
Mobil sedan milik James melaju dengan tenang di jalanan kota yang cukup ramai. Sepulang mereka dari rumah sakit, James bergegas mengajak Davian menuju kantor guna mempersiapkan kebutuhan rapat sore nanti.
“Dav. Papa tadi nyuruh PA kamu tinggal dulu di deket Adrian…” ucap James sambil sibuk dengan ponselnya.
Entah apa yang memenuhi pikiran Davian, ucapan James tadi tidak Ia respon sedikitpun. Pandangannya saja entah kemana fokusnya. Davian terus mengarahkan tatapannya ke arah luar jendela.
“Davi ?” James kembali memanggil putranya setelah menyadari bahwa ucapannya tadi belum mendapat jawaban.
“Eh ? Pa ? Iya… Iya, Pa” Davian menjadi gelagapan setelah James menepuk bahunya yang lebar.
“Apa ? Kamu nge-iya-in apaan, Dav ?” James mencoba menguji fokus putranya.
Davian tentu tak mampu menjawabnya sebab ucapan James tadi memang lolos dari perhatiannya.
“Ck. Kamu ini… Papa bilang, rapat sore ini kamu harus ikut. Penting, lho” kalimat James kali ini berbeda dengan yang Ia ucapkan sebelumnya
“Ooh. Okay Pa” balas Davian singkat.
Melihat hal itu, James menjadi bertanya-tanya apa yang sebenarnya mengganggu pikiran putranya. Ia merasa aneh melihat putranya terlihat lesu dan hilang fokus seperti itu. Putranya itu bahkan tak menyadari bahwa James baru saja mengatakan dua hal yang sangat berbeda.
#
Hari itu, Alexxa terlihat kehilangan semangatnya. Jika beberapa hari lalu Ia kerap bersemangat mempromosikan berbagai produk di sosial medianya a.k.a endorse, kala itu Alexxa hanya terlihat bermalas-malasan di kamarnya.
Kedua orang tuanya juga belum kembali berjualan di kedai mereka seperti dulu. Selain karena jaraknya yang menjadi lebih jauh, Alexxa juga masih melarang mereka kembali berjualan.
“Al. Makan !” teriak Ibu Alexxa dari kejauhan
Namun, Alexxa yang baru saja menerima telpon di kamarnya tak langsung menjawab panggilan ibunya.
“Mohon maaf, pak Thom. Saya belum bisa dateng ke kantor-”
“Kamu atau saya yang butuh kontrak kerja ?!” teriak seseorang dari telponnya
“Tolong dong, pak… Kasih saya waktu abisin cuti saya…” Alexxa terlihat berkaca-kaca
“Cuti kamu abis, abis juga kontrak kamu” pria di sebrang sana terdengar meninggikan suaranya
Alexxa membuang nafasnya kasar, “huh… Baik, pak. Kalau memang tidak bisa, besok saya datang ke kantor” Ia terdengar pasrah.
#
Ramainya pesanan yang masuk kerap membuat Rosie merasa kewalahan. Namun, karena upahnya yang terbilang lumayan, Rosie menguatkan diri untuk tetap bekerja paruh waktu menjadi pegawai packing di sebuah toko online.
Jam kerjanya yang hanya setengah hari, serta libur diakhir pekan juga membuatnya bertahan di sana. Selain di toko itu, Rosie juga memiliki satu lagi pekerjaan paruh waktu. Namun, jadwalnya lebih tak menentu dibanding jadwal kerja di toko.
Seperti sore itu. Setelah Rosie selesai dengan urusan packing-nya, Ia buru-buru pergi bersama seorang temannya yang ternyata telah berada di halaman depan toko.
“Sorry ya, Lea. Lu pasti lama nungguin gue…” ucap Rosie sambil menaiki sepeda motor temannya.
“Gua juga baru nyampe, kok. Masih keburu, Ros.” balas temannya sambil menyalakan sepeda motor.
Setelah berkendara cukup lama, mereka akhirnya tiba di depan sebuah gedung kantor dan keduanya cepat-cepat masuk ke sana.
Sampai keduanya tiba di sebuah ruangan, mereka baru bisa bernafas lega. Masih belum ada kegiatan yang serius di sana.
“Syukurlah. Belom mulai…” ucap Lea dengan nafas tersengal-sengal
“Iya. Gue kaget mereka tiba-tiba ngabarin mau rapat jam enem” tambah Rosie. Ia juga terlihat sama engapnya.
Mereka kompak mengisi kursi yang masih kosong dan meletakan tas mereka di atas meja.
Cukup lama setelahnya, beberapa orang berpakaian casual baru terlihat datang memasuki ruangan itu. Namun, inti dari perkumpulan itu baru dimulai ketika seorang dengan pria membuka dokumen di hadapannya.
“Saya mau denger laporan event Rubynist besok. Udah berapa persen yang siap ?”
Selain menjadi pekerja packing, Rosie juga kerap terlibat sebagai crew dalam berbagai acara mewah dan acara penting lainnya. Benar. Pekerjaan paruh waktunya yang lain adalah menjadi crew event organizer.
#
Rapat direksi sore itu berlangsung cukup alot. Akibatnya, pekerjaan yang belum Davian selesaikan semakin bertambah banyaknya.
“Huh…” Davian membuang nafasnya kasar, “repot juga kalo dia gak ada” celetuknya
Tanpa dirinya sadari, Davian menatap jauh ke arah meja kerja Dita yang beberapa hari ini selalu kosong.
“Ish…” Davian tersentak ketika ponselnya berdering “ngapain gua malah ngelamun...” gumamnya sesaat sebelum menjawab panggilan yang masuk.
Ponselnya itu lalu diraihnya dan terjadilah sebuah obrolan jarak jauh.
“Kenapa, Om ?” tanya Davian. Seperti biasa, minim basa-basi
Di sebrang sana, Adrian berdiri tegak di hadapan Dita yang terlihat gusar. “PA lu, Dav…”
“Kenapa ? Collapse ?” sambar Davian
“Sembarangan !” tatapan Adrian melebar
Dita yang melihat perubahan ekpresi Adrian terlihat mengernyitkan dahi.
“Ya mangkanya kenapa ? Jangan setengah setengah ngomongnya, Om” Davian menghentikan semua aktifitasnya seketika.
“Besok dia udah bisa balik dari rumah sakit. Tapi, gue dikabarin Om James, katanya dia disuruh jangan tinggal di mess…” ungkap Adrian
“Dia dipecat papa, Om ?” tanya Davian ragu.
“Huss ! Ngaco !-”
“Ya jangan setengah-setengah ngomongnya, Om ! Kenapa ? Kenapa gak boleh di mess ?” Davian mencecar Adrian
“Om James katanya takut bahaya lagi kalo dia masih di mess” balas Adrian
“Oh. Ya… Ya udah. Terus, masalahnya apa ?” Davian kembali meraih dokumen pekerjaan di mejanya.
Adrian dan Dita saling melempar tatapan. Mereka terlihat seolah bertelepati.
“Om James bilang… Sementara ini dia tinggal di apartemen depan gue itu. Yang punya Om James yang katanya buat lu itu, Dav” jelas Adrian
“Oh… Hah ?” Davian baru terkejut setelah menyadari ucapan Adrian.
“Satu lagi. Besok kan dia udah bisa balik. Jadi besok pagi balik Om shift malem sekalian anterin dia ke apart. Gitu aja, sih” jelas Adrian.
Merasa sudah tak ada lagi yang perlu dijelaskan, Adrian menutup sambungan telpon tanpa menunggu jawaban Davian.
“Gimana kata pak Davi, Dok ?” Dita penasaran
“Dia mah pasti iya-iya aja. Pertama, apart-nya emang jarang ditempatin. Malah saya yang sering nengokin ke situ. Kedua, kan ini emang Om James langsung yang nyuruh” jelas Adrian
“Beneran pak Davi gak apa-apa, Om ?” Dita meyakinkan keraguannya
“Iya Randita. Davi tuh tipikal orang yang males ribet. Selama keputusan Om James gak terlalu ribetin dia, dia mah gampang setuju dan jarang nolak” ungkap Adrian
Dita masih memancarkan keraguan dalam tatapannya. Meski begitu, setelah mendengar ucapan Adrian, timbul sedikit rasa yakin dalam dirinya.