Tiara

Tiara
Tak berdaya part. 2


"Aku.. hamil" jawab Bagas lemah.


"Apa? Kamu hamil?" tanya Bintang dan Roy terkejut.


"Bu.. bukan Mas.. " potong Dewi segera.


"Jadi mengapa Bagas seperti ini? Biasanya dia kuat lho Wi?" tanya Bintang.


"Apa kamu porsir dia satu malam sampai beberapa ronde? Tapi masak elo kalah sama Dewi. Dewi malah tampak segar banget?" tanya Roy sambil berbisik.


"Namanya faktor U Roy. Otot Bagas udah tua sementara Dewi lagi hot - hotnya ini" sambut Bintang.


"Ka.. li.. an ini.. bu.. kan nya ka si han li.. hat te man se per ti ini" ujar Bagas.


"Mas Bagas sakit apa Wi?" tanya Tiara.


"Kata dokter Mas Bagas tidak sakit apa - apa Kak" jawab Dewi.


"Udah seperti ini kondisinya Dokter malah bilang Mas Bagas gak sakit apapun?" tanya Tiara tak percaya.


"Mas Bagas mengalami kehamilan simpatik Kak" jawab Dewi.


"Kehamilan simpatik?" tanya Dian dengan suara yang sedikit kuat sehingga Bintang dan Roy bisa mendengarnya.


"Kamu beneran hamil Gas? Kok bisa?" tanya Roy terkejut.


"Bukan Mas Bagas yang hamil Mas Roy tapi aku" bela Dewi.


"Kamu hamil Wi?" tanya Bintang.


"Iya" jawab Dewi malu.


"Waaaau topcer juga lo kutu kupret" ledek Roy.


"A.. sem.. lo" balas Bagas lemah.


"Hahaha... selamat ya Gas, Wi. Akhirnya Allah menitipkan kepada kalian calon bayi di dalam perut Dewi. Semoga Ibu dan debaynya sehat - sehat sampai lahiran" ucap Bintang.


"Aku gak di do a.. in Bin.. kan a.. ku yang men.. de.. ri.. ta.. " ujar Bagas.


"Kalau kamu emang lebih bagus begini Gas jadi Dewi aman hamilnya. Kalau kamu sehat bugar bahaya buat Dewi. Bisa saja kamu embat tiap malam" balas Bintang.


"Te.. ga.. lo" ujar Bagas.


"Hahahah.. tega banget, dari pada adek ipar gue yang menderita" sambut Bintang.


"Tapi mualnya Bagas parah ya.. aku aja waktu hamil gak gitu?" tanya Dian.


"Iya Mbak Dian. Tadi malam sih gak apa - apa. Malah Mas Bagas enak banget makannya setelah minum obat. Tapi pagi setelah minum obat gak mempan juga. Tetap aja mual dan muntah" jawab Dewi.


"Itu namanya morning sickness Gas. Untuk wanita hamil emang seperti itu Gas. Kalau pagi emang parah, menjelang siang sudah sedikit reda. Kalau malam baru lebih tenang. Kalau aku memanfaatkan makan yang banyak saat malam hari karena pada saat itu makanan bisa masuk ke dalam perut" ungkap Dian.


"Tapi itu kan untuk wanita hamil yank, kalau pria hamil beda aku rasa. Bisa mu dari pagi sampai malam" potong Roy.


"Kam.. pret.. kalian" umpat Bagas.


"Kalau lagi hamil tuh mulut harus kudu di jaga Mas eh Mbak.. Nanti anak kamu dengan bisa - bisa saat lahir bukan nangis oek.. oek.. tapi preeet.. kam... pret" ledek Roy.


"Hahahaha... " sambut Bintang.


"Teganya kalian tertawa di atas penderitaan Mas Bagas" ujar Tiara.


"Lho yang kami katakan kan benar Ra. Kalau lagi hamil bukan hanya istri tapi suami juga harus jaga ucapan. Istilahnya ajarilah anak - anakmu sedari dalam kandungan dengan hal - hal yang baik dan benar" ucap Roy membela diri.


"Kalau itu memang benar Mas tapi sebelumnya kan kalian ledekain Mas Bagas. Gak kasihan liat dia menderita seperti ini?" tanya Tiara.


Tak lama kemudian Papa dan Mama Bagas datang.


"Assalamu'alaikum sayaaaang" ucap Mama Bagas ketika masuk kedalam ruang rawat inap Bagas.


"Wa'alaikumsalam" jawab semua yang ada di ruang rawat inap Bagas.


"Mama.. " sambut Dewi.


Dewi segera mencium tangan kedua orang tua Bagas.


"Bagas kenapa Wi?" tanya Pak Raksajaya.


"Mas Bagas kemarin demam Ma tapi dari pagi sampai sekarang mual dan muntah sehingga tubuhnya lemas dan harus rawat inap" jawab Dewi.


"Bagas hamil tante" celetuk Bintang.


"Kok Bagas yang hamil? Bukannya Dewi" tanya Pak Raksajaya bingung.


"Iya Pa" sambut Bagas sambil tersenyum lemah.


"Apa? Dewi hamil? Kamu gak main - main kan?" tanya Ibu Raksajaya tak percaya.


"Ma.. ma.. aku su dah sakit, Mama masih gak percaya?" tanya Bagas.


"Alhamdulillah Maaaas akhirnya kita punya cucu " ujar Mama Bagas kepada suaminyaa.


"Jadi kalu Dewi yang hamil mengapa Bagas yang masuk rumah sakit? Apa hubungannya?" tanya Pak Raksajaya bingung.


"Mereka bagi tugas Pa. Dewi yang hamil, Bagas yang ngidam" jawab Istrinya.


"Emang bisa begitu ya? Papa baru tau sekarang ada yang seperti itu" ujar Pak Raksajaya.


"Bisa Pa, namanya kehamilan simpatik. Gak apa - apa Gas, biar kamu aja yang nanggung semua ini. Hitung - hitung bayaran atas apa yang kamu lakukan selama ini karena suka mempermainkan wanita" ucap Bu Raksajaya.


"Ma.. ma.. te.. ga.. ba.. nget" jawab Bagas.


"Ya sudah kalau begitu, biar Mama aja yang jagain Bagas di sini. Dewi pulang aja istirahat di apartemen, atau selama Bagas di rumah sakit Dewi bisa menginap di rumah Mama" perintah Mama Bagas.


"Gak apa - apa Ma. Dewi bisa kok jagain Mas Bagas" jawab Dewi.


"I.. ya.. . Ma.. aku mau De.. wi.. aja yang ja.. ga" sambut Bagas.


"Tapi Dewi ini lagi hamil muda Gas, usia dia juga masih terlalu muda. Nanti kalau terlalu capek bisa membahayakan kandungannya" ucap Ibu Raksajaya khawatir.


"Gak apa - apa Ma. Kami sudah ke dokter kemarin. Dokter sudah kasih saya obat" balas Dewi.


"Ya sudah Ma biarin aja. Dewi kan mau ngurusin suaminya. Lagian Bagas kan sudah besar, dia sudah tau kondisi Dewi saat ini sedang hamil jadi pasti Bagas bisa jaga sikap" sambut Pak Raksajaya.


"Kamu jangan sok manja - manja sama Dewi ya Gas, kasihan istri kamu lagi hamil muda" pesan Mama Bagas.


"I.. ya.. Mas" jawab Bagas.


Akhirnya siang itu semua teman dan keluarga turut menguatkan Bagas dan Dewi. Tapi tetap saja sesekali Bintang dan Roy membully Bagas.


Mereka sangat semangat menggoda Bagas karena saat ini Bagas dalam keadaan lemah. Bagas hanya bisa pasrah saja mendengar perkataan teman - temannya.


"Bin aku la.. par.. " ucap Bagas kepada Bintang.


"Lah terus kenapa minta sama aku. Minta sama istri kamu saja" jawab Bintang.


"Aku pengen makan bubur ayam tapi kamu yang harus membelikannya" pinta Bagas dengan sangat pelan.


"Jangan bilang kamu mau balas dendam padaku Gas" ancam Bintang.


"Aku serius Bin" ucap Bagas penuh harap.


"Maaaas belikan saja. Kasihan Mas Bagas. Itu namanya ngidam Mas. Pemintaan yang harus dipenuhi, Mas Bagas pengen makan sesuatu kalau tidak dipenuhi kata orang anak mereka bisa ileran Mas" potong Tiara.


"Biarin aja kan anaknya Bagas yank bukan anak kita" tolak Bintang.


"Maaaaas " ucap Tiara mengingatkan Bagas.


"Iya deh kalau itu mau kamu. Ya sudah sekarang aku beli bubur dulu di depan. Puas kamu" ujar Bintang.


"Makasih Bin" jawab Bagas tulus.


Bintang tak tega juga melihat Bagas seperti itu akhirnya dia pergi ke luar ruang rawat inap Bagas dan berjalan menuju kantin Rumah Sakit untuk mencari makanan yang Bagas inginkan.


Siapa tau setelah Bintang penuhi semua keinginan Bagas, Bagas bisa makan dengan lahap setelah ini. Biar bagaimana pun Bagas adalah sahabatnya plus adik iparnya.


Bintang berjalan menuju kantin sambil memegang ponselnya tanpa memperhatikan sekelilingnya.


Bruuuuk....


Bintang menabrak sesuatu.


.


.


BERSAMBUNG