UNPREDICTABLE BOSS

UNPREDICTABLE BOSS
Tekad Setengah Hati


Acara yang digelar di ruang serbaguna sebuah hotel mewah itu sangat berkesan bagi seluruh pihak yang terlibat. Selain kesiapan yang matang dari Ureshii EO, cara Rubynist memperlakukan tamu undangan yang hadir juga sangat menyenangkan.


Event soft launching Rubynist berjalan nyaris mulus tanpa kendala. Semua pihak yang terlibat jelas sangat senang dan lega ketika pembawa acara menyampaikan salam penutup.


Satu-persatu tamu undangan yang hadir terlihat membubarkan diri mereka setelah mendapat kotak merchandise.


#


Sesuai dengan hasil rapat sebelumnya, seluruh crew yang berpartisipasi dalam event itu terlihat sibuk merapikan segala sisa perlengkapan event.


Banyak dari mereka terlihat membongkar dan mengemasi dekorasi ruangan, banyak juga yang berlalu lalang merapikan kembali peralatan yang telah dipakai.


Seluruh peralatan hampir selesai dirapikan dan terkumpul-lah beberapa dus besar berisi barang-barang milik Ureshii EO.


Kini, mereka bahu membahu mengangkut dus-dus itu menuju mobil pick-up yang terparkir di luar sana melalui sebuah pintu yang berada di sisi lain ruangan itu.


#


Beberapa staf dan jajaran direksi Rubynist yang hadir juga terlihat berjalan beriringan meninggalkan ruangan itu. Termasuk diantaranya James dan Davian. Ayah dan anak itu terlihat gagah memimpin barisan.


Sampai di koridor, sekitar beberapa meter dari pintu ruangan itu, semuanya masih aman. Terlihat juga dua orang satpam berada di ujung koridor, tepatnya mereka masih berjaga di sekitaran lobi.


Tak ada yang aneh di sana. Namun, seorang wanita yang berlari dari sisi lain koridor terlihat mencuri perhatian.


Tanpa pernah mereka duga, sesosok wanita dengan wajahnya yang tertutup masker dan topi itu berhenti di hadapan mereka. Wanita itu sempat terdiam dan memindai keseluruh ‘keluarga’ Rubynist.


Gep !


Wanita itu tiba-tiba memeluk James dengan sangat erat. Hal itu tentu mengejutkan beberapa orang yang masih ada di sana, termasuk Davian. Tatapan matanya melebar. Ia dan beberapa orang di sana sempat tercengang untuk beberapa saat.


Kalian tahu istilah ‘Tonic Immobility’ ? Yap. Istilah itu adalah sebutan untuk kondisi lumpuh sementara saat menghadapi ancaman intens.


Seperti yang terjadi pada James. Ia terlihat tak memberikan perlawanan apapun. Namun, bukan berarti dirinya ‘menyambut’ pelukan wanita itu. Kala itu, tubuhnya seolah-olah mendadak beku. Hanya raut wajah takut dan bingung yang mampu Ia ekspresikan.


“Hei… Hei… Orang aneh ! Ngapain kamu. Lepasin Papa saya !” pekik Davian.


Namun, wanita itu masih terus mengencangkan pelukannya. Kini baju James digenggamnya sangat erat.


“Diem dulu” ucapan yang wanita itu dengar dari earbuds yang Ia kenakan.


Klik !


Klik !


Klik !


Suara rana kamera beberapa kali berbunyi. Artinya, kamera itu sukses menangkap kejadian yang mencurigakan itu. Pemotret itu sepertinya berjarak cukup jauh dari sana. Terbukti dari caranya beberapa kali memperbesar (zoom) kamera, namun potret James yang mendapat pelukan dari wanita misterius itu berhasil diabadikan.


Karena terlampau kesal, Davian berusaha melepas topi dan masker yang wanita itu pakai. Ia penasaran siapa sosok dibalik aksi gilanya itu. Tak membutuhkan waktu lama, rencana Davian sukses membuat semua mata yang ada di sana terbelalak.


“Alexxa ?”


“Alexxa artis itu ?”


“Itu kan si Alexxa…”


Bisikan-bisikan itu telah merubah keadaan di sana. Kini, justru Alexxa yang terlihat mematung menyaksikan tiap tatapan tajam yang mengarah padanya.


“Lari… B*go” suara dari penyuara telinganya lagi.


Alexxa mengerjapkan matanya dan langsung berlari secepat yang Ia bisa. Dirinya berlari meninggalkan tanda tanya besar di benak seluruh orang yang ada di sana.


Davian dan seluruh pihak Rubynist berusaha menenangkan James yang masih sangat terlihat syok.


“Cepet ! Anter papa saya ke mobil !”


Meski Ia berbicara dengan nada yang cucup tinggi, namun kedua matanya tampak berkaca-kaca. Jelas Davian sangat khawatir melihat kondisi James.


Di perjalanannya, James terlihat menahan tangisnya hingga dadanya terasa sesak. Entah kenapa, ulah Alexxa itu benar-benar menorehkan rasa sakit yang luar biasa baginya.


Tiba di rumahnya, Davian memapah James menuju kamarnya. James memang terlihat tak begitu kesulitan seperti tadi. Namun, pandangannya masih kosong. Tak tahu apa yang sebenarnya tengah Ia pikirkan.


“Gak perlu, Dav. Papa gak apa-apa, kok” lirih James


Bohong. Papa jelas-jelas lagi gak baik-baik aja, batin Davian


“Ya udah. Davi pamit, Pa”


Setelah itu, Davian berlalu meninggalkan James terbaring di tempat tidurnya. Dalam hati kecilnya, Ia bertekad untuk tak membiarkan James sendirian di rumah besar itu.


“Pokoknya, abis balik ngambil obat, gua harus ke sini lagi nemenin papa” gumamnya sesaat sebelum menyalakan mobilnya.


#


Karena kesibukan luar biasa setelah berakhirnya event, Rosie bahkan mengabaikan ponsel di kantong celananya yang terus berbunyi sejak tadi.


Di lain tempat, Risha nampak kesal setelah panggilannya kembali tak dijawab oleh Rosie. Risha yang ketika itu tengah berada di pusat perbelanjaan akhirnya kembali menilik kedua pakaian di tangan kanan dan kirinya.


“Ish. Kenapa pada bagus banget, sih. Udah lah, beli dua-duanya aja” sungutnya


Kedua baju rajut itu Ia masukkan ke dalam kantong plastik belanja yang tersedia. Setelahnya, Ia kembali berjalan-jalan mengitari barang fashion yang berada di sana.


Kini, Risha berhenti di depan jejeran jaket yang tergantung.


“Gua butuh ini, nih. Punya si Dita kayaknya bakal jelek kalo gua yang pake” gumamnya sambil memilah jaket untuk rencana wisatanya.


“Bagus…” sebuah jaket polar berwarna maroon kembali Ia masukkan pada tas plastik itu.


Tiba di kontrakannya, Risha segera memamerkan barang belanjaannya pada teman-teman di grup obrolan mereka.


“Kalian liat, kan ? Gua juga bisa gaya kayak kalian” gumamnya sambil sedikit menyeringai.


Barang belanjaan itu Ia biarkan begitu saja ketika dirinya sibuk dengan ponselnya.


“Aku pulang…” suara nyaring Rosie tak begitu merubah fokus Risha.


“Eum ? Udah balik” gumam Risha pelan sambil terus merebahkan tubuhnya.


“Wah… Kak Isha beli apaan ?” pandangan Rosie langsung tertuju pada barang-barang yang masih tergeletak di dekat Risha.


“Beli buat hiking nanti, dong” jawab Risha semangat


“Apa, nih ? Jaket ? Gak jadi pake punya kak Dita ?” tanya Rosie ketika melihat jaket yang label harganya belum dicopot itu.


“Ck. Enggak, ah. Punya Si Dita sekarang ngepas banget di badan kakak. Jelek kalo buat difoto” ungkapnya


“Ooh…” timpal Rosie singkat


“Kamu bawa apaan ?” kini Risha balik bertanya setelah menyadari Rosie membawa dua tas belanja berukuran cukup besar.


“Ooh… Ini ?” ucap Rosie seraya menunjukkan kedua tas itu, “yang ini aku bungkus makanan dari event tadi… Kalo yang ini merchandise dari klien-“


“Merchandise lagi ?” Risha tercengang


“Heem”


“Buset ! Gak rugi apa ? Coba liat, dapet apaan lagi…” Risha penasaran


Mereka kompak mengeluarkan isi tas belanja itu.


“Cuma dapet tester parfum sama botol minum doang ?” ceplos Risha


“Yaa… Iya, begitu. Hadiah ini…” timpal Rosie cuek. Ia terus memperhatikan botol minum anti karat yang baru saja Ia dapatkan. “Cantik, lucu” imbuhnya1


“Kirain apaan gitu yang bagusan…” gumam Risha


Entahlah. Rosie sepertinya kehabisan energi untuk terus menjawab ucapan Risha yang seolah tak ada habisnya. Ia hanya terdiam dan meraih sebungkus kue soes coklat.


Sebenarnya Ia tak begitu menginginkan kue itu, tindakannya itu hanya gerakan refleksnya saja ketika suasana hatinya tiba-tiba berubah.¹#