UNPREDICTABLE BOSS

UNPREDICTABLE BOSS
Selangkah Lebih Dekat


Kemarin siang, Risha kembali dari


wisatanya bersama sejumlah titipan dan oleh-oleh yang sengaja Ia siapkan. Dirinya benar-benar menuruti ucapan teman-temannya.


Risha bahkan meminta bantuan Rosie untuk menjemputnya di terminal bus, belasan kilometer jauhnya dari kontrakan mereka.


Dengan ringkih, keduanya tiba di kontrakan dan baru bisa beristirahat setelah perjalanan yang melelahkan.


Hari ini, suasana ruangan kantornya lebih ramai dari biasanya. Hal itu juga mungkin karena Risha telah membagikan beberapa oleh-oleh dan titipan yang Ia bawa.


"Makasih, Ris... Kamu baik banget, deh” ujar seorang temannya


“Thank you Risha…” kata seorang lain lagi


“Iya gaes… Ya ampun… Sante aja sante…” balas Risha


Senyum yang sedari tadi Ia pendam kini melengkung lebar menggambarkan perasaan sumringahnya.


#


Setelah beberapa hari lalu aktivitas James terganggu karena pengobatannya, dirinya kini perlahan mencoba memperbaiki ketertinggalannya.


Meski Davian masih melarangnya untuk bekerja ke kantor, namun terlalu lama berada di rumah juga membuatnya merasa bosan. Hingga akhirnya, James memutuskan untuk pergi menengok perusahaanya; Rubynist.


Salam dan sapaan dari banyak karyawan Rubynist menyambut kedatangannya siang itu. Rasanya James seperti menemukan kembali bagian lain yang ‘hilang’ dari dirinya.


Biasanya, James selalu langsung menuju ruang kerjanya di lantai sepuluh. Namun kali ini, dirinya menyempatkan diri mampir ke ruangan kerja Davian, yang secara formal masih merupakan staf eksekutifnya.


“Siang, Pak” Laura menyapa James yang berjalan melewatinya


“Oh, siang. Kamu sekretaris Davi, ya ? Dia udah dateng, kan ?” tanya James.


“Pak Davi…” Laura menggantung kalimatnya.


Secara ajaib, Davian muncul dari balik pintu ruangannya.


“Eh, Papa ? Papa kok dateng ke kantor ?” ucap Davian


“Wah !” seru James, “Pas banget. Papa lagi nyariin kamu” tambahnya. Pria itu lalu merangkul bahu Davian yang lebar seraya melangkahkan kakinya menuju arah lift.


“Kenapa, Pa ?” Davian memulai pertanyaan


“Kamu ikut Papa dulu, ke ruangan Papa” alih-alih menjawab pertanyaan Davian, James justru mengalihkan pembicaraan


Diam. James dan Davian kini sama-sama terdiam. Hingga keduanya tiba di ruangan James, Davian kembali melancarkan pertanyaan.


“Kenapa, Pa ?” tanya Davian


“Dav. Umur papa udah gak muda lagi…” ucapnya seraya duduk di kursi kebesarannya


“Ish. Papa…” Davian memotong ucapan James. Pikirannya keburu melanglang buana menuju puncak kesedihan.


“Dengerin dulu. Papa belom selese ngomong…” kata James, “gini lho, Dav. Umur Papa udah gak muda lagi, beberapa taun lagi Papa bisa aja pensiun dari kerjaan. Kamu siap nanti lanjutin posisi Papa ?”


Mendengar hal itu, Davian mengernyitkan dahinya. Entah Ia harus senang atau getir dengan ucapan James yang berbeda dari dugaannya.


“Belum lagi umur kamu, Dav. Bentar lagi tiga puluh, kan ? Udah pantes Papa punya cucu-”


”Pa !” Davian tak membiarkan James melanjutkan ucapannya. Pria itu menyilangkan tangannya dan menatap dasi yang melingkar di leher James. Meski ingin, dirinya tak pernah berani menatap mata ayahnya.


“Kalo urusan kerjaan, Davi bisa aja lakuin apa yang Papa mau. Diluar itu, Davi gak janji, Pa. Ga mau buru-buru…” kelit Davian


James membuang nafasnya kasar. Ia hanya menatap lesu putranya yang kerap berdalih ketika diminta memberinya seorang ‘penerus’.


#


Gadis itu ingin menceritakan potongan petunjuk baru pada Davian. Namun, ketika tiba di ruangannya, dirinya tidak mendapati keberadaan Davian di mana pun. Hanya ada jas hitam milik Davian yang tergantung pada stand hanger.


“Bu. Pak Davi ke mana, ya ?” Dita berbicara melalui interkom. Meski tak terlalu jauh, namun dirinya kerap memilih menghubungi Laura menggunakan interkom.


“Pak Davian... Dia tadi ke ruangan pak James. Kenapa emang ?” balas Laura


“Enggak. Aku butuh tanda tangan pak Davi” dalihnya, “ya udah, Bu. Makasih ya…” sambungan itu Ia akhiri


“Hm… Ya udah, lah. Kerjaan di sini juga masih banyak” sungutnya. Dan memang, kesibukannya seolah tak ada habisnya.


Ditengah kesibukan Dita merapikan kembali pekerjaannya, Ia menyempatkan diri melahap potongan semangka yang tadi pagi Ia siapkan.


Kala itu, Davian muncul dari balik pintu dengan raut wajah yang lesu, seolah-olah ada benang kusut memenuhi isi kepalanya.


Melihat hal itu, Dita mengurungkan niatnya dan hanya menyapa Davian seperti biasa, seolah tak ada hal baru yang terjadi.


“Siang, Pak” sapa Dita dari tempatnya duduk


“Eh, Ran. Siang” binar mata Davian kembali terlihat cerah setelah tak sengaja melihat kotak bekal transparan berisi potongan semangka di hadapan Dita.


Tiba di ruangannya, Davian juga baru menyadari bahwa dirinya sempat melihat buku tabungan Bank TRF samping kotak bekal Dita. Davian buru-buru meraih interkom dan menghubungi asisten pribadinya itu.


“Ran. Saya baru inget, gimana tadi urusan ke bank-nya ? Lancar ? Udah beres ?” cerocos Davian sambil mengoperasikan laptopnya.


“Eh ?” Dita sempat terkesiap mendengar rentetan pertanyaan Davian, “Iya, Pak. Tadi saya udah bikin rekening baru di sana. Dan memang benar, nasabah baru bank itu ada kesempatan untuk ikut event minggu depan” ungkap Dita


“Sistemnya diundi apa gimana, Ran ?” tanya Davian lagi


Sebelum menjawab pertanyaan Davian, Dita sempat sedikit tertawa kecil ketika mengingat kejadian di bank kala itu.


“Enggak, Pak. Ternyata ada beberapa syarat yang agak rumit buat ikut event-nya…”


“Terus ? Kamu gimana ? Bisa ?” sela Davian


“Puji Tuhan saya masih kebagian kuotanya, Pak. Jadi kita ada kesempatan ikut event itu” jawab Dita


“Oh, syukurlah. Kalo gitu sekarang kamu siapin materi rapat audit pajak ya, Ran” kata Davian. Pria itu lalu memutuskan sambungan interkom.


Bagi Davian, Ia seperti mendapat tiket emas menuju babak permainan selanjutnya.


#


Sebelum cahaya senja padam, Juan memarkirkan mobilnya di pelataran sebuah bangunan yang terlihat sangat megah dan mewah. Hampir seluruh sisi bangunan itu memiliki celah beurp garis asimetris yang dihiasi lampu LED-strip, sehingga bangunan itu memiliki kesan futuristik yang elegan.


Dari mobilnya, Juan berjalan melewati koridor tepat setelah pintu utama. Barulah terdapat ruangan bar yang sangat luas namun masih sepi. Tentu saja hal itu terjadi karena diketahui bar itu baru akan beroperasi sekitar jam sepuluh malam nanti.


Namun, sebagai pimpinan di sana, Juan kerap datang ke tempat itu jauh sebelum bar akan buka. Selain memastikan keamanan di sana, Juan juga selalu mengecek calon tamu penting yang telah memesan fasilitas VIP dan VVIP.


Seperti hari itu, Juan kembali memanggil seorang pekerja di sana ke ruangannya. Dari balik pintu ruangannya, seorang wanita berbalut setelan lengkap datang membawa sebuah map dokumen.


“Ini daftar nama pemesan VIP dan VVIP room kita, Pak” kata wanita itu


Tanpa berkata apapun, Juan meraih dokumen itu dan mencermati setiap baris kata yang tertulis di sana. Hingga ketika Juan membuka halaman selanjutnya, Ia terlihat mengernyitkan dahi.


“VVIP nomor dua bener namanya Xavier ? Dia orang yang waktu itu pernah booking VVIP enam bukan ?” tanya Juan


“Iya, Pak. Minggu ini beberapa unit VVIP sering dibooking pak Xavier” jawab wanita itu


“Ya udah. Sana, ke luar” perintah Juan


“Baik, Pak” balas wanita itu singkat. Dirinya lalu berbalik dan meninggalkan Juan yang terdiam membaca dokumen itu.


“Xavier… Xavier… Nama ini gua pernah denger, tapi di mana…” Juan terlihat berpikir dengan keras.