UNPREDICTABLE BOSS

UNPREDICTABLE BOSS
Big Boss


Pagi ini, Davian memutuskan untuk menyatakan sebuah ‘pengakuan dosa’ pada ayahnya. Ia berangkat menuju rumahnya untuk berbicara langsung dengan James. Davian merasa segan jika harus berbicara hanya lewat telpon.


Di rumahnya, James terlihat tengah menikmati teh hangat di teras belakang rumahnya seperti biasanya. Tak pernah terlewat setiap setelah selesai sarapan.


“Pa. Davi pulang…” ucap Davian dari ruang tengah rumah


James nyaris tersedak ketika suara lantang putranya tiba-tiba terdengar. Ia semakin terkejut ketika mendapati Davian berada beberapa meter saja dari tempatnya sekarang.


“Dav ? Kamu ini dari mana ?” tanya James


Tingkah Davian mendadak terlihat aneh. Ia terlihat sangat kikuk


“Ada apa, Dav ?” tanya James lagi sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya


“Pa. Kalo temen Papa tiba-tiba masuk rumah sakit gara-gara Papa minta bantuan dia-”


“Siapa ?” James memicingkan matanya. Ia tahu betul jika sebenarnya putranya itu tengah menceritakan dirinya sendiri.


Davian tertunduk kehabisan kata-kata bahkan hanya setelah satu ucapan James saja.


“Kenapa, Dav ? Cerita aja sama Papa. Duduk” James merangkul putranya.


“Pa. Papa tau kan kalo banyak saingan bisnis Papa yang sering ganggu Davi ?” ungkap Davi setelahnya.


“Kenapa ? Papa kan udah pernah bilang kalo kamu harus sewa banyak pengawal…” James lalu menyesap tehnya kembali.


“Davi gak apa-apa, Pa…” Davian masih terdengar menggantung kalimatnya


“Ya terus kenapa ? Ada apa, Dav ?” tanya James khawatir


Davian akhirnya mengungkapkan fakta bahwa beberapa hari lalu asisten pribadinya ikut mendapat gangguan. Ia bahkan terus terang jika kini asisten pribadinya masih mendapat perawatan di rumah sakit.


“Aduh, Dav. Kenapa kamu gak bilang dari awal, nak ? Papa aja khawatir banget kalo kamu gak ada kabar walupun kamu laki-laki… Apalagi keluarga PA kamu…” James terdengar tak setuju dengan apa yang Davian ungkapkan, “nanti sebelum ke kantor, anter Papa nemuin PA kamu”


Tatapan Davian melebar. Ia tak menduga ayahnya akan bertindak seperti itu terkait asisten pribadinya.


#


Sebuah plang yang bertuliskan “Scenic Art” terpampang nyata di sekitar pintu masuk sebuah gedung lima lantai. Saat hari cerah seperti ini, plang itu memantulkan cahaya matahari dan akan dengan mudah menjadi perhatian siapapun yang melintas di sekitarnya.


Tunggu, Zake ? Ia terlihat masuk ke gedung itu bersama tiga orang lagi anak buahnya.


Resepsionis cantik yang bertugas seketika tercengang melihat kedatangan mereka. Namun, Ia tetap berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya.


“Mana si Thomas ? Bilangin, ’ditungguin anak buahnya Nichi’. Cepetan !” Zake langsung berbicara dengan nada tinggi pada wanita itu.


Kasihan sekali, rasa takut wanita itu terlihat jelas dari tatapannya yang tak bisa berbohong. Ia terus mengerjapkan matanya dengan gagang telpon yang masih ditempelkannya pada telinganya. Berharap seseorang di sebrang sana menjawab panggilannya.


“Hallo ?” ucap seorang pria


Akhirnya !


“P-pak Thomas. M-mohon maaf Pak. Di bawah ada a-anak buah pak Nichi...” wanita itu sampai terdengar sedikit gemetar


“Suruh dia ke ruangan saya” ucap Thomas dari telpon. Ia kemudian langsung menutup sambungan telpon itu.


Wanita itu menelan salivanya kasar, “Pak. Bapak bisa ke ruangannya pak Thomas…” ucapnya sambil berusaha mengarahkan pandangannya pada Zake.


Mendengar ucapan resepsionis itu, Zake lalu menatap ketiga anak buahnya. Mereka seperti bertelepati dan cepat-cepat berjalan ke arah lift meninggalkan resepsionis itu begitu saja.


“Bos. Kita gak tanya ruangannya di mana ?” tanya seorang anak buah Zake sambil menunggu lift.


“Kagak usah. Gua udah apal ini tempat” ketus Zake


Tiba di lantai lima gedung itu, Zake bergegas memasuki ruangan Thomas diikuti ketiga anak buahnya.


“Basi” Zake menatap Thomas dengan tatapan malas, “mana si Alexxa ?”


“Alexxa ?” Thomas terlihat berpikir sejanak “Oh ! Alexxa ! Dia ngajuin cuti buat seminggu ini. Why, bro ?” tanya Thomas penasaran.


“Gua ada urusan sama bocah itu. Suruh dia ke sini besok” ketus Zake “kalo dia gak dateng, Tuan Nichi bisa cabut suntikan dana-”


“Okay… Okay… Santai, bro. Santai...” Thomas tak membiarkan Zake melanjutkan perkataannya


“Ngerti sekarang ?” tanya Zake dengan angkuh


Thomas memalingkan wajahnya dari tatapan Zake. Tak ada lagi kalimat yang terucap dari mereka berdua.


Mungkin memang sudah perangai Zake yang selalu datang secara tiba-tiba dan pergi begitu saja tanpa pamit.


#


Dita hanya terduduk diam di ruangan rawat inapnya. Sampai hari ini, Dita masih belum memberi tahu keluarganya tentang kondisi dirinya sekarang.


“Ck. Bener kata pak Davi, sih. Pura-pura lagi ke luar kota emang paling masuk akal. Urusan luka jaitan ini mah bilang aja jatoh dari motor. Kelar” Dita berbicara pada dirinya sendiri.


Pada momen itu, ponselnya berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk. Ia meraih ponselnya dan sempat terdiam sejenak sebelum menjawab panggilan itu.


“Kenapa, Ros ?” ucap Dita setelah sambungan telponnya terhubung.


“Kenapa-kenapa ?! Kak Dita yang kenapa ? Dari kemaren kita hubungin, gak dijawab mulu…” Rosie terdengar mengomeli Dita


“Iya, iya, maaf… Abis di sini sibuk banget…” Dita menyembunyikan kejadian yang sebenarnya.


“Yaa… Syukurlah. Kalo emang lagi sibuk banget. Kemaren Bapak sama Ibu nanyain-”


“Nanyain kakak ? Kenapa ?” Dita memotong ucapan Rosie


“Iya… Biasalah. Katanya bekelnya udah abis. Tapi aku kebetulan ada sisa pegangan…” ungkap Rosie, “Kak Dit. Udah dulu ya, kerjaanku banyak lagi aja, nih. Bye” pamitnya.


Sambungan telpon itu Rosie tutup setelahnya.


Dita sempat termenung setelah mendengar ucapan Rosie tadi. Ia baru teringat selama dua minggu terakhir ini dirinya memang belum mengirimkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya di kampung.


Lamunannya terhenti oleh kedatangan dua orang pria ke ruang rawat inapnya. Dita semakin tercengang ketika menyadari siapa sebenarnya dua orang pria yang memasuki ruangannya itu.


“Pa. Itu PA Davi, namanya Randita...” ujar Davian sambil mengarahkan tangannya pada Dita.


Dita sempat hendak bangkit namun keburu dilarang oleh James.


“Ish… Kamu di situ aja... Siapa ? Randita” ucap James


Mendengar hal itu, Dita kembali pada posisinya semula meski dengan perasaan sedikit canggung.


“Gimana kondisi kamu sekarang ? Udah mendingan ?” tanya James lembut


“Udah lebih baik, Pak. Dokter juga bilang besok udah bisa pulang” ungkap Dita


“Kamu tinggal di mana ?” James kembali bertanya.


Davian ? Pemuda itu hanya terduduk di sofa memperhatikan interaksi ayahnya dengan asisten pribadinya. Ia juga terlihat sesekali mengecek ponselnya.


Beberapa lama setelahnya, James berbalik arah dan menatap tajam ke arah Davian, “Ayok” ucapnya singkat.


Davian yang menyadari hal itu terperanjat dan bergegas mengikuti ayahnya yang sudah berjalan lebih dulu.


“Balik ya, Ran” pamit Davian


Dita hanya tersenyum melihat sikap Davian barusan. Meski itu pertama baginya menyaksikan interaksi Davian dan James diluar pekerjaan mereka, namun Dita merasa bahwa Davian itu memang sangat mirip dengan James, ayahnya.