UNPREDICTABLE BOSS

UNPREDICTABLE BOSS
Memori Hitam


Mungkin karena malam itu adalah malam minggu, suasana jalanan kota masih saja ramai meski hampir larut malam. Transportasi umum juga masih saja ramai oleh penumpang yang terus berlalu-lalang.


Termasuk kedua kakak beradik itu. Selesai dengan urusan perut mereka, keduanya kini baru saja turun dari bus. Benar-benar ramai, bus itu benar-benar terlihat sesak dipenuhi oleh penumpang.


Setelah beberapa menit menyusuri gang kecil, keduanya tiba di depan kontrakan yang dulu mereka tinggali bersama.


“Ros. Kak Isha nanti Senen ngantor ? Apa enggak ?” tanya Dita seraya melepas sepatunya.


“Enggak, Kak. Katanya dia mau cuti sehari” balas Rosie singkat


Udara malam itu terasa lebih sejuk. Mereka harus berterima kasih pada rintik hujan yang malam itu bersedia menemani mereka.


“Oalah… Eh kalo gitu, nanti kamu nginep di tempat Kakak aja” Dita membuat penawaran


“Orang mess Kak Dita sempit begitu, emang muat ?” balas Rosie singkat


“Eh,” Dita tersentak. Ia baru ingat bahwa dirinya belum bercerita tentang tempat tinggal barunya.


Setelah ucapan Rosie itu, tak ada lagi obrolan yang berarti diantara mereka. Keduanya akhirnya bergegas membersihkan diri dan bersiap untuk merangkai mimpi.


#


Matahari belum sempurna memancarkan cahayanya. Namun, dering ponsel memaksa Davian untuk membuka matanya yang masih terasa sangat berat itu.


“Hmm… Halo ?” ucapnya pada penelpon di sebrang sana


“Dav ! Buruan bangun ! Kamu gak lupa hari ini ada doa pagi, kan ?” balas Adrian


Di lain tempat, Adrian terlihat telah mengenakan setelan kemeja yang sangat rapi. James juga terlihat berada di sana dengan memakai setelan lengkap. Tampaknya mereka masih berada di ruang rawat inap tempat di mana James mendapatkan perawatan.


Kembali pada Davian, pemuda itu tersentak sesaat setelah mendengar ucapan Adrian.


“Iya, iya Om. Davi inget, kok. Itu… Papa gimana, Om ?” tentu saja ucapannya itu hanya demi menghindari omelan Adrian kelak


“Om James udah siap dari tadi. Ya udah, Dav. Kita mau urus administrasi rumah sakit dulu. Nanti ketemuan di sana aja” Adrian memutuskan sambungan telpon


Terburu-buru Davian menyiapkan setelan dan membersihkan diri. Mungkin karena beberapa hari ini Ia terlalu mengebut pekerjaannya yang sempat tertunda, alam bawah sadarnya akhirnya seperti memaksa pria itu mendapatkan waktu istirahat lebih lama.


Beruntung, perjalanan Davian menuju lokasi yang mereka tentukan cukup lancar. Hingga akhirnya Davian dan James juga Adrian bisa bertemu tanpa saling menunggu terlalu lama.


Ditemani udara sejuk pagi itu, mereka menghantarkan doa untuk mendiang. Di sana, Ibunda Davian akhirnya beristirahat dengan tenang di samping kedua orang tuanya, setelah melewati masa yang melelahkan. Nama mendiang Karina Ryuu masih tertulis dengan jelas di batu nisan itu.


Beberapa tahun silam, sebuah kejadian yang memilukan menimpa keluarga kecil James. Kala itu, Davian masih duduk di bangku SMA.


Momen ketika Davian harusnya bersiap untuk ujian masuk perguruan tinggi, justru menjadi memori paling gelap bagi dirinya.


Beberapa minggu sebelum tes perguruan tinggi, James, Karina, dan Davian sempat berlibur menuju sebuah pantai yang letaknya cukup jauh dari kota. Ah, benar. Kala itu, Karina mendapat voucher berlibur setelah memenangkan sebuah undian.


Hadiah itu juga termasuk fasilitas sebuah villa yang letaknya tak jauh dari jalanan utama. Namun, hujan yang sering turun membuat mereka lebih banyak menghabiskan waktu di dalam villa itu.


Seperti malam itu. Karena hujan deras yang kembali turun, mereka akhirnya memutuskan untuk menikmati makan malamnya di villa saja.


“Pa. Kalo nambah sehari lagi liburannya, boleh kan ?” Karina membuka obrolan


“Nanti sekolahnya Davi gimana, Ma ?” James balik bertanya


“Sekolah Davi aman kok, Pa. Davi masih bisa izin. Ya kan, Ma ?” sahut Davian yang mendukung ide Karina


“Ish… Kamu ini memang foto copy-an Mama kamu ya, Dav” James sedikit terkekeh


“Jadi… Boleh kan, Pa ? Mama juga pengen banget liat sunrise di sini. Katanya tempat ini terkenal sama sunrise-nya, Pa” rengek Karina


“Hmm… Ya udah, deh. Tapi satu hari lagi aja. Deal, ya ?” James mengangkat gelas berisi jus jeruk ke udara


“Yeay…”


“Setuju…”


Karina dan Davian juga kompak mengangkat minuman mereka. Tawa bahagia terpancar jelas dari ketiga orang di sana.


Hujan deras itu akhirnya berhenti sebelum larut malam. Karena merasa udara menjadi lebih hangat, Karina terbangun dan beranjak dari tempat tidurnya. Ia memberi tahu James bahwa dirinya berniat mencari minuman yang lebih dingin dari yang tersedia di sana.


“Papa anter ya, Ma ?” James menawarkan bantuannya


“Ya ampun, Pa… Deket ini. Jalanan juga masih rame, tuh. Udah gitu kan kaki Papa lagi sakit, kan masih diperban gara-gara nginjek batu di pantai tadi sore…” sanggah Karina


“Kalo gitu, kamu pergi sama Davi. Pokoknya jangan sendirian” tegas James


“Iya, Pa” lalu sebuah kecupan tipis mendarat di pipi James


Davian yang kala itu masih menonton acara layar kaca mengamini permintaan Karina. Keduanya akhirnya bergegas menuju toko 24 jam yang jaraknya sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari villa mereka menginap.


Belum lama mereka melangkahkan kaki dari toko itu, beberapa pria turun dari sebuah mobil jeep dan mencegat mereka.


Tanpa banyak bersuara, para pria itu menghampiri mereka dan memegangi kedua tangan Karina. Mereka berusaha menyeret Karina yang terus berontak untuk masuk ke dalam jeep itu.


“S-siapa kalian ?!” rintihan Karina jelas menyiratkan seluruh rasa takutnya. Namun dirinya tak lagi bisa bersuara sebab salah seorang pria itu menyumpal mulut Karina dengan gulungan kain.


Sementara itu, Davian berusaha menyerang para pria itu dengan beberapa botol dan kaleng minuman hasil belanja mereka.


Namun yang lebih mengerikan adalah, para pria yang menggunakan penutup kepala itu tanpa ragu menyerang mereka dengan senjata tajam setiap mereka melakukan perlawanan.


Nahas, salah satu belati dari tangan pria itu berhasil menancap pada sisi kiri perut Davian.


Karina yang menyaksikan putranya ambruk dan bersimbah darah tentu berteriak histeris sekencang yang Ia mampu. Sialnya, teriakannya itu sia-sia saja karena tertahan oleh kain yang menyumpal mulutnya.


Merasa istri dan anaknya pergi terlalu lama, James memaksakan dirinya pergi menuju tempat yang Karina maksud. Dalam perjalanan itu, Ia melihat sebuah kerumunan yang memancarkan kepanikan yang tidak biasa.


Dengan langkah terpincang-pincang, James mendekati kerumunan itu. Semakin dekat dari sana, Ia melihat beberapa kaleng minuman tergeletak di jalanan.


“Ada apa ini ? Rame-rame apa ?” tanya James pada seseorang diantara kerumunan itu.


“Itu lho. Ada orang pingsan. Ditusuk perutnya…” kata seorang pria


Mendengar hal itu, James berusaha membuang jauh-jauh hal negatif yang ada dalam pikirannya. Namun begitu dirinya melihat sepasang sandal yang korban kenakan, nafasnya mendadak terasa sesak.


“Astaga. Anakku… !” tangis James pecah melihat Davian terkulai bersimbah darah, “tolong panggil bantuan !” James semakin histeris


Pria itu memandang tubuh anaknya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia ingin memangku putranya namun dirinya khawatir tindakannya malah akan membahayakan nyawa Davian.


Tangisannya terhenti sesaat. Ia baru menyadari sesuatu hal yang penting lainnya telah hilang.


“Karina…” gumamnya


“KARINA !” kini James berteriak mencari sosok istrinya, “ada yang liat istri saya ? Tadi dia pergi sama istri saya” tanyanya pada kerumunan orang itu


“Waduh. Kita gak tau, Pak. Anak ini dari tadi sendirian” ucap seseorang


James merasa dadanya semakin sesak. Kala itu, Ia benar-benar merasa dunianya berhenti berputar.