UNPREDICTABLE BOSS

UNPREDICTABLE BOSS
Flasback


Perasaan James sangat kacau ketika tim medis tak kunjung memberikan kabar mengenai kondisi Davian. Meski begitu, James tak lantas menyerah meski dihadapkan dengan hal yang memilukan itu.


Dengan bantuan dari pihak berwenang, dirinya bertekad untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada istri dan anaknya malam itu.


#


Di sebuah ruangan yang minim pencahayaan, tubuh Karina tersandar di salah satu sudut ruangan itu. Kedua tangan dan kakinya terikat sehingga Ia harus selalu memeluk lututnya.


Entah sudah pukul berapa saat itu, namun udara di sana begitu dingin, bahkan seolah terasa menembus tulang. Karina yang malang hanya bisa meringis menahan rasa takut dan cemas sebab mulutnya terbungkam oleh solasi.


Tak berhenti sampai disitu, kedatangan dua orang pria yang terlihat mabuk berat juga membuat pikirannya semakin kalut.


Kedua pria itu terus menggemakan ucapan dan gelak tawa yang membuat bulu kuduk merinding. Bagaimana tidak, diakhir tawa mereka, kedua pria itu mengambil kehormatan Karina secara paksa.


Entah iblis apa yang merasuki mereka, setelah n*fsu kedua orang itu terpenuhi, Karina ditinggalkannya begitu saja dengan hanya terbalut sepotong pakaian.


Untuk kembali mengenakan pakaiannya pun dirinya sangat kepayahan. Matanya yang sembab, nafasnya yang tersengal-sengal, juga tubuhnya yang masih gemetaran sangat jelas menceritakan kengerian yang Ia rasakan.


Karina sungguh tak mengerti kenapa nasib tragis itu harus menimpa dirinya.


Hingga beberapa lama setelah peristiwa itu, seorang pria yang datang memasuki ruangan itu tercengang dengan apa yang Ia lihat di sana.


Nampan berisi makanan yang Ia bawa buru-buru ditaruhnya di lantai. Dengan panik, pria itu menghampiri Karina yang tak sadarkan diri dengan kondisi yang tak karuan.


“Bu…” pria itu mengguncang bahu Karina, “Bu. Bangun…”


Melihat Karina tak menunjukan reaksi apapun, pria itu merogoh ponselnya dan segera menghubungi seseorang.


“Pak Zake” ucap pria itu. Tunggu, apa Ia baru saja memanggil ‘Zake’ ?


“Gawat, Pak. Orang yang dari pantai itu… Dia pingsan. Gak bangun-bangun” ungkapnya pada lawan bicaranya


“Sial*n. Lu diem dulu di situ. Entar gua suruh orangnya si Bos ke sana. Lu atur aja biar dia gak dicurigain” jawab seseorang dari telpon


Cukup lama setelah panggilan itu berakhir, pria itu membopong Karina menuju sebuah kamar yang lebih layak huni. Penampilan Karina juga Ia buat lebih rapi dari sebelumnya.


Tak lama setelah itu, seorang wanita datang dengan membawa sebuah kotak peralatan medis. Wanita yang terlihat sudah agak berumur itu memeriksa Karina dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tak ada yang Ia lewatkan.


“Gimana, dok ?” terhuyung-huyung seorang pria bertubuh tinggi datang ke kamar itu. Pria itu benar-benar Zake.


“Kita bicara di luar, bisa ?” pinta dokter itu


Keduanya lalu beranjak ke luar ruangan dan kembali memulai obrolan yang serius.


“Begini, Pak. Hasil pemeriksaan saya, penyebab pasien kehilangan kesadaran karena syok berat yang dialami pasien. Lalu...” dokter itu menahan ucapannya


“Kenapa lagi, dok ?” Zake terdengar tak sabar


“Aduh, saya beneran gak enak bilangnya…” dokter itu terlihat gusar


“Jelasin aja ke saya” ucap Zake dengan nada suara agak tinggi


“Maaf, Pak. Saya menemukan tanda-tanda kekerasan se*sual di tubuh korban. Menurut saya, pasien butuh pertolongan lebih lanjut di rumah sakit. Untuk saat ini, pasien saya infus dulu supaya tubuhnya tidak terlalu kekurangan cairan” jelas dokter itu.


Zake membuang nafasnya kasar dan mengusap wajahnya dengan kesal.


“Hm… Kalo gitu Dokter balik sekarang aja. Nanti anak buah saya anter” Zake berbicara sambil memasuki ruangan kamar.


“Eh ? I-iya pak” dokter itu sedikit sangsi dengan ucapan Zake


Setelah dokter itu tak lagi di sana, Zake memutar otak memikirkan jalan keluar dari rencananya yang berantakan.


“An*ing. T*lol” umpatnya


Entah Zake lupa atau sengaja, pintu kamar itu terbuka dengan lebar. Dan tanpa Zake sadari, dua orang pria berdiri di ambang pintu itu dan mereka keheranan melihat tingkah Zake.


“Ehem…” suara dehaman itu cukup nyaring. Dan Zake mematung seketika begitu menyadari siapa yang telah datang.


“Tuan Nichi. Bos Juan” gumam Zake


“Lu ngapain mondar-mandir mulu dari tadi ?” seorang pria dengan topi flat cap itu mengarahkan tatapannya pada Zake


Dengan banyak pertimbangan, Zake memberi tahukan kebuntuan yang dialaminya karena kejadian itu tidaklah sesuai dengan rencananya.


“Cih. Baguslah. Biarin aja si James itu kayak idup di neraka sekalian” ujar Nichi


Dari sorot matanya, terlihat sedikit rasa lega timbul di benak Zake.


“Lu ama Juan urus aja tuh orang. Mau dibuang, buang aja sekalian ke laut. Udah, kelar” tambahnya


Sesuai dengan ucapan Nichi, Zake dan Juan akhirnya bergegas membawa pergi Karina dari tempat itu. Dan liciknya Nichi, Ia memerintahkan kedua anak buahnya untuk memberikan tambahan obat tidur pada Karina.


Juan terus memacu mobil yang Ia kendarai seolah sudah jelas kemana Ia akan pergi.


“Bos, dia mau dibawa ke mana ?” tanya Zake


“Liat entar aja” balas Juan singkat


Hingga setelah beberapa lama, mobil itu Juan hentikan di tepi jalanan yang cukup sepi.


“Taro di situ aja, tuh. Deket pohon” ceplos Juan. Dirinya masih berada di dalam mobil dan terlihat merogoh sebuah ponsel.


Entah apa yang Juan tulis, namun setelah itu, ponselnya Ia lempar di tempat yang tak jauh dari sana.


“Siap, Bos” balas Zake.


Pria jangkung itu lalu meletakkan Karina yang tak sadarkan diri di bawah sebuah pohon. Setelahnya, mereka berlalu begitu saja meninggalkan Karina di sana.


Kala itu, Zake merasa ada sesuatu yang aneh pada Juan. Entah kenapa, bagi Zake, Juan terasa lebih dingin dari biasanya.


#


Di lain tempat, James masih tak henti-hentinya menitikan air mata melihat kondisi putranya yang terbaring lemah di ranjang perawatan. Namun untungnya, Davian sudah melewati masa kritisnya.


Pada momen itu, James kembali dikejutkan dengan sebuah kabar dari pihak kepolisian. Mereka menyatakan telah menemukan temuan baru yang akan menjadi titik terang bagi James untuk menemukan Karina, istrinya.


Benar saja. Setelah polisi mengkonfirmasi sebuah laporan anonim, mereka menemukan Karina tak sadarkan diri di sebuah tempat yang sepi.


Perasaan James menjadi semakin tak karuan. Satu sisi, Ia lega mengetahui istri dan anaknya masih bisa diselamatkan. Namun disisi lain, hatinya sangat hancur melihat kondisi kedua orang yang Ia sayangi sama-sama terbaring tak berdaya.


Beberapa minggu setelahnya, Davian berhasil pulih meski luka tusukan itu meninggalkan bekas luka yang tak akan bisa hilang.


Namun, kemalangan seolah tak bisa dihindari oleh Karina. Sebab setelah peristiwa itu, dirinya mengalami trauma berat yang tak kunjung hilang meski telah mendapat bantuan medis.


Karina mengalami depresi berat sehingga dirinya menjadi sangat pemurung dan senang menyendiri. Dan sayangnya, keputusan terakhirnya adalah mengakhiri hidupnya sendiri.


Pada awalnya, tentu kenyataan itu sangat sulit bagi James dan Davian. Namun kini, bertahun-tahun setelah peristiwa nahas itu, keduanya telah merelakan kepergian Karina. Mereka hanya berharap Karina bisa berbahagia di sana.


Penyelidikan pihak berwenang juga sama buntunya. Mereka benar-benar tak menemukan petunjuk apapun tentang peristiwa malam itu. Kasusnya bahkan menjadi kasus yang belum terpecahkan hingga saat ini.