
Hari itu, semua berjalan seperti biasanya. Dita bahkan telah menyelesaikan sejumlah pekerjaan yang seolah tak ada habisnya itu.
Selalu sebelum matahari terbenam, gadis dengan cardigan panjang itu bersiap untuk meninggalkan tempat kerjanya. Namun, bunyi interkom di mejanya menghentikan kesibukannya.
“Hallo ? Iya, Pak ?” ucap Dita segera.
“Kamu ke ruangan saya sekarang” kata Davian. Lalu pria itu memutuskan sambungan interkom.
Tak berselang lama, Dita tiba di ruangan Davian. Di sana, pandangan matanya langsung tertuju pada sebuah kotak berwarna krem yang berada di meja Davian.
“Ran. Event bank itu lusa, kan ?” tanya Davian
“Iya, Pak. Sekitar jam sepuluh pagi” balas Dita. Dirinya masih berdiri di dekat meja kerja Davian
“Ini. Liat, deh” Davian membuka kotak yang cukup besar itu dan mengeluarkan sebuah tas tangan yang begitu cantik.
Dita tentu takjub melihat barang mewah di hadapannya itu. Rasanya, baru kali ini dirinya bertemu langsung dengan penampakan barang yang begitu menarik perhatiannya.
“Kamu bisa gak kasih tas ini buat Alexxa ?” sambung Davian
Eh ? Dita terkesiap mendengar ucapan Davian.
Jadi tas itu buat si Alexxa ? Ish. Emang lo pikir itu buat siapa, Dita ? batinnya
“Tapi… Liat, Ran” Davian menunjuk sebuah logam lebar yang mencetak logo merek tas itu, “Kamu perhatiin, deh” imbuhnya
Dita memusatkan pandangannya pada apa yang ada di hadapannya.
“Kamu bisa liat ada yang aneh gak ?” Davian kembali melontarkan pertanyaan
“Enggak, Pak. Yang saya liat semuanya normal-normal aja” sanggah Dita sambil terus menatap tas cantik itu
Davian beranjak dari tempatnya dan menjulurkan seluruh tirai di ruangannya. Lampu yang ada di sana juga sebagian Davian matikan. Ruangan itu kini semakin gelap.
“Liat lagi” ujar Davian
Dita yang keheranan dengan tingkah bosnya itu kini kembali terkejut mendapati sesuatu di hadapannya.
“I-ini ada yang ngedip-ngedip gak sih, Pak ?” seru Dita
“Bener. Itu alat penyadap yang saya pasang, Ran” ungkap Davian
Dita tercengang mendengar ucapan pria di hadapannya. Dari mana bosnya memiliki ide cemerlang itu ?
“Semenjak kamu ngasih tau akun sosmed itu, saya makin curiga kalo ada hal yang kita lewatin, Ran” kata Davian
Mendengar hal itu, imajinasi dalam kepala Dita mengembang luas.
“Oiya. Kamu udah mau balik ya, Ran ?” tanya Davian
“Eh ? I-iya Pak…” imajinasi Dita seketika runtuh setelah ditanya oleh bosnya
“Ya udah, bawa aja ini sekalian” tunjuk Davian pada kotak itu
“Baik, Pak” jawab Dita seraya bergegas memangku kotak di meja Davian
Dita terlihat kerepotan ketikan berlalu dari ruangan Davian. Sebenarnya, kotak itu sedikit menghalangi langkahnya. Sadar akan hal itu, Davian kembali menghubungi interkom di meja Dita
“Iya Pak ?” sapa Dita terlebih dahulu
“Ran. Kamu kalo balik pake bus, ya ? Saya baru inget. Mendingan kamu saya anter aja, deh. Bawa kotak itu kayaknya ribet. Terus nanti minta ganti paper bag yang bagusan aja di outlet Ruby di deket apart kamu itu” jelas Davian
Tentu Dita terkejut mendengar ucapan Davian. Bosnya itu memang selalu diluar dugaan.
#
Pagi-pagi sekali, Rosie sudah bersiap dengan sejumlah peralatan riasnya. Hari itu, Ia memang bangun lebih pagi dari biasanya. Dirinya akhirnya memutuskan untuk mengikuti event grand opening cabang Bank TRF.
Setelah membubuhkan perona bibir, gadis itu kini terlihat mengucir rambutnya dan menatanya menjadi gaya mesy hair-bun. Ia kerap merasa kerepotan jika rambutnya terus dibiarkan tergerai.
Di luar sana, matahari baru menampakkan sebagian cahayanya, namun Rosie sudah beringsut mengikat tali sepatunya.
“Berangkat ya, Kak” pamitnya
“Iya. Pintunya tutupin lagi” jawab Risha. Pagi itu, dirinya terlihat hanya masih asyik dengan ponselnya.
“Kak Rosie, yang ke Blok Taman Kencana, ya ?” seorang pria berjaket hijau langsung memanggil Rosie dan menyodorkan sebuah helm.
“Iya, Pak.” balas Rosie singkat seraya menerima helm berwarna hijau itu.
“Baik Kak. Tolong dipakai helm-nya ya. Tempatnya lumayan jauh” ujar pria yang terlihat tak lagi muda itu.
Rosie mengamini ucapan pria itu dengan memasangkan helm-nya secara sempurna. Mereka akhirnya memulai perjalanannya pagi itu.
Setelah menempuh sekitar lima belas menit perjalanan, Rosie akhirnya tiba di sebuah komplek perkantoran dan kembali melanjutkan langkahnya menuju Ureshii EO. Karena para pekerja paruh waktu memang selalu terlebih dulu berkumpul di kantor sebelum datang ke lokasi.
Beberapa orang yang telah tiba di sana terlihat kompak mengenakan baju berwarna hitam, termasuk Rosie. Tanda pengenal juga kini tampak telah mereka gantungkan pada leher mereka.
Setelah memastikan seluruh kesiapannya, mereka akhirnya bersama-sama berangkat menuju lokasi event dengan beberapa mobil yang telah disiapkan.
#
Di lain tempat, Alexxa terlihat hanya terduduk lesu di hadapan sebuah meja rias. Tatapannya kosong menatap pantulan dirinya pada cermin di hadapannya.
Belum ada siapapun lain selain Alexxa di sana. Dan, ya…. Gadis itu memang sengaja datang lebih awal, dengan harapan belum terlalu ramai orang yang datang. Lalu sejauh ini, harapannya itu telah terkabul.
Tempat itu tampak seperti didesain khusus untuk merias mereka yang akan menjadi bintang acara itu. Terlihat dari sejumlah kursi yang telah memiliki nama pada bagian belakangnya. Seperti yang Alexxa gunakan saat ini.
Alexxa masih terus terdiam. Hingga sayup-sayup suara obrolan beberapa orang mulai menggema.
“Gue juga gak tau, kenapa bintang tamunya harus cewek itu ? Padahal Ocean Fairy aja udah keren bang-” ucapan miring itu terhenti ketika kedua wanita itu tiba di ambang pintu.
Mereka terlihat begitu tercengang mendapati kehadiran Alexxa di sana. Siapa yang berpikir bahwa bintang tamu akan tiba lebih dulu sebelum kru ?
“P-pagi Alexxa…”
“Pagi…”
Kedua orang itu menyapa Alexxa dengan gugup.
“Pagi. Santai aja. Saya bakal anggap ga pernah tau apapun” ketus Alexxa. Senyuman miring lalu sedikit Ia tampakkan dari sudut bibirnya. Alexxa sudah kenyang mendengar gosip tak sedap tentang dirinya.
Kedua wanita itu kemudian melangkahkan kaki lebih dekat dengan Alexxa.
“K-kita… MUA dan stylist yang ditugasin-”
“Okay. Terusin aja tugas kalian. Ga perlu sungkan” Alexxa memotong ucapan mereka
Dan sesuai ucapan Alexxa, kedua wanita itu tampak memulai kesibukan mereka. Seorang wanita berbaju hitam terlihat mulai menyisir rambut Alexxa. Sementara satu orang lagi wanita berkaos coklat terlihat memilah beberapa pakaian yang berada pada stand hanger.
#
Sementara itu di sebuah ruangan yang cukup luas, dekorasi dan seluruh kebutuhan penunjang acara telah rampung dikerjakan.
Beberapa orang peserta event juga terlihat mulai berdatangan. Diketahui, mereka adalah jajaran staf terpilih beberapa cabang Bank TRF. Benar. Dua kelompok tempat duduk yang berbeda itu adalah untuk para staf bank dan nasabah terpilih.
Banyak dari mereka telah berada pada tempat yang disediakan. Namun, tunggu dulu. Pada barisan paling depan peserta event, ternyata terdapat beberapa lagi tempat duduk yang bertuliskan VIP, tetapi masih belum terisi semuanya.
Sesuai dengan rencananya, Dita hadir di sana dengan riasan yang sedikit berbeda. Diantara rambut hitamnya, terselip sedikit warna pirang yang tak mengundang banyak perhatian.
Gaya rambut seperti itu memang sedang trend akhir-akhir ini.
Dress putih gading yang Dita kenakan pun tampak sederhana namun cukup memberi kesan mewah yang anggun. Tanpa Dita sadari, Rosie terus memperhatikan dirinya dari sisi lain gedung dengan tatapan penuh rasa ragu.
“Itu Kak Dita bukan, sih ? Tapi kok kayak beda banget... Apa dia cuma mirip doang ?”
Pertanyaan itu terus muncul dalam benak Rosie.
#
Fun Fact :
1. Tempo hari ketika Davian mengungkapkan rencananya, sempat muncul kegalauan dalam hati Dita. Sehingga, dengan terpaksa dirinya mengungkapkan hal itu pada Davian.
Entah kenapa, Dita sangsi bahwa Alexxa akan mengenalinya. Sebab dirinya sendiri saja masih teringat kejadian di restoran waktu itu. Peristiwa itu benar-benar membekas dalam pikirannya.
Untungnya, Davian memahami kegalauan asisten pribadinya itu. Hingga Davian akhirnya memutuskan untuk ‘merubah’ total penampilan Dita demi jalannya misi mereka.
2. Dita pernah akan pindah dari apartemen yang Davian pinjamkan. Namun, Davian tidak mengizinkannya karena alasan keamanan, sehingga Dita masih menghuni apartemen milik Davian. Dan karena hal itu, Davian terbiasa menyebut unit miliknya itu menjadi seperti unit kepunyaan Dita.