Tiara

Tiara
Penjaga Dewi


"Ayo kita makan" ajak Wijaya kepada Dewi dan Ali.


Mereka berempat kini sudah duduk di meja makan rumah Wijaya. Mereka mulai makan siang bersama.


"Ali dan Dewi besok kalian diantar supir ke sekolah dan ke kampus. Tapi supir menunggu di kampus Dewi ya, karena Dewi perempuan. Kalau kamu sudah pulang sekolah kamu telepon aja Pak supir untuk menjemput kamu" perintah Wijaya.


"Baik Pak" jawab Ali dan Dewi.


"Mas.. aku juga harus ke Cafe. Sudah beberapa hari aku tidak kesana" ucap Siti.


"Ya sudah kamu aku antar saja" jawab Wijaya.


"Gak usah Mas. Aku gak mau merepotkan" tolak Siti.


"Aku gak repot kok. Lagian besok aku memang ingin ke kota untuk mengurus sesuatu" balas Wijaya.


Siti tetap merasa sungkan.


"Maaas aku merasa gak enak. Gimana pandangan orang nanti" elak Siti.


"Ngapain di pikirin omongan orang" sambut Wijaya.


"Gimana kalau Mas Tarjo lihat?" tanya Siti.


"Kamu takut dia melihatnya? Kamu masih memikirkannya?" tanya Wijaya


Dewi dan Ali saling pandang. Wijaya tersadar, bagaimanapun Tarjo adalah Bapak Dewi dan Ali.


"Aku hanya tidak ingin dia berfikiran bahwa aku meninggalkannya karena berselingkuh Mas" jawab Siti.


Wijaya menarik nafas panjang.


"Aku tetap akan mengantarkan kamu tapi aku tidak turun dan saat kamu pulang, kabari aku biar ku jemput" tegas Wijaya.


Siti menarik nafas panjang, dia sudah hapal sifat Wijaya. Sekali Wijaya bilang A tidak akan bisa berubah menjadi B.


"Baiklah Mas, tapi cuma mengantar saja kan?" tanya Siti meyakinkan.


"Iya aku akan mengantar kamu sampai depan Cafe saja" jawab Wijaya.


Setelah selesai makan Dewi dan Ali membantu membereskan meja makan.


"Sudah.. sudah.. biar Bibik saja yang membersihkan ini semua. Kalian ke kamar saja dan belajar. Kamu juga istirahat Siti. Aku mau pergi keluar sebentar" perintah Wijaya.


"Iya Mas" jawab Siti singkat.


Wijaya meninggalkan Siti dengan kedua anaknya di rumah. Dia pergi bersama asisten pribadinya keluar rumah.


*****


Keesokan harinya sesuai perintah Wijaya, Dewi dan Ali diantar supir pergi ke sekolah dan ke kampus. Setelah mengantar Ali ke sekolah, supir kemudian mengantarkan Dewi ke kampusnya.


"Wi... " panggil seseorang.


"Mas Bagas?" Ngapain di sini?" tanya Dewi terkejut.


"Mas ada kerjaan di Bandung. Ketepatan tadi lewat sini terus lihat kamu. Makanya Mas berhenti" jawab Bagas.


Aku tidak bisa tenang Wi memikirkan kamu dalam bahaya. Bagaimanapun kamu kan masa depan aku dua tahun lagi. Kalau kamu kenapa - kenapa hancur masa depanku Wi. Batin Bagas.


"Terus kenapa Mas Bagas gak lanjut jalan?" tanya Dewi bingung.


"Kamu mau kuliah?" tanya Bagas lagi.


Dewi menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah Wi, kamu masuk aja dulu biar Mas lanjut ketemu Client Mas. Lagian tempatnya gak jauh kok dari sini" jawab Bagas.


"Ya sudah Mas kalau begitu aku kuliah dulu ya" balas Dewi dan dia bergegas hendak meninggalkan Bagas.


"Eh Wi.. Wi.. siang temani aku makan yuk.. Aku pengen tanya - tanya kamu lagi tentang anak remaja. Buat persiapan ngadepin calon aku dua tahun lagi" bujuk Bagas.


"Mmm.. gimana ya Mas? Aku sudah di tungguin sama supirnya Bapak?" tanya Dewi bingung.


"Mas akan hubungi Ibu kamu dan minta izin ngajak kamu makan siang. Biar supir kamu pulang aja, nanti Mas aja yang antar kamu ke rumahnya Pak Wijaya. Kalian tinggal di rumah Pak Wijaya kan?" tanya Bagas.


"Iya Mas, kok tau?" tanya Dewi bingung.


"Eh iya aku lupa" Dewi memukul kepalanya.


Jangan keras - keras Wi mukul kepalanya. Nanti kamu bisa amnesia terus gak ingat siapa aku. Kan gawat Wiiiiii... Batin Bagas.


"Ya sudah, sebentar ya Mas aku bilang Pak Supir dulu untuk jagain Ali aja di sekolah. Aku nanti kan di jemput Mas" ujar Dewi.


"Oke, Mas lanjut kerja ya" sambut Bagas.


Bagas pura - pura masuk ke mobil, sebenarnya itu semua cuma alasannya saja. Dia memang sengaja ke Bandung untuk menjaga Dewi. Setidaknya untuk sementara rencana dia seminggu tinggal di Bandung melihat perkembangan keadaan Dewi dan keluarganya.


Kalau mengkhawatirkan dia akan menambah waktu lagi untuk tinggal di Bandung. Bagas sudah meminta izin Bintang. Dengan alasan keamanan Dewi akhirnya dengan berat hati Bintang memberikannya izin. Setidaknya Dewi aman karena dijaga Bagas.


Bagas menunggu Dewi di dalam mobilnya, sedangkan supir Pak Wijaya sudah berangkat kembali menuju sekolah Ali. Dewi sudah izin pada Ibunya kalau siang nanti dia akan pergi menemani Bagas dan nanti pulangnya akan di antar Bagas.


Pukul satu siang Dewi sudah selesai kuliah, dia melihat mobil Bagas sudah parkir di tempat dia bertemu Bagas tadi pagi.


Kok tempatnya gak berubah ya. Apa Mas Bagas gak jadi pergi? tanya Dewi dalam hati.


"Sudah lama menunggu Mas?" tanya Dewi.


"Lumayan" jawab Bagas.


"Kok Mas gak kabari aku?" tanya Dewi heran.


"Aku gak punya nomor kamu. Mau tanya Bintang katanya tanya aja sendiri sama Dewi" jawab Bagas kesal.


"Hahaha... Mas Bintang bisa aja ngerjain Mas" balas Dewi.


"Nih HP aku, kamu tolong simpan kan nomor kamu di sini" Bagas menyerahkan ponselnya kepada Dewi.


Bagas mulai menyalakan mobil dan berjalan keluar dari area kampus. Mereka sempat berkeliling sebentar mencari tempat makan. Akhirnya Bagas memutuskan untuk singgah di sebuah Restoran besar di Kota Bandung.


"Kalau makan sama pengusaha gini nih tempatnya" sindir Dewi.


"Kenapa, kamu gak suka?" tanya Bagas.


"Bukan gak suka Mas, tapi tempatnya gak gaul banget" balas Dewi.


"Emangnya aku anak ABG Dew?" ujar Bagas.


"Katanya mau belajar untuk ngadepin calon istrinya dua tahun lagi yang masih ABG" sindir Dewi.


"Iya ya aku lupa. Jadi kita kemana nih?" tanya Bagas bingung.


"Mas mau makan apa?" tanya Dewi.


"Apa aja terserah" jawab Bagas.


Makan kamu juga boleh. Hahaha.. setanku jadi muncul Wi. Bisa mati aku di penggal Bintang kalau itu sampai terjadi. Rusak masa depanku. Batin Bagas.


"Mmm... kalau gitu kita ke Cafe Sydwig aja yuk" ajak Dewi.


"Dimana tuh?" tanya Bagas tidak tau.


"Di Jl. Riau" balas Dewi.


"Oke Nona kita rubah arah. Sekarang kita ke Cafe yang kamu sebutkan tadi" sambut Bagas.


Bagas merubah arah mobilnya, mereka balik arah menuju Cafe Sydwig yang disebutkan Dewi tadi. Sesampainya di sana Bagas melihat tampilan Cafe tersebut.



Mmm.. simple, unik tapi nyaman. Itu kesan pertama yang Bagas rasakan.


Mereka masuk ke dalam Cafe dan mencari tempat yang strategis di dalam Cafe tersebut. Tak lama pelayan Cafe datang dan menanyakan pesanan mereka.


Dewi dan Bagas memesan makanan yang menggugah selera mereka. Setelah pelayan Cafe pergi barulah mereka mengobrol sembari menunggu makanan mereka datang.


"Wi... ini seandainya ya.. Seandainya Bu Siti bercerai dengan Bapak kamu dan kembali bersama Pak Wijaya, Bapaknya Tiara kamu setuju gak?"....


.


.


BERSAMBUNG