UNPREDICTABLE BOSS

UNPREDICTABLE BOSS
Hilang Komunikasi


Sore itu Risha tiba di kontrakannya lebih dulu. Beberapa lama setelahnya, Rosie baru datang dengan nafas tersengal-sengal.


“Kenapa, Ros ?” tanya Risha sambil memainkan ponselnya.


“Hari ini capek banget. Di tempat kerja lagi ada promo gila-gilaan, orderannya juga sama gilanya...” Rosie berusaha mengatur nafasnya.


“Harusnya kamu bersyukur, dong. Daripada orderannya sepi” ucap Risha dengan nada suara yang terdengar ketus.


“Ya… Iya sih...” balas Rosie sambil merebahkan tubuhnya.


Tidak ada yang istimewa. Namun Risha terlihat terus memainkan ponselnya sambil tersenyum sendiri.


“Kak Isha. Kok Kak Dita masih gak bisa dihubungin ya ?” celetuk Rosie


“Gak tau. Kakak belom hubungin lagi si Dita. Mungkin dia lagi sibuk aja... Kata kamu, dia kan lagi ke luar kota” balas Risha enteng


“Mmm… Eh, Kak. Jadi ikut jalan-jalan ?” tanya Rosie lagi


“Jadi donk” balas Risha semangat “orang udah bayar. Nih, lagi nyari outfitnya di toko online. Cariin kek, Ris. Yang bagus buat difoto di sana” tambahnya sambil terus menggulir layar ponselnya.


“Katanya kemaren masih belom ada duit, kak ?” Rosie menjadi teringat momen dimana Risha terus mengeluh.


“Sebenernya dari pak Baskoro udah cair-“


“Yang waktu itu kak Isha bilang buat bi Rahayu ?” sambar Rosie


“Iyap” Risha menjawab pertanyaan Rosie seperti tanpa beban


“Emangnya itu utang Bapak yang mana lagi sih, Kak ? Perasaan dulu ke Bibi udah gak ada utang” Rosie bertanya kembali.


“Bapak bilang sih bekas nikah Kakak sama bapaknya si Lily. Padahal acaranya gak rame-rame banget, Bapak ngutangnya ampe abis dua juta” ungkap Risha


Rosie tak menjawab lagi ucapan Risha. Ia terkadang malas mencampuri urusan orang lain, meskipun itu saudarinya, atau keluarganya. Apalagi kini urusannya berhubungan dengan uang, masalah yang terbilang cukup sensitif.


#


“Misi, kak…” seorang perawat memasuki ruang rawat inap Dita dengan membawa sebuah paper bag yang berukuran cukup besar.


Dita yang tadi masih terbaring kini berusaha bangkit setelah melihat kedatangan perawat itu.


“Ini… Titipan dari keluarganya, Kak” ucap perawat itu sambil memberikan paper bag-nya pada Dita.


Dita terdiam sesaat. ‘Keluarga ? Kan belum ada yang dikabarin’ pikirnya.


“Makasih, sus” balas Dita sambil menerima pemberian perawat itu.


Setelah perawat itu pergi, Dita bergegas mengecek isi paper bag itu. Ia penasaran. Isinya apa ? Pengirimnya siapa ?


“Hah ?” Dita tercengang ketika Ia melihat isi paper bag itu.


Dita kemudian mengeluarkan sebuah tas yang sangat Ia kenali. Tas kesayangannya yang Ia pakai pada malam mengerikan itu kini benar-benar ada di hadapannya.


“Ketemu ?” ucapnya tak percaya dengan apa yang dilihatnya “Syukurlah… Tuhan… Masih rezeki…”


Ia mengecek bagian dalam tas itu dan ajaibnya semuanya masih ada di sana. Di bagian dalam paper bag itu, terdapat secarik kertas dan terdapat catatan singkat di sana.


‘Ran. Barang-barang kamu masih belum ilang’ Dita membaca catatan di kertas itu.


Dita terlihat mengulum senyum setelah mengetahui siapa pengirim bingkisan itu.


Jika mengingat kembali kejadian malam itu, ada sebuah cerita menarik yang terjadi. Kala itu, Dita sempat berontak dan hendak meraih semprotan merica dari dalam tasnya. Namun, aksi itu disadari oleh pelaku dan mereka cepat-cepat merampas tas Dita dan melemparnya ke sembarang arah.


Sayangnya, security itu terlihat sangat lelap sehingga kurir itu harus benar-benar membangunkannya sekuat tenaga.


Singkat cerita, seorang pria datang ke pos security itu. Ia mengaku diperintah langsung Davian dan berhasil membawa kembali tas itu pada Dita si pemilik tas yang sebenarnya.


Kembali lagi ke ruang rawat inap Dita. Setelah ponselnya selesai diisi daya dan berhasil diaktifkan, suara notifikasi-pun terus bersahutan. Entah berapa banyak pesan dan pemberitahuan lain yang terlewatkan.


#


Pemandangan malam hari kota Mistyre selalu memberi ketenangan tersendiri bagi James. Apalagi dari ruang kerjanya yang berada di lantai sepuluh, pemandangan indah itu selalu terlihat jelas.


Namun, malam itu James tampak terlihat gusar sebab Davian putranya dikabarkan mendadak pergi ke luar kota. Ia heran sebenarnya ada hal apa yang Davian sembunyikan darinya.


Karena selama ini, putranya itu selalu memberi tahu semua hal terkait urusan pekerjaan dan perusahaannya.


“Dav… Semoga kamu gak ngelakuin hal yang enggak-enggak” batin James.


Sebenarnya, jika James mengerahkan anak buahnya untuk mencari Davian, akan mudah baginya untuk segera menemukan putra semata wayangnya itu. Namun akhir-akhir ini, James mencoba untuk tak terlalu mengekang putranya.


Mungkin ikatan batin diantara ayah dan anak itu sangat kuat. Terbukti, di apartemennya sekarang, Davian juga sama gusarnya seperti James. Ia terus menatap layar ponselnya yang menunjukkan kontak ayahnya.


“Gimana caranya bilang ke papa, ya ?” gumamnya.


Ditengah kebingungannya itu, sebuah notifikasi pesan yang baru saja muncul sukses membuat Davian tercengang.


“Randita ?” ucapnya sambil membulatkan tatapan matanya “ padahal udah disuruh istirahat, masih aja ngurusin kerjaan” tambahnya.


Tanpa ragu Davian langsung menelpon Dita. Dan untungnya panggilan itu cepat pula mendapat jawaban.


“Ran. Kan udah saya bilang.. Kamu harus bed-rest dulu !” ucap Davian tanpa basa-basi


Di ruangan rawat inapnya, Dita benar-benar terkejut mendengar ucapan Davian di sebrang sana “Itu… Maaf, Pak. Saya cuma takut pak Davi kelupaan jadwal rapat direksi besok…” nada suara Dita terdengar melemah.


“Tunggu besok lagi juga gak apa-apa, Ran. Rapatnya juga kan sorenya ini…” balas Davian lembut


Obrolan itu akhirnya berakhir setelah Davian kekeh meminta Dita untuk beristirahat dan tak perlu terlalu memikirkan pekerjaan.


“Kalo besok rapat direksi, berarti mau gak mau harus bilang ke papa” Davian terus berpikir keras “besok aja lah” pungkasnya.


#


Karena dulu kesibukan Alexxa sebagai seorang aktris masih belum terlalu banyak, Ia memilih tinggal di asrama yang agensinya sediakan demi menghemat biaya hidupnya.


Mengetahui hal itu, Zake dan anak buahnya mendatangi asrama itu demi mencari keberadaan Alexxa. Namun, malam itu Alexxa tak ada di sana.


Zake kemudian meminta alamat rumah Alexxa pada kenalannya di agensi Alexxa. Tak butuh waktu lama, Zake berhasil mendapatkan alamat tempat tinggal orang tua Alexxa yang berada di pinggiran kota Mistyre.


Akhirnya Zake dan anak buahnya buru-buru pergi menuju alamat yang telah mereka terima. Namun, Alexxa lagi-lagi tak mereka temukan. Kondisi rumahnya juga sangat lengang. Hal itu tentu saja membuat pikiran Zake semakin tak karuan.


Meski hampir larut malam, Zake terus mencari keberadaan Alexxa dan orang tuanya. Ia bergegas mendatangi rumah tetangganya dengan harapan Ia akan menemukan Alexxa segera. Tiap rumah terus Zake datangi hingga dirinya mendapat kabar yang sangat diluar dugaannya.


“Beberapa hari lalu mereka udah pindahan, Pak” ucap seorang wanita paruh baya.


“Pindah ke mana ya ?” tanya Zake pada wanita itu


“Waduh… Saya gak tau, Pak” balasnya lagi


Zake hanya berdecih dan berlalu begitu saja.


Wanita paruh baya itu juga keheranan sendiri melihat tingkah Zake yang minim sopan santun.