UNPREDICTABLE BOSS

UNPREDICTABLE BOSS
Fakta yang Ganjil


Setelah hampir satu jam lamanya Dita meninggalkan Davian di lobby apartemen, gadis itu akhirnya kembali dengan celana kulot panjang dan sweter yang tak begitu tebal. Perpaduan dua nada warna coklat yang Dita pilih juga terlihat sangat cocok baginya.


Mereka berkendara hampir setengah jam dan Davian baru mulai memberikan jawaban dari setumpuk pertanyaan yang ada di benak Dita.


“Ran. Saya udah pernah bilang gak sih ke kamu kalo saya punya beberapa kenalan di agensi artis ?” Davian terlebih dulu melancarkan pertanyaan


“Belum, Pak. Belum pernah. Saya gak tau…” balas Dita apa adanya.


“Hmm… Okay. Sekarang kita mau ketemu sama kenalan saya. Dia emang banyak koneksinya juga, Ran. Jadi dia lumayan tau banyak info agensinya artis yang sempet bikin geger perusahaan kita” ungkap Davian


“Oalah… Oiya, Pak. Saya juga mau ngasih tau itu... Saya ada nemu satu akun sosmed. Isinya tuh aneh banget !” Dita menekankan suaranya


“Hm ? Aneh kenapa ?” tanya Davian sambil terus menyetir mobilnya


“Jadi, akun itu sering bikin postingan panjang yang nyambung sama trending topiknya si Alexxa itu…” jelas Dita, “nanti deh saya tunjukin akunnya” tambahnya


“Oh, okay. Santai aja, Ran” pungkas Davian


Mobil SUV hitam itu lalu Davian kemudikan hingga berhenti sempurna di depan sebuah kafe. Mereka akhirnya tiba di tempat yang telah Davian dan temannya itu tentukan.


“Davi !” panggil temannya. Pria dengan hoodie hitam itu memilih tempat duduk di pelataran kafe, jadi Ia bisa dengan mudah mengetahui siapa saja calon pengunjung yang akan memasuki ke kafe itu.


“Oh, Jeff !” Davian membalas panggilan itu. Ia dan Dita kemudian berjalan mendekati pria itu.


“Ran. Dia-” ucapan Davian lalu terpotong oleh sahutan temannya


“Jeffrey” sambar pria itu sambil menatap Dita sekilas. Ia kemudian menundukkan pandangannya dan kembali menatap ponselnya.


“Oh ? Saya, Dita. Randita.” balas Dita ragu. Dirinya hendak memberikan salam namun sepertinya pria di hadapannya itu memang tak berniat mengulurkan tangannya.


“Jadi gimana, Jeff ? Lu punya berita apa soal agensi Scenic Art itu ?” tanya Davian. Seperti biasa, tanpa basa-basi.


“Gini, Dav. Sepengetahuan gua, dulu banget agensi itu tuh pernah pailit, hampir bangkrut gitu…” ucap pria itu dengan nada suara yang rendah.


Sial. Keadaan di sana makin serius. Davian memang terbiasa dengan obrolan berat seperti itu, tapi Dita ? Dirinya masih belum tahan untuk berlama-lama berada dalam situasi seperti itu.


“Heem, terus ?” rasa ingin tahu Davian memang sangat tinggi.


“Abis tuh, mereka debutin aktris baru dan gak tau kenapa aktris itu langsung kolab sama brand HikariDai” sambung Jeffrey


HikariDai ? Bukannya itu salah satu saingannya Ruby ? pikir Dita


“Sebelumnya model, kali ?” tanya Davian


“Bukan. Orang baru banget debut. Inget gak lu aktris AG yang kena skandal dating sama pengusaha ? Itu dia, bro. Si AG itu” balas Jeff panjang


“Hah ?”


Dita dan Davian sontak terperangah mendengar kalimat Jeffrey


“Alexxa ?” sambar Dita


“Iyap. Aktrisnya si Alexxa Gyada, tapi pengusaha DR gua gak tau. Gak begitu ngikutin beritanya juga” Jeff lalu menyeruput coklat hangat di hadapannya.


“Itu gua, heh. Davian Ryuu” timpal Davian


“Anjrit ! Beneran ? Kok bisa ?” rasa penasaran itu terpancar jelas dari sorot mata Jeffrey


“Serius, bro. Gara-gara skandal itu, direksi perusahaan bela-belain rapat ama pemegang saham buat bantah rumor. Gila gak, tuh. Belom berita di internet banyak yang bilang ‘Pengusaha DR mensponsori AG’, ‘DR memiliki hubungan terlarang’, apalah itu, stress banget gua” tutur Davian


Dita akhirnya memberanikan diri meruntuhkan dinding ragu itu dan meminta izin untuk memesan minuman.


“Oh, iya. Kamu belum makan apa-apa ya. Sorry, sorry. Sekalian pesen makanan aja, Ran. Apa aja terserah kamu” balas Davian


“Waffle di sini enak” ceplos Jeffrey


Dita akhirnya meraih ponselnya dan memindai kode yang menempel di mejanya. Setelahnya, pada layar ponsel Dita muncul sajian menu makanan dan minuman yang terdapat di kafe itu. Selesai dengan urusan itu, dirinya kembali mengumpulkan fokusnya untuk ikut menyalami obrolan kedua pria itu.


“Eh, Jeff. Terus abis si Alexxa kolab sama HikariDai, apa lagi ? Gitu doang ?” Davian kembali melancarkan pertanyaan


“Ada lagi. Gua agak aneh juga, sih. Semenjak si Alexxa kolab sama merek itu, Scenic Art jadi sukses debutin beberapa trainee mereka yang sempet digosipin bakal gagal debut. Mereka kayak dapet durian runtuh. Lu tau lah ya kalo debutin aktris atau idol itu butuh biaya gede” jelas Jeffrey


“Bener, bener…” sahut Davian


“Sponsor ?” ceplos Dita


Mendengar ucapan Dita barusan, kedua pria itu spontan saling bertatapan dan memancarkan energi yang aneh bagi Dita.


Apa gua salah ngomong ? pikir Dita


“Ck. Kayaknya bukan. Tapi gak tau juga, sih. Gua cuma tau itu aja. Ya udah deh, Dav, Ran..dita, gua cabut ya” Jeffrey lalu menyeruput sisa coklatnya dan bangkit dari tempat duduknya


“Buru-buru amat. Kemana, lu ?” sahut Davian


“Biasa… Cewek gua kangen, haha…” balasnya seraya terus berjalan meninggalkan kedua orang itu


“Tiati…” seru Davian


Jeffrey itu hanya mengacungkan jempolnya tanpa menjawab ucapan Davian.


Beberapa saat setelah Jeffrey menghilang dari pandangan, makanan dan minuman yang Dita pesan baru tiba di meja mereka.


“Kita abisin dulu ini, Ran. Sayang udah dipesen” ucap Davian singkat sambil mulai meraih makanan yang tersaji


Rasanya masih sama. Dita tetap merasa canggung ketika kembali menikmati makan malam bersama dengan Davian.


#


“Hahaha…” gelak tawanya kembali menggelegar memenuhi ruangan itu, “gua demen nih cara lu jatohin si James sial*n itu” pria bercincin safir itu kembali meneguk segelas anggur.


“Ya, Tuan. Saya juga masih punya banyak rencana kalau-kalau mereka masih ganggu bisnis Tuan Nichi” balas Juan. Ia terlihat duduk di sebelah pria itu.


Ruangan yang sudah familiar. Ruangan yang terlihat seperti bar, namun juga terlihat begitu sepi. Ruangan itu adalah salah satu ruangan di dalam rumah pria yang tadi Juan panggil ‘Tuan Nichi’.


“Juan, dengerin gua. Lain kali, kita gak perlu bayar preman lagi buat nyerang mereka. Nyari cewek macam si Ale anak lu itu juga bagus” kini Nichi terlihat menyesap sebuah cerutu


“Ya, Tuan. Tapi yang recokin rencana kita sekarang itu anaknya si James. Gara-gara bocah sial*n itu, anak buah saya sempet diringkus polisi” ungkap Juan


Fyuhh…


Asap cerutu mengepul dari mulut pria paruh baya itu, “Urusan polisi itu cuma seujung kuku aja, Juan. Dikasih duit receh juga mereka bakal diem”


“Tapi Tuan, anak buah yang sering repotin itu sekali-kali harus dikasih pelajaran. Hahaha…” Juan lalu menyeringai dan Ia meneguk anggur yang masih tersisa di gelasnya.


“Hahaha… Udah cukup, Juan. Hari ini gua udah kelewat seneng denger si James sekarat. Lu balik aja, sana” Nichi itu terdengar seperti sambil menahan tawa.


“Baik, Tuan” Juan kemudian terbangun dan membungkuk ke arah Nichi sebelum dirinya pergi meninggalkan ruangan itu.