
Hari ini Tiara akan pulang ke Jakarta bersama suami, anak dan kedua mertuanya. Pagi - pagi setelah sarapan pagi mereka sudah berpamitan dengan Siti dan kedua adik Tiara.
"Bu, kami pulang ya. Maaf sudah membuat ibu khawatir" ucap Tiara.
"Seorang Ibu akan selalu khawatir terhadap anaknya, walaupun anaknya sudah besar bahkan sudah memiliki anak juga. Karena hati dan fikiran seorang Ibu akan selalu mengingat anak - anaknya" jawab Siti bijak.
"Iya Bu. Ibu baik - baik di sini ya" Tiara memeluk Siti dengan erat.
"Kamu juga hati - hati di sana. Jangan lakukan lagi tindakan bodoh seperti kemarin. Itu sangar berbahaya untuk kamu dan anak - anak kamu" ujar Siti menasehati.
"Iya, aku akan mempercayai suamiku dan akan belajar untuk menyelesaikan masalah dengan kepala dingin" balas Tiara.
Setelah itu Bintang berpamitan dengan mertuanya.
"Pulang ya bu, terimakasih atas semuanya dan maaf sudah merepotkan Ibu" ucap Bintang.
"Kamu juga sama dengan Tiara. Selesaikan masalah dalam rumah tangga secara terbuka. Dan yang kemarin anggaplah karena Tiara sedang hamil jadi fikirannya lebih sering melow. Sehingga membuat dia jadi bodoh dalam bertindak" nasehat Siti.
"Iya bu" Jawab Bintang singkat.
"Siti kami pulang ya, minggu depan menginap di rumahku saja biar kita puas ngobrol. Baru kita sama - sama ke pengadilan untuk melihat persidangan suami kamu" ucap Bu Bambang.
"InsyaAllah Sekar" jawab Siti kepada sahabatnya itu.
"Kami pulang ya Sit, terimakasih atas jamuannya selama kami di sini" ucap Pak Bambang ramah.
"Sama - sama Mas, jangan kapok ya datang ke sini lagi" balas Siti.
"Daaah eyang sampai ketemu lagi minggu depaan" sapa Tegar.
Mereka masuk ke dalam mobil dan berangkat meninggalkan Siti sendiri di rumah karena Ali sudah berangkat ke sekolah sedangkan Dewi kuliah.
Sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta mereka terlebih dahulu singgah ke rumah Wijaya. Karena hari masih pagi, masih banyak waktu untuk jalan - jalan sebelum kembali ke Jakarta.
Mobil melaju menuju lembang dan masuk ke lokasi kebun teh. Udaranya terasa sangat sejuk dan dingin.
"Apakah semua perkebunan ini milik Wijaya?" tanya Pak Bambang.
"Gak tau Pa, aku gak pernah bertanya pada Bapak. Karena saat itu aku juga belum tau kalau dia adalah Bapakku" jawab Tiara.
"Kalau semua perkebunan ini milik dia berarti dia sudah jadi orang hebat ya kan Pa, sudah sukses Mas Jaya" sambut Bu Bambang.
"Sepertinya nyaman ya tinggal di sini" komentar Bintang.
"Iya Den, udaranya sejuk" sambut Mang Kardi.
"Asik nih yank kalau liburan kita main ke rumah Bapak kamu. Kamu kan sudah lama tidak merasakan punya Bapak. Kini saatnya kamu memperbaiki hubungan kamu dengan Bapak. Lagian kasihan Bapak hidup sendiri kan?" tanya Bintang..
"Seingatku aku, dulu Wijaya memang naskri berat sama Ibu kamu. Dia sering ngajakin Bapak beli bubur ayam ke kampung Ibu kamu. Dulu Mama dan Ibu kamu adalah kembang Desa. Jadi rebutan para lelaki. Beruntung Bapak bisa mendapatkan Mama kamu walau perjuangan cinta kami harus kawin lari. Dan menjauh dari kampung" ucap Pak Bambang.
"Setelah menikah Kita juga sibuk membangun usaha kan Mas jadi gak pernah pulang ke kampung. Aku juga putus hubungan dengan Siti makanya gak tau bagaimana kehidupannya. Dengan siapa dia menikah hingga akhirnya bertemu sekarang ini, rupanya kita berbesan dengan Siti dan Mas Jaya" sambut Bu Bambang.
"Begitulah kehidupan sayang, kita hanya bisa berencana Allah yang memutuskan. Tapi jangan lupa berusaha dan berdoa karena itu bisa merubah nasib" sambung Pak Bambang.
"Benar Mas, siapa coba yang bisa menduga ternyata anak kita menikah dengan anak Siti dan Mas Jaya. Hubungan yang selama ini terputus bisa disambung kembali karena sebuah pernikahan" ujar Bu Bambang.
"Ngomong - ngomong pernikahan. Kenapa Siti dan Jaya gak rujuk kembali. Kalau di fikir - fikirkan kan secara hukum negara mereka masih sah secara hukum kan?" tanya Pak Bambang.
"Soal itu aku gak tau Pa. Yang aku tau dulu Bapak hanya meninggalkan kami bertahun - tahun tapi tidak menceraikan Ibu" jawab Tiara.
"Tapi kan Siti sudah menikah dengan Tarjo Pa" potong Bu Bambang.
"Laki - laki bangsa* seperti itu mending dibuang aja kelaut. Udah cocok itu dia dipenjara kalau perlu di hukum seberat - beratnya biar dia tidak keluar lagi dan mati dipenjara" ucap Pak Bambang kesal.
"Hus.. Papa ini, gak baik ngomong seperti itu. Biar saja hakim yang memutuskan Pa" potong Bu Bambang.
"Benar Ma apa yang Papa bilang. Mending Bu Siti pisah saja sama Tarjo. Apa coba yang di harapkan dari dia. Selama menikah Bu Siti gak pernah bahagia. Lagian aku lihat sepertinya Pak Wijaya masih mencintai Bu Siti. Buktinya sekarang dia hidup sendiri. Dan kemarin waktu di rumah Ibu aku sering melihat Pak Wijaya melirik ke arah Ibu, Ra" ucap Bintang.
"Biarlah Ibu yang memutuskannya Mas. Itu kan hidup Ibu, kita gak bisa mengaturnya. Kalau aku terserah Ibu asalkan Ibu bahagia. Walau aku tau selama Ibu menikah dengan Pak Tarjo Ibu memang tidak bahagia selalu saja dipukul, dibentak dimintai uangnya untuk mabuk - mabuukan tapi Ibu bisa bertahan selama ini menikah dengannya. Kalau rumah tangga Ibu dengan Bapak dulu aku tidak tau karena aku masih sangat kecil hanya saja yang aku tau Ibu kecewa sama Bapak karena Bapak sudah meninggalkan kami tanpa kabar berita. Bertahun-tahun Ibu menunggu Bapak pulang sampai akhirnya Ibu menikah dengan Bapak Tiriku" Ungkap Tiara.
"Mama tidak menyangka sepahit itu hidupnya Siti. Dulu dia itu teman yang ceria lho dan mandiri. Dia sangat kuat hidup sendiri tanpa orang tua dan sanak saudara. Harusnya dia bahagia karena sudah menjalani kesulitan sampai diusia begini" Bu Bambang terlihat sedih mengingat nasih sahabatnya.
"Semoga dihari tua Siti dia masih bisa mendapatkan kebahagiaan hidup" doa Pak Bambang.
"Aamiin... " Sambut Bu Bambang, Bintang dan Tiara.
Tak lama mereka sampai di rumah Wijaya. Wijaya yang sudah dikabari dari tadi atas kedatangan mereka, sudah menunggu dan mempersiapkan sambutannya menerima Tiara dan keluarganya datang ke rumahnya.
"Masuk nak... ini rumah kamu juga sekarang. Semua yang Bapak punya sekarang sudah menjadi milik kamu" ucap Wijaya.
Tiara menatap wajah Bapak kandungnya dan memeluknya.
"Paaak.. aku merindukan Bapak. Dulu aku sangat iri melihat Dewi dan Ali bermanja - manja dengan Bapak mereka sementara aku sejak kecil tidak pernah merasakan hangatnya kasih sayang seorang Bapak" ucap Tiara sambil meneteskan air matanya.
"Maafkan Bapak nak... Bapak yang salah meninggalkan kalian dulu. Harusnya Bapak bawa saja kalian merantau bersama Bapak" sambut Wijaya.
Mereka saling berpelukan erat menyalurkan perasaan mereka selama ini. Perasaan yang sudah terpendam bertahun - tahun lamanya.
.
.
BERSAMBUNG