Tiara

Tiara
Aku berubah karena kamu


"Bukan. Dia calon istriku" jawab Bagas lantang.


"Hahaha... " Michelle langsung tertawa mendengar jawaban Bagas. Dia sungguh tak percaya dengan apa yang Bagas katakan.


"Kamu gak salah ngomong Gas. Anak ini calon istri kamu? Dia masih anak - anak Gas, dari gayanya aku tau dia masih anak sekolahan" ujar Michelle.


"Dia sudah tamat SMU dan masih kuliah. Tapi tidak ada larangan untukku melamarnya" ungkap Bagas.


"Ayolah Bagas bercandanya jangan seperti itu. Aku tidak akan percaya dengan perkataan kamu" jawab Michelle masih tak percaya.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak yang jelas sebentar lagi aku akan menikahinya" tegas Bagas.


"Aku sangat tau selera kamu Gas. Mana mungkin kamu akan melirik gadis mungil ini. Kamu kan suka yang ukuran big" Michelle seperti merendahkan penampilan Dewi saat dia meliriknya.


Dewi semakin tidak percaya diri dengan tatapan Michelle yang seperti menelanjang*nya.


"Aku menikah karena cinta Chel, dan cinta tak mengenal usia dan faktor lain yang kamu sebutkan tadi. Cinta itu urusan hati dan hatiku mengatakan kalau dialah yang ingin aku miliki" ungkap Bagas.


"Kamu sudah gila Gas" ejek Michelle.


"Terserah kamu menyebutku apa yang jelas aku tidak butuh wanita lain seperti kamu dan sejenis kamu. Aku butuh dia untuk menemani hari - hariku di masa yang akan datang. Oh iya Chel, aku jadi bingung apa tujuan kamu datang ke Restoran ini? Mau makan atau merusak kencanku. Perlu kamu tau, kehadiran kamu di sini sungguh tidak aku harapkan. Dan aku sangat berharap kamu bisa menghormati calon istriku. Karena kamu dibanding dia tidak ada apa - apanya di dalam hatiku. Apakah aku perlu memanggil security untuk mengusir kamu dari sini?" ancam Bagas.


"Cih.. aku rasa kamu sedang mabuk atau lupa ingatan Gas. Aku harap kamu tidak menyesal saat kamu tersadar nanti" ujar Michelle.


"Hahaha.. kamu yang harusnya sadar Chel, tak selamanya tampilan luar yang terlihat indah, indah juga di dalamnya. Kamu dan gadisku sangat jauh berbeda Chel" tatapan Bagas terlihat sangat merendahkan Michelle.


Membuat Michelle geram tapi dia tidak bisa membalasnya karena takut di usir sama security Restoran ini. Akhirnya Michelle pergi meninggalkan Bagas dan Dewi.


Bagas menatap ke arah Dewi yang masih diam dan tertunduk.


"Kamu kok diam aja? Gak mau bela diri kamu atau belain aku?" tanya Bagas.


"A.. aku.. aku.. takut Mas" jawab Dewi.


"Hahaha... siapa yang dulu yang katanya berani. Ngomongin Tiara aja pinter gak taunya dia juga cuma bisa diam aja sama para mantanku" ujar Bagas.


"Aku kan belum jadi siapa - siapanya Mas Bagas. Kalau Kak Ara kan udah jadi istrinya Mas Bintang jadi harus memperjuangkan apa yang di punya" balas Dewi.


"Makanya kita secepatnya menikah Dewi sayaaaang biar kamu jadi siapa - siapanya aku. Jadi istri aku dan wanita yang selalu ada di dalam hati aku. Jadi kamu bisa membela dan memperjuangkanku" ungkap Bagas.


Dewi tertunduk malu.


"Maaas... " panggil Dewi.


Tak lama pelayanan datang membawa makanan yang telah mereka pesan.


"Silahkan Pak, Mbak" ujar seorang pelayanan.


Kembali wajah Bagas terlihat tak senang.


"Kenapa Mas?" tanya Dewi.


"Apa wajahku setua itu?" tanya Bagas.


"Maksud Mas?" tanya Dewi bingung.


"Kalau sama aku dia panggil aku dengan sebutan Bapak tapi giliran kamu mbak. Emangnya aku Bapak kamu" jawab Bagas kesal.


"Hahaha... " akhirnya Dewi bisa tertawa karena hiburan Bagas.


"Nah gitu donk ketawa jangan diam aja nunduk. Emangnya uang kamu jatuh di bawah, sampai wajah kamu nunduuuuk aja liatin ke bawah" komentar Bagas.


"Terimakasih ya Mas" ungkap Dewi.


"Atas?" tanya Bagas.


"Atas semuanya" Dewi sangat senang karena Bagas sudah membelanya di depan orang - orang dengan mengatakan kalau dia adalah calon istrinya Bagas.


"Yuk kita makan" ajak Bagas.


Bagas dan Dewi makan dengan lahap, kini sudah tidak ada lagi gangguan dari siapapun lagi. Beginilah resiko punya calon suami mantan playboy. Dimana - mana ketemu mantan.


Sepertinya Dewi memang harus mempersiapkan dirinya. Dewi yakin kejadian ini tidak akan dia alami satu atau dua kali. Kedepannya dia pasti akan mengalami hal yang sama.


Setelah selesai makan Dewi dan Bagas bersiap - siap hendak pulang.


"Astaghfirullah Mas.. " ucap Dewi.


"Ada apa Wi?" tanya Bagas.


"Lupa belum shalat Dzuhur" jawab Dewi.


"Yuk Maaas" ajak Dewi kemudian Dewi berjalan dan bertanya kepada pelayan dimana letak mushola. Pelayanan menunjukkan dimana arahnya.


Inilah yang membuat Bagas semakin yakin untuk memilih Dewi sebagai pendamping hidupnya di masa depan. Dewi bisa membuatnya untuk menjadi sosok pria yang lebih baik lagi.


Seperti Bintang yang berubah karena Tiara. Begitu juga dia, sejak mengenal Dewi dan berniat serius kepada Dewi Bagas tidak pernah lagi dekat dengan wanita manapun dan mulai berubah.


Bagas mengikuti Dewi dari belakang berjalan menuju Mushola. Kini Bagas mau tak mau harus ikut Sholat. Tapi bukan karena keterpaksaan. Sekarang malah Bagas merasa senang Dewi bisa membuatnya lebih dekat dengan Tuhan.


Bagas dan Dewi masuk ke kamar mandi masing-masing untuk berwudhu. Dewi di tempat wanita sedangkan Bagas sebaliknya. Mereka melaksanakan shalat dzuhur walau sedikit telat tapi tak mengapa dari pada tidak sama sekali.


Bagas merasakan ketenangan hati setelah dia melaksanakan shalat. Setelah Shalat Bagas meminta agar Allah memperlancar dan memuluskan jalan dia untuk menikahi Dewi. Sungguh besar pengaruh Dewi pada dirinya.


Bagas yang selama ini selalu mengenal diskotik, wanita dan minum - minuman kini perlahan telah meninggalkan itu semua dan malah lebih rajin shalat.


Saat hendak keluar dari musholla.


"Hai bro.. ngapain kamu di sini?" tanya seorang pria yang berada di dalam Restoran itu.


"Makan" jawab Bagas polos.


"Maksud aku ngapain kamu di sana?" pria itu menunjuk arah musholla.


"Shalat, emang di musholla mau gapain selain shalat" jawab Bagas kesal.


"Sejak kapan kamu jadi pria benar?" sindir pria itu.


Rupanya pria itu mengenal Bagas dan kelihatannya sangat akrab.


"Sejak sekarang" jawab Bagas singkat.


"Hahaha.... Seorang Bagas jadi ahli agama" ledek pria itu.


"Apa sih maksud kamu? Aku shalat kan gak merugikan kamu. Suka - suka aku donk mau ngapain" jawab Bagas dengan nada yang sedikit meningkat.


"Hello... Bagas yang aku kenal dulu bukan pria seperti ini" ucap pria itu kembali mengejek Bagas.


"Kalau begitu aku bukan pria yang kamu kenal dulu" balas Bagas.


"Kena bisikan dari mana loe Gas jadi rajin shalat seperti ini hahaha" ucap Pria itu.


Bagas sudah kesal sekali melihat pria itu, rasanya ingin sekali nonjok wajah pria itu.


"Mas pulang yuk" ajak Dewi yang juga baru keluar dari musholla.


"Waaaw... selera kamu juga sudah berubah bro.. jadi suka anak ingusan seperti ini?"...


.


.


BERSAMBUNG