
“Ck. Kak Davi gak asik” cetus Alexxa
Emosi Davian sepertinya akan meluap jika Dita tak sigap meraih tangan Davian. Mereka berdua memang sama-sama terlihat kesal dengan tingkah Alexxa.
“Nona Alexxa. Kita udah susah payah atur waktu biar bisa on-time dan urusan kita cepet beres. Ayolah. Bukannya aktris seperti Nona Alexxa ini harusnya punya jadwal yang padet juga ?” pertanyaan Dita barusan sempat membuat Alexxa merasa kikuk.
“T-tentu. Saya juga sibuk kayak kalian. Saya juga-“
“Kalo gitu, harusnya dari tadi Nona Alexxa bisa jelasin masalah skandal palsu itu, kan ?” Dita kembali menyerang Alexxa
“Diam kamu!” pekik Zake setelah menyadari Alexxa tak lagi secerewet tadi karena semua ucapan Dita.
“Kamu yang diam!” balas Davian
Seketika hening.
“Ayo ? Alexxa ?” ucap Dita
“Okay. Okay. Fine. Kalian tau apa yang dibutuhin publik figur supaya nama dia terus ada di tiap berita ? SENSASI. Kalo gak ada sensasi lagi, gimana aku bisa dikenal orang-orang ? Gimana aku bisa trending di sosmed ? Simple” ungkap Alexxa
“Ck. Apa banyak sensasi miring bakal bikin orang-orang jadi fans kamu ? Ya ampun…” sindir Dita
“Ran. Kita pulang aja. Saya udah paham semuanya”
Belum sampai mereka di pintu keluar ruangan itu, Davian terlihat sedikit oleng dan memegangi kepalanya. Melihat hal itu, ketiga orang pria yang bersama Alexxa tadi langsung menghampiri Davian dan berusaha menjauhkannya dari Dita.
#
Keeseokan paginya, Dita terlihat menerima panggilan telpon di sebuah balkon hotel.
“Emang gak bisa kalo kak Isha gak ikut ?” ucap Dita.
Terdengar dari telpon bahwa Risha sangat ingin pergi jalan-jalan bersama teman-teman dari kantornya. Meski bukan acara resmi, tapi Risha tidak ingin ketinggalan keseruan itu.
“Yah… Kak. Uangku kan waktu itu dikirim buat si Radit sama buat Bapak. Aku boro-boro bisa ngasih pinjeman…”
“...”
“Tuhan. Apa aku egois kalo rahasiain tabungan hasil kerja aku ?” batin Dita
Sambungan telepon itu terputus dan Dita kembali memasuki ruangan kamar. Di sana, Davian terlihat bersandar pada sandaran kasur. Ia terlihat bingung ketika melihat Dita menghampiri dirinya.
Pandangan Davian melebar dan bergegas menanyakan apa yang sebenarnya telah terjadi. Sebab ingatan Davian berhenti ketika mereka akan meninggalkan Alexxa tadi malam.
Dita paham bahwa Davian pasti sangat kebingungan. Akhirnya, Ia menceritakan kejadian yang terjadi tadi malam.
Dita mengungkapkan bahwa ketiga pria yang datang bersama Alexxa sempat akan menyerang Davian. Namun Dita berhasil menggagalkan aksi mereka. Selain karena kemampuan bela diri Dita yang lumayan, semprotan merica yanng selalu Dita bawa juga berperan besar malam itu.
Ya, Luna pernah memberitahu Dita bahwa ketika bekerja lembur dengan Davian, alat-alat perlindungan diri memang sangat dibutuhkan. Kini Dita baru paham maksud dari ucapan Luna yang dulu sangat susah Ia pahami.
“Mereka gimana ?” tanya Davian
“Mereka… Yang mau jahatin pak Davi ? Pihak resto langsung nelpon polisi, sih. Tapi Alexxa katanya pergi sendiri. Mungkin kabur” tutur Dita
“Terus, Dokter Adrian juga bilang pak Davi hari ini harus bed-rest. Takutnye efek obat yang bikin pak Davi keracunan masih belum ilang” tambahnya
Pantas saja Davi tidak ingat apa-apa soal kejadian semalam.
“Terus, tangan saya kenapa dua-duanya lecet kayak bekas diiket gini ?” tanya Davian
“Apa saya berontak, Ran ?”
“Ya! Kurang lebihnya gitu, Pak. Bapak sempet gak mau disuntik obat karena Bapak bilang takut jarum suntik” Dita hanya asal mengarang
Davian mengernyitkan dahinya. Tak terbayang bagaimana harga dirinya terjun mendengar ucapan Dita barusan.
“Okay, deh. Kamu balik aja. Ini weekend” ucap Davian
“Baik. Saya pamit, Pak” pungkas Dita
Tanpa menjawab ucapan Dita, Davian kembali membenamkan tubuhnya pada selimut hotel yang hangat. Ia berpikir untuk istirahat sampai waktu check-out nanti siang.
#
Tempat yang pengap dan mengerikan itu lagi. Kenapa Juan selalu muncul di sana. Selalu saja Ia menghukum dan menyiksa orang seperti itu.
“Bod*h! Preman kampung kayak kalian emang ikan teri ! Nyingkirin satu cewek aja kalian gak becus! Si Alexxa si*lan itu juga bisa-bisanya kalian biarin kabur!” umpat Juan. Ia juga beberapa kali menendang dan menampar ketiga pria di hadapannya.
“Sampe kalian gagal nemuin si Alexxa, gua ga segen motong kuping kalian. Paham ?” Juan menatap mereka satu persatu
“Ya, bos !” ucap mereka kompak
“Udah. Lu bedua sama yang lain cari dah tuh si Alexxa. Jangan sampe sia-sia gua nyogok polisi buat bebasin kalian. Zake. Lu ikut gua”
Setelahnya, Juan dan Zake berjalan beriringan menuju sebuah ruangan lain. Berbeda dengan ruangan tadi, di sana terasa lebih mewah, lebih nyaman. Juan menyalakan televisi 52 inch yang ada di sana dan menayangkan sebuah video.
Video seorang pria yang disorot hanya bagian dada ke bawah dan tidak menunjukkan wajahnya. Dengan duduk di depan kamera, cincin batu safir yang Ia kenakan jelas terekam.
“Tuan Nichi ?” gumam Zake setelah Ia mengenali cincin yang pria itu pakai di video itu.
Orang dalam video itu mengatakan bahwa Ia tidak peduli bagaimanapun caranya, Davian Ryuu harus bisa jatuh dan hancur dalam kurun waktu dua bulan ini.
“Dengerin. Tuan Nichi udah ngebet pengen ancurin si Davian. Gua eneg lama-lama denger Davi…Davi mulu yang diurusin. Lu mending cari tau dah cewek yang ngikut si Davi. Kita beresin bocah itu dulu” jelas Juan
“Siap Boss” sambung Zake.
#
“Panasnya…” Rosie membuka pintu kulkas dan membiarkan udara dingin menerpa tubuhnya.
“Ros. Kulkasnya kosong banget kayak saldo kakak. Ngomong-ngomong, kamu ada duit dulu gak ? Pengen ikut jalan-jalan ke Blue Flame juga sama temen-temen kantor. Pengen refreshing…” ujar Risha
“Gak ada. Gak punya. Bayaran kerja part-time cuma cukup buat bekel doang” balas Rosie sambil menutup pintu kulkas
“Dih. Diajarin si Dita, yak ? Ngomongnya sama banget kayak si Dita. Gak ada duit, cuma cukup buat bekel…” ledek Risha
“Ya kan emang. AKU… GAK PUNYA… DUIT…” Rosie menegaskan ucapannya
“Ck. Gimana donk ? Pusing banget duit abis buat beli susu sama pampers Lily. Eh bentar ? Kenapa gak minta si Dita kasbon ke kantornya yak ?” Risha berbicara sendiri
Rosie hanya terdiam. Entah apa yang Ia pikirkan sehingga wajahnya terlihat lebih dingin dari botol air minum di genggamannya saat itu.
“Bukannya kemaren kak Dita juga bilang gak punya ? Terus kan dia udah kasbon buar study tour si Radit sama benerin kandang reptilnya Bapak, emang bisa kasbon lagi ?” tanya Rosie
“Ya gak tau. Kan belom dicoba juga…” Risha memasang tampang tak bersalah “acaranya emang bulan depan, sih. Tapi harus disiapin dari sekarang, kan ?” tambahnya enteng.