Tiara

Tiara
Siska pergi


"Apa? Innalillahi.... " ucap Bagas.


Sontak Bintang dan Roy menatap wajah Bagas yang terlihat sangat serius.


"Kapan dimakamkan?" tanya Bagas.


Bintang dan Roy masih ikut mendengarkan.


"Baiklah aku akan bicara dengan Bintang dan Roy. Terimakasih informasinya ya Gan. Assalamu'alaikum" ujar Bagas mengakhiri panggilan telepon.


Bagas menatap Bintang dan Roy.


"Ada apa?" tanya Roy.


"Siska sudah meninggal. Barusan aja" ungkap Bagas.


"Innalillahi... " jawab Bintang dan Roy bersamaan.


"Dimana di makamkan?" tanya Bintang.


"Bandung, kampung halaman orang tuanya" jawab Bagas.


"Kapan di makamkan?" tanya Roy.


"Katanya sore ini juga" balas Bagas.


"Ada yang mau ke sana gak?" tanya Bintang.


"Aku tanya Dian dulu Bin" ujar Roy.


"Aku sih mau - mau aja Bin. Lagian selama nikah aku belum pernah balik ke Bandung. Pasti Dewi senang pulang ke sana" jawab Bagas.


"Ya sudah aku juga akan bilang sama Tiara. Sama seperti Dewi, dia pasti mau diajak ke Bandung" ucap Bintang.


"Ya sudah kita bubar sekarang yuk" ajak Bagas.


Bagas memanggil pelayan dan membayar tagihan makan siang mereka setelah itu mereka bubar masuk ke dalam mobil masing - masing.


Sesampainya di rumah Bintang.


"Lho Mas kok udah pulang?" tanya Tiara.


"Ke Bandung yuk yank siang ini" ajak Bintang.


"Ngapain? Kamu ada tugas ke sana?" tanya Tiara heran.


"Nggak, tadi saat aku makan siang bersama Bagas dan Roy. Bagas dapat telepon dari Morgan. Katanya Siska meninggal" jawab Bintang.


"Innalillahi... " sambut Tiara.


"Ke Bandung yuk, kampung orang tua Siska di Bandung. Besok juga weekend sekalian kita main ke rumah Bapak Ibu. Udah lama juga kan kita gak pulang" ajak Bintang.


"Iya Mas. Bagus banget ya Siska meninggalnya di hari Jumat. Allah pasti menerima taubatnya Siska" ujar Tiara.


"Aamiin.. Allah itu kan emang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Jadi tidak ada yang mustahil bagi Allah sayang. Asalkan kita sebagai manusia istiqomah bertaubat" sambut Bintang.


"Ya sudah Mas aku siap - siapa dulu ya, sama siapin anak - anak juga" ucap Tiara.


"Ya sudah ayo aku bantu. Kamu siapin Zia dan aku siapin Tega ya" pinta Bintang.


"Iya Mas" balas Tiara.


Mereka segera bergegas dan siap - siap berangkat ke Bandung. Satu jam kemudian mereka sudah berada di pintu tol Jakarta - Bandung.


Bagas, Bintang dan Roy janjian bertemu di rest area. Setelah semua berkumpul baru mereka berangkat bersama - sama beriringan.


Dua setengah jam berikutnya mereka sudah sampai di rumah kediaman orang tua Siska tepat saat Siska akan di berangkatkan ke tempat pemakaman umum.


Sesuai permintaan Siska pada keluarganya dia ingin dimakamkan di dekat makam kedua orang tuanya. Tak banyak yang mengantar kepergian Siska ke tempat peristirahatan terakhirnnya.


Hanya beberapa keluarga dekat dan para teman dekatnya. Morgan juga ternyata sudah sampai di sana lebih dulu.


Bintang beserta istri dan teman - temannya ikut turun mengantar Siska sampai ke tempat pemakaman sedangkan anak - anak mereka di tinggal di mobil bersama baby sitter nya anak Roy.


Acara berlangsung hikmat dan singkat karena waktu juga sudah menjelang senja.


"Ya semua adalah rahasia Tuhan. Jodoh juga Gan, gak ada yang tau ternyata istri kamu Rita sekarang. Kenapa gak ngundang - ngundang sih?" sindir Bagas.


Morgan tersenyum lembut.


"Kami menikah secara sederhana, itu permintaan Rita. Kamu tau sendiri kan bagaimana keadaan Rita saat ini. Aku sudah cerita kan dulu sama kamu kalau aku ingin berubah. Aku menemui Rita dan bertanggung jawab pada apa yang sudah aku lakukan bersama Rita" ungkap Morgan.


"Selamat atas pernikahan kamu Gan. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah" ucap Bagas


Begitu juga dengan Bintang dan Roy. Mereka juga memberikan selamat kepada Morgan atas pernikahannya.


"Maaf Gan, sebelum aku menikah dengan istriku aku pernah melihat kamu dan Siska bertengkar di parkiran supermarket" ungkap Bagas.


"Iya Gas, Siska bilang dia hamil dan aku suruh dia menggugurkan kandungannya. Saat itu aku.. aku masih yaaaah aku selalu merasa sangat berdosa setiap mengingat masa laluku" jawab Morgan.


"Saat Siska mengetahui kalau dia menderita penyakit yang kini membawanya kedalam kematian dia menemui kami semua dan meminta maaf. Dia juga cerita tentang pertengkaran kalian dulu. Dia hanya menduga kalau dia hamil Gan. Tapi dia belum pernah periksa ke dokter. Ternyata saat itu dia memang tidak hamil tapi dari situlah penyakitnya mulai bereaksi" ungkap Bintang.


"Sebelum pulang ke kampung dia juga menemuiku dan meminta maaf dan pamit untuk pergi selamanya. Dia juga menceritakan semua tentang penyakitnya. Aku menawarkan bantuan saat itu tapi dia menolaknya. Dia ingin mengakhiri hidupnya dengan tenang di kampung halamannya, ya di sini" ujar Morgan.


"Kamu benar, dia juga bicara seperti itu kepada kami" sambut Roy.


"Syukur sebelum meninggal dia sempat bertaubat dan menikmati hari - hari terakhirnya di sini dengan tenang. Tadi aku sudah bertanya kepada keluarga dekatnya. Dua bulan ini Siska hidup dengan sangat baik dan bahagia" ungkap Morgan.


"Alhamdulillah" sambut Bintang dan yang lainnya.


"Yaaah begitulah hidup, semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari peristiwa ini. Ternyata memang hidup bukan sebuah permainan karena semuanya nyata. Balasan itu pasti ada yakinlah. Beruntung kita yang masih sadar saat Allah memberi teguran bisa berupa rasa sakit, rezeki, atau masalah hidup lainnya. Kita harus segera sadar bahwa semua hanyalah titipan" ungkap Bintang.


"Sudah senja guys sebentar lagi maghrib. Lebih baik kita segera pulang. Tak baik untuk dua Ibu hamil ini dan anak - anak kita juga sedang menunggu di mobil" ajak Bagas.


"Betul itu. Besok kita sambung lagi. Kamu menginap dimana Gan?" tanya Roy.


"Aku di Hotel XXX. Kalian? " tanya Morgan balik.


"Kami menginap di rumah mertuaku dan Bagas. Mungkin kamu mau ikut bergabung bersama kami?" Bintang memberikan penawaran.


"Nggak deh, aku sudah cek in tadi sebelum ke sini" elak Morgan.


"Ya sudah kalau begitu besok saja kamu kami undang makan siang bersama di rumah mertua kami, gimana?" ajak Bagas.


"Boleh.. nanti kalian kirim saja alamatnya ya. Besok insyaallah kami akan datang ke sana ya kan yank" balas Morgan.


"Iya Mas" sambut Rita.


Kini mereka sudah berdiri di dekat parkiran mobil.


"Hai Rita selamat ya atas penikahan kalian. Dan sehat - sehat sampai lahiran. Istriku juga sedang hamil saat ini" sapa Bagas.


"Iya Gas, tadi Dewi juga sudah cerita" jawab Rita.


"Ya sudah sampai ketemu besok ya Gan, Rit. Kami akan melanjutkan perjalanan menuju rumah mertua" pamit Bintang.


"Iya, sampai ketemu besok. Hati - hati ya" balas Morgan.


Mereka saling berpamitan dan melambaikan tangan. Kemudian masuk ke dalam mobil masing - masing.


Sore itu langit terlihat sedikit mendung mungkin turut sedih atas meninggalnya seorang wanita pendosa yang sudah benar-benar bertaubat dan menyesali semua perbuatannya.


Banyak hikmah yang harus di petik, bukan hanya dari kisah hidup kita sendiri. Perjalanan hidup orang lain juga perlu kita jadikan pembelajaran agar kita lebih berhati - hati dalam menjalani hidup ini.


Sekali saja kita tergelincir sangat sulit untuk bisa bangkit kembali. Butuh kekuatan besar dan keyakinan penuh. Dan jika dalam hidup ini kita sempat tersesat segeralah cari jalan kembali. Mundur bukan berarti kita kalah tetapi menyusun strategi untuk sampai pada tujuan akhir dengan lebih cepat.


.


.


BERSAMBUNG


Semoga semua cerita dalam novel saya ini bisa dijadikan pembelajaran untuk kita semua ya.


Terimakasih kalian sudah setia membaca novel saya ini sampai mendekati akhir cerita.


Jangan lupa tetap dukung saya ya, like, komentar, vote dan hadiahnya.