
"Kami mau pergi sama Mas Roy Mas. Sudah janji dari minggu lalu kalau ke Jakarta Mas Roy mau bawa kami jalan - jalan" jawab Tiara.
Nyeeees... mengapa dadaku sangat sakit mendegar besok mereka akan pergi bersama Roy. Batin Bintang.
Bintang hanya diam ketika mengantar Tiara dan Tegar sampai ke rumah Ridho dan Tari. Sesampainya mereka di depan rumah Ridho Bintang menggendong Tegar yang sudah terlelap di kursi belakang mobil.
Bintang membawanya masuk ke dalam rumah sedangkan Tiara mengikutinya dari belakang. Sampai di dalam rumah.
"Sini Mas aku gendong saja Tegar" pinta Tiara.
"Biar aja Ra aku antar sampai kamar. Kasihan nanti Tegar terbangun" jawab Bintang.
"Baiklah, kalau begitu yuk ke kamar tamu" ajak Tiara.
Mereka masuk ke kamar tamu. Tiara langsung mengambil baju tidur Tegar. Dia mengambil handuk kecil dan mulai membersihkan tubuh Tegar.
Kemudian mengganti pakaian Tegar dengan baju tidur. Tak lupa Tiara memberikan minyak telon ke perut Tegar agar dia tidak masuk angin. Bintang menyaksikan ketelatenan Tiara dalam mengurus Tegar.
Kamu cantik hari ini Ra, dan mengapa aku terlambat menyadarinya. Aku adalah orang yang paling jodoh telah menyia - nyiakan kalian bedua. Entah mengapa Bintang ingin sekali memeluk Tiara malam itu.
"Lho Mas masih di sini? Aku kira sudah pulang?" tanya Tiara terkejut. Dia fikir Bintang sudah pulang karena ini sudah terlalu malam.
"Aku masih ingin melihat Tegar. Tidurnya sangat nyenyak sekali. Enak sekali memandanga wajahnya saat tidur begini ya? Rasanya tidak ada beban fikiran. Dia terlihat damaaaai sekali" ucap Bintang.
"Mudah - mudahan ya Mas dia nyenyak tidurnya sampai pagi" balas Tiara.
"Kenapa kamu berkata begitu?" tanya Bintang penasaran.
"Tegar kalau terlalu kelelahan biasanya tidurnya malah tidak nyaman. Dia akan ngelindur, mungkin masih terbawa dengan permainan sebelu dia tidur. Tapi aku sudah membersihkan tubuhnya dan melumurinya dengan minyak telon. Mudah - mudahan dia nyaman tidurnya" Ucap Tiara.
"Aku balik dulu ya Ra, gak enak sama Ridho.Terlalu malam dan lama berada di rumahnya. Nanti dia terganggu istirahatnya" ujar Bintang.
"Iya. Mas hati - hati dia jalan ya. Terimakasih hari ini sudah bersedia membawa aku dan keluargaku jalan - jalan" sambut Tiara.
"Biasa aja Ra. Aku malah sangat senang sudah membuat Tegar senang dan melihat dia main, tertawa dan ceria seharian ini" jawab Bintang.
Tiara tersenyum membalas perkataan Bintang.
"Ya sudah aku pulang. Salam sama Ridho ya. Assalamu'alaikum" pamit Bintang.
"Wa'alaikumsalam... " jawab Tiara.
Bintang melangkah keluar dari rumah Ridho dan masuk ke dalam mobilnya. Tiara memandangi kepergian Bintang sampai jauh.
"Mengapa kalian tidak menikah saja Ra?" tanya Ridho yang tiba-tiba ada di belakang Tiara.
"Ha.. a.. apa maksud kamu Dho?" tanya Tiara terkejut.
"Aku melihat kalian sangat berat sekali untuk berpisah dan saling melepas. Aku yakin sebenarnya Mas Bintang tidak ingin pulang dan masih ingin bersama kalian. Dan kamu juga sama kan? Kamu melihat dia pergi sampai mobilnya tak terlihat lagi oleh pandangan mata kamu" sindir Ridho.
"Kamu salah Dho" elak Tiara.
"Aku tidak salah Ra. Tatapan mata kamu padaku dulu dengan tatapan kamu pada Mas Bintang itu berbeda. Malah sekarang aku jadi berfikir. Mengapa sampai sekarang kamu tidak menerima perasaan laki - laki manapun dan belum menikah? Mungkin sejak awal kamu berharap dialah yang datang untuk bertanggung jawab pada kamu dan Tegar secara penuh kan?" selidik Ridho.
"Ti.. tidak Dho" Tiara berusaha mengelak.
"Kamu bohong Ra. Kamu tidak bisa membohongiku. Kita berteman sudah tujuh tahun. Dan aku sangat tau arti tatapan kamu itu. Mengapa tidak kamu katakan saja pada Mas Bintang perasaan kamu padanya?" desak Ridho.
Tiara duduk di teras rumah Ridho dan Ridho duduk di kursi sampingnya.
"Kamu tidak lemah. Tapi membutuhkannya Ra. Aku tau lima tahun ini kamu bekerja keras untuk membesarkan Tegar. Sudah saatnya kamu bersantai hanya mengutus Tegar dan menjadi ibu rumah tangga di rumah. Memiliki keluarga utuh dan bahagia" nasehat Ridho.
Tiara terlihat sangat letih karena seharian bermain di Dufan bersama Tegar dan adik - adiknya.
"Sudahlah Ra, sekarang kamu masuk dan istirahat dan fikirkan pelan - pelan perkataanku tadi. Kalian saling membutuhkan. Kamu membutuhkan Mas Bintang dan dia juga sama. Dia sudah terbiasa setengah tahun ini dengan keberadaan kalian. Secepatnya ambil keputusan" sambung Ridho.
"Iya Dho, akan aku fikirkan. Aku ke kamar ya" jawab Tiara.
Tiara masuk ke kamar tamu, mandi dan berganti pakaian lalu shalat isya sebelum tidur. Setelah itu baru dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan tidur tepat di samping Tegar.
"Sayang... apakah kamu bahagia kalau Mama menikah dengan Papa kamu? Apakah kita akan menjadi keluarga yang utuh. Tapi apakah Papa kamu mempunyai perasaan yang sama kepada Mama? Dia hanya peduli pada kamu sayang, bukan kepada Mama" ucap Tiara pelan sambil membelai kepada Tegar.
Tiara kemudian ikut tertidur sambil memeluk Tegar.
Keesokan harinya.
"Mama.. Mama... hari ini kita pergi sama Papa lagi?" tanya Tegar ketika Tiara sedang memakaikan bajunya setelah mandi pagi.
"Tidak sayang, hari ini kita akan pergi sama Om Roy" jawab Tiara.
"Aku gak mau pergi sama Om Roy. Aku maunya pergi sama Papa" balas Tegar.
"Sayaaang... gak boleh gitu ah. Kan sebelum ke sini Mama sudah tanya sama kamu. Mau gak nanti saat di Jakarta kita pergi sama Om Roy. Kamu jawabnya mau" ucap Tiara mengingatkan.
"Kita harus tepat janji karena janji adalah hutang. Kamu mau nanti di akhirat di tagih hutangnya?" tanya Tiara.
"Nggak mau Ma" jawab Tegar pelan.
"Ya sudah kalau begitu kita pergi sama Om Roy ya. Jangan protes lagi" tegar Tiara.
"Iya Ma" jawab Tegar.
"Senyum donk.. Om Roy udah nunggu di depan tuh" bujuk Tiara.
Tiara dan Tegar keluar dari kamar. Di depan sudah ada Roy yang sedang ngobrol dengan Ridho.
"Sudah siaaap?" tanya Roy.
"Sudah Mas, yuk Gar. Pamit dulu sama Papa Dho dan Tante Ai" perintah Tiara.
Tegar menyium tangan Ridho dan Tari sebelum pergi, kemudian mereka keluar dan masuk ke dalam mobil.
"Pergi dulu ya Dho, Tari. Aku pinjam Tiara dan Tegar satu hari" ucap Roy kepada Ridho dan Tari.
"Iya Mas hati - hati" balas Ridho ramah.
Mobil berlalu dari halaman rumah Ridho. Tak jauh dari situ Bintang menyaksikan kepergian Tiara dan Tegar bersama Roy dari dalam mobilnya.
"Sial... mereka beneran pergi bersama..... "
.
.
BERSAMBUNG