
"Deeeeer" Roy berteriak mencoba mengejutkan Dian.
"Astaga... ih kamu" Dian refleks memukul bahu Roy.
"Aaaw.. sakit yank" ucap Roy.
"Yank.. Yank.. kepala lo peyang" balas Dian.
"Kamu Yan, aku lagi mau romantis malah di patahin. Gak asik" Roy pura - pura merajuk.
"Apa yang romantis, buat jantungku copot. Kalau aku mati apa yang romantis, horor iya" Dian masih mengelus dadanya.
"Iya deh aku minta maaf. Padahal mau buat kejutan eh.. emang kamu terkejut beneran sampai elus dada gitu" ucap Roy.
Roy memberikan sesuatu kepada Dian.
"Apa ini?" tanya Dian.
"Bunga..." jawab Roy.
"Cuma setangkai?" tanya Dian.
"Jadi maunya satu pot gitu?" Roy balik bertanya.
"Aku maunya buku tabungan. Kan aku maunya bunga bank" jawab Dian.
"Ih sejak kapan sih kamu jadi matre?" sindir Roy.
"Sejak kamu jadi pemilik Cafe ini" jawab Dian asal.
"Kan sudah aku bilang kalau kamu mau cafe ini akan aku balik namakan atas nama kamu" sambut Roy.
"Aku cuma bercanda" tolak Dian.
"Tapi aku sedang gak bercanda Yaaaan.. aku serius" bujuk Roy.
Dian mencium setangkai bunga mawar berwarna pink yang di berikan Roy.
Tiba - tiba lampu Cafe mati.
"Ya ampuuun.... mengapa tiba - tiba mati lampu tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu" ucap Dian terkejut.
Kliiik....
Lampu kelap - kelip hidup diatas panggung Cafe, suara musik terdengar lembut mengalun.
Dian segera melihat ke arah lampu tersebut. Alangkah terkejutnya dia ketika membaca tulisan dari lampu tersebut.
Will You Marry Me.. Dian Katikasari
Dian melihat Roy sudah berdiri di depan panggung Cafe yang biasanya tempat hiburan keyboard dan band lainnya.
"Roy" ucap Dian tak percaya.
Lampu Cafe kembali hidup.
"Dian Kartikasari, mau kah kamu menjadi pasangan hidupku?" ucap Roy di iringi lagu romantis dari Badai Romantic Project yang berjudul Melamarmu.
Roy mulai menyanyikan lagu itu dengan suara merdunya.
Di ujung cerita ini
Di ujung kegelisahanmu
Kupandang tajam bola matamu
Cantik, dengarkanlah aku
Aku tak setampan Don Juan
Tak ada yang lebih dari cintaku
Tapi saat ini 'ku tak ragu
'Ku sungguh memintamu
Jadilah pasangan hidupku
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur di sampingku
Aku tak main-main
Seperti lelaki yang lain
Satu yang kutahu
Kuingin melamarmu
Aku tak setampan Don Juan
Tak ada yang lebih dari cintaku
Tapi saat ini 'ku tak ragu
'Ku sungguh memintamu
Jadilah pasangan hidupku
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur di sampingku
Aku tak main-main
Seperti lelaki yang lain
Satu yang kutahu
Kuingin melamarmu
Uu-uu
Uu-uu
Jadilah pasangan hidupku
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata (membuka mata) dan tertidur di sampingku (di sampingku)
Seperti lelaki yang lain
Satu yang kutahu
Oh, satu yang kumau
Kuingin melamarmu
Roy turun dari panggung dan berjalan ke arah tempat Dian berdiri.
Dian menutup mulutnya, tak kuasa menahan detak jantungnya yang begitu kencang. Sungguh sebuah lamaran yang sangat romantis.
Beberapa bulan ini Roy memang benar - benar memperlihatkan keseriusan perasaannya kepada Dian. Dia memang tidak bermain - main dan memang benar - benar ingin melamar Dian.
Perlahan - lahan perasaan Dian mulai goyah, dia tak kuasa menolak pesona Roy yang terus menerus memberikan perlakuan manis untuknya.
Secara perlahan perasaan Dian mulai terbuka dan nama Roy diam - diam juga sudah mulai memenuhi hatinya. Roy sudah berhasil menjadi pemilik hatinya saat ini.
Mata Dian berkaca - kaca menatap mata Roy yang bersinar menyala mengisyaratkan perasaan dia yang sesungguhnya.
Please Yan.. kali ini lihatlah ketulusan hatiku.. Bisik Roy dalam hati.
"Yaaaan... maukah kamu menikah denganku?" tanya Roy lagi ketika sampai tepat di hadapan Dian.
Roy mengeluarkan kotak perhiasan di depan Dian. Kotak perhiasan tersebut berisikan cincin yang berhiaskan berlian yang sangat indah.
Para pengunjung Cafe dan para pegawai Cafe bersorak dan berteriak.
"Terima... Terima.. terima.... " ucap mereka berbarengan.
Dian menatap mata Roy lama. Dengan senyum tulus dan penuh cinta Roy membalas tatapan Dian. Sesaat mereka saling padang seolah - olah mereka berbicara dari isyarat mata.
"Bagaimana Dian Kartikasari, apakah kamu mau menjadi pendamping hidupku selamanya?" tanya Roy lagi.
"Ya aku mau... " ucap Dian.
"Yeaaaaaay...... "
"Horeeeeeee..... " sambut para pengunjung dan pegawai Cafe riuh.
Mereka bertepuk tangan kencamh begitu mendengar jawaban Dian.
Roy mengeluarkan cincin dari kotaknya dan memasangkannya di jari manis tangan kiri Dian.
Sontak para pengunjung yang ada di situ kembali bertepuk tangan. Dian kembali menutup mukanya. Rasanya dia sangat malu bercampur bahagia sekali malam ini.
"Terimakasih Yan" ucap Roy.
Dian membuka tangannya dan melihat ke wajah Roy.
"Apakah aku bermimpi?" tanya Dian.
Sontak Roy mencubit pipi Dian.
"Aaaaawww... " pekik Dian.
"Sakit?" tanya Roy.
"Iya" Dian menganggukkan kepalanya.
"Itu artinya kamu tidak bermimpi sayaaaang" ucap Roy.
Dian segera menundukkan kepalanya karena malu.
"Selamaaaaaaaat" teriak Bintang, Tiara dan Bagas yang berjalan mendekati mereka.
"Selamat Tante Dian, Om Roy... " teriak Tegar tak mau kalah.
"Ka.. kalian.. juga datang?" tanya Dian tak percaya. Dian kembali menutup wajahnya karena malu.
"Selamat ya Mbak Dian, Mas Roy" ucap Tiara.
"Udah Yan gak usah malu. Biasa aja lagi, udah biasa itu. Emang udah saatnya, kami tunggu undangan dari kalian ya" sambut Bintang.
"Sedihnya aku.. tinggal aku nih yang masih Jomblo" ucap Bagas.
"Kamu gak jomblo Bro, cuma masih mau main - main aja. Kalau kamu mau, pasti nemu kok wanita yang sesuai" jawab Roy.
"Betul itu, jangan telat tobatnya. Ntar keburu duluan datang malaikat pencabut nyawa kasihan masuk neraka. Belum sempat tobat" goda Bintang.
"Ya Allah.. doanya jelek amat" balas Bagas.
Bintang dan teman - temannya sontak tertawa melihat wajah ketakutan Bagas.
"Jadi gimana kedepannya?" tanya Bintang pada Roy.
Kini mereka sudah duduk di meja kosong. Mereka tadi memang sudah dihubungi Roy sebelumnya untuk berkumpul di Cafe ini.
Selain untuk berkumpul karena sudah lama tidak bertemu, Roy juga mengatakan kalau malam ini ada hal penting yang akan dia sampaikan kepada teman - temannya.
Ternyata Roy melamar Dian malam ini. Dan hal ini sangat membuat Bagas terkejut karena hanya dia sendiri yang tidak mengetahui kalau Roy sudah mendekati Dian beberapa bulan ini sejak cintanya di tolak Tiara. Dan Tiara memilih menikah dengan Bintang.
"Secepatnya aku akan datang ke rumah orang tua Dian dan melamarnya secara resmi. Kamu setuju kan sayang?" tanya Roy kepada Dian.
"Cie.. cie... Dian udah di panggil sayaaaang" goda Bagas.
Wajah Dian memerah karena menahan malu.
"Terserah kamu aja Roy" jawab Dian.
"Ih gak romantis, masak sana calon suami panggil nama?" Roy kembali menggoda Dian.
"Ih Bagaaaaaaas" sambut Dian kesal
"Benar donk sayang... masak manggil nama sih padaku. Karena umur kita sebaya dan kita juga sebelumnya sahabatan mungkin kamu sungkan memanggil aku Mas, gimana kalau kamu panggil aku sayang aja" kali ini Roy yang mencoba menggoda Dian.
"Rooooy" ucap Dian semakin malu sambil mencubit tangan Roy.
"Aaaw.... sakit yank" teriak Roy.
Sontak Bintang dan teman-temannya yang lain tertawa melihat tingkah laku pasangan baru itu.
.
.
BERSAMBUNG