UNPREDICTABLE BOSS

UNPREDICTABLE BOSS
Hujan di Musim Kemarau


Cahaya matahari tenggelam memang tak pernah gagal mengembalikan tenaga Dita. Ia kerap merasa energinya seperti dikuras ketika seharian bekerja.


Seperti hari ini. Setelah selesai dengan semua urusan kerjaannya, Ia bergegas meninggalkan ruangan yang hari itu terasa lebih sepi.


Tiba di luar ruangan, langkahnya terhenti oleh panggilan Laura.


“Dit. Pak Davi gak dateng, ya ? Gua gak liat dia hari ini…” tanya Laura sambil beranjak menghampiri Dita. Kedua wanita itu lalu berjalan beriringan menuju arah lift.


“Gak dateng, Bu. Makanya aku sekarang pulang on time.” balas Dita.


“Oalah… Eh tapi artikel klarifikasi udah terbit, kan ? Urusan kejadian kemaren udah ga ada masalah ?” tanya Laura lagi tak lama setelah mereka berada di dalam lift.


“Iya, Bu. Artikel pernyataan resmi dari perusahaan udah diterbitin tadi siang. Di internet juga udah ga se-trending kemaren. Untunng banget beritanya udah ketimbun lagi berita dating-nya selebgram sama youtuber itu, Bu” jelas Dita.


“Baguslah. Mudah-mudahan ga merembet kemana-mana lagi dah masalahnya. Tau kan, saham juga masih belum se-stabil dulu, Dit. Gila kan efeknya kalo petinggi kena kasus…” tutur Laura seraya menyandarkan tubuhnya di dalam lift.


“Iya, Bu. Ribet juga kalo ada masalah gini terus” balas Dita singkat.


Setelahnya, tak ada lagi obrolan yang berarti diantara mereka. Keduanya lalu berpisah di depan lobby kantor itu. Laura lanjut berjalan menuju parkiran mobil, sementara Dita melanjutkan langkahnya menuju halte bus di sebrang jalan.


Tiba di apartemennya, Dita merebahkan tubuhhnya di sofa dan mengatur nafasnya dalam-dalam. Lalu ketika Dota telah selesai mandi dan bersih-bersih, dirinya kembali menuju sofa itu dan kembali merebahkan tubuhnya. Sepertinya sofa itu telah menjadi tempat ternyaman baginya.


“Bentar deh… Gue kok tiba-tiba keinget si Alexxa itu…” pikirnya sambil menatap lurus ke arah langit-langit ruangan.


Dirinya terbangun dan segera mengambil langkah cepat menuju ruangan kamar. Laptop yang berada di atas nakas lalu Ia buka dan cepat-cepat mengakses internet.


“Alexxa… Alexxa…” gumanya seraya menggulir informasi yang ada internet.


Namun sejauh ini, dari seluruh portal artikel yang Ia baca, tak ada yang mencurigakan dari Alexxa selain skandal palsu yang pernah artis itu buat dengan menyeret nama Davian.


“Ish… Beneran gak ada yang aneh deh di sini. Gila banget backingannya” ujar Dita sambil menatap deretan informasi pada laptopnya.


Semakin lama, Dita makin larut dalam pencariannya mengenai gadis yang beberapa kali menyebabkan masalah bagi Davian, atasannya. Entah kenapa tapi dirinya benar-benar merasa ada yang tidak beres dibalik kejadian yang pernah dialami dirinya dan Davian.


Mungkin jika perutnya tidak berteriak minta diisi, Dita akan lupa waktu dan terus menggali informasi tentang Alexxa.


“Dih males banget laper jam segini…” meski terus menggerutu, Ia tetap melangkahkan kakinya menuju dapur dan memasak sebungkus mie instan. Potongan cabai dan sayuran juga melengkapi hidangan ‘penolong’-nya malam itu.


Sambil terus melahap makanannya, Dita menemukan sesuatu yang cukup mencurigakan pada laman sebuah akun sosial media Utas.


Kalian tahu kan kalau misalnya ketika kita mencari sesuatu di sosial media, maka akan banyak bermunculan beberapa postingan yang terkait dengan apa yang kita cari.


Seperti itulah Dita tak sengaja menemukan akun dengan nama pengguna dumb_alxxx itu. Setiap Dita mencari topik yang pernah trending tentang Alexxa, akun itu selalu muncul dengan postingan kalimat yang cukup panjang.


Contohnya sekarang ini, ketika Dita mencari topik tentang skandal Alexxa dengan Davian, akun itu muncul dengan postingan panjang yang berjudul sama dengan topik yang trending, namun isi postingan itu tak benar-benar jelas menyebutkan siapa sebenarnya sosok yang Ia ceritakan.


Meski rasa penasarannya masih tinggi, tapi serangan rasa kantuk sudah tak bisa lagi Dita tahan. Ia memutuskan untuk menunda rasa penasarannya itu dan bergegas mengisi ulang tenaganya di tempat tidur.


#


Keesokan harinya, Dita kembali bekerja seperti biasanya. Dan hari itu, masih sama saja baginya seperti hari kemarin. Masih banyak pekerjaan yang belum selesai dan Davian masih tidak datang ke kantor.


Hanya yang menjadi perbedaan adalah; hari itu Dita lebih banyak mengerahkan kekuatannya untuk menelusuri akun sosial media yang Ia temukan semalam.


“Ck. Kalo minta tolong tim IT, nanti gua takut salah lagi. Pak Davi kan nyuruh rahasiain dulu…” gerutunya sambil merapikan meja kerjanya.


Hari itu, Dita akhirnya kembali meninggalkan segala pertanyaan di ruangan kerjanya.


Secara kebetulan, Dita dan Laura bertemu kembali di dalam lift setelah jam kerja hari itu berakhir. Untuk beberapa saat hanya ada hening diantara mereka. Hingga tiba keduanya secara bersamaan saling memanggil satu sama lain.


“Bu Laura”


“Dit”


Kembali hening untuk sejenak.


“Emm... A-ada apa, Bu ?” tanya Dita ragu


“Okay, deh. Saya mau tanyain itu… Pak Davi hari ini gak ke kantor lagi ?” Laura akhirnya melontarkan sebuah pertanyaan


“Belum, Bu. Pak Davi gaada kabar juga. Saya hubungin juga belom dijawab-jawab, jadi banyak banget kerjaan yang ketunda, duh” balas Dita panjang sekali.


“Kenapa, ya ? Padahal biasanya pak Davi ketat lho kalo urusan kerjaan. Oiya, tadi kamu mau ngomong apa, Dit ?” sambung Laura seraya menyemprotkan parfum dengan aroma vanilla yang kuat pada tubuhnya.


Untunglah pintu lift segera terbuka. Sebenarnya, Dita merasa indra penciumannya sedikit tersakiti ketika aroma parfum Laura menyeruak di dalam lift itu. Kadang dirinya sendiri pun lelah memiliki indra penciuman yang lebih sensitif dari kebanyakan orang.


“Eh. Gak jadi, Bu. Tadi juga saya mau nanyain kabar pak Davi ke Bu Laura. Kirain Ibu tau…” Dita menjawab pertanyaan Laura sambil


melangkahkan kaki ke luar lift.


“Ooh… Kirain ada apa. Ya udah, balik ya Dit !” pamit Laura


“Iya, Bu. Hati-hati…”


Keduanya lalu kembali terlihat berjalan berlainan arah, seperti biasanya. Laura berjalan menuju arah parkiran mobil meninggalkan Dita yang masih mengumpulkan niat untuk melangkah menuju halte bis.


Dita hanya berdiri dengan tenang di dalam bis itu. Hingga dirinya merogoh ponselnya yang terus bergetar, hilanglah ketenangan itu dari dirinya.


“Hah ?” Dita terperangah. Sepersekian detik berikutnya, Ia baru menyadari bahwa sikapnya tadi memancing pandangan orang-orang di sekitarnya mengarah padanya. Senyum canggung kemudia Ia tampakkan pada orang-orang di sana.


“Pak Davi ?” gumanya kemudian. Karena dirinya terlalu mengikuti peraturan untuk tidak menerima panggilan telpon di dalam kendaraan umum, Dita akhirnya memilih mengirim pesan teks pada Davian.


ini


Tiba di lobby apartemen, Dita terkejut bukan main ketika sosok pria tampan dengan balutan kemeja marun terbangun dari sofa yang ada di sana.


“Ran” Davian menghampiri Dita yang masih mematung tak jauh dari sana, “Kamu harus ikut saya” tambah Davian


Dita tentu semakin bingung dengan sikap Davian. Sudah dia tiba-tiba muncul, sekarang tiba-tiba mengajaknya pergi mengikutinya.


“Hah ? K-kemana, Pak ? Saya belum siapin apa-apa…” tanya gadis itu secara spontan


“Mmm…” Davian terlihat memindai Dita dari ujung kepala hingga ujung kaki, “ya udah. Saya tunggu sejam lagi, gak usah bawa apa-apa. Oiya. Pake baju yang biasa aja ya, Ran” imbuhnya


Dita semakin tak paham dengan apa yang Davian pikirkan saat itu. Meski tahu bahwa Davian memang tak pandai basa-basi, tetap saja Ia tak bisa menduga apa sebenarnya isi kepala bosnya itu.