Tiara

Tiara
Persiapan


"Assalamu'alaikum Dewi ku.... " sapa Bagas dengan ceria.


"Wa'alaikumsalam Mas" jawab Dewi sambil tersenyum, walau Bagas tidak bisa melihatnya.


"Deeeewiiiii" panggil Bagas dengan manja.


Dewi tertawa karena geli mendengar Bagas memanggil namanya seperti itu.


"Ya Maaaas" jawab Dewi.


"Dewi saaayaaaaaang" panggil Bagas lebay.


"Ih apa sih Mas ini. Geli tau, Mas sok manja gitu" balas Dewi.


"Soalnya aku lagi senang banget malam ini" ujar Bagas.


"Terus kalau senang ucap apa?" tanya Dewi.


"Eh iya aku lupa bersyukur. Alhamdulillaaaaah" jawab Bagas.


Dewi tersenyum mendengar Bagas mengucap syukur.


"Makasih ya Wi" ujar Bagas.


"Makasih untuk apa Mas?" tanya Dewi.


"Makasih karena kamu sudah mau menerima lamaran orang tuaku tadi" jawab Bagas.


Dewi terdiam bingung harus menjawab apa. Dia juga heran kekuatan dari mana tadi yang membuat dia berkata seperti itu padahal sebelumnya Dewi tidak pernah memikirkannya.


"Wii.. kok diam aja?" tanya Bagas.


Dewi menarik nafas panjang.


"Aku bingung harus menjawab apa Mas" jawab Dewi.


"Kamu menyesal sudah menjawab iya?" tanya Bagas. Entah mengapa jantung Bagas berdetak kencang. Tiba - tiba dia di serang rasa takut Dewi akan membatalkan ucapannya tadi.


"Nggak, kenapa aku menyesal?" tanya Dewi balik.


Bagas kembali bersemangat.


"Kenapa kamu berubah pikiran dan mau menerima lamaran dari Papaku?" tanya Bagas.


"Kan sudah aku bilang Mas karena dalam Islam tidak ada sistem tunangan. Sementara aku kan sudah bilang sama Mas kalau aku juga serius pada Mas. Jadi aku rasa cepat atau lambat aku memang harus menjalaninya" jawab Dewi.


"Sekali lagi terimakasih ya Wi, kamu sudah mau menerima lamaran keluargaku" ujar Bagas.


"Sama - sama Mas, aku juga bilang terimakasih karena Mas sudah memilih aku sebagai pendamping hidupku" balas Dewi.


"Wi.. aku yang harusnya berkata seperti itu pada kamu" jawab Bagas.


"Jadi malam ini kita terus saling mengucapkan terimakasih?" ujar Dewi.


"Ya nggak sih... tapi intinya aku bahagia sekali malam ini" sambut Bagas.


"Sama Mas, aku juga bahagia" balas Dewi.


"Besok kita pergi yuk" ajak Bagas.


"Kemana?" tanya Dewi.


"Cari keperluan untuk kita menikah" jawab Bagas.


"Mas apa gak terlalu cepat?" Dewi balik bertanya.


"Tiga atau empat bulan itu tidak terasa Wi. Waktu akan cepat sekali berlalu. Apalagi kamu tinggal di Bandung, kita pasti akan jarang bertemu. Kita ke Butik yuk untuk jahit baju pernikahan kita eh maksud aku ukur badan aja dulu, setelah itu kita cari - cari rumah untuk tempat tinggal kita" bujuk Dewi.


"Maaaas biar aja semua mengalir seperti ini. Selama ini Mas tinggal di apartemen kan? Ya sudah, kalau kita menikah kita tinggal di situ aja" jawab Dewi.


Bagas menarik nafas panjang.


"Baiklah, tapi kita tetap ke Butik ya untuk ukur tubuh kamu" ajak Bagas.


Kini Dewi yang menarik nafas panjang. Bagas itu memang kalau sudah punya keinginan susah sekali untuk dilarang. Pasti akan ada seribu satu alasan yang membuat Dewi akhirnya menyerah.


"Ya sudah besok Mas datang aja dulu ke sini nanti baru kita bicarakan dengan Ibu dan Kak Ara" balas Dewi.


"Oke kalau begitu" jawab Bagas semangat.


"Aku tidur duluan ya Mas, udah ngantuk" ujar Dewi.


"Baiklah Dewiku... Selamat tidur dan mimpi indah ya" sambut Bagas.


"Iya Maaaas. Assalamu'alaikum... " ucap Dewi


"Wa'alaikumsalam" jawab Bagas.


Keesokan harinya jam tujuh pagi Bagas sudah sampai di rumah Bintang. Di saat semua orang di rumah Bintang sedang duduk di depan meja makan menikmati sarapan pagi mereka.


"Gas yuk duduk sini, kita sarapan bareng" ajak Pak Wijaya


"Bik tolong siapkan alat makan Mas Bagas" perintah Tiara kepada asisten rumah tangganya.


"Baik Nonton" jawab Wanita itu.


Bagas duduk di samping Dewi.


"Wi perhatiin tuh makannya Bagas" perintah Siti.


"Iya Bu. Mas Bagas mau makan apa?" tanya Dewi.


Bagas senangnya minta ampun. Dalam hati perasaannya sudah lompat - lompat kegirangan. Dewi mengambil piring yang ada di depan Bagas.


"Nasi goreng aja Wi" jawab Bagas sambil tersenyum.


Belum nikah aja Dewi udah perhatian gini, gimana nanti kalau sudah nikah ya... waaaah Wi kita nikahnya di percepat aja ya.. kalau bisa barengan aja sama Bapak dan Ibu. Teriak Bagas dalam hati.


Dewi segera mengambilkan nasi goreng ke piring Bagas, meletakkan ayam goreng dan telur di piring Bagas kemudian meletakkan piring itu tepat di hadapan Bagas.


"Aku tau makna senyum kamu Gas, pasti kamu udah gak sabar banget nikah kan dan kalau bisa nikahnya di percepat aja" sindir Bintang.


Sontak Bagas terdiam karena terkejut Bintang bisa membaca pikirannya.


"Kenapa, kamu terkejut aku bisa membaca pikiran kamu?" tanya Bintang.


"Karena Mas Bintang juga dulu gitu Mas" potong Tiara.


"Hahaha tau aja.. aku rasa setiap pria yang jatuh cinta pasti akan merasakan hal seperti itu mendekati pernikahannya" jawab Bintang.


"Betul itu" Sambut Pak Wijaya.


"Serius Pak? Bapak juga?" tanya Bagas serius menatap Pak Wijaya.


"Tentu saja cuma Bapak harus sabar menunggu masa iddah Ibu kamu selesai" jawab Pak Wijaya.


Sontak mereka tertawa ternyata Pak Wijaya juga bertingkah seperti anak remaja. Begitulah kalau dilanda asmara.


"Kalian mau kemana?" tanya Bintang.


"Mau ke Butik" jawab Bagas sambil makan.


"uhuk.. uhuk.. " Bintang tersedak dan batuk


"Maaaas makannya yang santai" ujar Tiara.


"Tanggal pernikahan kalian belum di tetapkan udah sibuk mau ke Butik? Ngapain? Mau nyiapin gaun pernikahan?" tanya Bintang.


"Cuma ukur badan Dewi aja. Dewi kan di Bandung, biar pelan - pelan kami persiapkan semuanya" jawab Bagas penuh percaya diri. Sekarang dia gak malu - malu lagi apalagi tadi Pak Wijaya juga sempat mengaku punya perasaan yang sama seperti yang dia rasakan.


"Kamu ini bertingkat seolah Dewi gak akan ke Jakarta lagi dan seolah - olah jarak Bandung dan Jakarta itu jaraknya jauh banget" oceh Bintang.


"Ya kan gak ada salahnya di persiapkan sejak sekarang Bin" balas Bagas.


"Hey.. nanti saat istriku melahirkan Dewi juga akan datang. Trus setelah anakku lahir kami juga akan buat acara syukuran dan aqiqah. Dewi pasti datang lagi" protes Bintang.


"Sudah Bin biarin aja. Yang menikah kan mereka. Biar mereka mempersiapkan segala sesuatunya mulai sekarang" ujar Pak Wijaya.


Bagas sangat senang karena di bela oleh Pak Wijaya.


"Asal jangan cari alasan aja Pak buat berduaan dengan Dewi. Ingat semakin mendekati pernikahan cobaan hidup kalian akan semakin berat" nasehat Bintang.


Bagas menatap Pak Wijaya.


"Benar itu Gas, kalian harus lebih hati - hati ya" sambut Siti.


"Iya Bu" jawab Bagas santun kepada calon mertuanya.


"Kita gak sekalian Sit ikutan mereka ukur badan?" ujar Pak Wijaya sambil tersenyum.


"Maaaaas... kita udah ketuaan" protes Siti


"Lho dulu waktu kita nikah aku tidak bisa memberikan kamu apa - apa. Kita hanya menikah dengan sangat sederhana. Izinkan aku kali ini membalas apa yang dulu tidak bisa aku lakukan pada kamu. Melengkapi kekurangan masa lalu kita" ujar Pak Wijaya tulus.


"Ya sudah Bu terima aja tawaran Bapak biar pergi sekalian bareng Bagas dan Dewi. Biar mereka juga gak pergi berdua saja" potong Bintang.


Siti melirik ke arah Tiara dan Dewi. Tiada membalas tatapan Siti dengan senyuman dan anggukan wajah mengisyaratkan agar Ibunya mau menerima tawaran Bapaknya.


"Baiklah kalau begitu" jawab Siti.


"Yeeeeayy...." sorak semuanya.


.


.


BERSAMBUNG