Dit ? Kalo cuma ngerekayasa tanggal postingan kayak gini...”


“…”


Semua ucapan Luna bahkan tak masuk ke telinga Dita. Ia terus menggulir layar ponsel Luna, masih tak percaya dengan apa yang Ia lihat.


“Ini waktu di restoran, ini hari Selasa, yang ini pas hari Rabu, Kamis, ini waktu malem itu… Oalah pantes pak Davi ngajak mulu difoto. Mana pake bilang siapin mental segala. Bener-bener terniat” gumam Dita


Deretan postingan di akun sosmed Davian itu memang benar-benar Dita meski wajahnya tidak diperlihatkan. Hanya beberapa foto Dita yang diambil dari belakang, atau foto yang hanya menampakkan kaki hingga sepatu mereka tanda mereka sedang berdekatan. Tipe orang yang ingin memamerkan hubungan namun tetap ingin menjaga privasi.


“Dit ? Kamu jangan-jangan gak denger apa yang Kakak bilang barusan ?” pertanyaan Luna memecah fokus Dita.


Dita gelagapan karena Ia memang tidak menyimak dengan benar semua ucapan Luna. Namun, Dita masih beruntung karena Luna masih berbaik hati mau mengulang kembali apa yang diucapkannya tadi.


“Ealah… Berarti kerja lembur sama pak Davian emang gitu, ya ?” tanya Dita polos


“Iyap. Tau gak ? Nilai plus kamu yang ngebikin Kamu kepilih gantiin posisi Kakak, salah satunya ya karena kamu bisa bela diri”


#


Padahal matahari sudah akan tenggelam, namun kerjaanya hari itu masih saja belum beres. Untungnya hari itu Luna masih menemani Dita sebelum Dita harus bekerja sendirian kelak.


Ditengah kesibukan mereka, Davian datang dan langsung memasuki ruangannya. Kunjungannya ke kantor belakangan ini memang selalu setelah jam makan siang.


Terserah apa mau bos. Yang penting, ketika pekerjaan mereka selesai, mereka bisa segera pulang tepat waktu jika tidak ditugaskan lembur.


Tiba di mess-nya, Dita bergegas untuk membersihkan diri dan menghabiskan makan malam. Selesai dengan kedua urusan itu, Dita kemudian terhubung dengan keluarganya di kampung juga kedua saudarinya di kontrakan mereka dulu.


Melalui panggilan video grup itu, Dita melepas rindu dengan kedua orang tuanya serta satu orang keponakannya alias anak dari kakaknya; Risha.


Namun, keseruan itu terhenti ketika Davian menelpon Dita. Dan dirinya sangat terkejut ketika Davian tiba-tiba mengatakan Ia hendak memberi Dita pekerjaan lembur. Ayolah ! Ini weekend. Lembur lagi ?


Davian lagi-lagi mengejutkan Dita dengan menanyakan mess dan mengatakan akan menjemputnya segera. Artinya rencana me-time-nya malam itu akan gagal total.


Benar saja, sekitar setengah jam setelah Dita memberikan alamat mess, Davian menghubungi Dita untuk menemuinya di depan jalan.


Dita terlihat cantik dengan dress berwarna putih gading meski hanya dengan riasan yang tipis. Sesuai dengan apa yang Davian harapkan.


Malam itu, Davian mengemudikan mobil sedannya dengan santai. Kali ini, Davian memberitahu Dita bahwa tujuannya sekarang adalah menghadiri pertemuan dirinya dengan pihak Alexxa.


Davian meminta Dita untuk menemaninya demi meluruskan skandal palsu yang entah kenapa sampai menyeret namanya. Ditengah perjalanan, Davian menyerahkan beberapa lembar foto dengan kualitas yang buruk pada Dita.


“Ini kayak dari rekaman CCTV ya, Pak ?” tanya Dita sambil melihat foto itu satu per satu.


“Iyap. Kamu liat tanggalnya, Ran. Bisa-bisanya mereka kepikiran nuduh saya, ngejebak saya, pas banget waktu saya gak punya bukti kuat buat bantah berita itu” Davian terdengar kesal.


Baik Davian maupun Dita, keduanya merasa ada hal yang aneh dibalik semua itu.


Davian menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran. Mereka segera berjalan menuju private-room sesuai dengan lokasi yang ditentukan pihak Alexxa. Belum ada siapapun di sana.


“Kamu udah makan belom, Ran ? Pesen dulu-“


“Udah, Pak. Saya udah makan. Pak Davi gak perlu repot-repot” Dita cepat-cepat memotong kalimat Davian


“Oh. Ya udah. Kalo gitu kamu pesenin makanan buat saya. Pilih best-seller nya aja, biar ga ribet” balas Davian santai


Ck. Bodoh sekali Dita berani memotong ucapan Davian, kan ? Lagi pula, kenapa Davian ini sangat ramah ? Sebenarnya Dita kerap merasa diperlakukan sudah seperti adiknya, bukan sebagai karyawannya.


“E-eh ? Baik, Pak” Dita tergagap menjawab perintah Davian


Alexxa ini, kenapa lama sekali. Davian bahkan sudah menghabiskan makanannya dan sudah menyuruh pelayan merapikan mejanya. Bosan, bosan.


“Ck. Buang-buang waktu aja. Kita pulang aja, Ran” Davian terlihat akan bangkit dari tempat duduknya.


Namun, kedatangan Alexxa bersama tiga orang pria akhirnya menghentikan niat Davian. Salah satu pria itu adalah Zake. Mereka akhirnya duduk bersama setelah telat hampir satu jam lamanya.


“Tuan. Kami mohon maaf karena kami sangat terlambat. Terimalah…” ucap Zake sambil menyodorkan sebotol wine yang mereknya terkenal mewah.


“Terima kasih. Tapi… Saya butuh penjelasan kenapa saya bisa dihubungkan dengan Nona Alexxa. Karena berita itu-“


“Kak Davian. Ayolah. Kenapa buru-buru ?” sela Alexxa “Zake. Aku bawa minuman itu buat dinikmati rame-rame di sini. Kamu minta siapin ke pelayan, gih” tambahnya.


Davian mengernyitkan dahinya melihat sikap Alexxa barusan. Atmosfer di sana semakin terasa aneh ketika Alexxa terus memperhatikan Dita dengan tatapan tidak senang.


“Wanita itu…” Alexxa menggantung kalimatnya


“Calon tunangan saya” sambar Davian.


Ucapan Davian sontak mengejutkan semua orang yang ada di sana. Termasuk Dita. Davian memang sudah memberi tahunya untuk berpura-pura menjadi pasangannya. Namun, calon tunangan ? Apa tidak berlebihan ?


“Hm ? Beneran tunangan kak Davi ?” Alexxa seolah meremehkan ucapan Davian


Apa-apaan Alexxa ini ? Dari tadi ucapannya hanya membuat pikiran panas saja.


“Oh, jelas. Saya ga pernah bercanda kalo urusan hubungan. Makanya dari tadi saya minta jawaban dari kalian-” Davian meninggikan nada suaranya


“Zake ? Lama banget cuma minta nyiapin minuman” Alexxa lagi-lagi memotong ucapan Davian setelah melihat pelayan membawa beberapa gelas berisi wine yang tadi Zake bawa. “Diminum donk…” ceplos Alexxa lagi.


Davian terpaksa meminum wine itu dengan harapan Alexxa tak akan membuang waktunya lagi. Ditambah perasaannya yang sudah kesal ikut sedikit tersalurkan ketika minuman beralkohol itu mengalir menuju kerongkongannya.


Namun Dita terlihat tidak meminum wine di hadapannya, Ia tak tahan dengan aroma kuat yang menyeruak dari gelas itu.


“Sekarang apa lagi ? Kamu mau buang waktu saya pake cara apa lagi ?” Davian semakin terlihat kesal "Satu lagi. Jangan panggil saya 'Kakak'. Kita gak ada hubungan apa-apa" tambahnya