UNPREDICTABLE BOSS

UNPREDICTABLE BOSS
Guncangan Berita Palsu


Tepat ketika bibir mereka hampir bertemu kembali, Davian membuka matanya dengan nafas tersengal-sengal.


“Huh… Mimpi apaan gua !” ucapnya sambil membelalakan matanya.


Pandangannya kini jelas menunjukkan ruangan kamarnya yang terkena silaunya cahaya matahari. Ruangan yang tadi malam benar-benar Ia masuki dalam keadaan sadar.


Davian meraih sebotol air mineral yang berada di atas nakas dan meminumnya dengan cepat.


“Perasaan tadi malem gua udah minum…”ujarnya sambil menatap beberapa plastik bekas bungkus obat di atas nakas.


Davian lalu meraih ponselnya karena sadar Ia baru terbangun ketika matahari sudah sangat tinggi.


Selain menunjukkan waktu yang sudah pada angka 09:14, ponsel Davian juga menunjukkan beberapa pesan yang terus bermunculan.


#


Satu-persatu anak tangga menuntun Juan menuju pintu tempat Alexxa semalam. Kedua anak buahnya kini terlihat berbeda dengan yang sebelumnya Ia beri tugas.


“Aman ?” tanya Juan singkat


“Aman, bos !” balas mereka dengan yakin


Memang benar, di balik pintu itu, Alexxa masih berada di sana. Terlihat meringkuk di atas tempat tidur dengan pandangan mata tajam menatap pintu.


“Woah !” Juan sempat tersentak ketika melihat Alexxa, “kesambet lu ?” Juan melangkah mendekati gadis itu.


Melihat kedatangan Juan, Alexxa membalikkan posisi tubuhnya dan memilih menatap dinding. Sangat malas baginya mengawali hari dengan melihat tampang Juan yang selalu terlihat menakutkan dan menyebalkan.


“Woi ! Songong amat, lu” teriak Juan, “tuh !” Juan melemparkan sebuah kantong plastik. Karena transparan, bisa dilihat sepertinya plastik itu berisi beberapa bungkus makanan.


Alexxa masih mengabaikan keberadaan Juan di sana.


“Cih. Bodo amat lah. Gua udah kasih lu makan” Juan lalu kembali meninggalkan Alexxa sendirian.


Dalam kesendiriannya, Alexxa mendengar deringan sebuah ponsel yang sudah tak asing baginya. Benar ! Itu adalah bunyi nada dering dari ponsel miliknya. Ponsel itu berada bersama sekantong makanan yang tadi Juan berikan padanya.


Setelah kehilangan ponselnya ketika Zake membawanya pergi dari Scenic Art, akhirnya ponsel itu kembali pada dirinya.


Alexxa cepat-cepat meraih ponsel itu dan mengecek dari siapa penelpon tadi.


“Mama…” lirih Alexxa


Kini Alexxa berbalik menghubungi Ibunya setelah panggilannya tadi tak sempat terjawab.


“H-halo… Ma ?” Alexxa terdengar sangat cemas.


“Ya. Al ! Mama mau bilang, kemaren temen kamu dateng ke rumah-“


“S-siapa, Ma ?” Alexxa merasa heran. Teman ? Ia tidak pernah memberi tahu alamat huniannya yang baru selain pada Thomas.


“Haduh… Mama lupa namanya. Toni ? Tomi ? Ah. Ga penting juga, kan ? Kata dia kamu ada tawaran pemotretan. Udah, kamu sekarang fokus sama kerjaan kamu aja. Ga usah pikirin mama sama ayah” sambungan telpon itu lalu diputuskan oleh Ibunya di sebrang sana.


Alexxa terdiam seribu bahasa mendengar ucapan Ibunya. Ia masih terpikirkan tentang siapa ‘teman’ yang Ibunya maksud tadi.


“Apa mungkin pak Thomas dateng ke sana ?” gumamnya


Sementara itu, di dalam mobil yang terparkir di halaman bangunan itu, Juan terlihat tersambung dengan seseorang.


“Bagus, Juan” ucap seseorang di sebrang sana.


“Bukan apa-apa, Tuan…” Juan terlihat menyeringai dengan lebar.


Sambungan telpon itu lalu terputus. Percakapan yang terjadi kala itu memang benar-benar singkat.


Ingatan Juan kembali pada kejadian tadi malam…


Momen ketika Juan bertemu dengan seorang pria di mobil yang sama dengan yang Ia gunakan pagi itu. Terlihat juga ID Card dari sebuah stasiun televisi menggantung di leher pria itu.


“Nih” ucap Juan sambil menyerahkan sebuah amplop coklat berukuran lumayan besar.


Pria itu mengernyitkan dahinya. Ia nampak keheranan dengan apa yang Juan berikan padanya.


“Berita eksklusif. Liat aja…” balas Juan singkat sambil mulai menyalakan sebatang rokok.


Pria itu lalu mengeluarkan beberapa lembar foto dari dalam amplop itu. Yap. Tepat sekali. Foto-foto itu adalah foto yang sama dengan yang pernah Juan tunjukan pada Alexxa.


“I-ini…” pria itu tak menyelesaikan ucapannya


“Lu tau lah apa yang mesti lu kerjain…” tatapan Juan yang licik terpancar jelas.


“O-okay. Thank you, bro” balas pria itu singkat


#


Suasana di ruangan itu sangat lengang. Beberapa botol anggur tertata rapi pada rak kayu yang berada memanjang di sisi lain dinding. Kemewahan jelas sangat terasa nyata di ruangan itu. Ruangannya cukup luas hingga mampu menampung sofa dan meja yang ukurannya cukup besar.


Di ruangan itu, seorang pria paruh baya dan memakai setelan lengkap terlihat tengah menikmati sebotol anggur. Cincin safir yang berkilauan itu hanya satu-satunya hal yang menarik dari pria itu.


Pria itu juga juga terlihat sesekali berusaha menahan tawanya ketika Ia menatap layar ponselnya.


“Haha… James… James… Kayaknya emang udah nasib lu kemakan rencana yang anak lu gagalin” ujar pria itu hingga gelak tawanya terdengar menggelegar.


#


“Konglomerat pemilik merek fashion terkenal itu tertangkap kamera bersama seorang wanita yang identitasnya belum terungkap. Diduga wanita itu adalah seorang…”


“Dih. Beritanya apaan banget dah. Basi.” Dita mengganti saluran televisi dan berhenti pada tayangan kartun.


Namun, ponselnya yang terus bergetar membuatnya tak lanjut menonton tayangan itu.


“Hah ? P-pak James ?” tatapan Dita membulat. Ia terperangah melihat layar ponselnya.


Ia kembali meraih remote televisi dan mencari saluran berita yang tadi sempat Ia bilang ‘basi’.


Masih sempat. Tayangan berita itu masih menampilkan beberapa foto yang kualitasnya diburamkan.


Namun, jika terus diperhatikan…


Sebentar. Foto itu…


Sangat mirip dengan foto yang pernah Juan tunjukkan pada Alexxa.


“Hah ? Kok bisa ?” ucapnya setelah beberapa saat melihat tayangan berita.


“Bentar, deh. Ini… Kok Tim IT sama Tim Humas masih belum ada laporan apa-apa ? Aturan kan kalo ada berita kayak gini, mereka harusnya cepet ngasih laporan ke grup ini…” Dita berbicara sendiri sambil menatap layar ponselnya.


Beberapa saat kemudian, ponselnya mulai ramai oleh notifikasi pesan yang masuk.


“Wah, wah ! Gak bener, nih !” Dita berbicara sendiri sambil terus menatap layar ponselnya.


Ia menggulir ponselnya dengan cepat, lalu berhenti pada sebuah nama; Bu Laura.


“Sekretarisnya pak Davi… Dia juga kok gak ada kabar ? Apa gue tanyain dulu, ya ?” Dita terlihat hampir menekan tombol panggilan


“Ck. Tau ah ! Gue. Mau. Libur. Dulu” ucapnya lagi sambil menyimpan ponselnya dan berusaha tak memikirkan kejadian itu.


Belum satu menit ponselnya tergelatak di lantai, sebuah panggilan masuk muncul dan membuat Dita memanyunkan bibirnya.


“Bu Laura ?” ucapnya sesaat sebelum menjawab panggilan itu, “h-hallo ? Iya, Bu ?”


#


Teras itu. Tempat dimana James biasa menikmati awal hari. Kini terlihat dua orang pria lain tengah mengobrol ditemani beberapa roti isi coklat dan secangkir teh di sana.


“Om. Beneran gak ‘pa-‘pa kan gua titip papa dulu ?” tanya Davian cemas.


“Iya. Tapi Om mungkin numpang istirahat juga di sini-“


“Iya, iya, Om ! Tentu. Gua sekarang mau gak mau harus ngurus berita bullsh*t lagi, Om” Davian terlihat menyentuh bibirnya--artinya, Ia tengah memikirkan sesuatu dengan serius.


“Makan dulu tuh rotinya” sambar Adrian sambil mengambil roti isi miliknya.


“Ck. Om ! Berita papa di internet lagi rame-ramenya, Davi mana sempet makan, Om !”


Tanpa berkata apa-apa, Adrian mengambil seporsi roti dan menaruhnya pada telapak tangan Davian.


“Nih. Ngurus masalah juga tetep harus jaga kesehatan. Kalo kamu sakit, Om gak mau ngurus kamu. Terus… Roti ini Om sengaja beli banyak” ujar Adrian


Davian mengernyitkan dahi mendengar ucapan Adrian barusan. Jika dipikir-pikir lagi, ucapan Adrian memang benar adanya.


“Ya udah…” Davian bangkit dari duduknya


“Makan dulu ! Duduk !” teriak Adrian


Davian kembali terduduk dan kali ini Ia benar-benar melahap habis roti yang Adrian berikan padanya.


“Udah, Om ! Davi pamit. Titip Papa, ya…” pamit Davian


Adrian hanya mengangguk sambil mengacungkan jempol tanda setuju. Bagaimana lagi, Ia tak sempat menjawab Davian karena mulutnya masih penuh dengan roti isi yang belum selesai Ia habiskan.