
Di lain tempat, gelak tawa Zake kembali menggema setelah Ia melihat layar ponselnya. Terlihat jelas Zake baru saja mengirimkan beberapa foto wanita di hadapannya.
“Mau ngasih tau lu mau mati aja kacau gila. Ampas banget idup lu” Zake kembali tertawa setelah ucapan kasar itu Ia lontarkan.
Yang mengejutkan, seorang gadis dengan rambutnya yang berantakan dengan banyak darah yang mengering di wajahnya, terlihat berlutut di hadapan Zake adalah Dita.
Kondisinya sangat mengkhawatirkan. Mulutnya tersumpal kain serta kedua tangannya membentang terikat rantai besi. Sehingga sangat tidak mungkin dirinya bisa melarikan diri.
Tadi malam di ruangan penuh debu itu, Dita berusaha sekuat tenaga bertarung melawan beberapa anak buah Zake. Kini tubuhnya terasa lemas sekali. Ia sangat kehausan namun untuk berbicara dan meminta minum saja rasanya sudah tak ada lagi tenaga yang tersisa.
“Woi! Gara-gara lu… Cewek kesayangan gua kabur, tau gak ? Gua udah kasih waktu buat mikir malah makin berengs*k lu, si*lan” ujar Zake.
Yang Zake maksud pasti Alexxa. Karena siapa lagi wanita yang terlibat dengan Zake dan Dita ? Namun, Dita tak memikirkan hal itu, Ia bahkan tak mendengar dengan jelas apa yang Zake ucapkan
“Gara-gara lu juga anak buah guue pada kusut“ umpatnya lagi
Kesal karena Dita tidak menanggapi dirinya, Zake mengguyur tubuh Dita dengan satu ceret air yang berada di dekatnya. Diluar dugaan Zake, Dita mendadak kejang beberapa saat setelahnya.
“Heh ? Lo kenapa woi ?!” Zake beberapa kali menampar pipi Dita dengan sedikit tenaga “Si*lan. Bos bisa bunuh gua kalo lu mati”
Panik. Zake memanggil beberapa orang pria di luar ruangan itu dan mereka bergegas menuju rumah sakit. Tentu tanpa sepengetahuan Juan; orang yang memerintahkan Zake untuk menculik Dita.
Di rumah sakit, secara kebetulan dokter yang menangani Dita adalah Adrian. Untungnya Ia menyadari bahwa gadis yang kritis itu adalah asisten pribadi Davian.
Adrian merasa ada sesuatu yang aneh diantara Dita dengan keempat pria yang berada di ruang tunggu. Ditambah kondisi Dita yang sangat mengkhawatirkan itu semakin menimbulkan banyak tanda tanya baginya.
Akhirnya, Adrian berusaha mencoba mengulur waktu pemeriksaan demi bisa bergegas menghubungi Davian.
#
Malang sekali kondisi Dita. Wajahnya sangat pucat pasi, keringat dingin terus mengucur dari tiap pori-pori kulitnya, tubuhnya pun sangat lemas tanpa ada tenaga tersisa. Ditambah banyak luka lebam dan luka lecet pada kedua pergelangan tangannya juga terlihat sangat menyakitkan.
Dari kacamata seorang Adrian, kondisi Dita sekarang ini pasti karena Ia mandapat perlakuan yang sangat buruk.
“Miya… Mi !” panggil Adrian pada salah seorang perawat “saya curiga dia korban kekerasan. Luka-luka di tubuhnya ini gak wajar” bisik Adrian.
“Siap, dok” balas perawat itu.
Memang kerap terjadi ketika pelaku kekerasan dengan panik datang dan meminta tim medis untuk memeriksa ‘korban’ mereka. Tak heran jika pola seperti itu bisa Adrian dan timnya kenali.
“Dok. Pasien yang kejang tadi, udah bisa pulang ?” tanya Zake ketika melihat Adrian beranjak dari tempat Dita diperiksa.
Kecurigaan Adrian nyaris terbukti. Bagaimana tidak ? Biasanya orang lain akan bertanya dengan membawa status hubungan mereka. Misalnya ‘bagaimana keadaan anak saya’ atau ‘dok, apa ibu saya baik-baik saja’. Tetapi Zake tidak seperti itu.
“Oh, maaf pak. Pasien yang tadi masih belum stabil. Obatnya juga perlu saya cek langsung ke apotek. Mohon maaf, tunggu dulu ya pak” Adrian jelas berbohong. Ia bukan hendak mencari obat melainkan Ia akan berusaha menghubungi kembali Davian.
“Ayolah Davi… Angkat…” Adrian sangat cemas.
Sementara di lain tempat, ponsel yang terus bergetar akhirnya mengalihkan perhatian Davian.
“Lah. Dokter Adrian ?” Davian heran melihat nama Adrian menghubunginya. Sebab, Adrian selalu menghubunginya jika ada anggota keluarganya yang mengeluh tentang kesehatannya. “Siapa yang sakit ?” gumamnya lagi.
“Dav! Lu kok susah banget ditelpon, sih ? Buka chat gue cepetan. Gak ada waktu” Adrian terdengar sangat cemas namun langsung mematikan sambungan telponnya.
Davian semakin bingung mendengar ucapan Adrian barusan hingga Ia membuka pesan di ponselnya.
Bagai disambar petir disiang bolong, Ia semakin terkejut ketika melihat foto yang Adrian kirimkan melalui pesan.
Yap. Adrian mengirimkan beberapa foto Dita yang tengah mendapat penanganan medis. Ditambah Adrian juga mengirimkan foto keempat pria yang datang bersama Dita.
“Orang ini…” ucap Davian dengan wajah merah padam setelah Ia melihat Zake ada di foto yang Adrian kirim padanya.
Di rumah sakit, Adrian kembali ke ruangan tempat Dita mendapat perawatan setelah mengetahui jawaban Davian. Tentu dengan beberapa obat yang Ia butuhkan. Tak lupa Ia meminta bantuan apoteker untuk menghubungi pihak kepolisian.
Tiba di dekat ruang gawat darurat, Ia tercengang ketika Zake dan anak buahnya tengah beradu mulut dengan perawat yang ketika itu menangani Dita.
“Yang penting dia udah gak kejang! Kita mau bawa dia balik” pekik Zake.
“Hei! Tunggu. Pasien saya belum bisa pulang. Liat sendiri! Dia masih butuh perawatan saya” sambar Adrian seraya menghampiri keributan itu.
“Biar saya aja yang kasih dia obat. Mana sini” ucap seorang pria. Ia bahkan hendak merebut obat yang Adrian bawa.
“Gak! Ini kalo dosis pemakeannya salah, dia malah bisa keracunan. Bahaya!” tegas Adrian.
“Halah bac*t !” Zake terlihat akan memulai tindak kekerasan
Beruntung, dua orang security datang dan berhasil menjauhkan Zake dari Adrian. Dengan susah payah mereka secara tak langsung membantu Adrian membuang waktu menunggu kedatangan Davian.
Mereka mungkin akan benar-benar bertengkar jika Zake tidak menyadari beberapa keluarga pasien di sana ada yang merekam mereka dengan ponselnya. “Kalo bos tau, bisa gawat lagi” pikir Zake
“Tunggu ya, Pak. Biar dokter periksa lagi” ucap seorang perawat pria
Alih-alih menjawabnya, Zake justru menatap perawat pria itu dengan tatapan tajam seolah ingin menerkamnya.
“Davi… Lo di mana…” batin Adrian
Kembali pada Davian, Ia segera meninggalkan seluruh kesibukannya tanpa peduli akan seperti apa jika pekerjaan itu Ia tunda.
“Bu. Kalau ada yang nanyain saya, bilangin saya ada kerjaan mendadak ke luar kota. Randita PA saya juga ikut. Thank you” ucap Davian pada sekretarisnya. Ia sangat terburu-buru
sampai tak menunggu sekretarisnya menjawab.
Davian hapal betul jalan pintas yang akan dengan cepat menuntunnya menuju rumah sakit. Sehingga tak membutuhkan waktu lama, Ia tiba di rumah sakit dan bergegas mencari keberadaan Dita, asisten pribadinya.
Kedatangan Davian dan beberapa pengawal di Rumah Sakit tentu membuat Zake dan ketiga anak buahnya sangat terkejut. Mereka bahkan semakin nekat hendak membawa Dita pergi meski tim medis dan satpam rumah sakit terus mencegah mereka.
Melihat hal itu, Davian memerintahkan pengawal yang datang bersamanya untuk ikut melawan perbuatan Zake dan anak buahnya.
Beruntung Ia tak pergi sendirian ke sana. Sebab tepat setelah Davian menyadari Zake ada di rumah sakit, Davian langsung memerintahkan beberapa pengawal untuk ikut bersamanya.
“Kalian tandain laki-laki yang tinggi botak itu ! Dia bosnya” ujar Davian pada para pengawalnya.
Setelah itu, Davian buru-buru memasuki ruang perawatan dan mengabaikan keriuhan di ruang tunggu. Yang Ia pikirkan saat ini hanyalah Dita. Perasaannya masih kalut tepat setelah Ia mendapat kabar mengenai Dita dari Adrian.
“Dav! Sini…” panggil Adrian. Ternyata Adrian terus memperhatikan situasi di luar ruang perawatan.
“Mana , Om ?” perasaan cemas jelas tergambar dari raut wajah Davian
“Sini, ikut Om” Adrian menuntun Davian menuju ranjang tempat Dita mendapat perawatan “Dia kayaknya belom dikasih minum, boro-boro dikasih makan. Kasian. Oiya, Dia belom bisa balik. Harus rawat inap dulu satu atau dua hari, Dav” jelas Adrian.
Davian nampak berkaca-kaca. Ia masih tak percaya bahwa gadis yang sejak tadi pagi Ia cari keberadaanya itu kini terbaring lemah di hadapannya.
“Ran… Kamu kenapa bisa kayak gini…” lirih Davian
Adrian berusaha menenangkan Davian sambil terus mengawasi situasi sekitar.
Sirine polisi semakin terdengar kencang ditengah kekacauan itu. Namun, entah mereka mengira itu sirine ambulans atau memang mereka tak sadar dengan suara kencang itu, keempat pria itu tak kunjung menghentikan perbuatan mereka.
Mereka baru gelagapan setelah beberapa polisi terlihat tiba di sana sambil menodongkan senjata api ke arah mereka.
“Sialan” umpat Zake setelah sadar bahwa mereka tak bisa melarikan diri dari sana.