UNPREDICTABLE BOSS

UNPREDICTABLE BOSS
Dalam Pantauan


Bunyi dari kode kunci pintu yang terbuka memang selalu terdengar nyaring. Dan setelah pintu itu terbuka, Zake muncul dengan menenteng sebuah tas belanja.


Melihat kedatangan pria itu, Alexxa buru-buru meninggalkan sofa tempatnya menonton tayangan televisi.


“Heh. Curut ! Ke mana, lu ?” cetusnya


Namun gadis itu mengabaikan ucapan Zake dan memilih melanjutkan langkahnya menuju kamar.


Brak !


Alexxa menutup pintu kamar dengan kencang.


“Dih, naj*s” umpat Zake. Seperti biasanya, pria itu gampang sekali mengumpat.


Zake lalu mengeluarkan beberapa kaleng bir dan menyusunnya di dalam lemari pendingin. Terakhir, Ia mengeluarkan sebuah botol kaca yang berisi anggur. Bisa ditebak, pria itu langsung meneguk minuman itu dari botolnya.


“Alex !” pekik Zake. “Lu nyari duit yang banyak. Bokap nyokap lo… Pada berisik minta dikasih duit…” sambungnya.


Sayup-sayup suara Zake terdengar hingga ke ruangan kamar Alexxa. Meski begitu, Alexxa memilih pura-pura tak mendengar suara lantang Zake.


“Ih. Kenapa sih orang itu rese banget ?! Bolak-balik cuma minum-minum mulu. Udah kayak rumah dia sendiri aja. Malesin…” gerutu Alexxa


Beberapa hari lalu, dirinya sempat mencoba melarikan diri dari tempat itu. Tetapi hanya dalam hitungan jam berikutnya, Zake berhasil menemukan keberadaan dirinya.


Karena sadar dirinya memiliki peluang yang kecil untuk terbebas dari sana, Alexxa memilih mulai membiasakan diri berada di tempat itu.


Satu yang Alexxa tak ketahui adalah, seluruh staf di apartemen yang ditinggalinya saat ini telah bekerja sama dan ikut menjadi bagian dari rencana Zake.


Setelah percobaan pertama Alexxa melarikan diri, Zake memasang sebuah kamera pengawas, tepat di atas pintu masuk unit ruangan Alexxa. Tentu demi terus memantau gerak-gerik gadis itu. Zake bahkan khusus memerintahkan anak buahnya untuk selalu memperhatikan apa yang kamera itu rekam.


Semakin lama, suara Zake sudah tak terdengar lagi. Gadis itu beringsut menuju ambang pintu dan mengintip keadaan di luar kamar.


“Bagus, dah. Udah gak ada” ujar Alexxa.


Zake benar-benar tak lagi berada di sana. Namun, satu yang Alexxa masih bisa tahan dari seluruh tingkah menyebalkan Zake adalah, Zake selalu menjaga kebersihan tempat itu.


Dering ponsel Alexxa menggema ketika gadis itu kembali akan menonton acara televisi.


Ponsel Alexxa pun kini memiliki akses komunikasi yang sangat terbatas. Entah apa yang Zake lakukan pada ponselnya, sehingga Alexxa tak pernah berhasil terhubung ketika mencoba berkomunikasi dengan orang lain. Seolah hanya mereka yang Zake kehendaki yang bisa tersambung dengan ponsel itu.


Alexxa bahkan pernah berpikir bahwa ponselnya mungkin disadap ketika dirinya mulai tinggal di apartemen itu.


“Aduh. Ngapain lagi pak Thomas malem-malem gini pake nelpon…” gerutunya. Meski begitu, Alexxa tetap menjawab panggilan telpon itu.


Gadis itu terdiam mendengarkan ucapan Thomas di sebrang sana. Hingga setelah beberapa percakapan panjang, sambungan telpon itu akhirnya berakhir.


“Huh… Mau gak mau, besok lusa mesti ikut fan meeting…” Alexxa menenggelamkan tubuhnya pada sofa.


#


Malam yang semakin larut justru membuat tempat itu semakin riuh. Gemerlap cahaya dari beberapa lampu yang mengantung, serta gema suara musik yang menggelegar menambah keramaian tempat itu.


Puluhan orang yang berada di sana nampak asyik menikmati hingar-bingarnya ruangan yang luas itu.


Diantara banyaknya manusia di sana, terhuyung-huyung Zake memasuki ruangan tempat Juan berada.


“Ya, Bos. Ada keperluan apa manggil saya ke mari ?” tanya Zake


“Iya, Bos” ucap Zake. Dirinya masih berdiri tegak di hadapan Juan. “Acaranya lusa” tambah Zake


“Hmm… Bagus, bagus. Bocah itu emang udah waktunya nyari duit lagi. Ya udah. Lu sekarang urus lagi kelab. Jangan ada ribut-ribut” perintah Juan


“Baik Bos” balas Zake singkat


Pria berkepala plontos itu lalu pergi meninggalkan ruangan Juan.


Setelah memastikan Zake mengerjakan tugasnya menjaga keamanan kelab, Juan melanjutkan langkahnya menuju lift dan menekan tombol lantai tiga.


Seperti yang selalu dirinya lakukan, Juan selalu mengontrol dan memperhatikan betul sosok tamu VVIP dan VIP yang datang ke kelab itu. Biasanya, dirinya akan membawakan camilan atau minuman ringan sebagai cara untuk bisa bertemu dengan mereka.


Bukan tanpa alasan Juan melakukannya. Melainkan hal itu adalah satu strategi bisnisnya. Sebab dengan menjalin hubungan yang baik dengan para tamu VIP dan VVIP, nama kelab yang Ia kelola tentu akan terkenal dikalangan orang-orang elite.


Kala itu, Juan membawa sebuah kotak berwarna emas yang terlihat mewah. Dirinya kemudian memasuki ruangan bertuliskan VVIP-2 setelah orang di dalam sana mengizinkan Juan masuk.


“Hallo…” sapa orang itu. Pria dengan balutan kemeja dan celana hitam itu terlihat duduk santai melihat kedatangan Juan.


“Hallo… Mr. Xavier… “ rasanya sedikit aneh melihat Juan tanpa raut wajah yang ditekuk, “wah… Lagi seneng nih, kayaknya”


“Haha… Apa segitu jelasnya ?” sahut Xavier


“Ada peribahasa yang bilang; mulut bisa bohong, tapi mata gak bakal bisa bohong. Dan ya, itu sangat jelas, Mr. Xavier…” balas Juan seraya memposisikan tubuhnya untuk duduk senyaman mungkin. Dirinya memilih tempat duduk di ujung sofa, cukup jauh dari tempat Xavier.


“Yah… Sejujurnya, saya emang ngabisin waktu di sini buat ngerayain kesuksesan saya…” kata Xavier angkuh


Juan melirik Xavier dengan tatapan yang mudah diartikan, terlihat jelas rasa heran pada sorot kedua matanya.


Merayakan kesuksesan, sendirian ? pikirnya


“Orang-orang yang saya kenal, mereka cuma baik kalo lagi ada maunya aja. Gak pantes ikut seneng-seneng ama saya” kata Xavier lagi


Mendengar hal itu, Juan menyeringai sambil menyilangkan tangan di dadanya.


“Ah, rasanya setiap manusia selalu seperti itu. Ngomong-ngomong, ada hal baik apa yang Mr. Xavier rayain ?” misi Juan telah setengah jalan selesai


“Cuma setingkat jadi orang penting, haha...” Xavier tak menceritakan seluruh kisahnya.


“Uhm… Kalo gitu, kebetulan. Malam ini, saya bawain sesuatu yang spesial” ucap Juan seraya menyerahkan kotak yang Ia bawa, “mungkin Mr. Xavier bosan dengan anggur murah yang selalu saya kirim-“


“Sshhh… No, no, no. Saya selalu hargain apapun yang dikasih buat saya” Xavier meraih kotak itu, “thank you” tambahnya


“Okay. Saya pamit. Kalo Mr. Xavier butuh apa-apa, telpon aja” Juan menunjuk telpon yang terpasang di sudut ruangan itu.


“Sip, sip. Oiya, Pak Juan !” panggilan Xavier


Juan kemudian menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap tamu VVIP-nya itu.


“Ini” Xavier menyerahkan sebuah amplop yang terlihat mewah, “ambil. Pak Juan harus datang. Satu lagi, panggil saya ‘Xavier’ saja” imbuhnya


“Thank you, Xavier “ Juan meraih amplop itu kemudian meninggalkan ruangan kedap suara itu.


Setelah keluar dari sana, Juan tertegun menatap amplop yang Xavier berikan tadi. Siapa sangka, amplop itu berisi undangan Xavier untuk datang di acara grand opening Bank TRF.