
Ibu
**K***ak* **Tiara** gawat... Ibu di pukul Bapak karena perginya kelamaan. Kasihan Ibu Kaaaak 😭😭
Tiara panik membaca pesan dari nomor Ibunya tapi sangat jelas pengirimnya adalah salah satu adik Tiara.
Tiada langsung menelpon ke nomor Ibunya tapi tidak di angkat.
Ibu
Kak jangan telepon, nanti ketahuan Bapak lebih parah. Lewat pesan saja.
Tiara
Ini siapa? Dewi atau Ali? Jadi gimana keadaan Ibu sekarang?
Ibu
Dewi Kak. Sekarang Ibu sedang menangis di kamar. Kami gak berani masuk ke kamar Ibu karena Bapak masih ada di sana.
Tiara
Bapak tadi bilang apa?
Ibu
Bapak tanya mengapa lama sekali pulangnya? Kalau cuma menghadiri pernikahan saudara kemarin selesai pesta kan bisa langsung pulang. Ibu jawab sama Bapak kalau kami di tahanin keluarga pulangnya sampai tadi siang baru bisa pulang.
Tiara
Apa sih maunya Bapak?
Ibu
Dewi dengar tadi Bapak minta uang sama Ibu buat minum malam ini. Tapi Ibu jawab gak ada.
Tiara
Kamu ada pegang duit gak Wi?
Ibu
Ada Kak, sisa uang yang Kakak kasih kemarin lima puluh ribu.
Tiara
Kamu kasih saja ke Bapak biar Bapak cepat pergi. Kasihan Ibu kalau di pukulin terus. Nanti kalau Ibu sudah tenang dan berhenti nangis kamu lihat keadaan Ibu. Kalau ada luka di tubuhnya segara obatin. Setelah itu suruh Ibu telepon Kakak ya.
Ibu
Baik Kak, Dewi beranikan diri ke kamar Ibu ya. Mau kasih Bapak uang yang Dewi punya.
Tiara
Hati - hati Wi. Kalau kamu di pukul Bapak menjerit saja dan suruh Ali meminta bantuan tetangga biar ribut sekalian. Bapak bisa dilaporkan ke polisi.
Ibu
Iya Kak. Doain kami ya kak.
Pesan berhenti karena Dewi sedang menjalankan perintah Tiara. Dengan jantung yang berdegup kencang Dewi memberanikan diri untuk masuk ke kamar Bapak dan Ibunya.
"Mana uang kamu? Jangan bilang sudah habis. Pulang kampung bisa, ada uangnya tapi kalau aku minta selalu bilang habis" bentak Tarjo.
Dewi masuk dengan takut - takut dan dengan tangan menggeletar dia mendorong pintu kamar Bapaknya hingga terbuka.
"Pa.. Paaak.. Ini ada uang Dewi yang selama ini Dewi tabung. Buat Bapak aja" Dewi menyerahkan uang lima puluh ribu yang dia punya kepada Bapaknya.
Langsung Tarjo meraih uang lima puluh ribu dari tangan Dewi.
"Ini baru namanya anakku. Mengerti kalau Bapaknya lagi butuh uang" Tarjo memasukkan uang lima puluh ribu ke dalam kantong celananya.
Tarjo membuka lemari pakaian dan mengambil pakaiannya setelah itu dia mengganti bajunya dan menyisir rambutnya serta berkaca. Setelah dia merasa sudah rapi Tarjo langsung pergi keluar kamar.
"Bu.... " panggil Dewi.
Mereka menangis bersama.
"Mana yang luka Bu, biar aku obatin" ucap Dewi.
Siti mengangkat wajahnya. Dewi melihat di sudut bibir Ibunya luka dan berdarah. Dewi segera keluar kamar dan mencari obat di lemari belakang. Setelah itu kembali ke kamar Ibunya.
Dengan lembut Dewi mengobati luka Ibunya.
"Mengapa kamu kasih uang kamu pada Bapak?" tanya Siti.
"Biar Bapak segera pergi Bu, biar Ibu gak di pukuli lagi sama Bapak" jawab Dewi.
Ali masuk juga ke kamar Siti. Kini mereka bertiga saling berpelukan.
"Bu, kita pergi saja yuk dari sini. Kita tinggalkan saja Bapak. Bapak jahat, gak pernah buat Ibu bahagia. Bapak taunya hanya meminta uang dan menyakiti Ibu" ucap Ali.
"Jangan ngomong seperti itu Al, bagaimanapun itu Bapak kamu. Dosa nak" jawab Siti.
"Tapi Bapak sudah kelewatan Bu. Dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah terus saja menyakiti Ibu. Ibu ka sudah tua sudah gak kuat lagi seperti dulu" sambung Ali.
Tiba - tiba pintu kamar Siti terbuka dan muncul Tarjo yang datang tiba- tiba. Sontak Siti, Dewi dan Ali terdiam.
"Ngapain kalian ngumpul bertiga di sini, kalian merencanakan sesuatu ya? Awas ya kalau kalian merencanakan sesuatu. Kalau kalian mau pergi dari sini lihat saja aku akan mencari kalian sampai ke ujung dunia. Jadi jangan pernah berfikir pergi dari rumah ini" ancam Tarjo.
Tarjo membuka kembali lemarinya dan mengambil jaketnya setelah itu dia pergi lagi keluar rumah.
Siti dan kedua anaknya baru bisa sedikit bernafas lega.
"Kamu dengar ucapan Bapak kamu itu?" ucap Siti.
Dewi dan Ali tertunduk kaku.
"Kita tidak bisa pergi semudah itu nak. Apa yang Bapak kalian katakan itu bukan ancaman belaka. Dia akan melakukan apa yang dia ucapkan. Kita mau lari kemana hem?" tanya Tiara.
"Kemarin aku sempat mendengar Mas Bintang dan Mbak Tiara memberikan Ibu tawaran untuk mengelola Cafe di Bandung. Gimana kalau Ibu terima saja tawaran mereka dan kita pindah ke sana Bu. Mereka pasti mau membantu kita" ucap Dewi.
"Iya Bu, Mas Bintang tidak akan membiarkan kita di sakiti Bapak" sambut Ali.
"Ibu tidak mau mengganggu hidup mereka. Mereka baru saja menikah, jangan kita bebani dengan masalah kita. Ingat Mbakmu itu sudah menderita selama lima tahun dan kini dia baru mendapatkan kebahagiaannya. Ibu tidak mau menjadi bebannya" jawab Siti.
"Tapi Mbak Tiara tidak akan merasa terbebani Bu. Aku sangat yakin itu. Mbak Tiara sangat menyayangi kita" ucap Dewi meyakinkan.
Ali menggenggam tangan Ibunya.
"Bu, sabar ya. Nanti kalau aku lebih besar sedikit lagi aku akan melindungi Ibu untuk melawan Bapak. Maaf Bu, saat ini tubuhku masih kalah sama Bapak. Sebenarnya aku tidak tega mendengar suara tangisan dan suara pukulan Bapak kepada Ibu. Ingin sekali rasanya membalas pukulan Bapak itu" ungkap Ali.
Siti mengelus lembut puncak kepala anaknya.
"Makasih nduk kamu sudah mau melindungi Ibu tapi itu jangan kamu lakukan ya nduuk. Kamu tidak boleh memukul Bapak kamu. Dosa nak, kamu bisa durhaka" jawab Siti.
"Durhaka bagaimana Bu? Allah tau siapa yang salah dan yang benar. Kalau Bapak sampai membunuh Ibu apa kamu harus diam saja?" tanya Dewi kesal.
"Sudahlah.. yang penting kan sekarang Ibu tidak apa - apa. Jangan mengatakan yang tidak - tidak. Perkataan itu adalah doa jadi ucapkanlah kata - kata yang baik biar Bapak kalian mau berubah dan bertaubat" ujar Siti.
Dewi menarik nafasnya panjang.
"Bu tadi saat Ibu di pukul Bapak aku kirim pesan kepada Kak Tiara. Dia yang menyuruhku untuk memberikan uangku kepada Bapak. Dan Kak Tiara berpesan kalau Bapak sudah pergi, Ibu segera hubungi Kak Tiara" ungkap Dewi.
"Kenapa kamu mengadu pada Kakak kamu Dewi?" tanya Siti.
"Aku takut dan bingung Bu, aku gak tau bagaimana harus menolong Ibu. Jadi aku hubungi Kak Tiara" jawab Dewi.
"Ya sudah nanti Ibu hubungi Kakak kamu ya" jawab Siti.
.
.
BERSAMBUNG