
Keesokan harinya seperti rencana mereka tadi malam pagi - pagi Bagas sudah sampai di rumah Bintang yang di Bandung.
Ting.. tong...
Bunyi bel rumah Bintang yang di tempati oleh keluarga istrinya.
"Siapa yang datang?" tanya Siti.
"Aku rasa Mas Bagas tuh Mas, kan kira mau pergi pagi ini" tebak Tiara.
"Ya sudah Kak, biar aku lihat ke depan" ucap Dewi.
Dewi segera bergegas ke depan dan melihat siapa yang datang pagi - pagi sekali ke rumah mereka. Ternyata benar, Bagas yang datang. Dewi langsung membukakan pintu untuk Bagas.
"Mas Bagas... cepat banget datangnya?" tanya Dewi terkejut.
"Udah gak sabar pengen ketemu kamu" jawab Bagas pelan.
"Apa?" tanya Dewi karena kurang jelas mendengar jawaban Bagas.
"Gak sabar pengen ketemu teman aku yang di Dusun Bambu" ucap Bagas.
"Oooo... " sambut Dewi.
"Yang lain mana?" tanya Bagas sambil melirik ke dalam rumah.
"Lagi sarapan Mas, yuk gabung sama mereka" ajak Dewi.
Dewi berjalan kembali ke arah dapur dan di ikuti oleh Bagas di belakangnya.
"Siapa Wi yang datang?" tanya Suci.
"Mas Bagas Bu" semua melihat Bagas sudah ada di belakang Dewi.
"Eh Nak Bagas, yuk sarapan bareng kamu di sini" ajak Siti ramah kepada Bagas.
Bagas tersenyum dan duduk di kursi samping Bintang yang ketepatan kosong. Tiba - tiba Dewi juga duduk disamping Bagas.
Aaaah... ternyata kursi panas. Di kiri aku malaikat, di kanan setan. Ucap Bagas dalam hati.
"Ehm.. jaga pandangan kamu" bisik Bintang kepada Bagas.
"Ayo Nak Bagas, ambil makanannya" perintah Siti.
"Iya Bu" jawab Bagas.
"Wi ambilkan piring sama gelas buat Nak Bagas" perintah Siti pada Dewi.
"Iya Bu" jawab Dewi sigap.
Dewi bangkit kembali dan menyiapkan alat makan untuk Bagas kemudian meletakkannya tepat di depan Bagas.
Aaaah gini rasanya kalau makan diladeni istri kali ya. Batin Bagas sambil tersenyum.
Kaki Bagas di bawah meja sudah di injaka langsung oleh Bintang. Bagas mendekati Bintang dan berbisik.
"Kemarin kaki kiri aku udah bengkak karena kamu injak terus tadi malam Bin, sekarang kaki kanan aku yang kamu injak. Kamu gak kasihan apa, kalau nanti sepatuku gak muat lagi aku pakai" ucapnya dengan suara pelan.
"Ehm.. rasain" balas Bintang.
Bagas mulai mengisi piringnya dengan makanan. Dan mulai ikut sarapan dengan yang lain.
"Siapa yang masak sarapan pagi ini Bu?" tanya Bagas kepada Siti.
"Ketepatan pagi ini Dewi yang masak Gas, gimana apakah enak?" tanya Siti.
"Enak banget Bu, udah pinter masak nih Dewi, udah bisa nikah ini" jawab Bagas refleks.
"Uhuk.." Bintang terbatuk - batuk.
Tiara menepuk punggung Bintang dari belakang. Bintang langsung menginjak kaki Bagas lagi di bawah meja.
Aduhh.. mulutku kok gak bisa di rem ya. Batin Bagas.
"Sorry bro keceplosan sangkin enaknya nasi goreng ini" bisik Bagas pada Bintang.
Bintang menatap Bagas dengan tatapan membunuh.
"Dewi pasti udah banyak belajar ya Bu di Cafe?" tanya Bagas.
"Iya kadang dia suka belajar masakan modern yang Ibu gak bisa. Tapi lebih banyak dia belajar sama Ibu di rumah. Sama seperti Tiara waktu masih kuliah dulu" jawab Siti.
"Ibu memang pinter banget ya didik anak perempuannya jadi pinter masak semuanya" puji Bagas.
"Jadi perempuan memang harus gitu Gas, kan nanti dia akan menjadi seorang istri dan seorang Ibu jadi harus pinter masak biar bisa ngurus suami dan anak - anaknya nanti" sambut Siti.
Semoga aku ya yang jadi suami kamu... Pasti aku senang banget.. ucap Bagas dalam hati.
Setelah selesai sarapan Bagas dan Bintang duduk di teras depan sambil menunggu para wanita bersiap - siap.
"Bin aku semakin yakin dengan keputusanku untuk melamar Dewi. Dipercepat aja napa Bin jangan nunggu waktu dua tahun lagi" bujuk Bagas.
"Enak saja kamu. Kamu gak lihat apa Dewi itu masih kecil" tolak Bintang.
"Dia udah besar Bin, pinter masak juga. Udah bisa ngurusin rumah tangga" ucap Bagas.
"Kalau mau cari perempuan untuk ngurusin rumah kamu cari aja pembantu rumah tangga" sindir Bintang.
"Bukan begitu maksud aku Bin. Maksud aku Dewi itu sudah dewasa, buktinya dia bela - belain gak malam mingguan dan pacaran seperti anak remaja seusia dia di luar sana dan dua malah memilih bantuin Ibu jagain Cafe. Dia juga mau belajar dan bantuin Ibu masak. Itu kan artinya dia sudah berfikiran dewasa dan gak ngikutin jiwa mudanya. Umurnya baru delapan belas harusnya itu masa puber anak remaja yang mikirnya hanya senang - senang Bin" ungkap Bagas.
"Itu kamu kali, kalau aku seusia Dewi juga udah mikirin masa depan, kuliah sambil bekerja dan membangun usahaku sejak remaja" balas Bintang.
"Yah kamu kan lain lagi ceritanya" elak Bagas.
"Cukup ya kelakukan kamu hari ini, besok - besok aku gak mau ada kejadian seperti ini lagi. Kalau tidak aku akan mengirim Dewi kuliah ke luar kota dan gak akan kasih tau kamu dimana keberadaannya" ancam Bintang.
"Ih kejam amat jadi calon Kakak ipar. Kayak aku ini orang lain saja, aku kan sahabat kamu Bin. Masak gak ada nilai istimewanya" protes Bagas.
"Justru karena kamu sahabat aku makanya aku masih larang kamu secara halus. Kalau orang lain udah habis aku babat sejak awal. Enak aja cowok tua playboy, suka mempermainkan hati wanita mencoba mendekati adikku. Walau Dewi adalah adik istriku tapi aku sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri" tegas Bintang.
"Iya deeeeh... aku ikut aja apa yang kamu bilang" jawab Bagas akhirnya. Lebih baik dia mengalah dari pada Bintang melarangnya untuk bertemu Dewi lagi bahkan menjauhkan Dewi dari matanya.
"Yuk Mas" Tiar keluar dari dalam rumah diikuti Siti, Dewi, Ali dan Tegar.
"Kita dua mobil aja Bin, Ibu, Dewi dan Ali biar bareng aku aja" ucap Bagas.
"Tegar mau bareng Om Ali" pinta Tegar.
"Ya sudah kalau begitu biar Ibu yang di mobil kalian. Tegar, Ali dan Dewi di mobil Bagas aja. Gimana?" ucap Siti.
"Ya udah Bu, yuk Maaas" Tiara menarik lengan suaminya dan melangkah menuju mobil.
"Kamu duduk di depan aja Wi, biar Ali dan Tegar di belakang. Mereka kan mau sambil main. Ya kan Gar?" tanya Bagas.
"Iya Om Bagas, aku masih mau main sama Om Ali" jawab Tegar.
"Ya udah kalau begitu" sambut Dewi.
Dewi duduk di kursi depan samping kursi Bagas, sedangkan Ali dan Tegar duduk di kursi penumpang. Hati Bagas sangat senang sekali berada dalam situasi seperti saat Ini.
Mimpi apa aku tadi malam ya, kok rasanya hari ini bahagia banget. Batin Bagas.
Mobil melaju menuju tempat wisata Dusun Bambu. Desa wisata ini beralamat di Jalan Kolonel Masturi, Situ Lembang, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Mobil mereka berjalan beriringan menuju Lembang. Di sana pemandangannya sangat indah, udara yang masih asri dan sejuk menambah kenyamanan pengunjung untuk berada di sana.
Sepanjang perjalanan Bagas tak henti - hentinya melirik Dewi yang duduk di sampingnya.
"Mas Bagas kapan bikahnya?" tanya Dewi tiba - tiba.
"Haaa... kamu kok tanya begitu?" Bagas balik bertanya.
Kalau nanti aku bilang nungguin kamu dua tahun lagi bisa bahaya Dew. Batin Bagas.
"Ya teman Mas kan udah pada nikah semua. Mas Bintang, Mas Roy dan Mbak Dian. Tinggal Mas Bagas yang belum nikah?" ucap Dewi.
"Ooo.. masih lama Dew, dua tahun lagi" jawab Bagas.
"Kok lama banget? Udah ketuaan gak umurnya?" tanya Dewi bingung dengan jawaban Bagas.
"Ya habis calon Mas belum siap. Dia masih kuliah jadi keluarganya belum kasih izin. Nanti setelah dua tahun lagi baru di bolehin" ungkap Bagas.
"Oh calonnya Mas Bagas masih kuliah toh, lumayan jauh ya beda umurnya" balas Dewi.
Jauh banget malah Wi. Seandainya kamu tau wanita itu adalah kamu. Oceh Bagas dalam hati.
"Yah demi Wi, demi kau dan si buah hati. Aku harus begini.... " ucap Bagas sambil bernyanyi.
"Hahaha.. pinter nyanyi juga rupanya Mas" Dewi tertawa lucu.
Apa dia gak ngerti ya kalau tadi aku bilang demi kau dan si buat hati? Tanya Bagas dalam hati.
.
.
BERSAMBUNG