UNPREDICTABLE BOSS

UNPREDICTABLE BOSS
Setengah Kebenaran


Matahari pagi memaksa masuk dari celah pintu dan jendela. Di kontrakan sederhana itu, Risha dan adiknya, Rosie masih terlihat terlelap sebelum dering ponsel membangunkan mereka.


“Hallo…” ucap Risha dengan mata yang masih terpejam.


“Eh, Sha. Ini Ibu… ” ucap seorang perempuan di sebrang sana.


“Kenapa, Bu ?” balas Risha dengan suara yang mulai nyaring


“Ini... Ibu kering banget… Mana mau ke pasar lagi, si Lily rewel pengen ikut” ungkap ibunya


“Ooh… Nanti ya Bu aku transfer…” sambar Risha. Ia paham betul maksud ucapan Ibunya itu.


“Iya iya, Sha. Ibu tungguin ya…”


-Tut-


Sambungan telpon itu akhirnya Risha putuskan. Pada pagi itu, Risha akhirnya membangunkan adiknya lebih pagi dari biasanya.


“Ros. Rosie…” panggilnya sambil mengguncang bahu adiknya itu.


“Hmm… Apa Kak… Hoam…” balas Rosie sambil mengucek kedua matanya yang masih sangat terasa berat.


“Kamu ada seratus, gak ? Pinjam dulu buat Ibu… Nanti sore kakak ganti” ucap Risha


“Aku ada lima puluh doang, tambahin lagi dari kak Isha….” jawab Rosie


“Dih. Masa sih gak ada ?” tanya Risha dengan nada suara lebih tinggi, “udah lah. Gak jadi” tambahnya


Risha akhirnya meraih ponselnya dan kembali terlihat menghubungi seseorang.


Di lain tempat, Dita terlihat tengah dengan tenang meregangkan otot-otot tubuhnya. Jika dulu Ia menyempatkan diri untuk melatih tubuhnya sepulang dirinya bekerja, kini, Ia memiliki waktu yang cukup dipagi hari sebelum memulai rutinitas pekerjaannya.


Namun, tayangan ponsel yang menjadi panduannya melakukan peregangan pagi itu terhenti oleh sebuah panggilan masuk.


“Kak Isha ?” gumamnya sambil meraih ponselnya, “hallo ?”


“Dit, ada seratus gak ? Pinjem dulu. Paling entar sore digantinya. Ibu tadi nelpon, katanya si Lily rewel pengen ikut ke pasar” ungkap Risha langsung pada intinya


“Ooh… Ya udah, tunggu…”


“Heem. Cepetan” balas Risha singkat sesaat sebelum Ia memutuskan sambungan telponnya


Tatapan yang kehilangan semangat akhirnya terpancar nyata dari netra coklat Dita pagi itu.


Kembali ke kontrakan itu lagi, kedua wanita di sana tampak telah melanjutkan aktifitasnya pagi itu. Seperti biasanya, Risha bersiap untuk menuju kantor dan Rosie bersiap untuk mengantar kakaknya.


Oiya, mereka memang memiliki sebuah sepeda motor namun hanya Rosie yang bisa mengendarainya. Sehingga Risha kerap meminta Rosie untuk mengantar dan menjemputnya bekerja.


“Kak. Emang udah gak ada sisa dari pinjeman yang waktu itu ?” tanya Rosie sambil menyeka kaca spion motor


“Emang kenapa ? Dari awal juga itu disiapin kan buat hiking. Udah lah, ayo berangkat” ketus Risha


Rosie membuang nafasnya kasar. Ia merasakan setitik rasa penyesalan timbul di hatinya setelah mendapat jawaban dari pertanyaan yang sejak tadi pagi muncul di pikirannya.


#


Setelah istirahat makan siang, Dita kembali disibukkan dengan tumpukan dokumen yang semakin hari semakin menggunung itu.


“Aduh… Kalo sampe pak Davi gak dateng lagi, bisa pingsan gue. Mual banget liat angka segini banyaknya” Dita berbicara dengan dirinya sendiri lagi sambil menatap layar komputernya


Sedikit demi sedikit, tumpukan dokumen itu kembali bertambah setelah beberapa kertas keluar dari mesin printer.


“Ah… Punggung gua…” gumamnya sambil meregangkan otot bagian belakangnya dengan bersandar pada kursinya.


Beberapa saat setelah momen itu, tanpa pernah Ia duga, pintu ruangannya terbuka dan Davian-lah sosok yang baru saja melintas di hadapan Dita.


“Siang, Pak” sapaan ramah itu akhirnya kembali terucap pleh Dita


“Ya. Siang, Ran” balas Davian sambil berjalan menuju ruangannya. Seperti biasanya.


Dalam pikirannya, Dita langsung ingin menyodorkan setumpuk pekerjaan itu pada Davian. Namun, niatnya itu Ia urungkan kembali setelah Davian memanggilnya melalui interkom.


“Duduk, Ran” ucap Davian setelah Dita memasuki ruangannya.


“Ya, Pak. Makasih…”


“Ran. Saya tiba-tiba keinget akun sosmed yang kamu belum certain itu” ujar Davian


“Iya, makanya saya tanya sama kamu sekarang” sahut Davian


“Maaf, pak. Saya ambil ponsel saya dulu” pamit Dita


Mendapat izin dari Davian, Dita bergegas mengambil ponselnya yang berada di meja kerjanya. Ia kembali memasuki ruangan Davian dengan banyak potongan informasi yang membingungkannya.


“Ini, Pak…” ucap Dita sambil menunjukkan layar ponselnya pada Davian


Layar ponsel itu terlihat jelas menampilkan akun sebuah sosial media tanpa foto profil. Identitas lain dari pemilik akun juga benar-benar tidak dicantumkan di sana.


Tetapi, banyak sekali postingan panjang yang jika dihubung-hubungkan, maka entah kenapa postingannya seolah benar-benar menjurus pada satu orang.


“Bener, Ran. Akun ini agak sus” Davian memicingkan matanya setelah menelusuri informasi itu


“Iya kan, Pak ? Dari kemarin saya pengen ngabarin Bapak. Sempet kepikiran juga mau minta tolong Tim IT buat lacak akun ini-“


“Jangan dulu” sambar Davian sebelum Dita menyelesaikan ucapannya, “Orang lain di kantor ini jangan ada yang kamu kasih tau dulu”


Dita terkesiap mendengar ucapan Davian. “Eng-enggak, Pak. Saya bener-bener gak ngasih tau siapa-siapa” Dita jelas terdengar gugup.


Keduanya sempat hanyut dalam percakapan panjang tentang potongan informasi yang Dita berikan.


Hingga setelah beberapa lama, bunyi dari intercom di meja Davian akhirnya menyadarkan mereka bahwa di sana banyak sekali tumpukan pekerjaan yang menunggu diselesaikan.


“Pak Davi. Salinan laporan penjualan yang Bapak minta sudah siap, Pak” terdengar jelas bahwa itu adalah suara Laura


“Okay, Bu. Lima menit lagi kirim dokumen itu ke ruangan saya” balas Davian singkat.


“Ran” tatapan Davian tertuju pada Dita, “Urusan ini kita bahas lagi nanti. Sekarang rapiin kerjaan dulu” tambahnya.


“Baik, Pak. Kalau begitu, saya permisi” pamit Dita sebelum akhirnya kembali ke ruangannya.


#


Di lain tempat, Juan terlihat bolak-balik membaca beberapa lembar kertas yang ada di genggamannya. Kali ini, Juan terlihat seperti seorang yang memiliki kuasa untuk memimpin.


Terlihat dari sejumlah tumpukan map dan banyak lagi tumpukan lembaran kertas yang tersusun di atas meja.


Selain itu, pendingin ruangan, penerangan yang cukup, bahkan alat penjernih udara juga tersedia di sana. Benar-benar terasa berbeda dari tempat yang kita ketahui Juan sering kunjungi.


Entah apa yang mengganggunya, namun Ia terlihat sangat kesal setelah menatap lembar terakhir dokumen itu. Pada momen itu, terdengar seseorang mengetuk pintu ruangan itu.


“Siapa ?” teriak Juan


“S-saya mau antar americano yang Tuan tadi perintah-”


“Ya ya. Masuk !” balas Juan segera.


Dari balik pintu itu, muncul seorang wanita dengan riasan yang cukup tebal serta pakaian yang terbilang minim membawakan minuman untuk Juan.


“Hey. Diem dulu !” teriak Juan


Wanita itu berhenti beberapa senti di dekat pintu, tepat setelah Juan memanggilnya. Dengan gugup, wanita itu berbalik dan menanyakan maksud dan tujuan Juan kembali memanggilnya.


“Tamu VVIP kita malem ini, siapa ?” tanya Juan


“Itu…” wanita itu sempat terdiam dan terlihat berpikir dengan keras, “VVIP kita malam ini dibooking atas nama Xavier, Pak”


“Siapa ?” Juan menatap tajam wanita yang berdiri di hadapannya itu


“Xavier…”


“Lu b*go apa t*lol, huh ? Sejak kapan gua peduli nama yang booking ? Gua tanya lagi ke elu-”


“M-maaf Tuan. Pemesan terkonfirmasi sebagai salah satu arsitek ternama dan baru diangkat jadi salah satu staf eksekutif cabang baru Bank TRF, Tuan”wanita itu buru-buru memotong ucapan Juan sebelum pria itu memakinya lebih lama


“Hmm… Udah. Sana !” perintah Juan


“B-baik, Tuan” dengan cepat, wanita itu berlalu dari hadapan Juan dan pergi dari ruangan itu.


“Hmm… Pantes gua baru denger nama orang itu” gumam Juan


Ia kembali menatap kertas digenggamannya dengan ekspresi yang sulit diartikan.