UNPREDICTABLE BOSS

UNPREDICTABLE BOSS
Terkuak ?


Selesai mengikuti prosesi doa pagi itu, ketiga pria itu lalu pergi bersama menuju kediaman James. Setelah mendapat perawatan selama sekitar satu pekan lamanya, James akhirnya bisa kembali pulang.


Meski begitu, James masih harus melakukan kontrol dan mengkonsumsi beberapa jenis obat-obatan.


Davian dan Adrian merasa lega sebab saat itu James benar-benar terlihat jauh lebih baik.


“Dav… Charger laptop Papa kamu taro mana ?” tanya James begitu dirinya tiba di kamarnya. Ia meninggalkan Davian dan Adrian di ruang tamu.


“Lho ? Papa mau kerja sekarang ? Aturan Papa istirahat dulu…” Davian membantah pertanyaan James


“Ah. Papa cape istirahat mulu. Charger-nya udah ketemu nih, Dav.” James sama keras kepalanya


“Yang penting Om James jangan over aja kerjanya, Dav. Mungkin dengan ngurus kerjaan, Si Om bisa pelan-pelan lupain beban pikirannya” ucapnya pada Davian


“Hm… Iya deh, Om” balas Davian singkat. Pria itu lalu menyandarkan tubuhnya pada sofa dan merogoh ponselnya.


Walaupun pandangannya terfokus pada ponselnya, Davian tetap menyadari Adrian yang beranjak dari sofa tempatnya duduk.


“Kemana Om ?” ceplosnya


“Balik, lah. Di sini mulu, ngapain ? Obat Om James udah aman, lu juga ada di sini, peran Om apa lagi ?” cerocos Adrian


“Beneran balik, Om ?” kini pandangan matanya Ia pusatkan pada Adrian


“Terus lu berharap Om ngapain, Davian Pranoto Alexander Wibowo… ?” tentu yang Adrian ucapkan itu bukanlah nama asli Davian


“Tunggu dulu, Om” Davian terperanjat dari duduknya dan buru-buru pergi ke arah dapur.


Ngapain lagi tu bocah, batin Adrian


Tak lama setelah itu, Davian kembali dengan membawa dua kantong belanja.


“Ngapain ?” Adrian keheranan


“Jual, Om. Jual aja, nih” ceplos Davian sambil menyodorkan kedua tas itu, “ya buat Om makan, lah. Kemaren Davi sengaja beli, abisnya kayaknya semangkanya bagus” tambahnya kemudian


“Ooh. Ini semangka beneran buat Om apa buat tetangga baru Om juga, nih ? Kok ngasihnya dua, sih” goda pria dengan kacamata itu.


“Ish. Suka-suka Om aja lah. Davi mau ngeliat Papa dulu” balas Davian sambil berlalu meninggalkan Adrian


Di sana, Adrian terlihat kesulitan menahan tawanya melihat tingkah Davian. Adrian benar-benar merasa godaannya tadi sangat tepat sasaran.


#


Udara yang menjadi lebih dingin berhasil menahan Dita dan Rosie untuk tetap tinggal di hunian mereka. Dan memang, sore hari yang tak cerah itu hanya mereka gunakan untuk mengikuti kata hati mereka.


Meski di luar sana gemuruh terdengar terus saling bersahutan, namun hal itu tak menghentikan Dita untuk kembali menelusuri akun Utas yang tempo hari Ia temukan itu. Dita masih fokus menatap layar ponselnya sambil terus memperluas imajinasinya.


Sementara Rosie, Ia juga terlihat sama seriusnya dengan Dita. Lagi-lagi ponsel pintar yang mereka genggam menjadi pusat perhatian kedua kakak-beradik itu.


“Kak Dit. Liat, deh” ceplos Rosie. Gadis yang tadi masih terbaring dengan nyaman itu kini terduduk di samping Dita.


“Apaan ?” tanya Dita


“Kak Isha…” ucapnya seraya menunjukkan layar ponselnya pada Dita, “dia tanya mau nitip apa… Kalo aku yang ini…” tunjuknya pada layar ponselnya


Pada layar ponsel itu, terlihat jelas deretan makanan yang tersusun rapi pada rak yang bertingkat.


“Wah… Kak Isha lagi di pusat oleh-oleh ?” sorot mata Dita berbinar


“Iya…” balas Rosie semangat, “tapi katanya kita disuruh nitip satu satu aja…” kini nada suaranya justru terdengar melemah


“Ribet kali kalo kita nitip banyak-banyak…” Dita masih memindai foto yang Rosie tunjukan padanya hingga pilihannya akhirnya diputuskan.


“Dia mah beliin buat temen-temen kantornya. Kan ada beberapa yang gak ikut, nah mereka tuh yang minta dibeliin oleh-oleh” sungut Rosie


“Oalah pantes… Ya udah berarti kak Isha emang ribet ama titipan temen-temennya. Tapi ribet-ribet juga nanti mereka ganti lagi ini, kan ?” Dita mengerlingkan matanya


“Diganti apaan ? Orang mereka mintanya dibeliin, bukan nitip… Nitip, nitip…” timpal Rosie


“Masa, sih ?” tanya Dita


Tanda awal sebuah obrolan yang panjang telah muncul…


“Ih, beneran. Tau gak, Kak ? Waktu dia lagi rapiin barangnya, aku sempet iseng baca list titipannya. Udah gitu ada yang nelpon, sampe maksa banget pengen dibeliin baju khas tempat wisata gitu buat anaknya. Kita mah kan agak gimana ya…” ungkap Rosie


“Kirain mah pada nitip tuh ya mereka udah ngasih uangnya, atau entar diganti, gitu…” balas Dita


“Ih, enggak. Aku juga heran, gak ngerti kak Isha mau-mau aja temen-temennya minta ditraktir. Padahal mah kak Isha juga itu pake duit pinjeman dari kantornya” jelas Rosie


Dita tentu keheranan mendengar ucapan Rosie. Ia kembali menanyakan apa maksud ucapan adiknya itu. Dan dirinya kembali dibuat tercengang oleh jawaban yang Rosie berikan.


“Itu lho… Dulu katanya kak Isha minjem ke kantornya. Katanya buat ganti duit kak Dita yang dipake bayar ke bi Rahayu itu. Emang kak Dita gak tau ?” Rosie justru balik bertanya


Kini, Rosie terlihat sama tercengangnya setelah mendengar ucapan Dita.


“Gimana ya… Tapi kalo emang dipake buat bayar utang bapak mah ya, ya udah lah…” Dita sepertinya sudah pasrah


“Hm... Heem, kak. Oiya, Kak Dita punya rekening Bank TRF, gak ?” Rosie mengubah alur pembicaraan.


“Enggak. Emang kenapa ?”


“Buruan bikin. Aku baru dapet info, katanya lima puluh nasabah baru Bank TRF bisa daftar event minggu depan. Nanti bisa fan meet sama Band Ocean Fairy sama si Alexxa itu…” tutur Rosie sambil menggulir layar ponselnya.


Sebuah kebetulan yang luar biasa bagi Dita.


“Seriusan ?” tatapan mata Dita membulat


“Beneran” Rosie bersungguh-sungguh dalam ucapannya


Obrolan yang serius itu kini berganti hening. Imajinasi dalam kepala Dita mendadak bertumbuh liar, dan fokus Rosie kini tertuju pada ponselnya.


#


Awal pekan kerap menjadi penyebab kemerosotan semangat bagi banyak rakyat perusahaan. Tunggu, mungkin bukan hanya mereka. Mungkin bagi banyak orang di dunia ini, awal pekan sering terlebih dulu diawali dengan ujaran kurang semangatnya mereka menghadapi hari Senin.


Meski begitu, bagi beberapa orang di dunia ini, awal pekan terkadang menjadi awal mereka untuk menumbuh suburkan semangat baru.


Seperti Adrian, dokter tampan itu merasa semangatnya memuncak pada hari Senin ini. Sebab, hari itu adalah hari yang telah ditunggu-tunggunya selama beberapa bulan terakhir ini.


Selama ini, Adrian memang dikenal sebagai sosok yang ramah dan mudah bergaul. Tak heran, beberapa tahun setelah Adrian menyelesaikan studi kedokterannya, dirinya masih tetap menjalin hubungan baik dengan banyak teman seangkatannya. Juga bahkan dengan beberapa seniornya.


Namun, dalam satu tahun terakhir ini, Adrian merasa dirinya perlu untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Benar, salah seorang dari banyak relasinya itu telah berhasil memikat hatinya.


Dan hari itu, Adrian telah memiliki rencana yang sempurna untuk kelanjutan hubungannya. Seolah didukung oleh Dewi Fortuna, ruang IGD tempatnya bekerja pun terasa lengang sehingga melancarkan izinnya untuk pulang lebih awal.


“Pulang semua…” pamit Adrian pada beberapa perawat dan satu orang lagi dokter jaga di sana


Dirinya lalu pergi menuju basement tempatnya memarkirkan mobil dan bergegas menuju apartemennya. Cahaya senja yang indah menemani perjalanannya sore itu.


Tiba di lobby apartemen, Adrian berpapasan dengan Dita ketika mereka berdua sama-sama menunggu lift terbuka.


“Halo, dok” sapa Dita


“Eh. Randita. Kamu di sini ? Kemaren saya mau ke unit kamu, kamunya gak ada…” balas Adrian


Keduanya kemudian bersamaan memasuki lift yang telah terbuka sempurna.


“Kemaren saya emang ke tempat adek saya, dok. Tadi pagi juga berangkat dari sana” ungkap Dita


“Oh gitu… Si Davi gimana ? Dia masih normal, kan ?” tanya Adrian lagi. Dirinya tiba-tiba teringat aksinya menjahili Davian kemarin.


“Hm ? Pak Davi ? Ya… Kayak biasanya aja, dok. Gak ada yang aneh… Emang kenapa, dok ? Pak Davi lagi sakit ?” Dita jelas keheranan mendengar kalimat Adrian.


Mendengar ucapan Dita barusan, Adrian hanya terlihat menahan senyumannya.


“Eh, enggak. Saya takutnya dia jadi sensitif aja, Ran. Kamu juga tau kali berita gosipnya Om James” ucapan Adrian ini setengah benar


“Oh, itu ya… Iya, dok. Pasti berat juga ya buat pak Davi” balas Dita


Tiba di lantai tempat hunian mereka berada, Adrian kembali menghentikan langkah Dita sebelum gadis itu memasuki unit ruangannya.


“Randita, tunggu” panggilnya


“Kenapa lagi, dok ?” tanya Dita


“Sebentar, ada titipan. Tunggu, tunggu” setelahnya, Adrian memasuki ruangannya, meninggalkan Dita yang berdiri di dekat pintu.


Tak sampai lima menit, Adrian kembali dengan menenteng sebuah tas belanja dan memberikannya pada Dita.


“Ini… Dari Davian” ujarnya


Dita tertegun sejenak.


Pak Davi ? pikirnya. “Apa ini, dok ?"


“Semangka. Saya juga dapet sebiji. Enak tau, manis” balas Adrian


“Oalah… Makasih, dok” jawab Dita


“Ish. Si Davi itu yang ngasih. Abisin ya, Ran”


Obrolan itu berakhir setelah kedua tetangga itu akhirnya memasuki unit hunian mereka masing-masing.