
Karena jam kerja yang diberlakukan di sana hanya lima hari dalam seminggu, maka kantor akan selalu sepi ketika akhir pekan.
Namun, suasana kantor pada hari itu terasa sedikit berbeda.
Karena muncul berita yang cukup menggemparkan tentang James selaku pimpinan perusahaan, para petinggi Rubynist Grup bertindak cepat mengadakan rapat darurat secara daring.
Hasil rapat itu akhirnya memutuskan untuk memerintahkan beberapa staf tertentu supaya datang ke kantor guna menangani masalah yang kontroversial itu.
Beberapa sekretaris para direksi, manajer umum, sebagian besar staf IT dan staf humas terlihat sibuk dengan pekerjaan yang harus mereka tangani.
Dari banyaknya staf yang ‘menuruti perintah para petinggi’, Dita juga terlihat hadir di sana. Di ruangannya, Dita ikut membantu menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi dibalik foto yang beredar di banyak berita dan media sosial.
“Bu Laura, sorry saya agak telat. Nanti laporan analisa sementara tim IT tolong kasih ke saya. Abis maksi aja” ujar Davian sesaat sebelum Ia memasuki ruangan kerjanya.
“Baik, Pak” jawab sekretarisnya singkat.
Selesai memberi tugas pada Laura, Davian bergegas memasuki ruangannya.
“Lho ? Kamu dateng, Ran ?” Davian tersentak melihat Dita yang tengah sibuk dengan komputernya.
“Siang, pak” Dita menyapa Davian dengan ramah seperti biasanya, ”iya, Pak”
“Ran. Kepala kamu aja masih diperban, lho. Aturan kamu istirahat aja. Gak usah dateng ke kantor segala” balas Davian. Ia terdengar sedikit cemas.
Dita terdiam seribu bahasa.
Gimana lagi, namanya lagi ada kerjaan. Gak enak juga gue udah banyak dibantuin sama pak James, belom bu Laura nelpon, pikir Dita.
“Maaf, Pak. Tapi masalah yang sekarang banyak diberitain harus secepat mungkin ditangani” jawab Dita tanpa menatap Davian. Ia terus menundukkan wajahnya.
“Ya sudah. Kalo memang itu keputusan kamu. Tapi kalo ngerasa sakit lagi nanti bilang ke saya ya, Ran. Jangan terlalu maksain diri kamu” ucap Davian sambil berjalan menuju ruangannya.
Atmosfer di sana mendadak terasa aneh. Udaranya jelas memang dingin karena pendingin ruangan yang dinyalakan beberapa jam lalu. Namun, suasana canggung macam apa yang Dita rasakan ini ?
Setelah obrolan singkat tadi, Dita merasa ada yang tak biasa dengan Davian.
“Tumben banget pak Davi ngomel-ngomel…” gumam Dita sambil mengoperasikan komputernya, “Ah, udah lah. Mungkin gegara liat perbanan di kepala gue”
#
Layar ponsel itu menunjukkan kondisi ruangan tempat Alexxa ditahan. Nyaris tak ada tanda kehidupan di sana. Cahaya lampu yang redup justru membuat ruangan itu tampak semakin suram.
Makanan yang berada di atas nakas juga terlihat cukup jelas dari layar ponsel itu.
Juan terlihat berusaha terhubung dengan seseorang setelah dari tadi terus menatap layar ponselnya.
“Dih. Sial*n” umpatnya setelah panggilannya gagal tersambung.
Ia menggulir kembali ponselnya dan kembali berusaha menghubungi seseorang.
“Zake !” teriaknya, “kremasi adek lu, kelar ?”
Juan terdiam. Ia mendengarkan ucapan Zake di sebrang sana.
“Oke. Lu langsung ke vila di Tanah Silver aja, Zake. Gua gak ada waktu. Sore ini Tuan Nichi tiba-tiba manggil gua. Lu cek lagi sono si Ale tengik itu.”
Tanpa menunggu jawaban dari Zake, Juan langsung memutuskan sambungan telponnya. Ia beranjak turun dari mobilnya dan melepaskan kacamata hitam yang melindungi pandangannya dari sengatan senja.
Pria berambut gondrong itu terlihat memasuki sebuah rumah berlantai dua yang sangat mewah.
#
Suasana jalanan itu akan lebih ramai ketika menjelang malam. Sebab, kebanyakan para pedagang baru menggelar dagangan mereka setelah petang.
“Kak Isha mau makan apa ? Aku udah balik kuliah, nih” tanya Rosie melalui telpon.
“Apa aja, boleh…” balas Risha singkat
“Aku beliin ayam krispi, ya ?” Rosie berjalan di sekitaran deretan kios pedagang.
“Mmm… Jangan ayam krispi ah, kurang suka” sanggah Risha
“Yah… Terus apa ?” Rosie menghentikan langkahnya
“Ayam bakar aja, deh. Sambel ama nasinya banyakin. Udah” sambungan telpon itu lalu Risha matikan.
“Huh…” Rosie membuang nafas dengan kasar
Tiba di kontrakannya, Rosie disambut dengan pemandangan yang tak pernah berubah; Risha yang merebahkan tubuhnya di dekat kipas, lengkap dengan ponsel di genggamannya.
“Aku pulang…” Rosie terdengar lesu
Risha masih pada posisinya, masih tak menggubris ucapan Rosie. Ia tetap fokus pada ponselnya sambil sesekali mengulum senyum. Ketika Rosie meletakkan makanan yang Ia bawa, Risha baru menyadari keberadaan adiknya itu.
“Mmm… Wangi banget…” Risha kini berusaha untuk terduduk.
“Heem, nih. Makanannya…” ucap Rosie sambil menyiapkan makanan yang Ia bawa.
“Kak Isha masih kontekan sama orang luar negeri itu ?” tanya Rosie tanpa menatap Risha
Risha hanya menatap adiknya dengan tatapan yang mudah diartikan. Senyuman lebar itu juga menjelaskan semuanya
“Eh, takut penipuan lho, kak. Hati-hati” ceplos Rosie
“Dih. Apaan, sih. Dia tuh katanya pengusaha kripto, tau” ketus Risha
“Yaa kan udah banyak kejadian, kak. Apalagi penipuan dari sosmed kayak gitu. Pake akun palsu, mukanya diedit pake aplikasi…” tambahnya lagi
Risha memutar bola matanya. Ia terlihat malas mendengarkan apa yang baru saja adiknya itu ucapkan.
#
Jam dinding di ruangan itu telah menunjukan angka 20:40. Artinya, sudah hampir sepuluh jam lamanya para staf di sana mengerjakan ‘pekerjaan tambahan’.
Merasa cukup dengan laporan dari tiap divisi pada rapat itu, Davian memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan tambahan itu keesokan harinya.
“Semuanya, thank you” ucap Davian di hadapan jajaran staf yang hadir, “Oiya. Khusus buat besok, kalian bisa dateng agak siangan aja…”
Diam-diam, seluruh staf yang hadir saat itu tercengang setelah mendengar ucapan Davian barusan. Mereka tak menyangka jika dibalik dinginnya seorang Davian, terdapat juga sosok manusia berhati malaikat.
“Baik, Pak”
“Terima kasih, Pak”
“Pamit ya, Pak”
“Pulang, Pak…”
Sebagian staf yang berada di sana telah berpamitan dan beranjak keluar dari ruangan itu. Sebagian yang lain masih merapikan laptop mereka masing-masing.
“Ran. Kamu jangan pulang dulu” ucap Davian tiba-tiba
Dita tersentak dan mematung seketika. Tatapannya melebar pada tab tempatnya mencatat jalannya rapat tadi.
Lembur lagi ? pikirnya
Suasana di ruangan itu mendadak lengang. Tak ada lagi percakapan diantara kedua orang itu. Davian dan Dita sama-sama terlihat sibuk dengan tab mereka.
Ketika seluruh staf telah meninggalkan ruangan itu, Davian baru membuka obrolan antara dirinya dengan Dita.
“Ran. Kamu bisa tebak siapa cewek ini ?” karena tempat duduk mereka yang bersebelahan, Davian dengan mudah menggeserkan kursinya hingga mempersempit jarak diantara mereka.
Dita mencermati video pada tab yang Davian perlihatkan padanya dan secara tak sadar terus menggigit bibirnya. Entah sejak kapan Dita memiliki kebiasaan itu ketika dirinya terlalu lama memaksa otaknya bekerja.
Layar tab itu menampilkan tayangan kamera pengawas yang terpasang di koridor hotel.
Pada tayangan video itu, terulang kembali bagaimana kacaunya suasana yang ditimbulkan oleh seorang wanita berbalut crop top putih dan celana jeans panjang yang tiba-tiba muncul itu.
Momen ketika Davian berhasil mencopot topi dan masker wanita itu juga terekam di sana. Kemudian, Dita menyipitkan matanya dan memindai wanita di video itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Karena terlalu serius, Dita tanpa sadar semakin mendekatkan wajahnya pada tab itu.
“Aw !” Dita menggigit bibirnya terlalu kencang setelah Ia menyadari sesuatu hal, “Alexxa ?” gumamnya sambil menyentuh bibirnya. Ia merasakan sesuatu yang sedikit asin mulai memenuhi indra pengecapnya.
“Sakit, kan ?” ceplos Davian
“Eh ?” Dita tercengang ketika Davian memberikannya satu kotak tissue
“Tuh. Bibir kamu berdarah” ucap Davian singkat
Tanpa berkata apa-apa, Dita mengambil dua lembar tissue dan cepat-cepat menyeka bibirnya.
“D-dia Alexxa yang waktu itu ada skandal…” Dita menggantung kalimatnya tanpa berpaling dari layar tab itu.
“Iya, Ran. Saya heran, deh. Kenapa orang ini sering jadi sumber masalah-” Davian menghentikan ucapannya sejenak. Pandangannya secara tak sengaja berhenti pada Dita yang masih terus menyeka bibirnya.
“-sumber masalah skandal gini ?” Davian melanjutkan ucapannya sambil menyilangkan tangan di dadanya.
“Laki-laki itu juga !” sambar Dita. Ia juga terlihat menyilangkan tangan di dadanya.
“Siapa ?” Davian mengernyitkan dahinya
“Kalau saya gak salah inget… Dia pernah ikut Alexxa ke restoran itu. Yang bawa botol wine…” ungkap Dita
Davian terdiam setelah mendengar ucapan Dita barusan. Pandangannya tajam namun entah kemana fokusnya.
“Ah, kamu bener !” Davian terperanjat. Kerasnya sambaran petir juga membuatnya sedikit terkejut.
“Pak. Ini bukannya agak aneh, ya ?” tanya Dita sambil menatap tab di hadapannya
“Iya, Ran. Saya jadi penasaran…” balas Davian sambil memandang jauh ke luar jendela.
Hujan deras yang mendadak muncul seolah menjadi teman baru bagi seluruh pertanyaan mereka kala itu.