UNPREDICTABLE BOSS

UNPREDICTABLE BOSS
Penat


Sebelum malam semakin larut, ketiga kakak-beradik itu sempat tergabung dalam panggilan video grup bersama keluarga mereka di kampung. Rasanya seolah semua lelah dan beban pikiran mereka lenyap seketika.


Melihat Lily yang kian hari semakin cantik dan pintar, tentu menghadirkan gelombang rasa senang yang sulit untuk digambarkan hanya dengan kata-kata bagi ketiga kakak-beradik itu.


Yang unik dari hubungan keluarga mereka adalah, meski Risha adalah wanita yang telah melahirkan Lily, namun anak kecil itu justru lebih dekat dengan Rosie, aunty-nya.


Panggilan video grup dengan keluarga di kampungnya akhirnya selesai setelah Lily terlelap. Sehingga hanya tersisa Risha dan kedua adiknya yang masih terhubung. Pada momen itu, Risha baru menanyakan sesuatu yang sedari tadi Ia terus pendam.


“Dit. Kamu lagi di mana ? Kok kayak bukan di mess kamu ?” tanya Risha


“Ini… Aku diajak nginep di rumah temen, Kak” Dita memang belum bercerita apa yang sebenarnya terjadi, bahkan pada siapapun.


“Oooh. Tumben…” balas Risha singkat.


Sementara itu, Rosie masih terlihat kembali sibuk dengan kuliah daringnya. Earphone yang Ia gunakan tentu memblokir semua kebisingan di ruangan itu.


“Eh, Dit. Nanti malem Sabtu kan Kakak mau ke Blue Flame kan… Minjem sepatu kamu yang biru itu, donk !” celetuk Risha


“Ya udah, pake aja. Tapi hati-hati soalnya itu masih baru…“ balas Dita


“Tenang aja kali. Gak bakal dirusakin, kok” ketus Risha dengan nada suara sedikit tinggi


“Oiya kak, uang yang tadi belum kak Isha transfer lagi ya ?” tanya Dita dari sebrang sana


“Dit, itu buat Ibu, lho. Bukan buat kak Isha” sanggahnya, “ya udah, deh. Bye…” Risha mengakhiri sambungan panggilan video itu


Begitulah akhir dari panggilan video malam itu. Mereka kembali sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing.


#


Lobby bangunan itu tampak ramai oleh beberapa pengunjung, dan mereka kini terlihat bergegas memasuki lift yang baru saja terbuka. Di dalam lift itu, Thomas dan Zake hadir di sana dan mereka terlihat hanya diam seribu bahasa. Benar-benar hanya ada keheningan diantara mereka.


Setelah pintu lift terbuka di lantai 7, Zake dengan penuh percaya diri melangkahkan kakinya menuju kamar yang berada di ujung koridor. Thomas juga terlihat terus mengekor pada Zake.


Selesai mengetikkan nomor PIN pada kunci kamar, pria bertubuh tinggi itu lalu menggemakan suara lantangnya.


“Lexxa ! Keluar, lu !”teriaknya, “Bos lu nyariin mulu, bangs*t namba-nambain kerjaan gua aja” ucapnya lagi sambil memicingkan matanya ke arah Thomas yang berdiri di sampingnya.


“Al…” panggil Thomas


Tanpa perkataan apapun, Alexxa tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar. Sudah tanpa riasan, ditambah lingkaran hitam di bawah matanya terlihat kontras dengan kulitnya yang putih. Ia terlihat tidak tidur selama berhari-hari.


“Wah…” cetus Thomas, “sehat, Al ?”


“Ada perlu apa Pak Thomas cari saya ?”


Lagi-lagi Alexxa tak menjawab pertanyaan Thomas. Ia justru balik menanyai pria itu.


“Eh… Begini, Al…” ucap Thomas perlahan, “Kamunya sini dulu, donk” tambahnya


Dengan langkah gontay, Alexxa pergi ke ruangan itu dan duduk di sofa yang bersebrangan dengan Thomas dan Zake.


“Jadwal kamu minggu ini kosong, kan ? Kemaren saya udah setujuin tawaran kerjaan buat kamu. Pokoknya nanti kamu tinggal berangkat. Se-simple itu, Al” ungkap Thomas


“Acara apa, Pak ? Kok Pak Thomas gak konfirmasi ke saya ?” sahut Alexxa. Ia jelas terlihat tak senang mendengar ucapan Thomas barusan.


“Berisik amat lu, curut !” pekikan Zake menyela obrolan kedua orang itu, “udah tinggal dateng juga, manja banget !”


“Nah, gitu ya, Al ? Kamu juga harusnya bersyukur dapet tawaran kerja lagi” tambah Thomas


Alexxa hanya terduduk sambil menyilangkan tangan di dadanya. Ia terlampau kesal melihat kedatangan kedua pria itu.


“Eh, curut. Lu ituh harusnya mikir. Udah bagus bos Juan ngasih apartemen ini buat lu. Apa lu mau ke kamar itu lagi, huh ?” bentak Zake seraya bangkit dari tempat duduknya


“Okay, Pak ! Nanti saya tunggu lagi kabarnya” Alexxa mengabaikan ucapan Zake dengan berpaling ke arah jendela.


Melihat reaksi Alexxa, Zake hanya berdecih dan berlalu dari sana.


“Huh…” Alexxa membuang nafasnya kasar.


Sambil menyandarkan tubuhnya di sofa, Ia terus berpikir tentang apa yang telah menimpanya selama ini.


“Aneh. Aneh banget. Kenapa gue ? Dari sekian banyak aktris dari agensi itu, kenapa gue yang nasibnya apes kayak gini ?” pikirnya kacau.


Entah sejak kapan Alexxa tinggal sendirian di ruangan itu. Benar-benar sendirian. Kedua orang tuanya bahkan tidak pernah ada menghubunginya.


Meski kini dirinya berada di tempat yang mewah dan berkelas, namun rasa sepi yang luar biasa itu terkadang membuatnya bertanya-tanya; kehidupan apa yang sebenarnya Ia jalani saat ini.


Mengapa hanya kesendirian dan kesedihan yang selalu menemaninya ?


#


Bagi sebagian orang, akhir pekan akan mereka habiskan dengan memanjakan diri dan menikmati waktu luang dengan nyaman dan tenang.


Namun Rosie bisa disebut bukan termasuk golongan orang seperti itu. Akhir pekannya kerap disibukkan dengan kuliahnya yang kadang mengharuskannya datang ke kampus.


Seperti minggu-minggu sebelumnya, kuliahnya selalu selesai tepat sebelum matahari tenggelam. Jika biasanya Rosie akan bergegas mencari lauk untuk makan malam dirinya dan Risha, maka kali ini Ia memiliki hal baru untuk dilakukan.


Karena Risha tengah pergi sesuai jadwal wisatanya, Dita berinisiatif mengajak adiknya itu pergi menghabiskan waktu bersama. Sesuai rencana mereka, sore itu Rosie tiba di Mall Nirvana Park dan menunggu kedatangan Dita.


Setelah beberapa, terhuyung-huyung Dita menghampiri Rosie di sebuah kursi yang tersedia di dekat pintu masuk mall.


“Aduh, Ros. Tadi lama banget nunggu bisnya, euy. Jadi ngaret, deh. Maapin nya…” ucap Dita sambil ikut duduk di samping Rosie.


“Tau, ah. Jajanin matcha dulu, nanti dimaapin. Hihi…” Rosie sedikit terkekeh


“Mau matcha apa makan dulu ?”


Jika diperhatikan, sedari tadi Dita terus merapikan rambutnya. Ia khawatir Rosie akan menyadari bekas jahitan di bagian belakang kepalanya.


“Mmm… Makan dulu, deh. Tapi janji, abis itu matcha ?” Rosie terbangun dari duduknya


“Iya Rosie cantikk… Ya udah, yuk. Kita nyari makan dulu” Dita menyeret sedikit lengan baju Rosie, adiknya.


Sebelum mereka bertemu di depan pintu masuk tadi, kedua kakak beradik itu sempat bertukar pesan untuk menentukan lokasi mereka menyantap makan malamnya kelak.


Hingga akhirnya keduanya tiba di restoran khas Jepang seperti yang telah mereka tentukan. Beberapa menu makanan pun mereka pesan di sana.


Sambil menyantap makanan, obrolan-obrolan seru juga turut hadir diantara mereka.


“Lelah banget deh rasanya. Lelah” ceplos Rosie


“Kenapa emang ?” sahut Dita sambil melahap sepotong ikan segar


“Minggu depan ada event lagi. Gak diambil, lumayan. Tapi kalo diambil juga, kayaknya capek banget…” ungkap Rosie


“Oooh… Ya udah kalo kamu bisa gak ikutan event, libur aja dulu, istirahat” balas Dita


“Tapi, Kak. Kayaknya lumayan, deh. Soalnya setau aku, klien event yang ini emang udah langganan gitu ke EO-nya. Terus katanya ngundang artis juga, tau. Jadi nanti bakal ada sesi fan meeting-nya” jelas Rosie semangat


“Oh ? Emang ? Event apaan ? Artisnya siapa ?” sejumlah pertanyaan sukses Dita lancarkan


“Mmm… Kan kliennya itu Bank, ya. Jadi misal ada opening cabang baru, ulang tahun, selalu dari kita EO-nya. Terus minggu depan itu mereka kayak opening cabang baru gitu. Katanya ngundang Band Ocean Fairy sama artisnya si Alexxa Gyada itu” ungkap Rosie


Dita sempat hampir tersedak ketika Rosie menyebutkan nama itu.


“S-siapa ? Alexxa Gyada ?” Dita mengkonfirmasi ucapan Rosie dengan sedikit rasa terkejut


“Iya. Aneh, deh. Padahal kan banyak banget aktris yang terkenal, kenapa malah ngundang si Alexxa itu. Ngundang tuh kayak Jisoo, Anne Hathaway, Taylor Swift-“


“Terserah. Terserah !” Dita memotong ucapan adiknya yang semakin diluar batas wajar manusia. Tatapan malas dan bibirnya yang berubah manyun menjelaskan seluruh isi kepala Dita ketika itu.


“Eh tapi seriusan lho, Kak. Kenapa coba ngundang aktris yang baru terkenal sensasinya doang ? Ya gak ?” tanya gadis itu sambil melahap potongan terakhir telur gulung di hadapannya.