
Diantara beberapa orang di ruangan kerjanya, Risha terlihat sibuk sendiri dengan ponselnya.
“Ros… Si Dita udah ada kabar lagi belom ? Kakak mau telpon tapi hape-nya gak aktif” tanya Risha tanpa basa-basi
“Belom... Chat yang kemaren sore juga belom dibales-bales, kenapa ya ?” suara Rosie terdengar begitu khawatir “kak, coba telpon ke kantornya, deh” tambahnya.
“Ish… Kamu aja. Entar kasih tau lagi kalo dia udah ada kabar. Kakak masih banyak kerjaan, bye” tanpa aba-aba, sambungan telpon itu Risha putuskan.
Risha kembali ikut mengobrol dengan teman-teman seruangannya setelah sambungan telponnya berakhir.
“Ris. Gimana ? Lo jadi ikut gak ke Blue Flame ?” tanya seorang temannya.
“Jadi donk, Fan… Gue udah prepare semuanya kok. Santai” balasnya semangat.
“Asik…! Katanya pusat oleh-oleh di sana tuh murah-murah tau! Bisa kali lu traktir gue…” rekannya memasang tampang memelas.
“Iya Fani iya… Gue traktir, deh” Risha mengamini ucapan temannya tanpa ragu.
“Gitu donk. Jangan pelit-pelit Ris kalo sama temen. Entar cantiknya ilang” balas Fani sambil merangkul Risha yang duduk di sebelahnya.
“Heheh... Bisa aja. Kapan sih gue pelit ke kalian. Udah lah, gue mau beresin laporan dulu. Udah ditanyain pak Baskoro” pungkas Risha.
#
Terik matahari sudah tak sepanas tadi siang. Kala itu, Juan memarkirkan mobilnya di halaman sebuah rumah yang terlihat sepi. Hanya terdapat beberapa orang anak buah Juan yang berjaga terlihat berjalan-jalan di sekitar teras rumah itu.
Mereka yang menyadari kedatangan Juan nampak terlihat tegang. Juan hanya menatap mereka singkat karena Ia tak mau ambil pusing dan terus melanjutkan langkahnya menuju arah dapur.
Dapurnya memang terlihat biasa saja, kelihatannya tidak ada yang spesial. Namun siapa sangka, terdapat sebuah pintu lagi di sisi lain dindingnya. Pintu itu terbuka setelah Juan memasukkan PIN yang tombolnya berada dibalik sebuah hiasan dinding. Sesuatu dibalik pintu itu sepertinya dirahasiakan.
Benar saja. Dibalik pintu itu terdapat tangga menuju ruangan bawah tanah. Satu per satu anak tangga Juan turuni hingga Ia bisa melihat sebuah pintu yang tertutup rapat di bawah sana. Namun, Ia keheranan sebab di sekitar ruangan itu tak terdapat satu orang pun yang berjaga.
“Lah. Gua kan nyuruh ngurus curut itu di sini. Malah ditinggalin. T*lol” umpatnya sambil membuka pintu, “Zake!” teriaknya
Mata Juan membulat dan Ia tercengang dengan apa yang Ia lihat.
“Sial*n… Dibawa kabur kemana tuh cewek ? Gobl*k banget si Zake!” Juan terus mengumpat dan terlihat melampiaskan rasa kesalnya dengan menendang beberapa benda yang ada di sana.
Ia lalu meraih ponselnya dengan maksud untuk menelpon Zake.
“Ck. B*ngke banget emang pake gak bisa ditelpon segala!” ucapnya kasar.
Juan akhirnya kembali menaiki anak tangga dan menanyakan keberadaan Zake pada penjaga yang berada di sekitar sana. Amarahnya semakin memuncak setelah orang-orang yang Ia tanya tak memberinya jawaban sesuai yang Ia harapkan.
“Sial*n!” pekiknya
Juan semakin naik pitam setelah Ia menjawab panggilan dari nomor tak dikenal. Kalian bisa tebak. Juan baru saja menerima telpon dari kepolisian yang beberapa waktu lalu telah meringkus Zake dan ketiga anak buahnya di rumah sakit.
Rasanya Ia semakin menggila mengetahui anak buahnya kembali tertangkap pihak berwajib. Dan dalam waktu yang berdekatan pula.
“Apa kata Tuan Nichi nanti…” pikirnya
#
Khawatir sebab Dita tak kunjung menjawab pesan dan telponnya, Rosie akhirnya mencari tahu nomor yang bisa dihubungi untuk menanyakan keberadaan Dita, kakaknya.
Ia menelusuri pencarian internet hingga berhasil menemukan nomor perusahaan Rubynist Grup yang tersedia untuk umum.
“Semoga bisa dihubungin…” harapannya
Rupanya, nomor yang Ia dapatkan hanyalah nomor pengaduan pelanggan. Tentu tidak sesuai dengan apa yang Rosie harapkan. Sayang sekali.
Ia bahkan memutuskan untuk datang langsung menuju distrik Blue Moon walaupun Ia tak tahu betul dimana persisnya perusahaan tempat Dita bekerja; Rubynist Grup.
“Aduh, Tuhan… Mudah-mudahan gak sia-sia aku nyamperin ke sana…” Rosie sangat cemas.
Berbekal informasi dari internet, Rosie berhasil sampai di pelataran gedung kantor pusat Rubynist Grup. Ia menempuh perjalanan sekitar satu jam lamanya karena menggunakan bus.
“Keren banget…” Rosie terus mengagumi bangunan sebelas lantai di hadapannya “Kak Dita. Mungkin ini berkat Tuhan buat kak Dita” batinnya.
Rosie berpikir bahwa gedung itu sangat megah, sangat berbeda dengan tempat Dita bekerja sebelumnya.
“Pak. Mau tanya, kak Randita apa ada di kantor ?” tanya Rosie pada seorang satpam
“Bisa tanya ke resepsionis di dalam ya Kak. Mari saya antar” balas pria bersetelan rapi itu.
Tiba di lobby utama, Rosie langsung menghampiri resepsionis dan menanyakan keberadaan Dita.
“Oh, bu Randita ya ? Info dari sekretaris pimpinan kita, bu Randita lagi ke luar kota, Kak. Kebetulan bu Randita juga ditugasin pergi sama pimpinan kita” jelas wanita itu.
“Oalah… Maaf Bu, mau tanya lagi. Ke luar kota ke mana ya ?” Rosie masih penasaran.
“Itu… Maaf Kak. Kita gak bisa kasih info tanpa izin beliau” ucap resepsionis itu sambil menyatukan kedua tangannya sebagai tanda permintaan maaf.
“Oh gitu ya… Ya sudah. Makasih, Bu” balas Rosie singkat.
Rosie sebenarnya tidak puas dengan jawaban resepsionis tadi. Tapi mau bagaimana lagi, setidaknya hal itu membuatnya berpikir bahwa mungkin Dita sangat sibuk dengan pekerjaannya hingga belum sempat mengabari Risha dan dirinya.
#
Beberapa hari lalu, setelah Alexxa berhasil melarikan diri dari restoran tempatnya bertemu dengan Davian, Ia bergegas pergi ke rumah kedua orang tuanya di pinggir kota Mistyre.
Alexxa berharap keputusannya itu tidak akan membawa petaka bagi kedua orang tuanya kelak.
“Gimana lagi, gue takut bokap nyokap gue kenapa-napa” pikir Alexxa.
Taksi yang ditumpanginya akhirnya berhenti setelah menempuh perjalanan yang cukup lama. Mungkin sekitar empat puluh menit lamanya.
“Kembaliannya ambil aja, Pak” ucapnya sambil menyerahkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu.
Alexxa kemudian meninggalkan taksi itu. Ia tak peduli dengan uang yang Ia keluarkan asalkan dirinya bisa cepat-cepat menemui kedua orang tuanya.
Tiba di rumahnya, Alexxa mendapati kedua orang tuanya tengah tertidur lelap. Ia sempat tak tega untuk membangunkan mereka dari tidurnya.
Namun, karena rasa takutnya yang luar biasa terhadap ucapan Juan tempo hari, Ia tetap membangunkan mereka dan mengajak mereka berpindah rumah.
“Sekarang banget, Al ? Kenapa mendadak, sih ?” tanya ibunya.
“Itu… Alexxa ada bonus dari sinetron yang baru beres syuting. Lumayan, kan ? Mama sama ayah juga katanya udah gak betah tinggal di sini” ungkap Alexxa.
Memang benar dirinya baru-baru ini telah mendapat bonus yang cukup untuk berpindah tempat tinggal. Namun, kita semua tahu alasan terbesarnya untuk bergegas pindah adalah karena Juan.
“Besok aja besok, ah! Udah malem ini… Lagian mau pindah ke mana sih, Al ?” ayah Alexxa terdengar tidak senang.
Alexxa merasakan dilema yang luar biasa. Ia terpaksa memutuskan untuk menunda rencananya malam itu sesuai dengan keinginan orang tuanya. Ia terus berharap tidak akan terjadi bencana jika mereka tak bergegas pergi.
Kini, Alexxa dan kedua orang tuanya tinggal di sebuah apartemen yang cukup jauh dari tempat tinggal mereka sebelumnya.
Alexxa amat bersyukur ‘persembunyiannya’ saat ini belum ditemukan oleh Juan.