
“Pantes si Lily suka ogah keluar kalo mandi direndem aer anget kayak gini” ujar Dita.
Kalian masih ingat dengan Lily ? Yap. Keponakan Dita yang tinggal dengan Ibu dan Ayah Dita di kampung.
Berendam air hangat dalam bathtub rupanya menghadirkan keseruan tersendiri bagi Dita. Sebab ketika itu, setelah dirinya merasa kelelahan selepas merapikan seluruh barang-barangnya, energinya seolah terisi kembali ketika tubuhnya terendam air hangat.
“Hoam… Kalo gak takut kelelep, pengen tidur di sini aja” gumamnya seraya berusaha bangkit, “Et… Et… Et… Licin…” hampir saja dirinya terjerembab ketika satu kakinya melangkah keluar dari bathtub itu.
Selesai mandi, Dita menyiapkan makanan yang sempat Adrian kirim untuknya sebelum dokter baik hati itu berangkat bekerja. Rasanya sangat cocok menonton tayangan film ditemani sepiring salad buah.
Ditengah keseruannya itu, bel pintu terdengar beberapa kali berbunyi. Sepotong apel yang sudah berada pada sendok itu akhirnya batal Ia lahap.
“Siapa sih udah malem gini ? Dokter Adrian kan udah berangkat dari tadi. Apa dia balik lagi ?” Dita berbicara pada dirinya sendiri sambil berjalan menuju pintu.
Ceklek !
Pintu itu Dita buka dengan lebar. Ia belum terbiasa dengan fasilitas interkom untuk mengetahui seseorang yang datang berkunjung ke apartemen itu.
“Pak Davi ?” Dita terperangah ketika melihat Davian berdiri tegak di balik pintu. Ia memang selalu terlihat rapi, apalagi kini Davian berbalut setelan lengkap.
Davian sempat terkesiap melihat penampilan Dita malam itu. Hanya menggunakan celana pendek diatas lutut dan hampir tertutupi baju kaos oversize yang terlihat cukup tipis.
Lalu, apa yang Davian barusan lihat tiba-tiba membuatnya memalingkan tubuhnya menuju sisi lain koridor. Kini, Dita berada di sisi kanannya.
“Nih” Davian menyodorkan dua buah tas belanja. Mirip dengan tas yang Rosie bawa setelah pulang event.
“Merchandise event tadi. Kebetulan saya sekalian lewat.” ucap Davian singkat. Ia masih tak menatap Dita.
“M-makasih, pak” Dita menerima pemberian Davian itu dengan sedikit rasa ragu.
Pak Davi aneh banget… pikirnya.
“S-saya balik, Ran” pamit Davian. Ia berlalu begitu saja meniggalkan Dita yang kebingungan.
Dita kembali memasuki ruangannya sambil terus memikirkan apa yang baru saja terjadi. Tepat ketika Ia telah menaruh kedua tas pemberian Davian tadi, pandangannya terhenti pada cermin besar yang berdiri di dekat sofa.
Cermin itu memantulkan sosok wanita dengan baju oversize yang nyaris menutupi celananya. Karena bajunya yang tipis, bayangan pakaian dalamnya samar-samar menunjukan eksistensinya.
“Huaa…” Dita berteriak kencang sambil memeluk dirinya sendiri, “t*lol banget sih gue. Baju tipis kayak gini gak sopan banget kalo diliat orang. Apalagi pak Davi tadi ke sini. Bentar, jangan-jangan… Ah,Ya ampun. Gue pengen jadi ikan aja, Gusti…” gerutunya seraya kembali menatap cermin.
Malam itu, Dita nampak sangat putus asa. Sisa salad buah yang sebelumnya terasa lezat pun kini mendadak hambar.
#
Aneh. Padahal pendingin udara di mobil sudah pada titik paling dingin. Tapi Davian masih saja merasa gerah. Dasi yang sempat beberapa kali Ia longgarkan juga tak lagi melingkar di lehernya. Dua kancing bajunya pun nampak tidak bertautan sehingga dada bidangnya sedikit terekspos.
#
Hmm… Rasanya ruangan ini sudah sangat familiar. Ruangan engap yang berisi banyak barang-barang usang…
Ah, benar ! Ruangan ini adalah tempat Dita disekap beberapa hari lalu. Di sana, Juan terlihat menghisap cerutu sambil terus menatap Alexxa.
Entah ada misteri apa antara Juan dan Alexxa. Namun, jika diingat-ingat kembali, Alexxa selalu terlihat menyedihkan ketika berurusan dengan Juan.
Seperti sekarang ini. Alexxa yang malang terlihat terduduk lemas di lantai. Dengan tangannya terikat pada tepian ranjang yang terbuat dari besi, benar-benar akan membuat iba siapapun yang melihatnya. Mungkin Juan dan anak buahnya jadi pengecualian.
Alexxa hanya terdiam. Dirinya sudah malas menanggapi segala tingkah Juan yang selalu terasa menyebalkan dan menyusahkan.
“Lu liat…” ucap Juan seraya menunjukkan ponselnya pada Alexxa, “kalo kerja lu bagus kayak gini, gua juga ga bawel-bawel amat”
Pada layar ponsel itu, terlihat foto James dan Alexxa ketika event Rubynist selesai. Entah bagaimana Ia memanipulasi foto itu sehingga staf Rubynist yang lain tak ada di sana. Hanya ada Alexxa yang terlihat memeluk James dengan erat.
“Berhubung sekarang gua lagi baek, lu gua kasih tempat tidur yang enak…” ucap Juan seraya membuka ikatan pada tangan Alexxa, “bersukur, lu !” pekiknya.
Cerutu itu lalu Juan lempar ke dekat Alexxa. Padam. Tak ada lagi asap yang mengepul setelah Juan menginjak sisa cerutu itu.
Alexxa nampak sedikit terkejut, entah kenapa Ia berpikir Juan akan kembali menyakitinya.
“Satu lagi. Selama bokap nyokap lu masih idup ama elu, mau lu pindah ke jurang pun gua bakal bisa nemuin lu. Inget !” Juan berbicara persis di dekat telinga Alexxa. Benar-benar membuat Alexxa merinding ketakutan.
Pria berambut gondrong itu lalu pergi meninggalkan Alexxa begitu saja di ruangan itu.
Sebentar, ‘tempat tidur yang enak’ yang dimaksud Juan adalah ruangan itu ? Tempat tidurnya saja sudah usang, sekilas terlihat seperti ranjang pasien di rumah sakit. Benar-benar kejam sekali pria itu.
Bulir air mata memaksa turun melewati pipi Alexxa dan berhenti di ujung bibirnya. Tak lama, Alexxa ambruk dan tangisan kencang menggema di ruangan itu.
Di balik pintu sana, Juan hanya menyeringai. Jelas terlihat bahwa Ia sama sekali tak peduli dengan tangisan Alexxa.
“Jagain yang bener. CCTV di dalem nyambung ke hp ini” ucap Juan pada kedua pria di sana. Satu buah ponsel juga Ia serahkan pada mereka.
“Siap, bos!” Jawab kedua pria itu kompak.
#
Beep !
Pintu ruangan itu berhasil Davian buka dengan kartu akses yang Ia miliki. Tunggu, bukankah ini hunian yang Ia pinjamkan pada Dita ?
Masih menggunakan kemeja putih yang lengannya Ia gulung hingga sikutnya, sepertinya Davian terburu-buru datang ke sana. Yap Davian terlihat tak serapi biasanya.
Tiba di ruangan itu, Davian melihat Dita tengah mengambil air minum yang berada di meja makan. Tanpa basa-basi, Davian menghampiri Dita. Terkejut karena melihat kehadiran Davian, Dita segera membalikkan badannya. Dan kini mereka justru saling berhadapan.
Davian terlihat berusaha mencegah Dita melarikan diri. Ia meletakkan kedua tangannya pada bagian kanan dan kiri tubuh Dita, bertumpu pada meja yang berada persis di belakang gadis itu.
Cahaya khas dari matahari yang belum terbit sempurna seolah berusaha mengintip momen mendebarkan itu dari balik gorden.
“Lain kali, kamu jangan pake baju kayak gini, okay ?” ucap Davian lembut
Davian semakin mempersempit jarak mereka hingga hanya beberapa senti jauhnya. Selain itu, Davian terlihat mengulum senyum melihat Dita yang ternyata sangat manis jika dilihat sedekat itu.
Dita juga sama, Ia terus menatap Davian dan perlahan mengalungkan kedua tangannya pada pundak pria tampan di hadapannya. Satu kecupan singkat tiba-tiba Dita daratkan pada pipi Davian.
Karena tubuh Davian lebih tinggi sekitar dua puluhan senti dari Dita, Ia berinisiatif mengangkat tubuh Dita dan membuatnya duduk di atas meja. Kini tinggi mereka seimbang dan tatapan mata mereka kembali bertemu.
Tanpa ragu, Davian ******* bibir Dita yang terlihat ranum. Semakin lama, Dita mulai membalas ciuman itu sambil melepaskan satu-persatu kancing kemeja Davian. Nampaklah nyata tubuh atletis dari pria di hadapannya.
Kedua tangan Davian juga sangat tak mau diam. Mereka perlahan-lahan memeluk tubuh Dita dari dalam bajunya yang tipis. Punggung Dita terasa sangat halus.
Nafas mereka mulai tersengal-sengal. Setelah ciuman yang panjang itu, Davian terlihat menerbitkan senyum tipis ketika melihat Dita.